Dengan Jaringan Komunikasi Seadanya, Warga Aceh Berharap Bantuan Segera Merata

Bantuan logistik sudah didistribusikan, tetapi belum semua warga menerimanya. Warga berharap bantuan segera merata karena stok bahan pokok mereka kian menipis.

03 Des 2025 08:00 WIB · Lingkungan

KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO

Oleh Adrian Fajriansyah

Dengan memanfaatkan jaringan komunikasi seadanya dari internet di kantor pemerintahan, sejumlah penyintas bencana hidrometeorologi Aceh yang berada di wilayah yang terisolasi menyampaikan harapan agar bantuan segera merata. Sebab, sejumlah warga mengaku belum menerima bantuan apa pun. Padahal, stok makanan dan air bersih mereka sudah kian menipis.

Salah satunya dikabarkan oleh Saiful Hamzah (31), warga Kampung Gelumpang Payung, Kabupaten Aceh Tengah, Aceh, yang membalas pesan Kompas, Selasa (2/12/2025) malam. Saiful mengatakan, dirinya baru saja mendapatkan jaringan internet dari Wi-Fi di kantor desa. Wi-Fi itu menyala dengan bantuan genset dari bahan bakar minyak (BBM) hasil patungan warga.

”Kami patungan membeli minyak untuk menyalakan genset agar bisa memberi dan menerima kabar dari kerabat di luar melalui Wi-Fi kantor desa. Namun, jaringan internetnya sangat tidak stabil. Waktu memakainya pun tidak bisa lama-lama karena BBM sangat terbatas,” ujarnya.

Saiful menuturkan, kondisi di tempat tinggalnya di kawasan Simpang Tiga Redelong, Kabupaten Bener Meriah, porak-poranda. Bersama istri dan anaknya, Saiful mengungsi ke rumah orangtua Saiful di Kampung Gelumpang Payung karena lebih aman. ”Alhamdulillah, pada hari Minggu (30/11/2025), kami berhasil berkumpul,” katanya.

Meski lebih kondusif, warga di Gelumpang Payung mulai kekurangan bahan makanan, air bersih, dan BBM. Saat ini, warga bertahan dengan sembako yang tersisa dari sebelum bencana. Mereka memanfaatkan sembako itu seirit mungkin. Namun, kalau bantuan belum jua datang dalam waktu dekat, mereka akan kelaparan dan kehausan.

Warga beristirahat di dalam mobil di kawasan Desa Seumadam, Kejuruan Muda, Aceh Tamiang, Aceh, tak jauh dari tugu perbatasan antara Sumatera Utara dengan Aceh, saat menunggu banjir surut, Senin (1/12/2025). Masih tingginya banjir hingga mencapai satu meter menyebabkan sejumlah kendaraan memilih untuk menepi menunggu surut.

Sebenarnya, ada toko di pusat kota yang mulai menjual beras. Hanya saja, pembeliannya dijatah maksimal 3 kilogram per orang. Karena banyak yang membutuhkan, pembeliannya pun harus antre panjang. ”Namun, mau pergi beli sembako juga terkendala karena BBM untuk kendaraan tidak ada,” tuturnya.

Terkait bantuan logistik, sepengetahuan Saiful, bantuan itu mulai masuk. Namun, pendistribusiannya dilakukan ke daerah yang paling terisolasi lebih dahulu dengan menggunakan helikopter. Untuk di kampung Saiful, warga belum tahu pasti kapan bantuan itu tiba. ”Kami juga sulit ke mana-mana karena banyak akses jalan yang ambles dan tertutup longsoran,” kata Saiful yang online hanya selama 15 menit.

Mengkhawatirkan kondisi bayi

Warga kawasan Kalanareh, Kecamatan Pegasing, Aceh Tengah, Fachri Zikrillah (27), mengatakan, kondisi di sebagian wilayah Aceh Tengah sudah semakin mencekam. Karena bantuan tak kunjung tiba ataupun merata, warga yang belum menerima bantuan mulai menjarah sejumlah toko.

”Helikopter pembawa bantuan sudah berkali-kali datang tetapi warga masih kesulitan makan. Sekarang, kami makan ubi-ubian yang tersisa untuk bertahan,” ujar Fachri yang memanfaatkan sinyal Wi-Fi dari kantor kecamatan.

Saat ini, warga sangat membutuhkan bahan makanan dan air bersih. Makanan yang tersisa diusahakan untuk dihemat sebisanya sampai bantuan datang. Namun, untuk air bersih, itu sulit dihemat. Mencari sumber air bersih yang bisa dimasak pun susah. Sebab, air di sungai dan danau tercemar sisa material bencana.

Suasana antrean pembelian BBM di SPBU yang berada di pusat kota Kabupaten Bireuen, Provinsi Aceh, Minggu (30/11/2025).

Untuk membeli sembako, air bersih, ataupun BBM, itu juga sulit terjangkau. Pasalnya, harga sudah melonjak tinggi gila-gilaan. Kalaupun ada uangnya, antrean pembeli sangat panjang. ”Situasi ini terjadi merata di banyak tempat di Aceh Tengah,” katanya.

Bagi Fachri, kondisi itu sangat mengkhawatirkan. Apalagi, dia memiliki bayi yang baru berumur 2 bulan dan istri yang belum sepenuhnya pulih dari melahirkan. Bahkan, dia hanya bisa berpasrah diri.

Namun, karena mengingat ada bayi dan istri, dirinya tetap berusaha bertahan sekuat tenaga dan berharap situasi segera membaik. ”Pokoknya, sekarang, apa pun saya utamakan untuk anak dan istri lebih dahulu, terutama makanan dan minuman,” tuturnya.

