Tim Investigasi ”Kompas” menelusuri jejak orang hilang saat demo Agustus 2025. Selain itu, mengungkap dugaan penganiayaan saat aparat bubarkan massa.
28 Sep 2025 17:08 WIB · Politik & Hukum
Lembaga Nasional Hak Asasi Manusia atau LNHAM menginvestigasi kerusuhan yang menodai demonstrasi pada akhir Agustus-awal September 2025. Peristiwa kala itu di antaranya mengakibatkan Affan Kurniawan, pengemudi ojek daring, tewas karena dilindas kendaraan taktis Satuan Brigade Mobil Kepolisian Daerah Metro Jaya, Kamis (28/8/2025).
Sementara itu, Kompas menginvestigasi dua hal yang belum tertuntaskan dari kerusuhan di Jakarta periode Agustus. Pertama, hilangnya dua orang diduga saat aksi massa di Markas Satuan Brigade Mobil (Brimob) Polda Metro Jaya, Kwitang, Jakarta Pusat, Jumat (29/8/2025). Hal kedua, belum terpenuhinya keadilan bagi korban penganiayaan di lokasi aksi, yang kemudian ditahan di Polda Metro Jaya.
Tim Investigasi Kompas menghimpun informasi, data, dan bukti dalam kurang dari dua pekan. Identitas sejumlah narasumber disamarkan demi keamanan yang bersangkutan.
M Farhan Hamid (23) dan Reno Syachputra Dewo (24) dinyatakan hilang seusai pamit ke keluarga atau rekannya untuk menonton demo di Kwitang pada 29 Agustus 2025. Sebulan berlalu dan mereka belum kunjung kembali ke rumah. Keluarga masih menunggu kepulangan mereka.
Polisi menjamin tetap mencari keduanya. Namun, Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Brigadir Jenderal (Pol) Ade Ary Syam Indradi meminta masyarakat ikut membantu polisi.
”Setiap informasi sekecil apa pun, nanti itu akan didalami oleh tim, ya. Tentunya, harapan kita bersama, dan mohon doa restu bahwa dua saudara kita ini ketemu,” kata Ade, saat ditemui, Jumat (26/9/2025) siang, di Jakarta.
Komisioner Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) RI, Mohammad Choirul Anam, menuturkan, ia turut memantau perkembangan pencarian Farhan dan Reno.
”Salah satu (orang) memang ada hubungannya dengan satu wilayah di luar Jakarta. Yang satunya, rekam jejak digitalnya sedang didalami,” ujar Anam. Namun, ia tidak menjelaskan lebih lanjut apakah Farhan atau Reno yang diduga terkait dengan suatu wilayah di luar Jakarta.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/21/1ae27862cd8842cfaa28ea41bfeb1e63-IMG_20250919_143709.jpg)
Di mana Reno dan Farhan? Tim Investigasi Kompas mewawancarai keluarga Reno, keluarga Farhan, saksi mata di sekitar Kwitang, organisasi masyarakat sipil, hingga menelusuri jejak digital untuk melacak keberadaan mereka.
Farhan berangkat dari rumahnya di Jakarta Utara, tanpa ponsel. Sementara Reno berangkat dari Jatinegara, Jakarta Timur, tanpa membawa indentitas.
Farhan teridentifikasi memang berada di Kwitang pada 29 Agustus 2025. Dia bahkan berpose di depan Markas Brimob Polda Metro Jaya. Seorang saksi mata yang berada di Kwitang pun mengakui sempat melihat seseorang mirip Farhan pada 29 Agustus. Tim Investigasi Kompas mencocokkan pengakuan saksi mata dengan mengonfirmasi keluarga.
Rangkaian upaya itu merupakan tindak lanjut setelah Kompas mewawancarai Imrony Hamid, kakak Farhan, saat berjumpa di Kantor Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras), Jakarta, Jumat (19/9/2025). Imrony membeberkan kejanggalan beberapa hari setelah hilangnya Farhan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/29/494f6e5084568baa6e094b7efaaad6fc-IMG_20250829_WA0001.jpg)
Keluarga mendapat informasi kalau ada beberapa teman Farhan yang dihubungi oleh nomor WA Farhan. Pada 4 September 2025, Imrony mencoba menghubungi nomor WA adiknya itu. Tak disangka, pesannya dibalas seseorang yang tak dikenalnya.
Aktivitas nomor itu membuat keluarga bingung. Sebab, Farhan diketahui sudah menggadaikan ponselnya. Keluarga yakin kartu seluler yang dipakai untuk mengakses Whatsapp seharusnya masih ada pada Farhan saat menggadaikan HP tersebut.
Salah satu (orang) memang ada hubungannya dengan satu wilayah di luar Jakarta. Yang satunya, rekam jejak digitalnya sedang didalami.
Kompas menelusuri nomor Farhan melalui aplikasi Get Contact. Hasilnya, hanya ada satu tag yang melekat, yakni Eda Bakara 1. Ketika dikonfirmasi, Imrony memastikan nomor itu memang milik Farhan. Namun, ia sama sekali tak mengenal nama yang muncul di aplikasi tersebut. ”Saya enggak kenal siapa itu Eda Bakara,” ujarnya.
Selain Whatsapp, akun Facebook Farhan dengan nama Muhammad Farhan juga menunjukkan kalau masih ada aktivitas. Akun Facebook itu terakhir kali mengunggah tangkapan layar percakapan pada 6 September 2025. ”Facebook Farhan masih aktif. Masih sempat pantau story Facebook saya,” ujar Imrony.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/29/6da891b011a6013d26b40dc4bb338be3-IMG_20250829_152238_001.jpg)
Pantauan Kompas pada Senin (22/9/2025), akun Instagram dan Facebook Farhan mengunggah cerita (story). Isinya, tangkapan layar berita yang menginformasikan, keluarga Farhan terus menggelar pengajian agar Farhan segera ditemukan.
Jika Farhan terkonfirmasi ada di Kwitang pada 29 Agustus, jejak Reno lebih misterius. Reno hanya pamit ke salah satu kerabatnya saat akan berangkat ke Kwitang. Tak ada pihak lain yang tahu nasib Reno setelah itu.
Amelia, perwakilan keluarga Reno, menyebut bahwa Reno terakhir tatap muka dengan rekan kerjanya saat 29 Agustus siang. Sejak tak lagi bekerja, Reno sehari-hari menjalankan usaha dari suami Amelia, yakni berjualan ikan hias di Pasar Jatinegara, Jakarta Timur.
Kompas juga menelusuri dugaan penganiayaan yang menyelimuti operasi penangkapan saat polisi membubarkan kerusuhan, akhir Agustus. Berdasarkan pantauan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), diduga kuat terdapat ratusan korban terluka akibat kekerasan dalam upaya pengendalian massa oleh aparat kepolisian.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/28/de747cff7fc867918165f0c3656d8f17-IMG_20250828_145438_1.jpg)
Sejumlah organisasi masyarakat sipil juga menyoroti dugaan kekerasaan saat penangkapan oleh aparat. Salah satunya, Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) lewat laporan Posko Orang Hilang terkait aksi 25-31 Agustus.
Kontras menerima total pengaduan 44 orang hilang. Hingga saat ini, 42 orang sudah ditemukan, sedangkan dua orang di antaranya (Farhan dan Reno) masih berstatus hilang.
Saya udah bilang kayak gini dalam hati: Mati nih, matinya keadaan syahid.
Dari 42 orang yang sudah ditemukan, 15 orang dalam kondisi terluka. Kebanyakan korban luka diduga akibat kekerasan, termasuk penyiksaan oleh polisi selama penangkapan dan penahanan.
Kontras mencontohkan, salah seorang yang sempat ditahan di Polda Metro Jaya, Didik, terindikasi dianiaya aparat. Ia menderita luka bocor di kepala, luka di kening, di lutut kanan dan kiri, serta di punggung. Foto-foto luka disertakan dalam laporan Kontras.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/17/d7473f976343be834ceefe8e48b595b9-20250917TOK11.jpg)
Organisasi lainnya, yakni Lembaga Bantuan Hukum (LBH) dan Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), mencatat setidaknya 3.337 orang ditangkap dari gelombang aksi massa pada 25-31 Agustus 2025 di 20 kota (termasuk Jakarta). Sebanyak 1.042 orang luka-luka akibat kekerasan aparat dan dilarikan ke rumah sakit, tetapi ini belum termasuk mereka yang disiksa saat ditangkap.
Tim Investigasi Kompas kesulitan mendapatkan kesaksian korban penganiayaan saat demo. Namun, akhirnya ada yang bersedia diwawancarai. Dari bukti foto dan video yang diperoleh Kompas, terdapat luka lebam, gigi patah, hingga ada korban yang tulang hidungnya patah.
Salah satu korban yang diwawancarai, sebut saja Rohmat (29), ikut berdemonstrasi di depan Gedung DPR, Jakarta Pusat, Kamis (28/8/2025). Tanggal itu bertepatan dengan kejadian kendaraan taktis Brimob melindas Affan.
Rohmat ditangkap orang yang tidak berseragam pada 28 Agustus malam. Ia tidak melawan dan tidak merasa punya salah. Namun, entah mengapa ia dikeroyok.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/28/df2eb66fa926d34abe6e9df6a1ab429a-IMG_20250828_103416_1.jpg)
”Saya udah bilang kayak gini dalam hati: Mati nih, matinya keadaan syahid,” ujar Rohmat. Ia tidak bisa mengidentifikasi para pelaku. Yang jelas, penganiayaan tepat sebelum ia dibawa ke Polda Metro Jaya untuk ditahan berjam-jam di sana.
Apa saja jejak-jejak yang ditinggalkan Reno dan Farhan sebelum menghilang bertepatan dengan demo di Kwitang 29 Agustus? Bagaimana penganiayaan menyelimuti penanganan aparat terhadap kerusuhan? Simak dalam laporan Investigasi Kompas pada Senin-Selasa (29-30/8/2025) di harian Kompas dan Kompas.id.
Penulis:
Stefanus Ato, Prayogi Dwi Sulistyo, Aditya Diveranta, Pandu Wiyoga, J Galuh BimantaraEditor:
Andy Riza Hidayat, Johanes Galuh BimantaraPenyelaras Bahasa:
Retma Wati