Untuk pertama kalinya, Alwi Farhan akan tampil dalam Kejuaraan Dunia Bulu Tangkis. Dia berbekal kepercayaan diri, salah satunya, dari gelar juara Makau Terbuka.
08 Agt 2025 15:26 WIB · Olahraga
JAKARTA, KOMPAS — Dua tahun setelah menjadi juara dunia level yunior, Alwi Farhan mendapat kesempatan tampil dalam ajang individu tertinggi di arena bulu tangkis, Kejuaraan Dunia. Dia akan tampil di Paris, Perancis, 25-31 Agustus 2025, dengan pengalaman bersaing di turnamen BWF World Tour, termasuk saat berhadapan dengan atlet top dunia.
Tunggal putra berusia 20 tahun itu menambah wakil Indonesia yang lolos ke Kejuaraan Dunia setelah menerima undangan dari BWF pada Jumat (8/8/2025). Alwi menjadi wakil ke-12 ”Merah Putih” yang menerima undangan dan akan menyertai dua seniornya di tunggal putra, yaitu Jonatan Christie dan Anthony Sinisuka Ginting.
Semula, Alwi masuk dalam daftar pemain cadangan kedelapan tunggal putra. Namun, peraturan tentang kuota wakil setiap negara berdasarkan ranking dan adanya atlet yang mengundurkan diri membuat Alwi naik posisi hingga berhak tampil di Paris.
Undangan diberikan kepada Alwi setelah dua kali juara dunia dan dua kali peraih medali emas Olimpiade, Viktor Axelsen, mundur. Axelsen mengumumkan pengunduran diri melalui akun Instagram-nya, Kamis, karena masih membutuhkan waktu untuk pulih dari cedera pinggang.
Alhamdulillah, sangat senang. Saya tidak menyangka bisa bermain di Kejuaraan Dunia. Sangat antusias karena ini pertama kalinya lolos, tetapi perasaan saya tetap harus dikontrol.
Pada 2025, cedera itu membuatnya absen dari turnamen sejak terakhir kali kalah pada babak pertama All England, Maret. Itu hanya menjadi turnamen keempat bagi Axelsen setelah Malaysia Terbuka, India Terbuka, dan Jerman Terbuka. Dengan absen pada banyak kejuaraan, atlet Denmark dengan 27 gelar juara BWF World Tour itu hanya menempati peringkat ke-18 dunia, turun dari posisi keempat pada awal 2025.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/22/f10ed090b13f2d64fa3dafa5f9ba4008-Alwi6_R32_ChinaOpen2025_PBSI_20250722.jpg)
Mundurnya Axelsen menjadi kesempatan bagi Alwi. Setelah menjadi juara dunia yunior pada 2023, kini tiba saatnya Alwi mengetes kemampuan di level yang lebih tinggi. Para pesaingnya bukan atlet-atlet dengan usia setara (19 tahun ke bawah) dan pengalaman yang tak jauh berbeda, melainkan para senior yang sarat pengalaman. Di antara mereka terdapat juara bertahan Kunlavut Vitidsarn, Shi Yu Qi, dan Anders Antonsen.
”Alhamdulillah, sangat senang. Saya tidak menyangka bisa bermain di Kejuaraan Dunia. Sangat antusias karena ini pertama kalinya lolos, tetapi perasaan saya tetap harus dikontrol,” kata Alwi.
Tunggal putra peringkat ke-23 dunia itu lega ketika mendapat keputusan bisa tampil di Kejuaraan Dunia sehingga bisa mengeset fokus dan target. ”Kemarin-kemarin masih mengambang antara bisa main atau tidak. Sekarang sudah diputuskan dan saya punya waktu yang cukup untuk persiapan,” katanya.
Alwi akan membawa semua pengalaman sejak naik dari level yunior untuk menjalani debut dalam Kejuaraan Dunia. Salah satu momen berharga baginya adalah saat meraih gelar pertama dari BWF World Tour, yaitu di Makau Terbuka Super 300, 29 Juli-3 Agustus.
Alwi menjadi juara dengan penampilan yang kian solid pada setiap babak. Dari lima babak, dia hanya bermain tiga gim ketika melawan pemain senegara, Mohammad Zaki Ubaidillah, pada babak kedua. Pemain lain yang dia kalahkan adalah semifinalis Kejuaraan Dunia 2021 asal India, Lakhsya Sen, pada semifinal.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/05/6717b502-16ac-499b-933e-e3386c5f57b9_jpg.jpg)
Gelar tersebut menjadi hasil dari upaya Alwi dalam mengelola pikiran dan emosi. ”Di Makau, saya bisa mengelola emosi. Saya adalah pemain yang terkadang punya ambisi berlebihan. Saya diberi tahu oleh pelatih untuk belajar mengontrol itu dan saya bisa melakukannya di Makau,” kata Alwi yang dijumpai seusai latihan pada Rabu pagi hingga siang.
Gelar juara itu, tutur Alwi, juga menjadi buah dari apa yang dia pelajari ketika bertemu atlet-atlet top pada turnamen lain. Di China Terbuka, sepekan sebelum Makau Terbuka, Alwi mendapat kesempatan pertama melawan Vitidsarn sebagai tunggal putra nomor satu dunia. Dia kalah, tetapi bisa memaksa pemain Thailand itu bermain tiga gim, 21-10, 15-21, 18-21.
Pada tahun ini pula, Alwi bermain melawan Antonsen dengan hasil sekali menang dan sekali kalah. Dia juga memiliki pengalaman melawan Axelsen pada babak kedua Jerman Terbuka.
Dari pertandingan-pertandingan tersebut Alwi belajar menganalisis kelebihan dan kekurangan setiap lawan dalam level lebih tinggi. Dia berusaha mempelajari pola pikir dan cara bermain mereka dalam menghadapi setiap tekanan. Setelah pelajaran itu menghasilkan gelar juara di Makau, Alwi mendapat kesempatan menerapkannya di tingkat yang lebih tinggi, yaitu Kejuaraan Dunia. ”Saya akan memaksimalkan kesempatan ini dan mengambil pengalaman sebanyak-banyaknya,” katanya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/18/5e99938e894c0c85b017386329ddab8d-WhatsApp_Image_2025_01_18_at_21.58.59.jpeg)
Selain tiga pemain tunggal putra, nomor tunggal akan diwakili Gregoria Mariska Tunjung dan Putri Kusuma Wardani di sektor putri. Bagi Gregoria, Kejuaraan Dunia menjadi ajang ketiga saat kembali ke turnamen setelah absen pada pertengahan April hingga pertengahan Juli. Dua turnamen sebelumnya yang diikuti adalah Jepang dan China Terbuka.
Gregoria absen dari turnamen karena mengalami vertigo dan itu dia rasakan kembali setelah kalah dari Han Yue pada perempat final China Terbuka, 22-27 Juli. Setelah meninggalkan lapangan, Gregoria muntah akibat merasakan kehilangan keseimbangan.
Seusai latihan di pelatnas, Cipayung, Jakarta, pada Rabu, peraih perunggu Olimpiade Paris 2024 itu bercerita kemungkinan penyebab vertigonya. ”Sepertinya karena cahaya lampu sorot yang saya lihat di salah satu sisi lapangan. Saat melihat cahaya itu, saya pusing. Saya juga pernah merasa pusing saat melihat lampu yang silau di tempat lain,” katanya.
Berdasarkan pengalaman itu dan setelah berkonsultasi dengan dokter sekembali dari China, Gregoria akan belajar mengantisipasinya dengan lebih peka menelaah kondisi di tempat pertandingan. ”Saya harus memperhatikan situasi dan kondisi dengan lebih detail. Jadi, saya bisa memilih sisi lapangan bertanding yang kira-kira nyaman untuk saya,” kata Gregoria tentang apa yang akan dilakukannya di Kejuaraan Dunia.
Wakil Indonesia pada Kejuaraan Dunia Bulu Tangkis 2025
Tunggal putra
1. Jonatan Christie
2. Anthony Sinisuka Ginting
3. Alwi Farhan
Tunggal putri
1. Gregoria Mariska Tunjung
2. Putri Kusuma Wardani
Ganda putra
1. Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto
2. Sabar Karyaman Gutama/Mohamamd Reza Pahlevi Isfahani
3. Leo Rolly Carnando/Bagas Maulana
Ganda putri
1. Febriana Dwipuji Kusuma/Amalia Cahaya Pratiwi
2. Siti Fadia Silva Ramadhanti/Lanny Tria Mayasari
Ganda campuran
1. Jafar Hidayatullah/Felisha Alberta Nathaniel Pasaribu
2. Rinov Rivaldy/Pitha Haningtyas Mentari
Penulis:
Yulia SapthianiEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Amin Iskandar