Sambut Xi Jinping, Wujud ”Diplomasi Bambu” Vietnam

Vietnam telah menerima para pemimpin sejumlah negara dalam beberapa pekan terakhir. Hanoi menjaga keseimbangan di tengah perang dagang.

14 Apr 2025 10:50 WIB · Internasional

Oleh Laraswati Ariadne Anwar

HANOI, SENIN — Di tengah perang dagang global, Vietnam menyambut Presiden China Xi Jinping. Xi menjadi pemimpin negara ke-5 yang mendatangi Vietnam dalam sebulan terakhir.

Xi dijadwalkan tiba di Hanoi pada Senin (14/4/2025). Sebelum Xi, Vietnam menyambut Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez, Raja Philippe dari Belgia, Presiden Luis Inacio Lula da Silva dari Brasil, dan PM Lawrence Wong dari Singapura. Vietnam juga mengutus pejabat ke Rusia dan Amerika Serikat dalam tiga pekan terakhir.

Xi datang di tengah perang dagang yang dipicu tarif bea masuk impor (BMI) oleh AS. China dan Vietnam dikenai masing-masing 145 persen dan 46 persen.

Xi datang di tengah perang dagang yang dipicu tarif bea masuk impor (BMI) oleh AS. China dan Vietnam dikenai masing-masing 145 persen dan 46 persen.

Melansir Vietnam News, kedatangan Xi atas undangan Sekretaris Jenderal Partai Komunis Vietnam To Lam dan Presiden Vietnam Luong Cuong. Xi sendiri merangkap sebagai Sekjen Partai Komunis China.

Ini adalah kunjungan luar negeri pertama Xi pada tahun 2025. Sebelumnya, dia telah melawat ke Vietnam sebanyak tiga kali. Setelah dari Vietnam, Xi melanjutkan kunjungan ke Malaysia dan Kamboja.

”Vietnam dan China pada 2025 memperingati 75 tahun hubungan bilateral. Suatu kehormatan menjadi negara pertama yang dikunjungi Presiden Xi tahun ini,” kata Duta Besar Vietnam di Beijing, Pham Thanh Binh.

Tarif

Menurut keterangan Pemerintah Vietnam, Xi dan para petinggi PKV akan membahas isu bilateral kedua negara. Tidak ada penjelasan apabila keduanya akan membahas mengenai tarif impor yang dikenakan oleh AS.

Presiden AS Donald Trump menetapkan tarif impor 54 persen atas China dan 46 persen atas Vietnam pada 2 April 2025. China membalas dengan menetapkan tarif sebesar 84 persen atas komoditas dari AS.

Pada Minggu (13/4/2025), Trump menangguhkan penjatuhan semua tarif impor untuk 90 hari ke depan, kecuali terhadap China. Trump malah menambah tarif atas China menjadi 145 persen.

Hanoi berada di posisi tengah karena dekat dengan Beijing ataupun Washington DC. Pendekatan Vietnam ke berbagai negara ini kerap disebut ”diplomasi bambu”, lentur meliuk ke sana-sini tanpa kehilangan akar dan kekuatan sendiri.

Pada masa jabatan pertama Trump, yaitu 2017-2021, juga terjadi perang dagang antara AS dan China. Akibatnya, perusahaan-perusahaan memecah rantai produksi mereka.

Produksi yang awalnya terpusat di China dipecah ke berbagai negara di Asia Tenggara, yakni Vietnam, Indonesia, Kamboja, Thailand, dan Malaysia. Hal ini yang memajukan perekonomian Vietnam, mulai dari pabrik telepon genggam sampai alas kaki ada di sana.

Tidak hanya itu, Vietnam juga menjadi terminal bagi barang-barang China untuk dikirim ke beberapa negara di dunia. Ini pula faktor yang menjadikan 90 persen perekonomian Vietnam bergantung pada perdagangan internasional.

Sistem ini yang diprotes pemerintahan Trump. Penasihat Ekonomi Gedung Putih Pete Navarro menuduh barang-barang dengan cap buatan Vietnam sebenarnya adalah produk jadi dari China. Oleh sebab itu, AS merasa dicurangi.

A man reads a local newspaper with a front page file photo showing To Lam, general secretary of the Vietnamese Communist Party, shaking hands with China's President Xi Jinping (R), ahead of Xi's visit to Vietnam in Hanoi on April 14, 2025. Chinese leader Xi Jinping warned April 14 that protectionism "leads nowhere" and that a trade war would have "no winners", state media said, as he was due to kick off a tour of Southeast Asia with a visit to Vietnam. (Photo by Nhac NGUYEN / AFP)

Guna melancarkan negosiasi penurunan tarif, Hanoi berjanji menyelidiki hal tersebut dan mencegahnya terulang. Vietnam mengincar tarif bisa diturunkan ke angka 22-28 persen.

Sementara, sebelum berkunjung ke Vietnam, Xi mengatakan ingin memperkuat koordinasi dan kerja sama dengan Vietnam. Salah satunya di penguatan rantai pasok dan sektor-sektor yang baru dan berkembang.

”Penguatan kerja sama ini bisa melalui inisiatif kawasan, misalnya Kerja Sama Asia Timur dan Kerja Sama Lancang-Mekong,” kata keterangan dari Kementerian Luar Negeri China.

Para pengamat internasional mengatakan, di tengah perang dagang, China berusaha tampil sebagai mitra dagang yang tepercaya dan stabil. Hal ini tampak dari pernyataan China yang bertentangan dengan proteksionisme Trump. China berjanji membuka pasar mereka seluas-luasnya dan meningkatkan kerja sama serta perdagangan dengan semua negara.

Negara-negara Perhimpunan Bangsa-bangsa Asia Tenggara (ASEAN) pada 2024 secara kumulatif mengimpor 586,5 miliar dollar AS produk dari China. Vietnam adalah pengimpor terbesar dengan nilai 161,9 miliar dollar AS dan Malaysia menyusul dengan 101,5 miliar dollar AS.

A vendor arranges local newspapers showing coverage ahead of Chinese President Xi Jinping's visit to Vietnam, in Hanoi on April 14, 2025. Chinese leader Xi Jinping warned April 14 that protectionism "leads nowhere" and that a trade war would have "no winners", state media said, as he was due to kick off a tour of Southeast Asia with a visit to Vietnam. (Photo by Nhac NGUYEN / AFP)

Meninggalkan AS

Trump memang menangguhkan tarif untuk tiga bulan mendatang. Akan tetapi, dampaknya tidak bisa dihentikan. Negara-negara, terutama negara berkembang, belum bisa bernapas lega karena masih khawatir tarif akan kembali.

”Tidak ada pilihan bagi dunia selain meninggalkan atau mengurangi kerja sama dengan AS,” kata Wakil Direktur Urusan Asia International Crisis Group Huong Le Thu.

Menteri Komunikasi Malaysia Fahmi Fadzil mengatakan, kunjungan Xi adalah bagian dari upaya Pemerintah Malaysia mengembangkan perdagangan internasional. Mereka mencari mitra-mitra dagang baru. China sebagai salah satu mitra yang besar.

Perdana Menteri Kamboja Hun Manet di Phnom Penh mengatakan, hubungan Kamboja-China tidak akan surut. China adalah penyokong penting pembangunan infrastruktur di negara tersebut.

Adapun kantor berita nasional China, Xinhua, melaporkan, Xi menelepon Presiden Indonesia Prabowo Subinato sebelum bertolak ke Vietnam. Indonesia tidak masuk di dalam jadwal lawatan Xi kali ini. Jakarta dan Beijing turut merayakan 75 tahun hubungan bilateral. Xi mengatakan, hubungan China dan Indonesia memiliki dampak global yang signifikan. (AP/Reuters)


Kerabat Kerja

Penulis:

Laraswati Ariadne Anwar
 | 

Editor:

Kris Mada
 | 

Penyelaras Bahasa:

Lucia Dwi Puspita Sari