TIMUR TENGAH

Iran Beri Tawaran Baru

Iran bersedia mengirim setengah dari uranium yang paling diperkaya ke luar negeri, tetapi Trump sedang menyusun strategi untuk menggulingkan pemerintahan Iran.

23 Feb 2026 10:55 WIB · Internasional

AFP

Oleh Elsa Emiria Leba

DUBAI, SENIN — Iran masih terus berusaha menghidupkan jalur diplomasi dengan menyampaikan tawaran baru. Sementara Amerika Serikat terus meningkatkan opsi serangan. Sebab, AS mau Iran menyerah.

Tawaran baru disampaikan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi. Ia mengungkap itu dalam wawancara dengan CBS pada Minggu (22/2/2026) siang waktu Washington DC atau Senin dini hari WIB.

Iran-AS, kata Araghchi, mungkin akan bertemu lagi di Geneva, Swiss, pada Kamis (26/2/2026). Teheran masih mematangkan usulan yang akan dibawa ke pertemuannya Aragchi dengan Utusan Khusus AS untuk Perdamaian, Steve Witkoff, itu.

”Kami mencoba membuat sesuatu yang mengandung hal yang bisa mengakomodiasi kepentingan dan kerisauan kedua belah pihak. Ada peluang mencapai solusi diplomatik,” katanya.

Menlu Oman, Badr al-Busaidi, juga menyebut AS-Iran akan kembali bertemu. Oman menjadi penengah rangkaian perundingan AS-Iran kali ini. Ia menyebut pertemuan Kamis sebagai dorongan positif untuk mencapai kesepakatan.

Pengumuman disampaikan kala AS terus menambah peralatan perang di sekitar Iran. Presiden AS Donald Trump terus mengancam akan menyerang Iran. Teheran balik mengancam akan menyerang pangkalan AS di kawasan.

An EA-18G Growler, attached to Electronic Attack Squadron (VAQ) 133, makes an arrested landing on the flight deck of Nimitz-class aircraft carrier USS Abraham Lincoln (CVN 72) on Jan. 24, 2026. The Abraham Lincoln Carrier Strike Group is underway conducting routine operations in the U.S. 7th Fleet area of operations. Units assigned to 7th Fleet conduct regular Indo-Pacific patrols to deter aggression, strengthen alliances and partnerships, and advance peace through strength. (U.S. Navy photo by Mass Communication Specialist Seaman Apprentice Cesar Zavala)

Witkoff menyebut, penambahan kekuatan itu untuk menekan Iran. Walakin, Trump disebutnya heran mengapa Iran tak juga menyerah dengan semua tekanan itu.

AS mau melucuti total program nuklir dan rudal Iran. Hal itu berarti Iran sama sekali tak boleh memiliki teknologi nuklir, apalagi sampai mampu memperkaya uranium. Teheran juga didesak meninggalkan persekutuannya dengan berbagai kelompok di kawasan.

Sementara Iran berkeras mempertahankan hak memiliki teknologi nuklir dan mengembangan rudal. Relasi Iran dengan berbagai kelompok di kawasan adalah urusan domestik. Bukan untuk didikte pihak lain.

Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) menaksir Iran memiliki 440 kilogram uranium dengan aras pengayaan 60 persen. Untuk bisa dijadikan senjata, tingkat pengayaan uranium harus di atas 90 persen.

Untuk mencapai kesepakatan dengan AS, Iran menawarkan seluruh cadangan uranium yang sudah diperkaya itu dikirim ke negara lain. Untuk uranium yang tak bisa diekspor, Iran akan mengencerkannya.

Iran juga akan kembali membuka fasilitas nuklirnya untuk diperiksa IAEA. Akibat serangan AS-Israel pada Juni 2025 ke Iran, Teheran menutup akses pemeriksaan itu.

Iran juga menawarkan membuka industri energinya bagi perusahaan AS. Statusnya sebagai kontraktor, bukan pemilik atau pengendali.

”Pada akhirnya, AS dapat menjadi mitra ekonomi bagi Iran, tidak lebih dari itu. Perusahaan-perusahaan Amerika selalu dapat berpartisipasi sebagai kontraktor di ladang minyak dan gas Iran,” kata seorang pejabat Iran yang menolak identitasnya diungkap.

Gedung Putih tidak segera menanggapi pertanyaan mengenai masalah ini. Washington bersikeras bahwa pengayaan uranium di Iran sebagai jalur potensial menuju senjata nuklir.

Para perempuan Iran berjalan melewati spanduk yang memuat potret Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, selama pameran desain mode Iran-Islam di Masjid Agung Imam Khomeini di Teheran, Iran, Minggu (22/2/2026.
Sebuah roket ditembakkan dalam latihan militer yang digelar Korps Garda Revolusi Islam Iran (Islamic Revolutionary Guard Corps/IRGC) bersama angkatan laut di Selat Hormuz, Iran, Jumat (17/2/2026). Latihan ini berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan kawasan terkait hubungan Iran dan Amerika Serikat.

Kepada Reuters, pejabat Iran yang tak mau diungkap identitasnya itu menyebut bahwa AS-Iran berbeda pandangan dalam banyak hal. Meski demikian, peluang mencapai kesepakatan tetap terbuka. ”Kedua belah pihak perlu mencapai jadwal logis untuk mencabut sanksi. Peta jalan ini harus masuk akal dan berdasarkan kepentingan bersama,” kata pejabat itu.

Sementara Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan, Iran bersiap pada skenario apa pun. Iran meyakini, solusi diplomatik akan memberikan manfaat ekonomi bagi Teheran dan Washington.

Peluang terakhir

Dilaporkan The New York Times, pertemuan di Geneva nanti tampaknya merupakan negosiasi terakhir untuk menghindari konflik militer. Sementara itu, Trump sudah mempertimbangkan opsi untuk tindakan AS apabila negosiasi gagal.

Sejumlah pejabat AS menyebut, Trump mempertimbangkan sejumlah skala serangan ke Iran. Tujuannya menggulingkan pemerintahan Iran.

Sejak awal Januari, AS telah beberapa kali hampir menyerang Iran. Walakin, Trump tak kunjung memerintahkan. Persiapan terakhir disebut terjadi pada Rabu pekan lalu. Trump membahas rencana serapan bersama Wakil Presiden JD Vance, Menlu Marco Rubio, Panglima Angkatan Bersenjata Jenderal Dan Caine, Direktur Badan Intelijen Pusat (CIA) John Ratcliffe, dan Kepala Staf Gedung Putih Susie Wiles.

Tampak militer Amerika Serikat, yaitu kapal induk kelas Nimitz USS Abraham Lincoln (CVN-72) berlayar bersama kapal perusak berpeluru kendali USS Frank E. Petersen Jr. (DDG-121) dan kapal logistik USNS Carl Brashear (T-AKE-7) di Laut Arab, pada Jumat (6/2/2026). Ketegangan Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat di tengah perundingan tidak langsung yang baru dilanjutkan, menyusul ancaman aksi militer AS terkait penanganan protes di Iran dan program nuklir Teheran.

Trump disebut mendesak Caine dan Ratcliffe untuk memberikan pendapat tentang strategi di Iran. Caine membahas apa yang dapat dilakukan militer dari sudut pandang operasional.

Sementara Ratcliffe membahas situasi terkini di lapangan dan kemungkinan hasil dari operasi. Mereka sama-sama tidak menganjurkan posisi kebijakan tertentu.

Caine juga tidak memberi jaminan keberhasilan serangan AS terhadap Iran akan sama seperti serangan AS ke Venezuela. Sebab, Iran merupakan target yang jauh lebih sulit. Sebelumnya, AS telah mempertimbangkan pilihan-pilihan yang mencakup penempatan tim pasukan operasi khusus di lapangan.

Tampak militer Amerika Serikat yakni pesawat tempur F/A-18F Super Hornet dari Strike Fighter Squadron (VFA) 41 melakukan pendaratan di geladak kapal induk kelas Nimitz USS Abraham Lincoln saat beroperasi di Laut Arab, Jumat (30/1/2026). Beberapa hari kemudian, Jumat (6/2/2026), Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi memimpin delegasi dalam perundingan nuklir tidak langsung dengan Utusan AS untuk Timur Tengah Steve Witkoff di Muscat, Oman, menyusul ancaman Washington di kawasan tersebut.

Meski demikian, Trump disebut akan memerintahkan serangan dalam beberapa hari mendatang. Sasarannya, antara lain, markas besar Garda Revolusi Iran (IRGC) serta fasilitas nuklir dan rudal. Kalau serangan itu gagal berdampak, Trump akan menyasar Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.

Masalahnya, AS ragu soal cara melancarkan serangan itu. Serangan udara saja diragukan bisa mencapai tujuan.

Gedung Putih menolak untuk berkomentar tentang keputusan Trump. ”Media dapat terus berspekulasi tentang pemikiran Presiden sesuka mereka, tetapi hanya Presiden Trump yang tahu apa yang mungkin atau tidak mungkin dia lakukan,” kata Anna Kelly, Juru Bicara Gedung Putih. (REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Elsa Emiria Leba
 | 

Editor:

Kris Mada
 | 

Penyelaras Bahasa:

FX Sukoto