Perang di Teluk mengancam proses panen di Myanmar. Selain harga yang meroket, pasokan pun sangat terbatas. Sejumlah petani terpaksa membeli solar di pasar gelap.
26 Mar 2026 14:32 WIB · Internasional
AFP
Perang di Teluk memaksa Win Zaw dan beberapa petani di Myanmar harus rela tidur di stasiun pengisian bahan bakar untuk umum atau SPBU. Bahkan, sembari membawa jeriken kecil, mereka membawa serta keluarganya untuk bergiliran berjaga.
”Banyak dari petani yang tidur di tempat penjualan BBM. Ini betul-betul membuang waktu dan tenaga,” kata Win Zaw sebagaimana dikutip kantor berita Reuters, Rabu (25/3/2026).
Seperti sebelumnya, pagi itu antrean telah mengular. Menurut Win Zaw, terkadang mereka mendapat giliran mengisi solar pukul tiga pagi. Itu pun mereka hanya kebagian lima hingga enam liter solar.
Sejak Amerika Serikat dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari, solar makin sulit didapat. Padahal, bahan bakar tersebut sangat diperlukan petani untuk mengoperasikan traktor mereka. Traktor itu menjadi alat utama mengolah lahan pertanian di delta Sungai Irrawadi yang subur dan menjadi lumbung padi Myanmar.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/07/a2914fad4d583e15bf64d2c8cba6ae41-000_A2BG7J3.jpg)
Tak ingin repot, petani lain, Moe Win, memilih membeli solar di pasar gelap. Harga per liter solar di pasar gelap mencapai Rp 92.000, tiga kali lebih mahal dari harga solar di SPBU, yang dihargai Rp 30.000 per liter.
Sebelumnya, pada Februari lalu, sebelum perang meletus di Teluk, harga per liter solar di Myanmar mencapai Rp 20.000 atau sekitar 2.450 kyat.
Meski mahal, pasar gelap menjadi pilihan lantaran petani harus segera memanen padi mereka. Jika terlambat, panenan akan hancur akibat datangnya musim hujan mulai April hingga Oktober. Delta Irrawadi akan tergenang saat musim hujan.
Kelangkaan minyak sebagai dampak perang di Teluk menjadi beban baru bagi rakyat Myanmar. Sebelumnya, kudeta dan perang saudara telah mengimpit mereka sejak tahun 2021. Lalu, pada April 2025 negeri itu diguncang gempa dahsyat.
Badan Pangan Dunia (WFP) menyebut Myanmar sebagai negara dengan tingkat kelaparan nomor lima di dunia. Tercatat 25 persen penduduk atau 12,4 juta jiwa dalam kondisi kelaparan akibat perang dan mengungsi.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/13/8aedc7fa74e23a9b5984e495cd803eb1-000_426R9VA.jpg)
”Naiknya harga pupuk dan kesulitan BBM membuat petani kesulitan melakukan panen dan menanam ulang. Biaya produksi naik dua kali lipat kalau situasi saat ini berlanjut,” ujar Direktur WFP Myanmar Michael Dunford kepada Reuters.
Dalam tiga tahun terakhir, Iran adalah pemasok utama pupuk Myanmar. Jumlah pupuk yang diimpor Myanmar sebesar 400.000 ton hingga 600.000 ton. Sebagian bahan baku pupuk tersebut juga digunakan junta Myanmar untuk membuat bahan peledak bagi kepentingan militer.
Awal Maret ini, WFP mengingatkan ancaman kelaparan di Myanmar bisa menghantam seluruh Myanmar. Serangan AS-Israel ke Iran yang berdampak pada kenaikan harga BBM akibat macetnya arus energi akan berimplikasi serius pada produk pangan dan transportasi.
Direktur Ekonomi Badan Pertanian Dunia (FAO) Maximo Torero mengingatkan, junta Myanmar harus segera melakukan intervensi untuk mencegah jatuhnya volume panen dan kekacauan di musim tanam mendatang karena kesulitan pupuk.
”Jatuhnya volume panen saat ini akan mengurangi pasokan beras, harga naik, dan membuat jutaan rakyat Myanmar terdampak,” kata Torero.
Jubir Pemerintah Myanmar yang dihubungi terkait kondisi kelangkaan BBM tidak menanggapi permintaan Reuters tentang langkah yang diambil. Sebelumnya, pemimpin junta Myanmar, Jenderal Min Aung Hlaing, mengatakan, Pemerintah Myanmar sedang berusaha mengatasi kelangkaan BBM.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/26/1abcfcb1887b81b7d4dc36e8542483c8-Myanmar_US_Israel_Iran_136808372.jpg)
Sementara ini, junta Myanmar meluncurkan pengawasan pembelian BBM. Pemerintah menerapkan kode QR untuk memantau orang dan kendaraan yang sudah mengisi BBM agar tidak melakukan pengisian ulang di hari yang sama. Pengawasan tersebut berdampak pada terjadinya antrean panjang di SPBU.
Sebagaimana beberapa negara lain, maskapai penerbangan Myanmar juga terdampak karena kesulitan pasokan bahan bakar jet yang didatangkan dari Iran. Sejumlah rute penerbangan ditangguhkan, jumlah bagasi dibatasi, dan harga tiket naik hingga tiga kali lipat di rute penerbangan yang masih beroperasi. Untuk menghemat energi, junta Myanmar juga menerapkan kebijakan work from home setiap hari Rabu.
Ekonomi Myanmar tergantung pada sejumlah kilang di Asia Tenggara yang mengolah minyak mentah dari Timur Tengah, seperti Malaysia dan Singapura. Junta Myanmar mengimpor solar dari Malaysia dan Singapura untuk memenuhi kebutuhan petani.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/11/49e37a0ac7c985c1671fd2376daf423b-20260311_GKT_AFP_Hormuz_Oil.png)
Untuk menenangkan publik, junta mengatakan, cadangan BBM Myanmar masih tersedia untuk 50 hari. Meski demikian, sejumlah petani yang ditemui Reuters mengaku kesulitan mendapatkan solar untuk mengoperasikan traktor yang digunakan untuk memanen padi.
”Setelah puluhan tahun menggunakan traktor pertanian, sulit bagi petani kembali menggunakan kerbau dan sapi untuk mengolah sawah,” kata salah satu petani. ”Sekarang kita seperti berperang untuk mendapatkan solar,” kata Win Zaw. (REUTERS)
Penulis:
Iwan SantosaEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra