Bandung menjuarai Hydroplus Piala Pertiwi U-14 dan U-16 2025 All Stars. Tak heran, sepak bola putri di Bandung memang terus bergaung sejak lima dekade lalu.
14 Jul 2025 11:41 WIB · Olahraga
Para pemain tim Bandung ramai-ramai mengangkat dan melempar pelatihnya, Dian Nadia Mutiara, ke udara. Di lapangan Stadion Supersoccer Arena, Kudus, Jawa Tengah, Minggu (13/7/2025) itu, mereka meluapkan kegembiraan setelah berhasil menyabet gelar juara turnamen sepak bola putri remaja tingkat nasional, Piala Pertiwi U-14 dan U-16 2025 All Stars.
Bandung keluar sebagai juara setelah mengalahkan Tangerang dengan skor 1-0 pada partai final. Kemenangan itu melengkapi penampilan impresif Bandung sejak babak penyisihan grup. Tidak ada yang mampu mengalahkan wakil Jawa Barat ini, bahkan tuan rumah Kudus pun bertekuk lutut dengan skor telak 5-1 pada perempat final.
”Di babak penyisihan grup, sebenarnya penampilan anak-anak kurang tajam. Namun, setelah evaluasi dan diberi pemahaman, mereka mulai menunjukkan performa sesungguhnya, termasuk di final tadi,” tutur Dian, yang juga mantan pemain timnas sepak bola putri.
Kemenangan Bandung dalam turnamen yang diikuti 16 tim dari 16 kota dan regional di Indonesia ini bukanlah sesuatu yang mengherankan. Sebab, sepak bola putri dan Bandung bagai dua hal yang tidak bisa dipisahkan.
Sepak bola putri di Bandung sudah bersemi sejak lebih dari lima dasawarsa lalu. Kehadirannya memang timbul-tenggelam, tetapi tidak pernah hilang. Sebab, upaya untuk menjaganya terus ada, lewat klub-klub, melalui turnamen-turnamen.
Pada 1969, Bandung adalah tempat kelahiran klub sepak bola putri, Putri Priangan. Klub ini merupakan pelopor sekaligus salah satu klub sepak bola putri terbaik di Tanah Air.
Menurut catatan Kompas, Putri Priangan pernah mewakili Indonesia dalam rangka Pesta Sukan di Singapura pada 1969. Dalam turnamen itu diundang juga Hong Kong, Australia, dan negara-negara bagian Malaysia.
Putri Priangan pulang sebagai runner-up. Dalam 15 kali pertandingan di dalam negeri, Putri Priangan tak terkalahkan.
Putri Priangan juga menjuarai beberapa turnamen di Indonesia, seperti Piala Kartini II dan Turnamen Sepak Bola Putri HUT ABRI pada 1983. Klub ini pun menciptakan rivalitas sengit dengan tim dari Jakarta, Buana Putri. Kedua tim selalu bersaing pada partai final beberapa turnamen.
Lima puluh tahun kemudian, ketika Putri Priangan sudah tak terdengar lagi, muncul Persib Bandung Putri yang sukses menorehkan sejarah. Tim ini menjuarai Liga 1 Putri 2019 yang baru dilaksanakan pertama kali dan hingga saat ini masih menjadi satu-satunya kompetisi sepak bola putri yang digelar PSSI.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/06/22/bdf838bf-1e92-4d6b-9cc2-424d7344668c_png.png)
Dian mengatakan, geliat sepak bola putri di Bandung masih terjaga sampai saat ini. Malah, belakangan, kondisinya kian ramai dengan banyak bermunculan klub atau sekolah sepak bola khusus putri dan turnamen-turnamen sepak bola putri.
Tiap klub selalu menggelar liga internal, terkadang juga mengundang klub lain secara bergantian. Selain itu, ada pula turnamen, seperti Piala Wali Kota yang digelar antarkecamatan, Pekan Olahraga Daerah (Porda), hingga Liga Bandung Putri U-17.
Sebagian besar anak-anak asuhannya yang berlaga di Piala Pertiwi U-14 dan U-16 All Stars pun pernah mencicipi bermain di Liga Bandung Putri U-17 yang digelar perdana pada 2024. Alhasil, kata Dian, para pemainnya tidak lagi kaget dengan suasana pertandingan.
Ketika mempersiapkan tim dengan pemain dari berbagai klub ini pun, Dian pun mengaku tak kesulitan. Sebab, para pemain sudah memiliki kemampuan dasar yang telah dilatih klub masing-masing. Dia pun lebih banyak berfokus membangun chemistry antarpemain dan memberi pemahaman taktikal.
”Saya percaya, kalau struktur pembinaannya bagus dan berjalan, ada banyak turnamen, dan prosesnya memang berjalan secara berkesinambungan, hasilnya tidak akan berkhianat. Kemenangan Bandung ini adalah buktinya,” ucap Dian.
Kabar tentang sepak bola putri yang terus menggeliat di Bandung ini pula yang membuat Dian Aprilia Pary (14) memutuskan merantau ke ibu kota Jawa Barat itu. Pary berasal dari Ternate, Maluku Utara, dan kerap bermain sepak bola dengan pemain putra di sana. Namun, pelatih Pary di Ternate menilai anak asuhnya itu harus juga bermain dan mencicipi turnamen dengan sesama pemain putri sehingga menawarkannya hijrah ke Bandung.
