Setelah The Fed mengumumkan pemangkasan suku bunga acuannya, rupiah menguat tipis 0,04 persen dibanding hari sebelumnya menjadi Rp 16.270 per dollar AS.
21 Des 2024 17:26 WIB · Ekonomi
JAKARTA, KOMPAS — Penurunan suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat alias The Fed diperkirakan baru berdampak positif bagi negara berkembang, seperti Indonesia, dalam jangka menengah hingga panjang. Stabilitas domestik turut menentukan arah perkembangan makroekonomi di tengah ketidakpastian global.
Mengakhiri tahun 2024, The Fed memangkas suku bunga acuannya 25 basis poin (bps) menjadi 4,25-4,5 persen sesuai dengan ekspektasi. Di sisi lain, arus modal portofolio investor asing keluar dari pasar keuangan Indonesia sehingga nilai tukar rupiah dan pasar saham dalam negeri melemah.
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef) M Rizal Taufikurahman, Sabtu (21/12/2024), menyampaikan, pemangkasan suku bunga The Fed umumnya akan memberikan peluang positif bagi negara berkembang, seperti Indonesia.
Arus modal juga akan masuk ke pasar keuangan domestik karena para investor mencari imbal hasil lebih tinggi dibandingkan dengan aset di negara maju. Di sisi lain, terbuka ruang bagi Bank Indonesia (BI) untuk menyesuaikan kebijakan moneternya, seperti menurunkan suku bunga acuan, demi mendorong pertumbuhan ekonomi.
”Kebijakan The Fed tersebut seharusnya dapat memperkuat nilai tukar rupiah dan meningkatkan daya tarik investasi. Namun, realitasnya menunjukkan dinamika yang lebih kompleks. Meski The Fed telah menurunkan suku bunga, nilai tukar rupiah tetap melemah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan,” katanya saat dihubungi dari Jakarta.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/19/5e4f8df6-8ef5-4b2f-83c9-0cc30c3ec14a_png.png)
Berdasarkan data transaksi 16-19 Desember 2024, arus modal investor asing tercatat keluar Rp 8,81 triliun dari pasar keuangan domestik. Ini terdiri dari jual neto Rp 3,67 triliun di pasar saham, jual neto Rp 4,43 triliun di pasar surat berharga negara (SBN), dan jual neto Rp 0,71 triliun di sekuritas rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Alhasil, nilai tukar rupiah pada perdagangan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), Jumat (20/12/2024), ditutup pada level Rp 16.270 per dollar AS. Meski sedikit menguat sebesar 0,04 persen dibanding perdagangan hari sebelumnya, rupiah terdepresiasi 2,61 persen dibanding akhir November 2024.
Sementara itu, pada periode yang sama, IHSG menguat tipis 0,09 persen ke level 6.983,86 pada akhir perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI). Kendati demikian, IHSG masih mencatatkan pelemahan 4,65 persen dalam sepekan terakhir dan 11,66 persen dalam tiga bulan terakhir.
Meski pemangkasan suku bunga The Fed dapat menjadi katalis, dampaknya pada penguatan rupiah atau peningkatan arus modal masuk baru akan terlihat dalam jangka menengah hingga panjang, tergantung pada langkah kebijakan yang diambil pemerintah untuk mengatasi tantangan struktural ekonomi.
Menurut Rizal, dampak dari kebijakan moneter, baik di tingkat global maupun domestik, biasanya tidak langsung terasa karena pasar membutuhkan waktu untuk beradaptasi dan membangun kepercayaan. Selain itu, investor juga cenderung menunggu stabilitas dan kejelasan prospek ekonomi sebelum mengalokasikan dana secara riil.
”Meski pemangkasan suku bunga The Fed dapat menjadi katalis, dampaknya pada penguatan rupiah atau peningkatan arus modal masuk baru akan terlihat dalam jangka menengah hingga panjang, tergantung pada langkah kebijakan yang diambil pemerintah untuk mengatasi tantangan struktural ekonomi,” tuturnya.
