Di Tengah Penghematan, Trump Sulap Gedung Putih Jadi Glamor Keemasan

Oval Office yang semula berwibawa disulap Donald Trump dengan pernak-pernik emas. Inspirasinya, Istana Versailles. Istana itu diserbu rakyat dalam Revolusi Perancis.

02 Sep 2025 08:30 WIB · Internasional

Oleh Iwan Santosa

Sejak kembali ke kursi kepresidenan pada Januari lalu, berbagai kontroversi mengiringi langkah Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Salah satunya, di tengah upaya penghematan anggaran, Trump merombak interior Gedung Putih menjadi gemerlap keemasan.

Kantor Presiden AS yang dikenal dengan sebutan Oval Office itu diberi sentuhan emas oleh Trump, secara harafiah. The Guardian, dalam laporan Senin (1/9/2025), menyebutkan, menurut Trump, dekorasi keemasan memberi nuansa lebih hidup di Oval Office.

Kepada Laura Ingraham dari Fox News di Gedung Putih, Maret 2025, Trump menuturkan tantangan mencari warna cat yang benar-benar mirip emas.

Dekorasi emas murni dan sepuhan emas itu, menurut The Daily Beast, bergaya Kerajaan Eropa. Ini asosiasi identitas yang sebenarnya sangat dihindari oleh para pendiri Amerika Serikat.

Trump ternyata menggenapi ucapannya, aksesori kantor presiden itu semuanya dibubuhi warna emas. Gagang pintu, perapian, tepian atap, dan ukiran kerubim.

Bukan hanya cat emas. Sejumlah piala, tatakan emas dengan nama Trump, vas bunga, bingkai foto dan lukisan, tatakan gelas, dan beragam pernak-pernik emas lainnya juga diletakkan di berbagai ruang di Gedung Putih.

Lukisan dari 20 presiden AS pun tidak luput dari sentuhan emas Trump. Ini sangat kontras dibandingkan pada zaman Presiden Joe Biden. Ketika itu, hanya dipajang enam lukisan presiden AS. Sementara Presiden Obama bahkan hanya memajang dua lukisan presiden.

US President Donald Trump watches as FIFA president (Fédération Internationale de Football Association) Gianni Infantino unveils the new FIFA Club World Cup trophy in the Oval office of the White House, in Washington, DC, on March 7, 2025. (Photo by Jim WATSON / AFP)

Sejumlah ruangan juga ”didominasi” gambar dan foto keluarga Trump, salinan Deklarasi Kemerdekaan Amerika Serikat, cendera mata pengunjung, hingga Piala Dunia FIFA.

Untuk memberi sentuhan emas itu, Trump dibantu John Icart (70), tukang perkakas kayu dari Florida. Dia diterbangkan dari Florida ke Washington DC dengan pesawat kepresidenan Air Force One.

Hasil pekerjaan Icart, oleh Juru Bicara Gedung Putih Karoline Leavitt, disebut sebagai ”Ruang Emas” untuk zaman keemasan Amerika Serikat di bawah Trump.

Namun, beberapa pihak mengkritik langkah tersebut. Musisi Jack White membandingkan pewarnaan keemasan itu justru membuat ruangan jadi mirip dengan ruang ganti pegulat profesional AS yang bergaya vulgar dan membuat silau.

Wartawan Joe Keegan menyebut aneka medali penghargaan yang berwarna mencolok di dinding Gedung Putih sepintas mirip dekorasi murah seharga 1 dollar AS yang banyak dijual di toko daring Alibaba dari China.

Memang, kombinasi warna emas tersebut mengingatkan pada tempat-tempat hiburan di Taipa, Makau, tempat kasino Sands, MGM cabang dari Las Vegas, hingga Grand Lisboa.

Sebelum Trump melakukan ”sentuhan emas”, Gedung Putih sebenarnya sudah memiliki perkakas emas asli berupa wadah buah, guci emas hadiah yang diterima Presiden James Monroe (1817-1825), hingga perkakas perak dari zaman Presiden Dwight D Eisenhouwer (1953-1961), dan lain-lain.

Akan tetapi, gaya keemasan yang diterapkan kini, menurut Trump, digagas dari Istana Versailles di Perancis. Istana tersebut dihuni Raja Louis XVI dan Permaisuri Marie Antoinette yang hidup glamor di tengah kesusahan rakyat Perancis. Sejarah mencatat, pasangan tersebut kemudian dipenggal oleh rakyat Perancis yang marah pada tahun 1793.

Trump sesumbar, ruang dansa (ball room) di rumahnya di Florida juga mengadopsi gaya Istana Versailles yang megah. Sebenarnya para presiden pendahulu Trump juga pernah mengubah dekorasi Gedung Putih. Namun, Trump adalah presiden pertama yang mengubah dekorasi Gedung Putih sesuai dengan gaya rumah pribadinya.

Wisatawan berjalan-jalan di taman Chateau de Versailles, di Versailles, Paris, Selasa (9/1/2024). AP Photo/Christophe Ena *** Local Caption *** Tourists stroll in the gardens of the Chateau de Versailles Tuesday, Jan. 9, 2024 in Versailles, west of Paris, where temperatures fell under zero degree Celsius (32 degrees Fahrenheit). (AP Photo/Christophe Ena)

Kepada The Wall Street Journal, para pembantu Trump mengatakan, sentuhan emas tersebut diberikan Icart menyeluruh ke dinding dan ornamen, termasuk aneka ukiran yang ada.

Para tamu Gedung Putih pun menyesuaikan ”selera emas” Trump. CEO Apple memberikan bingkisan yang menggunakan tatakan emas murni, Presiden FIFA Gianni Infantino membawa contoh piala dari emas untuk Trump yang kemudian meminta piala tersebut. Piala seharga 230.000 dollar AS (Rp 3,75 miliar) itu menjadi hiasan baru di Ruang Oval yang kini gemerlap.

Sebelumnya, pada tahun terakhir kepemimpinan, Presiden Barack Obama mengatakan hal paling berkesan dari Oval Office adalah karpet yang dia tempatkan di sana selebar 10 meter. Karpet tersebut berisi kutipan ucapan penting dari para Presiden AS, seperti Abraham Lincoln, JF Kennedy, dan Theodore Roosevelt.

Salah satu ucapan penting di dalam karpet tersebut adalah ”Alam moral membentang luas, tetapi menuju pada keadilan”. Ini kutipan yang disampaikan Martin Luther King.

Beberapa bulan setelah Trump kembali ke Gedung Putih, karpet tersebut diganti lantai dengan bubuhan hiasan emas.

Seluk-beluk Gedung Putih

Dalam laman whitehouse.gov disebutkan Gedung Putih baru menjadi hunian Presiden AS pada masa presiden kedua, John Adams, tahun 1799. Sebelumnya, pembangunan Gedung Putih dimulai oleh Presiden pertama George Washington pada tahun 1791. Dalam perang Inggris-AS tahun 1812, Gedung Putih sempat dibakar habis.

Presiden James Monroe (Presiden kelima yang memimpin pada 1817-1825) kemudian menempati Gedung Putih yang dibangun ulang pada tahun 1817. Di zamannya, sayap selatan Gedung Putih dibangun. Presiden ke-7 Andrew Jackson (1829-1837) pada tahun 1829 menambahkan sayap utara.

Pada zaman Presiden ke-26 Theodore Roosevelt (1901-1909) barulah tempat itu memiliki nama resmi Gedung Putih. Roosevelt juga mengadakan renovasi besar tahun 1902.

Roosevelt yang akrab disapa Tedy Roosevelt juga memindahkan kantor presiden dari lantai dua ke ruang sementara (kini disebut Sayap Kanan atau West Wing).

Patung George Washington di halaman Anderson House, Washington DC, Amerika Serikat pada Minggu (26/1/2025). Menjadi presiden pertama AS, Washington tidak pernah tinggal di kota yang dibuat untuk menjadi ibu kota AS tersebut.

Penerusnya, Presiden ke-27 William Howard Taft (1909-1913), membangun Oval Office di bagian sayap barat yang diperluas.

Kurang separuh abad setelah renovasi tahun 1902, Gedung Putih mengalami kerusakan struktur. Presiden Harry S Truman (Presiden ke-33, yang menjabat pada 1945-1953) melakukan renovasi menyeluruh. Truman, yang menggantikan Presiden Franklin D Roosevelt yang meninggal di tengah masa jabatan, melakukan renovasi menyeluruh, kecuali pada dinding luar.

Pada tahun 1952, Truman kembali menempati Gedung Putih yang selesai direnovasi.

Gedung Putih adalah rumah dan kantor para presiden AS dan keluarganya. Gedung Putih juga menjadi museum hidup sejarah Amerika Serikat.

Terdapat 132 ruangan, 35 kamar mandi, dan 6 lantai di kompleks hunian. Ada 412 pintu, 147 jendela, 28 perapian, 8 tangga, dan 3 lift. Dapur di Gedung Putih dapat menyediakan makan malam untuk 140 tamu.


Kerabat Kerja

Penulis:

Iwan Santosa
 | 

Editor:

Nur Hidayati
 | 

Penyelaras Bahasa:

Galih Rudanto