Saat mendengar bahwa di Bandung ada banyak klub dan turnamen sepak bola putri, Pary tanpa ragu mengikuti saran pelatihnya untuk merantau kurang dari setahun lalu. Pary, yang akhirnya bergabung dengan klub Goal Aksis ini, percaya, Bandung bisa jadi titik awalnya mewujudkan mimpi jadi pesepak bola profesional yang bermain di luar negeri.
Di Piala Pertiwi U-14 dan U-16 All Stars, Pary menjadi salah satu pemain yang bersinar. Dia pun menjadi andalan Bandung di lini serang dan menorehkan total lima gol sepanjang turnamen.
”Mudah-mudahan Bandung, juga Jawa Barat secara umum, semakin konsisten menggulirkan turnamen supaya potensi anak-anak bisa muncul, teknik dan stamina mereka juga terjaga karena bertanding terus. Semoga ini diikuti daerah lain, tidak hanya yang usia muda, tetapi juga sampai yang senior, agar turnamen dan kompetisi ini ada jenjangnya dan menyeluruh,” tutur Dian.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/07/13/009fba5a-7955-4e14-8614-66c88220858f_jpg.jpg)
Seperti Bandung, keberhasilan Tangerang melaju ke final juga bukan datang dari ruang hampa. Dalam beberapa tahun terakhir, sekolah sepak bola (SSB) putri juga banyak bermunculan di sana, seperti Raga Negeri Women, Putri Tangsel City, dan BMIFA Putri.
Pelatih Tangerang Saronih mengatakan, turnamen juga sering digelar meski levelnya masih daerah atau dalam bentuk liga internal. Dengan demikian, para pemain pun tidak asing dengan pertandingan dan bisa menguji hasil latihan.
Bandung dan Tangerang merupakan tim yang menyeleksi pemain terbaik mereka dari tiap penyelenggaraan Piala Pertiwi U-14 dan U-16 sepanjang April hingga Juni 2025. Selain Tangerang dan Bandung, juga ada Jakarta, Cirebon, Surakarta, Yogyakarta, Kudus, Malang, dan Surabaya.
Adapun enam tim lain yang berlaga di Piala Pertiwi ini berasal dari regional di luar Pulau Jawa yang menyeleksi pemain lewat PSSI dan Asosiasi Provinsinya masing-masing. Enam tim ini adalah Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Kalimantan, Sulawesi, Bali-Nusa Tenggara, dan Papua.
Selain turnamen untuk menemukan tim terbaik di tingkat nasional, Piala Pertiwi U-14 dan U-16 All Stars ini juga jadi ajang untuk seleksi timnas untuk Piala AFF Putri U-16 di Surakarta, Jawa Tengah, pada Agustus mendatang. Maka dari itu, pelatih timnas putri, Satoru Mochizuki, pun hadir langsung menyaksikan pertandingan.
”Ada banyak sekali pemain potensial yang tampil di Piala Pertiwi. Tentu banyak yang perlu diperbaiki, tetapi yang penting pemain ini mau terus latihan dan terus berkembang. Jadi penting bagi mereka punya tempat latihan dan juga pentingnya para pelatih ini bisa membimbing mereka ke depannya,” ujar Mochizuki.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/07/13/a1528fa2-f61d-487e-8a73-7ad545b5250a_jpg.jpg)
Vivin Cahyani, anggota Komite Eksekutif PSSI yang memegang tanggung jawab untuk timnas putri, mengatakan, ada 43 nama yang akan dipanggil mengikuti pemusatan latihan di Kudus. Dari 43 nama itu, jumlahnya akan mengerucut lagi menjadi 21 pemain sebagai skuad final ke Piala AFF.
Vivin juga berharap, Piala Pertiwi U-14 dan U-16, yang digelar PSSI bersama Djarum Foundation dan Hydroplus, selanjutnya bisa menjangkau lebih banyak talenta-talenta sepak bola putri dengan cakupan daerah yang semakin luas.
”Kami berharap di tahun-tahun selanjutnya Piala Pertiwi akan semakin besar jangkauannya, bisa ke seluruh negeri sehingga semua talenta yang di ujung pulau, kota-kota kecil bisa bergabung,” ujar Vivin.
Timo Scheunemann, yang disebut Ketua Umum PSSI Erick Thohir akan memegang tanggung jawab untuk melatih tim putri Indonesia U-16, mengatakan, dengan adanya turnamen Piala Pertiwi, jalur pemilihan pemain untuk timnas menjadi lebih sistematis. Pemain pertama-tama bertanding membela klub masing-masing di tingkat regional, lalu terkurasi untuk membela kota dan regional di tingkat nasional, setelah itu terpilih pemain terbaik level nasional untuk membela timnas.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/07/13/88eeff89-c36e-47dd-a64f-2db24fe37591_jpg.jpg)
”Pemain yang tampil di atas ekspektasi saya, lebih bagus dari yang saya kira. Penyelenggaraan Piala Pertiwi di daerah memang masih banyak kekurangan, tapi yang utama, yang positifnya, dari tidak ada jadi ada. Jalur ke timnas-nya jelas, pemilihan bukan lewat pelatih dipilih, terus telepon kanan-kiri, ini sudah lebih sistematis,” ujarnya.
Dari Piala Pertiwi, Bandung membuktikan sepak bola putri tak bisa dibangun seketika, melainkan dengan proses yang menjelma jadi juara. Jalur menuju timnas pun akan lebih jelas dan tertata ketika pembinaan di daerah berkesinambungan dan terus terjaga.
Penulis:
Rebiyyah SalasahEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Galih Rudanto