Di sisi lain, faktor eksternal, seperti ketidakpastian ekonomi global, dan faktor domestik, seperti defisit neraca berjalan serta ketidakstabilan politik, turut memengaruhi kinerja pasar keuangan Indonesia. Dengan kata lain, sentimen negatif dari investor juga menjadi penghambat penguatan di pasar.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/09/03/ebeef549-665d-49e6-9cda-d0221b83e7c0_jpg.jpg)
Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, berpendapat, penurunan suku bunga The Fed pada Desember 2024 telah diperkirakan oleh pasar sehingga terefleksi pada kurs dollar AS. Namun, The Fed justru memberikan sinyal penurunan suku bunga pada 2025 akan jauh lebih sedikit dibandingkan dengan perkiraan sebelumnya.
”Ini di luar ekspektasi pasar dan membuat dollar AS melejit terhadap hampir seluruh mata uang di dunia, termasuk rupiah. Dalam seminggu terakhir, dollar AS menguat terhadap 91,25 persen mata uang di dunia,” kata Wijayanto.
Dalam Konferensi Pers Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC), Rabu (18/12/2024) waktu setempat atau Kamis (19/12/2024) dini hari WIB, The Fed mengindikasikan hanya akan memangkas suku bunga acuannya sebanyak dua kali sebesar 50 bps, lebih rendah dibanding perkiraan awal sebanyak empat kali sebesar 100 bps.
Sebelumnya, BI memutuskan suku bunga acuan dipertahankan di level 6 persen. Ke depan, BI akan terus mencermati pergerakan nilai tukar rupiah dan prospek inflasi serta dinamika kondisi ekonomi yang berkembang dalam memanfaatkan ruang penurunan suku bunga kebijakan lanjutan.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/10/16/964e1150-0c0b-47bd-8252-b924cf951383_jpg.jpg)
BI juga memperkirakan, Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada 2024 tetap berdaya tahan seiring dengan berlanjutnya surplus neraca transaksi modal dan finansial. Hal ini didukung oleh aliran masuk modal asing dan terjaganya defisit transaksi berjalan dalam kisaran 0,1-0,9 persen dari produk domestik bruto (PDB).
”Prospek NPI yang tetap sehat diprakirakan berlanjut pada 2025 didukung oleh aliran masuk modal asing dan defisit transaksi berjalan yang terjaga dalam kisaran defisit 0,5-1,3 persen dari PDB,” kata Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers Hasil Rapat Dewan Gubernur BI Desember 2024, di Jakarta, Rabu (18/12/2024).
Selain itu, pergerakan nilai tukar rupiah juga dipengaruhi oleh sentimen domestik. Dalam beberapa waktu terakhir, pemerintah mengambil kebijakan yang cenderung memberikan ketidakpastian, seperti kenaikan upah minimum provinsi (UMP), Pajak Pertambahan Nilai (PPN), serta outlook fiskal yang kurang menjanjikan.
”Rupiah memang sedang dalam tekanan. Salah satunya akibat outlook fiskal kita yang kurang menjanjikan ditambah lagi dengan noise terkait kenaikan UMP dan PPN yang menggambarkan ketidapastian kebijakan yang tetap tinggi di Indonesia,” kata Wijayanto.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2022/05/18/40702f7d-fa26-4cf7-987b-fce2989b34b6_jpg.jpg)
Dihubungi terpisah, Ketua Umum Gabungan Produsen Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Adhi S Lukman menyampaikan, para pelaku usaha, khususnya industri manufaktur, tengah menghadapi tantangan bertubi-tubi.
Sejumlah tantangan tersebut, mulai dari kenaikan UMP, kenaikan PPN, hingga harga bahan baku dan energi yang masih melambung tinggi. Hal itu menyulitkan para pelaku industri dalam membuat perencanaan.
”Secara umum sudah dikalkulasi kalau harga pokok produksi meningkat tajam, sedangkan sulit menaikkan harga jual setinggi kenaikan input,” kata Adhi saat dihubungi dari Jakarta.
Bagi perusahaan besar, Adhi melanjutkan, biasanya mengorbankan margin demi menjaga penjualan agar tidak turun drastis. Dengan demikian, efisiensi dan produktivitas menjadi kunci keberhasilan bagi industri untuk tetap bertahan.
Sementara itu, perusahaan kecil dengan daya tahan industri rendah harus menyesuaikan harga jual setinggi kenaikan input. Apabila tidak dilakukan, keuangan perusahaan semakin terbebani dan industri semakin kehilangan daya saing.
Penulis:
Agustinus Yoga PrimantoroEditor:
Aris Prasetyo