Alwi, Jafar/Felisha, dan Sarah/Agnia tampil untuk pertama kali di Indonesia Terbuka. Mereka memenangi babak pertama.
03 Jun 2025 17:09 WIB · Olahraga
JAKARTA, KOMPAS — Bermain di Istora dalam turnamen Kapal Api Indonesia Terbuka 2025 menjadi impian setiap pebulu tangkis Indonesia. Beberapa atlet muda ”Merah Putih” memanfaatkan kesempatan tersebut dengan antusiasme tinggi dan menunjukkan kemampuan dengan maksimal.
Di antara 21 wakil Indonesia yang tampil di Istora, Gelora Bung Karno, Jakarta, 3-8 Juni, lima di antaranya baru mendapat kesempatan tampil di Indonesia Terbuka pada 2025. Tiga dari mereka mengawali penampilan dalam turnamen yang selama ini ditonton di televisi itu pada babak pertama, Selasa (3/6/2025). Mereka adalah Jafar Hidayatullah/Felisha Alberta Nathaniel Pasaribu, Alwi Farhan, dan Siti Sarah Azzahra/Agnia Sri Rahayu.
Mereka sebenarnya pernah merasakan atmosfer bermain di Istora ketika tampil pada turnamen Indonesia Masters, Januari. Namun, Indonesia Terbuka mempunyai level berbeda.
Sejak diselenggarakan pertama kali pada 1982, Indonesia Terbuka menjadi turnamen bulu tangkis tahunan terbesar di Tanah Air. Saat Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF) membuat struktur turnamen Super Series/Premier dan Grand Prix/Grand Prix Gold pada 2007-2017, Indonesia Terbuka berkategori Super Series pada 2010-2016 dan naik menjadi Super Series Premier sejak 2011.
Lalu, ketika BWF mengubah struktur tersebut menjadi BWF World Tour pada 2018, Indonesia Terbuka menjadi salah satu dari empat turnamen pada level tertinggi, Super 1000. Semakin tinggi level, semakin besar hadiah dan poin ranking yang diperebutkan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/03/d82bc3a7-4e42-41ef-8d39-d60acbf37507_jpg.jpg)
Level tertinggi turnamen dan Istora sebagai gedung bersejarah di Indonesia—Istora dibangun pada 1960, digunakan untuk menggelar Piala Thomas 1961 dan Asian Games 1962—menjadi magnet, khususnya bagi pebulu tangkis Indonesia. ”Atmosfernya memang berbeda, main di Istora seperti ’magis’,” kata tunggal putra, Alwi Farhan.
Alwi mengatakan hal tersebut setelah melawan Prannoy H S (India). Pemain berusia 19 tahun itu menang dengan skor 21-17, 21-18.
Selain pada Indonesia Terbuka, Alwi bermain di Istora ketika mendapat kesempatan bermain pada Indonesia Masters, Januari. Dia bermain sejak babak kualifikasi, tetapi langsung tersingkir saat melawan Jeon Hyeok-jin (Korea Selatan). Juara dunia yunior 2023 itu kalah dengan skor 21-15, 20-22, 18-21.
Pertandingan tersebut menjadi pelajaran bagi Alwi saat melawan Prannoy, terutama saat unggul dalam pengumpulan poin. ”Di Indonesia Masters, saat unggul, saya berpikir terlalu jauh. Tadi, saya bermain lebih berani, tetapi tetap dengan mengontrol ambisi,” kata Alwi.
Tak hanya saat bertanding, Alwi juga berusaha mengendalikan perasaannya setelah menang, meski dia tetap memperlihatkan gaya mengangkat kedua tangan seperti yang selama ini dilakukan. Dia tak ingin merayakan kemenangan dengan terlalu menggebu, apalagi tantangan akan kian sulit dilewati untuk mewujudkan target.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/03/2b017d0d3bb1a12b8b7d33f4a50d26b3-20250603TOK34.jpg)
Pemain yang menjadi bagian dari tim Indonesia saat mencapai semifinal kejuaraan Piala Sudirman itu tak menyebut tahap tertentu yang menjadi incaran. ”Saya ingin mendapat poin lebih banyak agar bisa menaikkan ranking,” kata pemain dengan ranking ke-29 dunia.
Dengan ranking tersebut, Alwi menjadi tunggal putra pelatnas bulu tangkis yang memiliki posisi tertinggi. Sebelumnya ada Jonatan Christie di ranking kelima, tetapi memutuskan berlatih di luar pelatnas sejak 15 Mei.
Selain Alwi, Jafar Hidayatullah/Felisha Alberta Nathaniel Pasaribu dan Siti Sarah AzZahra/Agnia Rahayu menjalani debut Indonesia Terbuka dengan kemenangan. Mereka pun menikmati pertandingan dan atmosfer di Istora. Felisha, misalnya, begitu menikmati ketika penonton berteriak ”Ea! Ea! Ea!” saat pemanasan sebelum melawan Wong Tien Ci/Lim Chie Sien (Malaysia). Felisha tersenyum saat meloncat-loncat sambil diiringi teriakan penonton.
”Saya bersyukur bisa mendapat kesempatan bermain di Indonesia Terbuka Super 1000. Untuk atmosfer, kurang lebih sama seperti Indonesia Masters. Yang penting, saya berusaha menunjukkan yang terbaik,” ujar Felisha yang biasanya menonton Indonesia Terbuka dari televisi.
Jafar/Felisha mengalahkan Wong/Lim dengan skor 21-11, 21-16 dan akan berhadapan dengan unggulan ketujuh asal Jepang, Hiroki Midorikawa/Natsu Saito, pada babak kedua. Mereka bertemu pada semifinal Kejuaraan Asia di China, April, dan Jafar/Felisha kalah dalam laga ketat 21-15, 21-23, 11-21.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/03/1a65b5fc-1e23-4499-bd8d-afab09015950_jpg.jpg)
Kesempatan tampil dalam turnamen BWF World Tour level di atas 500 didapat setelah posisi Jafar/Felisha naik dari ranking ke-63 dunia pada awal 2025 menjadi 20 besar sejak April. Mereka menjalani debut dalam turnamen Super 750 di Singapura Terbuka, 27 Mei-1 Juni, dan bertahan hingga perempat final.
Jafar mengatakan, bermain di Indonesia Terbuka memunculkan rasa tegang, terutama pada awal pertandingan. ”Saya mulai bisa bermain nyaman setelah interval gim pertama, apalagi penonton mendukung kami,” kata Jafar.
Di ganda putri, Sarah/Azzahra mengalahkan Julie Macpherson/Clara Torrance (Skotlandia) 21-16, 21-14 dan akan bertemu senior mereka, Febriana Dwipuji Kusuma/Amalia Cahaya Pratiwi, pada babak kedua.
Penulis:
Yulia Sapthiani, Rebiyyah SalasahEditor:
Emilius Caesar AlexeyPenyelaras Bahasa:
FX Sukoto