Dari Rusun Menuju Rumah Impian

Tinggal di rusun jadi pilihan sebagian warga sebelum siap punya rumah sendiri.

08 Mei 2025 12:55 WIB · Metro

Oleh Fransiskus Wisnu Wardhana Dhany

JAKARTA, KOMPAS — Rusun Jagakarsa di Jakarta Selatan menambah pilihan warga untuk tinggal di hunian layak dan terjangkau. Sebagian calon penghuni tak melewatkan kesempatan ini sambil menyisihkan pendapatan untuk punya rumah impian.

Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung-Rano Karno, meresmikan Rusun Jagakarsa, Kamis (8/5/2025) pagi. Rusun ini terdiri dari tiga tower setinggi 16 lantai dengan total 723 unit hunian tipe 36 meter persegi.

Tiga unit di antaranya khusus untuk warga disabilitas. Adapun setiap unit memiliki dua kamar tidur, ruang tengah, wastafel, kamar mandi, dan balkon sekaligus tempat jemuran.

Pembangunan rusun menelan biaya Rp 382 miliar. Selain tower, ada juga fasilitas pendukung, seperti tempat parkir, lapangan olahraga, taman, lapak usaha, perpustakaan, pendidikan anak usia dini (PAUD), dan klinik di atas lahan seluas 1,9 hektar.

Salah satu warga yang beruntung untuk menempati rusun itu adalah Tony (34). Ia datang bersama istri dan anaknya. Mereka akan mengundi kunci unit hunian setelah lolos tahapan pendaftaran melalui Sistem Informasi Perumahan dan Permukiman (Sirukim) Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman DKI Jakarta.

”Sebenarnya harga sama dengan kontrak rumah biasa. Nggak jauh beda. Cuma fasilitasnya (rusun) lebih lengkap. Aksesnya juga gampang, di pinggir jalan, bangunannya bagus. Lebih modern,” tutur Tony.

Sebelumnya, keluarga ini mengontrak rumah dengan harga sewa sekitar Rp 1 juta per bulan. Harga ini tak jauh beda dengan biaya sewa Rusun Jagakarsa untuk warga umum.

Tarif sewa tersebut mengacu pada Peraturan Daerah DKI Jakarta Nomor 1 Tahun 2024 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. Biayanya mulai dari Rp 865.000 sampai Rp 1,8 juta per bulan.

Biaya sewa yang tetap sama (flat) juga jadi pertimbangan Tony dan keluarga. Hal ini ditambah dengan letak Rusun Jagakarsa yang berada di tepi Jalan Margasatwa Raya. Dengan lokasi itu, warga bisa mengakses mikrotrans yang kerap disebut Jaklingko untuk menuju ke halte Transjakarta terdekat sebagai sarana menuju pusat kota atau berganti moda.

”Lebih terjangkaulah untuk kami. Sambil nabung untuk ambil rumah sendiri,” ucap Tony.

Keluarganya ingin memiliki rumah di pinggiran Jakarta. Untuk itu, mereka harus bekerja keras dan menabung karena harga rumah selangit untuk pekerja dengan gaji pas-pasan seperti dia.

Imel (31) juga datang dengan pasangannya. Mereka menunggu waktu pengundian kunci unit hunian Rusun Jagakarsa.

Tinggal di rusun dengan fasilitas memadai jadi pilihan paling masuk akal baginya. Sebab, si buah hati butuh cukup ruang untuk bermain yang hal itu mustahil disediakan di indekos.

”Di sini ada taman bermain. Fasilitasnya lengkap dengan harga sewa sama kayak kos-kosan. Makanya, kami mau pindah ke sini,” ujar Imel.

Keluarganya tidak kesulitan dalam proses pendaftaran melalui Sirukim. Verifikasi data oleh petugas juga berjalan lancar sehingga mereka berkesempatan tinggal di Rusun Jagakarsa dengan biaya sewa kurang dari Rp 1 juta per bulan.

Di sisi lain, Imel dan suami juga bisa lebih leluasa menabung. Tabungan itu bekal untuk punya rumah sendiri.

”Cita-cita pasti pengin punya rumah sendiri. Kalau bisa di Jakarta, tapi kayaknya nggak mungkin karena mahal. Nanti kami sesuaikan saja sama bujet,” ucap Imel tertawa geli.

Seorang warga calon penghuni Rusun Jagakarsa di Jakarta Selatan, Kamis (8/5/2025). Rusun ini terdiri dari tiga tower setinggi 16 lantai dengan total 723 unit hunian tipe 36 meter persegi.

Kebutuhan rumah

Warga berbondong-bondong mendaftarkan diri ketika Rusun Jagakarsa dibuka. Bahkan, pada tahap awal ada 400 pendaftar yang memperebutkan kuota 200 unit hunian.

Setelah verifikasi, hanya 33 keluarga yang lolos. Namun, tiga keluarga mengundurkan diri sehingga tersisa 30 keluarga yang mengikuti pengundian kunci unit hunian.

Tahap kedua akan dibuka setelah 30 keluarga mulai menghuni Rusun Jagakarsa. Prosesnya dipastikan ketat agar sesuai peruntukan.

Situasi saat ini menunjukkan warga butuh hunian layak dan terjangkau. Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman DKI Jakarta mencatat ada dua kekurangan kebutuhan berdasarkan kepemilikan rumah (backlog).

Backlog kepenghunian sebanyak 288.393 keluarga. Data diperoleh dari backlog awal pada 2021 (302.319 keluarga) dikurangi jumlah rusun terbangun (13.926 unit).

Selanjutnya, backlog kepemilikan yang mencapai 1,86 juta keluarga. Angka ini diperoleh dari perkalian antara persentase rumah bukan milik oleh Badan Pusat Statistik (51,52 persen) dan total keluarga dalam data Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil DKI Jakarta tahun 2021 (3,61 juta).

Kebutuhan warga itu masih jauh panggang dari api. Rusun yang terbangun hingga tahun 2023 di 42 lokasi yang terdiri dari 156 blok (14.036 unit hunian layak) dan 82 tower (18.342 unit hunian layak) sehingga total terbangun 32.378 unit hunian layak.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung bertemu calon penghuni Rusun Jagakarsa di Jakarta Selatan, Kamis (8/5/2025). Rusun ini terdiri dari tiga tower setinggi 16 lantai dengan total 723 unit hunian tipe 36 meter persegi.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung bertanya pada calon penghuni Rusun Jagakarsa sebelum peresmian apakah ada calo yang menawarkan unit hunian. Warga menjawab tidak. Warga mengaksesnya lewat Sirukim.

”Saya dengar berbagai keluhan. Saya minta perbaikan Sirukim. Dua pekan lagi harus lebih transparan, lebih baik dan cepat merespons. Kalau tidak memenuhi syarat, dalam dua pekan bisa diketahui,” kata Pramono.

Pramono mengutarakan hal tersebut kepada Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman DKI Jakarta Kelik Indriyanto. Ia pun memastikan kelanjutan pembangun rusun di lokasi lainnya.

Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman DKI Jakarta telah menyiapkan program tahun jamak 2025-2026 untuk pembangunan Rusun Rorotan IX tahap I dan Rusun Padat Karya tahap II, serta revitalisasi Rusun Marunda Cluster C.

”Ini prioritas. Rusun seperti ini dengan fasilitas lengkap, ada day care, perpustakaan, klinik, dan sebagainya agar warga nyaman untuk tinggal,” ucap Pramono.

Mantan Sekretaris Kabinet itu juga menjanjikan perbaikan ataupun peningkatan konektivitas transportasi ke selatan Jakarta. Pemprov DKI Jakarta akan merapikan sarana dan prasarana transportasi untuk memudahkan mobilitas warga.


Kerabat Kerja

Penulis:

Fransiskus Wisnu Wardhana Dhany
 | 

Editor:

Rini Kustiasih
 | 

Penyelaras Bahasa:

Galih Rudanto