Hasil mengecewakan di Piala Asia U-20 2025 dan Piala AFF 2024 membuktikan ada yang salah dalam sistem pembinaan sepak bola Indonesia.
17 Feb 2025 13:39 WIB · Olahraga
Tersingkirnya tim U-20 Indonesia dari persaingan Piala Asia U-20 2025 seusai tumbang beruntun oleh Iran dan Uzbekistan sepatutnya tidak lagi dianggap sebelah mata oleh PSSI. Pemangku kepentingan sepak bola nasional jangan sekadar melihat performa ”Garuda Muda” di China sebagai kegagalan memenuhi target menembus Piala Dunia U-20 2025, tetapi ada masalah besar yang tecermin dari performa para pemain.
Betul, anak asuhan Indra Sjafri tidak pantas mencari alasan atas ketidakmampuan bersaing di Grup C Piala Asia U-20 China 2025 menghadapi dua lawan tangguh, Iran dan Uzbekistan. PSSI sudah mengirimkan tim U-20 menjalani pemusatan latihan bertahap. Pemusatan latihan itu dimulai dengan latihan di Como, Italia, Mei-Juni 2024.
Mereka dikirim menjalani sejumlah turnamen internasional, yang dimulai Turnamen Toulon di Perancis, Juni 2024. Kemudian, Dony Tri Pamungkas dan kawan-kawan ditempa menjalani turnamen di Seoul, Korea Selatan, yang mengalahkan tim U-20 Argentina.
Setelah menjalani laga kualifikasi Piala Asia U-20 2025, skuad Garuda Muda juga digembleng di Jepang dengan latihan intensif dan sejumlah gim uji coba.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/13/ea95ad57-020d-42c6-96d4-a27af92873a4_jpg.jpg)
Di dalam negeri, mereka melakukan pemusatan latihan di Jakarta, Surabaya, Bali, hingga menjalani turnamen mini kontra Jordania, Suriah, dan India di Sidoarjo, Jawa Timur, sebelum terbang ke Shenzhen, China, untuk bertarung di Piala Asia U-20 2025.
Namun, penampilan tim U-20 jauh dari memenuhi ekspektasi. Lima dari enam gol yang bersarang ke gawang kiper, Ikram Algiffari, diawali umpan silang. Pemain belakang Garuda Muda keteteran mengantisipasi bola-bola udara Iran dan Uzbekistan.
Indonesia juga hanya bisa mencetak sebuah gol menghadapi Uzbekistan. Lagi-lagi, Jens Raven yang menjadi harapan gol utama Garuda Muda. Sumbangan empat gol Raven menjadi penentu Indonesia meraih gelar juara dalam Piala AFF U-19 2024 yang berlangsung di Surabaya, Jawa Timur, Juli tahun lalu.
Dengan pemusatan latihan yang dilakukan dalam satu tahun dan kesempatan pemain mengecap pengalaman bertanding di luar negeri, lalu apa penyebab tim U-20 tak berdaya di Piala Asia U-20 2025?
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/16/66288f62-a912-485d-8bb5-ca3a56c741d2_jpeg.jpeg)
Kegagalan tim U-20 memenuhi target tampil di Piala Dunia U-20 Chile 2025 murni didasari kualitas pemain Garuda Muda yang sudah jauh tertinggal dibandingkan tim-tim lain di Asia. Selain pemusatan latihan yang panjang dan masa persiapan yang matang, mayoritas pemain juga sudah mendapatkan pengalaman tampil di kompetisi profesional nasional, utamanya Liga 1 dan Liga 2 musim 2024-2025.
Sebanyak 12 dari 23 pemain yang disertakan Indra ke China sudah mendapat menit bermain di klubnya musim ini. Bagi pemain yang masih berusia remaja, kesempatan tampil itu membuktikan mereka memiliki potensi besar dibandingkan rekan-rekan satu angkatan.
Tim U-20 juga memiliki Raven dan Marselinus Ama Ola yang berkarier di luar negeri. Raven membela tim Belanda, Dordrecht U-21. Sementara Marselinus dikontrak tim Spanyol, UD Logrones Promesas.
Para pemain yang merupakan hasil pembinaan di dalam negeri terbukti tidak bisa bersaing dengan pemain-pemain Iran dan Uzbekistan. Meski beberapa dari mereka juga sudah tidak asing berlaga dalam gim internasional karena berstatus lulusan tim Piala Dunia U-17 2023 serta ada Dony dan Kadek yang menjadi pemain utama di Piala AFF 2024 lalu, pengalaman itu tidak bisa mendongkrak kualitas mereka yang tertinggal di tingkat Asia.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/16/2fa64f7d-df6c-43d5-a77e-73a167a11979_jpeg.jpeg)
Laga melawan Iran dan Uzbekistan memperlihatkan minimnya pemahaman taktik, buruknya inisiatif kolektif pemain, serta maraknya kesalahan mendasar dalam situasi bertahan dan distribusi operan akhir ketika menyerang. Segala kekurangan itu tidak bisa dibenahi hanya melalui pemusatan latihan bersama selama satu tahun.
Hal yang menjadi catatan dari performa skuad Garuda Muda adalah buah dari pembinaan usia dini Indonesia yang tidak berjalan secara optimal. Di tengah program naturalisasi pemain diaspora oleh PSSI untuk memperkuat skuad Garuda dan Garuda Muda, belum ada pembenahan terstruktur dalam program pembinaan akar rumput.
Para pemain yang menonjol di usia dini adalah berkah, jika tidak ingin dibilang mukjizat, yang keluar dari kondisi pembinaan serba kekurangan. Pemain muda belum mendapat kesempatan yang adil dalam pembinaan usia dini yang setara, fasilitas sepak bola yang merata, serta kompetisi belia yang berjenjang.
Sejatinya sinyal kualitas pemain-pemain Garuda Muda sudah tertinggal dibandingkan negara lain telah terlihat pada Piala AFF 2024, yang menjadi turnamen terakhir bersama Pelatih Shin Tae-yong. Ketika itu, Indonesia turun dengan kekuatan tim U-22.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/13/da3e1ed4-3ead-4f01-8321-652f54a3b968_jpg.jpg)
Pemain U-22 yang telah memiliki kontrak profesional dengan tim-tim terbaik Indonesia juga tidak mampu mengalahkan tim yang selama ini mudah dikalahkan, seperti Laos dan Filipina. Untuk pertama kali dalam turnamen resmi, Indonesia ditahan Laos dan kalah dari Filipina di kandang sendiri.
Apalagi pemain yang sudah berusia lebih dari 20 tahun seharusnya sudah menunjukkan mayoritas kualitas maksimal mereka sebagai pesepak bola. Tim Indonesia di Piala AFF 2024 memperlihatkan kualitas pembinaan dan kompetisi nasional yang patut dibenahi secara menyeluruh. Hal itu pun dipertegas dengan tim U-20 asuhan Indra.
Performa tim nasional Indonesia yang telah disesaki pemain naturalisasi semoga tidak membuat PSSI dan pemangku olahraga nasional silau. Mereka mengelu-elukan prestasi tim Garuda yang bisa bersaing di kualifikasi Piala Dunia 2026.
Namun, sejatinya, kualitas pemain binaan dalam negeri kualitasnya sudah jauh meredup. Di sinilah seharusnya keadilan hadir. Dengan kondisi saat ini, tentu sangat tidak adil membandingkan kualitas pemain binaan dalam negeri dengan pemain naturalisasi.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/13/2b8720f0-f52c-4317-aaf3-e29c550d80b5_jpg.jpg)
Pemain diaspora yang lahir dan besar di Eropa menikmati sistem pembinaan, fasilitas sepak bola, dan program kompetisi usia dini yang telah stabil dan terbukti menghasilkan pemain-pemain berkualitas dunia. Adapun mayoritas pemain lokal tidak mengalami kemewahan itu.
Pembinaan usia dini saat ini hanya layak untuk melakukan regenerasi pemain untuk kompetisi nasional. Akan tetapi, para pemain itu sudah tertinggal jika bersaing di level Asia, bahkan ASEAN.
Ujung-ujungnya, pemain lokal bakal silih berganti dirundung warganet ketika tampil buruk membela lambang Garuda di dada. Saat sudah berjibaku meningkatkan kemampuan di tengah sistem pembinaan yang amat terbatas, mereka juga harus memugar diri dari serangan dunia maya yang kerap melukai mental.
Jadi, apakah PSSI masih mau bermimpi menuju Piala Dunia tanpa membenahi program pembinaan lebih dulu?
Penulis:
Muhammad Ikhsan MaharEditor:
Emilius Caesar Alexey