Setiap saat, pengguna persenjataan AS cemas karena ada rahasia yang disimpan. Bahkan, sekutu dekat AS di Eropa tak lepas dari kecemasan itu.
11 Mar 2025 04:00 WIB · Internasional
Membeli tak berarti memiliki, apalagi sekadar menyewa. Hal itu berlaku untuk persenjataan dan aneka teknologi militer. Kondisi tersebut terungkap di tengah ketegangan Amerika Serikat dengan sekutunya di Eropa.
Keputusan Presiden AS Donald Trump mengurangi bantuan pertahanan untuk Ukraina ditanggapi beragam oleh Eropa. Menteri Luar Negeri Polandia Radoslaw Sikorski ikut berkomentar lewat media sosial.
Komentarnya memancing tanggapan dari Menlu AS Marco Rubio dan Elon Musk. Rubio dan Musk menanggapi karena yang dibahas soal penggunaan Starlink, jaringan satelit yang dikendalikan perusahaan Musk.
Di media sosial, Minggu (9/3/2025), Musk mengingatkan peran Starlink sebagai tulang punggung komunikasi militer Ukraina di garis depan. Kalau akses Ukraina dihentikan, rantai komando hingga kendali operasi Ukraina akan runtuh.
Sikorski mengingatkan, Polandia membayar 50 juta dollar AS per tahun untuk penggunaan Starlink di Ukraina. Ia mengatakan, Eropa bisa saja mencari pengganti Starlink. Apalagi, AS telah menghentikan pasokan intelijen ke Ukraina.
Ia menyebut Musk tidak berempati pada Ukraina yang jadi korban pendudukan Rusia. ”Terlepas dari etika mengancam korban agresi, jika SpaceX terbukti sebagai penyedia yang tidak dapat diandalkan, kami akan dipaksa mencari pemasok lain.”
Seorang juru bicara Kemenlu Polandia menyatakan, layanan Starlink yang digunakan oleh Ukraina bukan layanan amal dari Pemerintah AS. Layanan tersedia karena Polandia membayar biayanya.
Unggahan Sikorski dibalas oleh Musk dengan nada mencemooh.”Diamlah, orang kecil. Anda membayar sebagian kecil dari biayanya. Dan tidak ada pengganti untuk Starlink.”
Rubio menimpali unggahan Musk. ”Tidak seorang pun telah membuat ancaman tentang pemutusan Ukraina dari Starlink. Dan ucapkan ’terima kasih’ karena tanpa Starlink, Ukraina sudah lama kalah dalam perang ini dan Rusia akan berada di perbatasan dengan Polandia saat ini,” katanya.
Belakangan, Musk menyebut tidak akan menghentikan layanan Starlink di Ukraina. ”Untuk lebih jelasnya, tidak peduli seberapa tidak setujunya saya dengan kebijakan Ukraina, Starlink tidak akan pernah mematikan terminalnya. Kami tidak akan pernah melakukan hal seperti itu atau menggunakannya sebagai alat tawar-menawar.”
Perdebatan itu mengungkap beberapa hal. Pertama, Eropa amat tergantung pada AS pada banyak hal. Kedua, ada spekulasi Eropa berusaha memutus ketergantungan tersebut.
Spekulasi tersebut disambut pasar. Saham sejumlah perusahaan layanan satelit, termasuk Eutelsat milik Inggris-Perancis, melonjak. Saham Eutelsat sampai naik 650 persen sepanjang akhir pekan lalu. Eutelsat disebut-sebut salah satu calon pengganti Starlink di Ukraina.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/04/9668a3a8-b076-4aaf-9b88-a734475e5fc8_jpg.jpg)
Eropa tak cuma tergantung soal satelit untuk kendali operasi garis depan Ukraina. Eropa juga tergantung pada AS soal persenjataan dan pertahanan.
Sejumlah pihak di Eropa serta-merta teringat kondisi di Afghanistan. Pada Agustus 2021, AS menarik semua pasukan dari Afghanistan. Aneka persenjataan ditinggalkan. Termasuk helikopter tempur Black Hawk dan aneka panser.
Ingatan dan kekhawatiran itu disorot Financial Times. Media Inggris itu, mengutip seorang perwira AS, melaporkan bahwa aneka kendaraan tempur AS yang ditinggalkan di Afghanistan tak ubahnya seperti tumpukan besi.
Untuk berfungsi, aneka kendaraan tempur itu perlu sistem operasi. Dari salah satu pangkalan di tanah AS, Washington bisa menghentikan sistem operasi itu. Tidak peduli di mana pun rudal, pesawat, helikopter, atau tank tersebut, AS bisa mematikannya dari jauh.
Kondisi itu membuat Eropa khawatir. Pertama, pada 2019-2023 saja, sebanyak 55 persen senjata Eropa dipasok AS. Dibandingkan dengan periode lima tahun sebelumnya, menurut data Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI), ketergantungan Eropa ke senjata AS naik 35 persen.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/07/05/8f9a167d-1a81-4ae4-a012-6770e9e3004a_png.png)
”Jika mereka melihat bagaimana Trump menangani Zelenskyy, mereka seharusnya khawatir. Dia mencelakainya,” kata Mikael Grev, mantan pilot pesawat tempur Gripen dan sekarang kepala eksekutif Avioniq, perusahaan kecerdasan buatan bidang pertahanan Swedia. ”Negara-negara Nordik dan Baltik perlu berpikir: apakah dia akan melakukan hal yang sama kepada kita?”
Lebih spesifik pada apa yang disebut sebagai kill switch dalam sistem avionik jet tempur AS dan sistem persenjataannya. Sejauh ini hal itu memang belum terbukti.
Meski begitu, Richard Aboulafia, Direktur AeroDynamic Advisory, mengatakan, ”Jika Anda mendalilkan keberadaan sesuatu yang dapat dilakukan dengan sedikit kode perangkat lunak, itu ada.”
”Ini tidak sesederhana tombol pemutus,” kata Justin Bronk, peneliti senior di Royal United Services Institute (Rusi). ”Sebagian besar militer Eropa sangat bergantung pada AS untuk dukungan komunikasi, dukungan peperangan elektronik, dan pasokan ulang amunisi dalam konflik serius apa pun.”
Hal ini membuat keinginan Pemerintah Denmark untuk membeli belasan jet tempur F-35 dari AS menjadi tanda tanya besar. Bila ada pertentangan di antara kedua negara, AS kemungkinan besar bisa menonaktifkan jet-jet tempur tersebut.
”Apa gunanya Denmark membeli F-35 untuk melindungi Greenland?” kata Sash Tusa, analis kedirgantaraan dan pertahanan. Ia merujuk pada pesawat buatan AS dan pulau milik Denmark yang mau dikuasai Trump.
Pesawat ini mengandalkan pembaruan berkelanjutan dan dukungan pemeliharaan dari AS. Semua melalui Sistem Informasi Logistik Otonomnya—yang akan digantikan oleh program anyar yang dikenal dengan ODIN (Jaringan Terpadu Data Operasional). Sistem ini mengelola segalanya mulai dari perencanaan misi dan basis data ancaman hingga diagnostik pemeliharaan.
”Masalah dengan peralatan pertahanan yang sangat canggih adalah [peralatan ini membutuhkan] begitu banyak dukungan dari vendor sehingga jika vendor memutuskan untuk berhenti mendukung [peralatan ini], peralatan tersebut akan berhenti bekerja. Jika tidak seketika, akan sangat, sangat cepat,” kata Tusa.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/02/13/635638e2-8da1-4f94-b81b-dd4fa49ee8c7_jpg.jpg)
Tak hanya soal jet tempur, sistem pertahanan Inggris yang mengandalkan rudal-rudal balistik Trident buatan AS juga menjadi salah satu hal yang dikhawatirkan. Selain itu, pesawat mata-mata Rivet Joint, pemburu kapal selam P8 Poseidon, pesawat peringatan dini Wedgetail hingga pesawat nirawak Protector juga menjadi tanda tanya.
Nick Cunningham, analis di Agency Partners, mengatakan rudal Trident tetap menjadi titik kerentanan kritis bagi Inggris. Dia berpendapat Inggris seharusnya bisa melirik rudal balistik M51 buatan Perancis sebagai alternatif.
Malcolm Chalmers, wakil direktur jenderal Rusi, mengatakan prospek AS memutuskan untuk menghentikan servis rudal Trident Inggris akan sangat tidak mungkin. Trident juga merupakan bagian dari Perjanjian Pertahanan Bersama antara AS dan Inggris yang diperpanjang tanpa batas waktu saat diratifikasi ulang November lalu.
Joachim Finkielman, Direktur DI Danish Defence and Security Industries, mengakui adanya kegelisahan itu. "Ada banyak kegelisahan tentang apa yang akan terjadi, tetapi hingga saat ini kami belum merasakan adanya perubahan dalam hubungan dengan AS,” katanya.
Penulis:
Mahdi MuhammadEditor:
Kris Mada