Quote

Pokoknya, sekarang, apa pun saya utamakan untuk anak dan istri lebih dahulu, terutama makanan dan minuman.

Tidak ada harta tersisa

Warga Kecamatan Pante Bidari, Aceh Timur, Anwar (45), kebingungan karena tidak ada tempat tinggal yang layak. Sebab, rumahnya hanyut terseret arus deras luapan Sungai Arakundo yang melintasi kawasan tempat tinggalnya. Kondisi kian mencekam karena listrik belum pulih. Akibatnya, pada malam hari, warga lebih banyak berteman gelap gulita dan suara hewan malam.

Namun, bukan gelap malam yang paling ditakuti Anwar. Yang paling dikhawatirkannya ialah ketersediaan bahan pokok yang belum stabil. Bantuan mulai datang, tetapi belum memenuhi atau menjangkau semua desa yang terdampak.

Warga Peudada, Kabupaten Bireuen, Aceh Yusnawati M Saleh (60) duduk di atas puing-puing bekas rumahnya, Sabtu (29/11/2025). Rumah Yusnawati ambruk dan hanyut akibat bencana hidrometeorologi yang melanda Aceh.

Sebaliknya, untuk membeli bahan pokok, warga tak mampu karena harga sudah membubung sangat tinggi. Di sisi lain, tidak semua warga yang masih memiliki uang di kantong. Banyak warga yang sudah tidak punya apa-apa karena uang dan harta benda lainnya sudah ikut tersapu banjir.

Air bersih pun menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditawar-tawar. Sekarang, air bersih semakin langka dan tidak tahu hendak dicari ke mana. ”Makanan dan air bersih yang paling kami butuhkan saat ini. Bahkan, anak-anak sering meminta minum karena cuaca mulai terik,” ujarnya.

Juru Bicara Pos Komando Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi Aceh Murthalamuddin menuturkan, pemerintah terus berusaha mempercepat distribusi bantuan ke semua wilayah yang masih terisolasi. ”Fokus kami saat ini adalah evakuasi, pencarian korban hilang, dan pemenuhan kebutuhan dasar bagi warga terdampak,” katanya.

”Update” jumlah korban

Murthalamuddin menyampaikan, dari hasil rekapitulasi data hingga Selasa (2/12/2025) pukul 20.00 WIB, jumlah korban akibat bencana Aceh kembali bertambah, yakni menjadi 249 orang meninggal dan 227 orang hilang. Selain itu, tercatat 403 orang mengalami luka berat dan 1.435 orang luka ringan.

Jumlah pengungsi pun terus meningkat yang menjadi 660.642 jiwa atau 157.321 keluarga. Para pengungsi tersebar di 828 titik. Secara keseluruhan, bencana Aceh menyebabkan 1.452.185 jiwa atau 229.767 keluarga terdampak yang berasal dari 3.310 kampung di 229 kecamatan di 18 kabupaten/kota.

Secara rinci, dampak bencana terparah terjadi di wilayah pesisir timur dan pegunungan Aceh. Di wilayah pesisir, Kabupaten Aceh Utara terdampak paling parah dengan jumlah korban meninggal 112 orang dan hilang 118 orang. Situasi di Bireuen tak kalah buruk dengan korban meninggal 19 orang dan hilang 10 orang. Di Pidie Jaya, selain menyebabkan 17 orang tewas dan 18 hilang, tercatat 388 orang luka berat dan 1.433 luka ringan.

Kombinasi citra satelit yang dirilis oleh Planet Labs PBC dan dibuat pada 1 Desember 2025 ini menunjukkan pemandangan Kabupaten Aceh Utara (Aceh Utara) pada 6 September 2025 (kiri) dan pada 30 November 2025 setelah siklon tropis Ditwah menghantam Aceh Timur Laut. 

AFP / Planet Labs PBC

Ke wilayah pegunungan, Bener Meriah menjadi wilayah yang terdampak parah dengan korban meninggal 29 orang dan hilang 23 orang. Kondisi yang buruk juga terjadi di Aceh Tengah dengan 21 orang tewas dan 23 orang hilang, serta Aceh Tenggara dengan 13 orang tewas dan 25 orang hilang.

Bencana Aceh pun menimbulkan kerugian akibat kerusakan infrastruktur. Tercatat, 77.049 unit rumah warga, 139.444 hektar sawah, dan 12.012 hektar area perkebunan mengalami kerusakan. Di samping itu, 182 ekor ternak hilang/mati. Kerusakan juga terjadi pada fasilitas umum, meliputi 302 titik jalan, 152 unit jembatan, 201 unit sekolah, 138 unit perkantoran, 51 unit tempat ibadah, dan empat unit pondok pesantren.

Sejauh ini, bantuan logistik yang masuk mencapai 8.703 unit atau 51.216 ton dan yang sudah didistribusikan 6.656 unit atau 28.605 ton. Stok yang menunggu giliran penyaluran 2.047 unit atau 22.711 ton. ”Semua angka itu sangat dinamis dan berpotensi terus bertambah seiring pembaruan laporan yang disampaikan tim di lapangan,” tutur Murthalamuddin.

Semoga pendistribusian bantuan bisa terus dipercepat dan diperluas. Sebab, ada banyak warga yang terus menanti kapan tibanya bantuan tersebut.


Kerabat Kerja

Penulis:

Adrian Fajriansyah
 | 

Editor:

Siwi Yunita Cahyaningrum
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan