LIGA INGGRIS

De Zerbi, Sosok Tepat di Waktu yang Salah untuk Tottenham

Tottenham berupaya mendatangkan Pelatih Roberto De Zerbi lebih cepat dari rencana awal. Sosok berbakat itu membawa harapan sekaligus tanda tanya besar bagi mereka.

31 Mar 2026 18:07 WIB · Olahraga

Oleh Kelvin Hianusa

Saking besarnya, ”api” di kubu Tottenham Hotspur, manajer interim Igor Tudor yang dijukuki ”pemadam kebakaran” saja sampai tidak kuat bertahan. Kini, di situasi semakin kacau, Tottenham melirik juru taktik berbakat, Roberto De Zerbi, yang lebih mirip seperti seorang arsitek berpengalaman.

De Zerbi sudah diincar Tottenham untuk mengambil alih di musim panas. Namun, rencana tidak berjalan sesuai harapan. Tudor—yang diharapkan memimpin sampai akhir musim—terdepak hanya setelah 44 hari di klub. Kursi manajer mereka pun mengalami kekosongan sejak Senin (30/3/2026).

Nama De Zerbi kini menjadi yang terdepan untuk menangani ”Si Lili Putih” dalam tujuh pertandingan Liga Inggris tersisa. Menurut BBC Sport, De Zerbi tidak keberatan untuk mengambil alih klub saat ini juga. Seperti diketahui, Tottenham sedang bertarung dari jeratan zona degradasi.

”Saya tahu mereka sedang kesulitan saat ini, tetapi mendatangkan seseorang seperti De Zerbi, yang merupakan pelatih top, menunjukkan betapa besarnya klub Tottenham. Jadi, mereka sekarang masih punya kesempatan (di sisa musim),” kata Paul Merson, mantan pemain tim nasional Inggris.

Tudor memang ahli dalam memimpin di situasi darurat. Dia sudah membuktikan itu berkali-kali dalam kariernya, terakhir bersama Juventus dan Lazio. Hanya saja, juru taktik asal Kroasia itu tidak pernah punya pengalaman di Inggris. Hal itu yang membuatnya justru ikut ”terbakar” di Tottenham.

Manajer Liverpool Jurgen Klopp (kiri) berbicara dengan pelatih Brighton Roberto De Zerbi (kanan) usai laga Liga Inggris di Stadion American Express Community, Brighton, Minggu (8/10/2023). Laga berakhir imbang 2-2.

De Zerbi tidak perlu diragukan lagi dari sisi pengalaman. Dia merupakan salah satu pelatih paling bersinar di Inggris dalam beberapa tahun terakhir. De Zerbi pernah sukses menyulap tim medioker, Brighton and Hove Albion (2022-2024), untuk memainkan gaya sepak bola yang terbilang indah.

Juru taktik berusia 46 tahun itu terkenal dengan permainan berintensitas tinggi dan berbasis penguasaan bola. Jika diibaratkan, dia adalah seorang arsitek yang mengutamakan estetika. Dia sangat berhati-hati dan detail untuk membangun gedung indah. Konsekuensinya, proses pembentukan itu memakan waktu.

Sejarah membuktikan, De Zerbi bukanlah sosok manajer yang bisa menyulap tim dalam sekejap. Seperti di Brighton, dia datang menggantikan Graham Potter pada 2022. Hasilnya, Brighton gagal menang dalam lima pertandingan awal di era De Zerbi (3 kalah, 2 seri).

Tren serupa terjadi ketika sang pelatih mengambil alih klub pada tengah musim, di Palermo (2016) dan Benevento (2017). De Zerbi dipecat dari Palermo hanya dalam tiga bulan karena hanya menang sekali dari 13 laga. Dia juga gagal membawa Benevento menang di sembilan laga awal.

Sulit mengharapkan De Zerbi mau berkompromi untuk bermain sederhana nan pragmatis dalam situasi darurat. Dia selalu membawa filosofi yang sama ke setiap klub. ”Saya suka (para pemain) menikmati bola, menjadi protagonis di lapangan, bermain dengan gairah,” ujarnya kepada ESPN pada 2023.

Brighton's head coach Roberto De Zerbi comforts Brighton's Solly March after the English FA Cup semifinal soccer match between Brighton and Hove Albion and Manchester United at Wembley Stadium in London, Sunday, April 23, 2023. (AP Photo/Kirsty Wigglesworth)

Masalahnya, waktu adalah musuh terbesar bagi Tottenham saat ini. Si Lili Putih hanya punya tujuh laga untuk menyelamatkan musim ini. Mereka berada di peringkat ke-17, hanya terpaut satu poin dari peringkat ke-18, West Ham United.

Jika ditunjuk dalam waktu dekat, De Zerbi hanya punya waktu kurang dari dua pekan untuk mempersiapkan tim dalam laga terdekat versus Sunderland (12 April). Mantan gelandang itu harus menerapkan skema permainannya yang sangat kompleks dengan waktu sangat singkat.

Skema berbasis penguasaan ala De Zerbi sangat berisiko ketika kurang waktu adaptasi. Di musim pertamanya bersama Marseille, 2024-2025, misalnya, menurut The Athletic, Marseille membuat 45 kesalahan yang berakhir tembakan atau gol di Liga Perancis. Hal itu merupakan yang kedua terburuk di liga.

Kenyataannya, Tottenham saat ini lebih membutuhkan hasil dibandingkan permainan indah. ”Dia pelatih yang bagus, tetapi bukan seperti Sean Dyche yang datang dan langsung memberikan pengaruh. Bukan pelatih yang membuat tugas pemain jadi lebih mudah dan hanya mengandalkan kerja keras,” kata Merson.

Masalah lainnya, Tottenham tidak punya keistimewaan dalam kualitas maupun kedalaman skuad untuk mendukung filosofi De Zerbi. Mereka mengalami badai cedera sejak pertengahan musim. Tudor bahkan berlatih dengan hanya 13 pemain utama jelang derbi London Utara, versus Arsenal.

FILE - Tottenham's coach Igor Tudor reacts during the English Premier League soccer match between Tottenham Hotspur and Nottingham Forest in London, Sunday, March 22, 2026. (AP Photo/Dave Shopland, File)

Sebelum hengkang, Tudor merangkum segudang masalah Si Lili Putih. ”Kami kurang dalam menyerang, kurang kualitas untuk mencetak gol. Kami juga kurang dalam pergerakan di lini tengah dan kurang dalam bertahan. Jadi, situasi yang luar biasa,” tuturnya.

Tottenham pun menghadapi pertaruhan selanjutnya. Jika lolos dari zona degradasi, De Zerbi akan menjadi investasi paling berharga pada musim depan. Sebaliknya, rencana klub akan hancur seketika seandainya turun kasta. Semua itu tergantung dari putaran dadu terakhir Si Lili Putih. (AP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Kelvin Hianusa
 | 

Editor:

Yulvianus Harjono
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan