Penghimpunan dana di pasar saham sepanjang tahun 2025 berpotensi jauh menyusut dibandingkan 2024.
08 Jul 2025 19:34 WIB · Ekonomi & Bisnis
JAKARTA, KOMPAS — Delapan saham perusahaan baru mewarnai Bursa Efek Indonesia per Juli 2025 ini. Namun, semarak pencatatan saham perdana pada awal semester tahun ini hanya menyisakan empat antrean calon saham baru. Penghimpunan dana di pasar modal menyusut dibandingkan tahun lalu.
Aksi pencatatan saham baru (initial public offering/IPO) oleh delapan perusahaan itu dilaksanakan secara berturut-turut pada pekan kedua Juli 2025.
Pada Selasa (8/7/2025), perusahaan angkutan laut PT Pancaran Samudera Transport Tbk (PSAT) dan manufaktur kemasan produk PT Asia Pramulia Tbk (ASPR) masuk ke bursa sebagai perusahaan ke-15 dan ke-16 yang IPO tahun ini. Keduanya berhasil menghimpun dana dari pelepasan saham dengan total Rp 300 miliar.
Menyusul, PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) yang ikut dimiliki konglomerat Prajogo Pangestu dan PT Indokripto Koin Semesta Tbk (COIN) milik pengusaha Andrew Hidayat juga akan melantai di bursa pada Rabu (9/7/2025).
Lalu, pada Kamis (10/7), empat perusahaan juga akan IPO sekaligus, yaitu PT Diastika Biotekindo Tbk (CHEK), PT Trimitra Trans Persada Tbk (BLOG), PT Merry Riana Edukasi Tbk (MERI), dan PT Prima Multi Usaha Indonesia Tbk (PMUI).
”Ini adalah minggu yang sangat hectic. Sekitar delapan saham akan tercatat dua hari ini, besok ada dua juga, dan lusa itu ada empat lagi,” ujar Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna, yang ditemui di Gedung BEI, Jakarta, Selasa (8/7).
Sementara itu, setelah IPO saham ke-22 pekan ini, hanya ada empat perusahaan yang mengantre untuk melakukan aksi serupa. Jumlah itu menyusut dari daftar atau pipeline IPO per 20 Juni 2025, yang menyebut ada 14 perusahaan yang akan melakukan pencatatan saham BEI.
Nyoman menyebutkan, sejumlah perusahaan yang tadinya mengantre sebagai calon saham baru kemungkinan tidak masuk daftar karena tiga alasan. Pertama, perusahaan melakukan pembaruan data laporan keuangan per Juni 2025 ini. Kedua, perbaikan data yang mungkin membutuhkan waktu. Ketiga, ada keputusan dari otoritas bursa untuk menolak pengajuan IPO.
”Data yang ada menunjukkan bahwa dalam dua tahun terakhir ini ada sekitar 45–47 perusahaan yang melaporkan dokumen dengan menggunakan laporan keuangan Juni,” kata Nyoman.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Inarno Djajadi, dalam Rapat Dewan Komisioner Bulanan OJK, Selasa ini, menyampaikan, penghimpunan dana di pasar modal masih berada dalam tren positif.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/03/05/06cd956f-cdb6-434b-8d1e-3d3e475ea338_jpg.jpg)
Per 30 Juni 2025, total penawaran umum di pasar modal menembus Rp 142,62 triliun, naik dari Rp 120 triliun pada periode sama 2024. Dari nilai tersebut, penawaran umum berupa saham perdana tercatat senilai Rp 6,69 triliun dari 14 perusahaan. Jumlah ini lebih kecil dari capaian semester pertama 2024 oleh 25 emiten baru di bursa.
”Ke depan, masih terdapat 13 pipeline penawaran umum dengan perkiraan nilai indikatif sebesar Rp 9,80 triliun,” kata Inarno.
Dari daftar itu, enam di antaranya merupakan rencana IPO saham dengan nilai penawaran mencapai Rp 5,95 triliun. Tujuh sisanya berupa rencana penerbitan efek bersifat utang dan sukuk (EBUS) senilai Rp 9,80 triliun.
Lagi-lagi, jumlah dan nilai rencana penawaran umum itu lebih sedikit dari 2024. Per Juni tahun lalu, OJK mencatat masih terdapat 103 pipeline penawaran umum dengan perkiraan nilai indikatif sebesar Rp 30,02 triliun.
Di tengah volatilitas pasar saham akibat ketidakpastian ekonomi global, Direktur Utama PT BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) Laksono Widodo, tidak menampik bahwa aksi penawaran umum seperti IPO di pasar saham cenderung terhambat. Investor institusi, dari lembaga dana pensiun hingga asuransi, pun cenderung mengurangi portofolio investasi mereka.
”Saat ini, banyak alternatif investasi lain yang tidak terlalu berisiko, seperti SRBI hingga SBN. Kalau suku bunga sudah mulai menurun, pasar ekuitas kembali membaik,” kata Laksono saat ditemui di Jakarta pekan lalu.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/08/42cb33b2fea83c63101833063f164f7d-1000062171.jpg)
Kepala Divisi Riset Ekonomi PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) Suhindarto dalam konferensi pers daring Selasa ini menyatakan, kebutuhan swasta mencari pendanaan di pasar surat utang atau obligasi tahun ini lebih meningkat.
Sepanjang semester I-2025, Pefindo mencatat, nilai penerbitan surat utang korporasi mencapai Rp 90,9 triliun. Nilai itu tumbuh 48,31 persen dibandingkan semester I-2024. Kenaikan itu dipicu kebutuhan modal kerja Rp 56,26 triliun dan peningkatan kebutuhan refinancing (pembiayaan kembali utang sebelumnya) senilai Rp 31,49 triliun.
Jatuh tempo di semester kedua menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah surat utang korporasi.
Ia menilai, kebutuhan refinancing untuk surat utang yang jatuh tempo pun akan menjadi alasan korporasi untuk menerbitkan obligasi baru di paruh kedua 2025.
”Jatuh tempo di 2025 ini menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah surat utang korporasi. Kalau kita lihat, yang memang jatuh tempo di semester dua mendatang ini nilainya mencapai Rp 96,43 triliun gitu, relatif lebih tinggi dibandingkan dengan semester satu kemarin,” ungkapnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/08/4246be994f8c5a9e52cad946ccec1e33-1000062163.jpg)
Direktur Utama Pefindo Irmawati Amran, pada kesempatan sama, berharap, emisi surat utang korporasi pada semester dua ini dapat terserap dana masyarakat yang dipegang oleh investor institusi.
”Karena kalau kita lihat masih cukup banyak dana kelolaan investor institusi. Saat ini, dana yang mereka tempatkan di obligasi korporasi masih terbilang kecil,” ujarnya.
Menurut data yang diolah Pefindo, produk surat utang perusahaan swasta sejauh ini lebih banyak diserap institusi reksadana dan perbankan.
Institusi yang mengeluarkan produk reksadana tercatat menginvestasikan Rp 142 triliun atau 54,9 persen dana kelolaannya ke obligasi korporasi, dengan porsi terhadap outstanding obligasi itu mencapai 26,8 persen. Sementara perbankan menginvestasikan Rp 115 triliun atau 3,2 persen asetnya ke surat utang korporasi.
Penulis:
Erika KurniaEditor:
Agnes TheodoraPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase