Teheran berkukuh melakukan pengayaan uranium.
30 Jun 2025 21:04 WIB · Internasional
WASHINGTON DC, SENIN — Iran membutuhkan kepastian tidak ada lagi serangan lanjutan jika ingin pembicaraan kesepakatan tentang program nuklir Teheran berlanjut. Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengaku tidak punya penawaran apa pun untuk Iran.
”Saya tidak menawarkan apa pun kepada Iran, tidak seperti (Presiden Barack) Obama. Saya bahkan tidak berbicara dengan mereka karena kami telah benar-benar memusnahkan fasilitas nuklir,” tulis Trump di pelantar Truth Social, Senin (30/6/2025).
Pernyataan itu muncul saat Wakil Menteri Luar Negeri Iran untuk Urusan Politik Majid Takht-Ravanchi mengatakan kepada BBC, AS harus mengesampingkan serangan lebih lanjut kepada Iran. Jika tidak, pembicaraan antara Washington dan Teheran tidak dapat berlanjut.
Menurut Takht-Ravanchi, pemerintahan Trump melalui mediator memberi tahu Iran, Washington ingin kembali berunding pekan ini. Akan tetapi, Washington belum menjelaskan posisinya dengan jelas mengenai serangan lebih lanjut selama perundingan berlangsung.
”Kami belum menyepakati tanggal, kami belum menyepakati modalitas,” kata Takht-Ravanchi.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/12/b0148416-f8d0-4449-8dfa-49ddc7cd2702_jpg.jpg)
Takht-Ravanchi melanjutkan, Iran harus diizinkan untuk tetap melakukan pengayaan uranium. ”Tingkatnya bisa didiskusikan, kapasitasnya bisa didiskusikan, tetapi untuk mengatakan ’tidak boleh ada pengayaan sama sekali, dan kalau tidak setuju kami akan bom’, itu hukum rimba,” ucapnya.
Seperti yang diketahui, AS-Iran tengah berunding ketika Israel menyerang Iran pada 13 Juni 2025. Setelah itu, AS ikut mengebom tiga fasilitas nuklir Iran, yaitu Fordow, Natanz, dan Isfahan, pada 22 Juni 2025.
Israel menyerang Iran karena menganggap keamanan nasionalnya terancam. Tel Aviv menganggap produksi nuklir Teheran untuk senjata nuklir. Sementara itu, Iran mengklaim programnya untuk kepentingan sipil.
Dalam perjanjian tahun 2015, Iran boleh melakukan pengayaan uranium di bawah 3,67 persen untuk bahan bakar bagi pembangkit listrik tenaga nuklir komersial. Pada Mei 2025, IAEA mendapati Iran telah melakukan pengayaan uranium sampai 60 persen. Aras itu masih di bawah kebutuhan untuk memproduksi bom nuklir, yakni 90 persen.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/27/c54aae00-eee5-4649-a6ab-c1fd92406fc7_jpg.jpg)
Press TV memberitakan, Iran kembali menegaskan sikap terhadap senjata pemusnah massal, termasuk senjata nuklir. Dalam peringatan serangan senjata kimia di Kota Sardasht oleh Irak yang ke-38, Minggu (29/6/2025), Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan, Iran adalah pendukung dunia bebas dari senjata pemusnah massal.
”Iran merupakan pemrakarsa utama inisiatif untuk kawasan yang bebas dari senjata nuklir. Iran secara konsisten berdiri di garis depan perjuangan melawan senjata semacam itu,” ucap Araghchi.
Pada 28 Juni 1987, Irak di bawah rezim Saddam Hussein menjatuhkan bom gas mustard di Sardasht. Sedikitnya 119 warga tewas dan melukai 8.000 warga lainnya. Beberapa dari mereka cacat permanen.
Negara-negara Barat berkontribusi terhadap program senjata kimia rezim Irak saat itu. Menurut Araghchi, bukti telah mengonfirmasi AS, Inggris, dan Jerman adalah beberapa negara yang menyediakan zat kimia, teknologi, dan peralatan untuk Irak.
Araghchi melanjutkan, serangan terbaru terhadap Iran kembali terjadi. Pelakunya kali ini adalah Israel. ”Negara-negara Barat yang sama itu telah memihak agresor, menawarkan dukungan de facto atas tindakan agresi dan pelanggaran hukum internasional serta Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa,” kata Araghchi.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/27/035f0e3c-64f7-45b8-afa2-08b6f953e531_jpg.jpg)
Gencatan senjata Iran-Israel berlaku sejak 24 Juni 2025. Namun, Iran tetap mewaspadai pergerakan Israel terkait kemungkinan penyalahgunaan wilayah negara tetangga untuk agresi baru terhadap Teheran.
Dalam konferensi pers, Senin, Juru Bicara Kemenlu Iran Esmaeil Baghaei menyampaikan, Iran sudah memberi tahu negara-negara terkait laporan berita, intelijen, dan spekulasi terkait hal tersebut. Namun, ia mencatat, negara-negara tetangga tentu menyadari tugas dan komitmen mereka dalam kerangka kebijakan sebagai negara tetangga.
”Berdasarkan hukum internasional, tidak ada negara yang diizinkan mengizinkan negara lain menggunakan wilayahnya untuk melakukan tindakan jahat terhadap negara ketiga,” kata Baghaei.
Baghaei menambahkan, semua negara terkait telah ”secara eksplisit dan tegas” menolak laporan tentang penyalahgunaan wilayah mereka terhadap Iran. Negara-negara tersebut meyakinkan Teheran, mereka tidak akan pernah memberikan izin semacam itu di masa depan.
Berdasarkan data forensik terbaru, Juru Bicara Kehakiman Iran Asghar Jahangir, Senin, mengatakan, 935 orang tewas di Iran selama 12 hari perang dengan Israel. Dari jumlah itu, korban anak-anak mencapai 38 orang dan perempuan 132 orang.
(AFP/Reuters)
Penulis:
Elsa Emiria LebaEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra