Persahabatan sejati itu manfaatnya terasa sampai ke akar rumput.
17 Des 2024 16:13 WIB · Internasional
Indonesia dan Taiwan memiliki hubungan persahabatan dan kemitraan yang nyata selama 48 tahun Misi Teknis Taiwan di Indonesia (TTMI). Berbagai program kerja sama yang dilaksanakan manfaatnya langsung dirasakan oleh masyarakat di akar rumput.
TTMI fokus pada pengembangan mutu petani dan hasil tani. Pertama kali misi ini bermitra dengan Pemerintah Indonesia ialah pada 1976 di Provinsi Jawa Timur. Setelah itu, misi ini menjalankan berbagai proyek, antara lain di Sumatera Utara, Jawa Tengah, Bali, dan Sulawesi Selatan.
”Kami fokus ke petanian atas permintaan dari Pemerintah Indonesia,” kata Dennis Kao, Kepala TTMI, saat ditemui di proyek terkini TTMI di Karawang, Jawa Barat, Senin (16/12/2024).
Taiwan membagi ilmu dan keterampilan di semua lini pertanian dengan Indonesia. Lini itu dimulai dengan pembibitan dan penyemaian; penanaman; panen; pengumpulan; dan pemasaran. Dalam sistem pertanian tradisional Indonesia, petani hanya terlibat sampai dengan proses panen. Setelah itu, hasil panen dijual kepada pengepul dan petani tidak mengetahui kelanjutannya.
Sebaliknya, pertanian di Taiwan sudah modern. Definisi modern tidak hanya sebatas peralatan, tetapi juga sistem pengelolaan lahan, jadwal tanam, logistik, dan keterlibatan di dalam pemasaran. Ini menjadikan petani berdaya sekaligus memiliki kemampuan untuk menghasilkan uang lebih banyak.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/16/5f97c4e7-c764-488c-9dab-09db8c0efe4e_jpg.jpg)
”Indonesia memiliki banyak kebijakan dan program pertanian yang bagus pada tataran pemerintah serta akademik. Namun, karena keterbatasan jumlah orang, program-program itu banyak tidak sampai ke petani,” kata Kao.
Selain itu, juga terdapat kasus pembangunan jejaring yang belum memadai sehingga program pertanian tidak berjalan maksimal. Kao mencontohkan, langkah pemerintah sudah baik dengan membuka lahan pertanian untuk rakyat. Akan tetapi, tidak ada kejelasan struktur program itu.
Menurut Kao, petani tidak bisa disuruh menanam hanya sesuai keinginan mereka. Petani memerlukan perencanaan menyeluruh mengenai jenis tanaman yang akan ditanam, sarana penyimpanan hasil panen, dan jalur pemasaran. Jika sistem ini tidak dibangun, petani tidak akan bisa memaksimalkan lahan, dan segala jerih payah bercocok tanam tidak menghasilkan pendapatan yang memadai.
Sejauh ini, umumnya kelompok tani hanya menerima bantuan bibit, pupuk, dan alat dari pemerintah. Proses penanaman dilakukan sendiri-sendiri dan memakai ilmu yang dipelajari secara turun-temurun. Sering kali, ilmu tradisional itu telat, bahkan susah beradaptasi dengan cepatnya perubahan keadaan akibat perubahan iklim, alih fungsi lahan, dan penurunan kondisi tanah.
”Di Indonesia ada banyak sekali kelompok tani, tetapi belum ada asosiasi petani profesional dalam tataran nasional yang terlibat di dalam pembuatan kebijakan pertanian. Pelan-pelan, kerja sama ini harapannya meningkatkan kompetensi petani menuju ke sana,” ujar Kao.
Mencontohkan proyek di Karawang, TTMI bekerja sama dengan 89 petani dengan pemerintah kabupaten sebagi mitra. Permintaan Pemerintah Kabupaten Karawang yaitu agar TTMI membantu petani menanam sayuran di antara dua masa tanam padi. Proyek ini dimulai dari 2019.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/16/fb5bb8ea-0267-411f-a4d7-1f7e56506c9f_jpg.jpg)
Awalnya, TTMI mengajak petani menanam brokoli, mentimun, terong, dan jagung yang merupakan sayuran umum Indonesia. Para petani juga memiliki pengetahuan dasar menanam sayuran itu. Akan tetapi, walaupun hasilnya bagus, harga sayuran tersebut sangat murah dan hanya bisa dijual ke pasar tradisional.
TTMI berusaha membuka jalur ke pasar swalayan di perkotaan. Sebab, jika bisa masuk ke pasar swalayan, nilai tambah produk lebih tinggi dan ada jaminan keberlanjutan pemesanan. Persoalannya, pasar swalayan tidak mau menerima sayuran itu saja.
Syarat berjualan dengan pasar swalayan ialah kelompok tani harus menghasilkan minimal 20 jenis sayur secara konsisten. Oleh sebab itu, TTMI memperkenalkan antara lain okra, pare putih, pakcoy, kailan, dan asparagus. Total, ada 30 jenis sayur yang dibudidayakan.
Mereka juga mengenalkan inovasi di dalam cara bercocok tanam. Misalnya, petani biasanya hanya memakai dua bilah bambu yang disusun berbentuk segitiga untuk menanam sayuran rambat. Metode yang diperkenalkan TTMI yaitu bilah bambunya disusun membentuk persegi sehingga bisa menaungi lebih banyak tanaman.
”Inovasi pertanian bisa menggunakan barang-barang yang sudah dimiliki petani, cuma dipakai dengan cara berbeda,” kata Kao.
Dari aspek cuaca, menurut Kao, Indonesia stabil. Tidak ada musim badai topan seperti di Taiwan yang merusak lahan pertanian. Persoalan di Indonesia ialah dampak krisis iklim menjadikan musim hujan tidak bisa ditebak.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/16/39fe9d97-0c52-41ea-bc87-7f8340ec3a13_jpg.jpg)
Setelah panen, TTMI menyediakan gudang dan ruang pendingin untuk penyimpanan sementara dan pengemasan sayur. Prosesnya memakan waktu 24 jam dari sayur dipanen oleh petani, diantar ke gudang TTMI, dicuci dan dikemas, hingga dikirim ke pasar swalayan di Jabodetabek.
Ada 29 pasar swalayan yang menyerap sayur dari TTMI. Beberapa di antaranya ialah Kem Chicks, Papaya, dan Yogya Mall. Dari total produksi, per 2024, mereka memanen 82 ton sayur setiap tahun.
”Sistemnya ialah beli putus. Jadi, kami harus menyiapkan produk sebaik mungkin,” kata Kao.
Petani juga belajar mengenai jaringan distribusi sayur. Kao menuturkan, keterbukaan informasi merupakan aspek penting kemitraan dengan para petani. Mereka harus mengetahui harga beli sayur oleh TTMI, harga beli oleh pasar swalayan, dan harga terakhir yang dibayar oleh konsumen. Pengetahuan ini memberi petani kemampuan untuk menegosiasikan harga dengan pengepul dan pasar.
”Ongkos bibit dan pupuk dari TTMI dipotong dari laba penjualan ke swalayan. Jumlahnya sedikit dibandingkan dengan yang diterima petani. Balik modal itu kami pakai untuk penyediaan bibit, pupuk, dan alat,” kata Kao.
Selain itu, TTMI mengadakan 10 seminar setiap tahun dengan mengundang para pakar dari Taiwan, Kementerian Pertanian, dan petani yang sudah sukses. Staf TTMI juga setiap dua atau tiga hari sekali berkeliling mengunjungi para petani binaan.
Kao mengatakan, program di Karawang berakhir pada 2025. Jika pemerintah tidak melanjutkan, fasilitas TTMI akan disumbangkan kepada dinas pertanian setempat dan dikelola oleh para petani binaan. Metode serupa diterapkan di Jawa Timur dan Sumatera Utara.
Di Sulawesi Selatan, programnya selesai per akhir 2024. Guru Besar Bioteknologi Universitas Hasanuddin Yunus Musa mengatakan, proyek tersebut fokus pada pemuliaan dan pemilihan benih unggul. ”Kami melatih petani cara memilih benih dan menyusun jadwal penanaman, pemupukan, dan panen yang terperinci,” katanya.
Metode penjadwalan terhitung ini membedakan dari cara tradisional yang hanya mengamati alam. Proyek kolaborasi Unhas-TTMI ini memasok 11-15 persen benih padi unggul di Sulsel per tahun. Petani memperoleh benih ini dengan cara menukarnya dengan gabah. Proyek tersebut menggunakan lahan seluas 400 hektar yang tersebar di 9 kabupaten/kota.
”Dari sisi tanah dan tanaman, Indonesia punya banyak. Tinggal dikelola secara modern supaya berkelanjutan. Petaninya juga diberdayakan supaya memahami rantai pasok pertanian,” kata Kao.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/25/313a8709-926c-4db1-952b-30faedf23110_jpg.jpg)
Penulis:
Laraswati Ariadne AnwarEditor:
Bonifasius Josie Susilo H