Dua alumnus timnas Italia yang juara Piala Dunia 2006 bertukar tempat di kursi pelatih Pisa. Namun, nasib mereka bertolak belakang.
01 Feb 2026 13:21 WIB · Olahraga
AFP/PIERO CRUCIATTI
Alberto Gilardino menutup kisahnya sebagai pelatih Pisa hanya setelah memimpin tim dalam 23 pekan Liga Italia edisi 2025-2026. Tidak ada lagi cinta bagi Gilardino pada hari pertama ”bulan cinta” akibat hanya membawa Pisa mengemas satu kemenangan dan terdampar di peringkat ke-19.
Kekalahan 1-3 dari Sassuolo, sesama tim promosi musim ini, di Arena Garibaldi, Sabtu (31/1/2026), menjadi penutup tirai era Gilardino. Pemenang Piala Dunia 2006 bersama timnas Italia itu kesulitan membawa Pisa bersaing dengan tim-tim terbaik ”Negeri Spaghetti”.
”Pisa Sporting Club mengumumkan bahwa telah berkomunikasi dengan Alberto Gilardino secara personal dan profesional untuk mengubah kepemimpinan teknik di tim utama. Kepada Alberto dan semua anggota stafnya, kami ucapkan terima kasih secara tulus atas apa yang telah diberikan dalam beberapa bulan terakhir,” sebut pernyataan resmi Pisa, Minggu (1/2/2026).
Gilardino pun menjadi pelatih kelima yang dipecat di Serie A 2025-2026. Ia menyusul Igor Tudor (Juventus), Patrick Vieira (Genoa), Stefano Pioli (Fiorentina), dan Ivan Juric (Atalanta).
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/01/f63d5d62a6d95595b6c6b4155a41aded-Pisa_vs_Sassuolo_Serie_A_Enilive_2025_2026.jpg)
Bersama Gilardino, Pisa hanya sekali mengemas kemenangan ketika menaklukkan Cremonese pada pekan ketujuh, 8 November lalu. Setidaknya hingga periode November, perjalanan Pisa di kompetisi kasta tertinggi dalam 34 tahun berjalan baik-baik saja.
Mereka mengemas sembilan poin pada 10 pertandingan pertama, termasuk menahan AC Milan di Stadion San Siro. Memasuki Desember, Pisa kian kesulitan keluar dari periode nirmenang.
Mereka hanya mengemas 14 poin dari hasil sekali menang, 11 seri, dan 11 kalah. Terlepas dari hasil akhir di klasemen, performa Pisa juga belum layak tampil di Serie A.
Ini periode yang sulit bagi tim. Kami akan terus berusaha melakukan segalanya dengan seluruh kemampuan untuk memenangi pertandingan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/01/342de8ad21a70f67b0ef81562aaa5020-Screenshot_2026_02_01_at_12.41.21_PM.png)
Berstatus sebagai peringkat kedua Serie B musim 2024-2025, Pisa gagal mengembangkan tim demi mengurangi disparitas kualitas kontra 17 tim Serie A yang bertahan dari musim sebelumnya.
Dalam sejumlah catatan statistik tim Serie A edisi 2025-2026, Pisa berada dalam tiga tim terbawah. Itu terlihat dari koleksi penguasaan bola per laga (40,3 persen), nirbobol (empat laga), kebobolan per laga (1,7), gol per laga (0,8), kreasi tembakan tepat sasaran per laga (2,8), hingga selisih gol (-21).
Keberadaan Pisa di peringkat kedua terbawah juga dianggap catatan yang pantas. Sebab, mereka adalah salah satu tim yang paling sering mubazir terhadap peluang.
Itu terlihat dari catatan expected goals (xG) difference yang menghitung ekspektasi gol dengan realitas jumlah gol yang diciptakan sebuah tim. Pisa mencatatkan -12,9. Artinya, dengan koleksi 19 gol saat ini, idealnya Pisa sudah menghasilkan setidaknya 32 gol.
”Ini periode yang sulit bagi tim. Kami akan terus berusaha melakukan segalanya dengan seluruh kemampuan untuk memenangi pertandingan,” ujar Gilardino dalam konferensi pers terakhirnya sebagai pelatih Pisa seusai pertandingan kontra Sassuolo, Sabtu (31/1/2026), dilansir Corriere dello Sport.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/24/e1fe2f929eeb29aaa35d2d66dc6cc651-wires_photo_4_.jpg)
Namun, manajemen Pisa sudah habis kesabaran terhadap Gilardino. Tidak hanya tim yang menderita, sejatinya Gilardino juga mencoreng rekam jejaknya sebagai pelatih.
Pisa adalah tim keduanya yang diasuh di Serie A. Sebelumnya, ia menangani Genoa sejak Desember 2022 hingga dipecat pada November 2024. Bersama Genoa, catatan kemenangan Gilardino ialah 41 persen.
Adapun selama menangani Pisa, ia hanya mengoleksi empat persen kemenangan dari 25 pertandingan. Rekor statistik yang tidak bisa dibanggakan sama sekali, apalagi merujuk predikatnya sebagai salah satu penyerang terbaik Italia pada dekade awal 2000-an.
Sejak awal, Pisa mengambil keputusan besar dan berisiko dengan menunjuk Gilardino sebagai pelatih pertama di Serie A setelah lebih dari tiga dekade. Gilardino masih amat hijau untuk bersaing di kompetisi kasta tertinggi Italia.
Hal itu dilakukan manajemen Pisa setelah mundurnya Filippo Inzaghi, pelatih yang membawa mereka promosi. Berbeda dengan Gilardino, Inzaghi sudah banyak ditempa kesulitan dan masa sulit sebagai juru latih.
Pisa adalah tim kedua yang dibawa Inzaghi merebut tiket promosi Serie A dari Serie B. Ia pernah membawa Benevento naik kasta pada musim 2019-2020.
Merujuk laman Il Tirreno, Inzaghi memutuskan hengkang dari Pisa meskipun masih memiliki kontrak hingga Juni 2027 karena perbedaan visi. Inzaghi ingin mendapatkan keleluasaan untuk membentuk tim demi bersaing di Serie A.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2019/01/29/d6309de3-3c99-494c-8af0-ffe42270d3d1.jpg)
Namun, Pisa ingin mempertahankan napas untuk mengorbitkan pemain-pemain muda. Kondisi itu menyebabkan Inzaghi memutuskan menerima pinangan Palermo yang berambisi meraih tiket promosi Serie A dari Serie B edisi 2025-2026.
Ketika Pisa terancam kembali ke Serie B, Inzaghi tengah berada di jalur tepat untuk promosi ke Serie A. Palermo berada di peringkat ketiga Serie B. Mereka berjarak lima poin dari dua posisi teratas yang dapat menyegel tiket promosi langsung.
Di sisi lain, Pisa telah berusaha memperkuat tim dengan menambal minimnya pengalaman di Serie A dengan merekrut pemain-pemain veteran. Raul Albiol (40) dan Juan Cuadrado (37) diharapkan mampu memimpin skuad muda Pisa.
Kenyataannya, mereka lebih sering berkutat dengan cedera kambuhan dibandingkan bermain. Tak heran, performa Pisa tidak mampu menanjak dari periode nirmenang.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/01/b1bf0859311bd082b86eee1edb0a7716-Pisa_vs_Sassuolo_Serie_A_Enilive_2025_2026_2.jpg)
Keputusan manajemen untuk mendatangkan empat pemain baru di bursa transfer musim dingin ini juga diragukan bisa memberikan dampak signifikan. Empat pemain baru itu, yakni Rafiu Durasinmi, Rosen Bozhinov, Felipe Loyola, dan Filip Stojilkovic, datang tanpa pengalaman sebelumnya di kompetisi Italia alias berstatus debutan di Serie A.
Menurut laporan Sky Sport Italia, Pisa telah membuka komunikasi dengan mantan pelatih Lecce, Marco Giampaolo, untuk mengisi kursi pelatih kepala yang lowong. Giampaolo berstatus menganggur setelah tidak memperpanjang kontrak dengan Lecce pada akhir musim lalu.
Mampukah Pisa bertahan di Serie A? Rasanya, itu target yang sulit dicapai sehingga Pisa akan kembali ke habitat di Serie B pada musim depan.
Penulis:
Muhammad Ikhsan MaharEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Nur Adji