Pabrik-pabrik China Lepas Ketergantungan pada Amerika Serikat

Tarif Trump menggoyang banyak pabrik di China. Berkat pengalaman dengan tarif Trump sebelumnya, mereka bisa bertahan karena memperluas pasar ke negara lain.

12 Apr 2025 17:24 WIB · Internasional

Oleh Luki Aulia

BEIJING, JUMAT — Di tengah perang tarif dan perang dagang Amerika Serikat-China, pabrik-pabrik di sejumlah daerah di China tetap beroperasi seperti biasa. Salah satunya, pabrik pohon natal di Provinsi Zhejiang.

Para pekerja sibuk menyusun tumpukan ranting sambil membuat coretan-coretan dengan cat putih menyerupai salju pada pohon pinus plastik. Seperti banyak perusahaan lain di Zhejiang, produk-produknya sebagian besar ditujukan untuk ekspor.

Ketika Presiden AS Donald Trump menaikkan tarif atas barang-barang China menjadi 145 persen dan dibalas China dengan menaikkan bea masuk 125 persen bagi AS, banyak pengusaha khawatir. Apalagi, Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) memperkirakan perang tarif AS-China ini akan mengurangi perdagangan barang AS-China hingga 80 persen.

TOPSHOT - A man works at a Christmas tree factory for export and domestic markets in Jinhua, China’s eastern Zhejiang province on April 11, 2025. China blasted US President Donald Trump's tariffs on April 11, as a "numbers game" that "will become a joke", as Beijing raised reciprocal levies on US imports to 125 percent and said it would go no further. (Photo by ADEK BERRY / AFP)

Kepala pabrik pohon natal di Zhejiang, Jessica Go, menyebut awalnya pesimistis dengan usahanya. Apalagi, saat ini perusahaan sedang tidak mendapat pesanan dari AS. Ada pesanan yang ditangguhkan dan ada juga yang belum dikonfirmasi. Meski demikian, tak berarti mereka mati.

Pabrik-pabrik di Zhejiang cenderung memiliki basis klien yang lebih luas dan baru-baru ini berkembang. Untuk pohon natal yang sedang diproduksi saat ini, tujuan ekspornya ke Guatemala dan Chile. ”Kami sudah perlahan-lahan melepaskan diri dari ketergantungan pada pasar AS dan mengembangkan pasar lain,” kata Go.

Berjarak sekitar 50 menit perjalanan, ada pabrik kecil yang khusus membuat peralatan plastik bertenaga surya. Cassie, salah satu pramuniaga, mengatakan hanya 20 persen pelanggannya dari AS. Sebelum pandemi, jumlahnya masih 80 persen.

Sama seperti pabrik Go, Cassie juga mengatakan banyak pesanan dari AS yang ditangguhkan atau dibatalkan dengan alasan tarif. ”Beberapa pelanggan AS kami tidak sanggup lagi karena harganya jadi sangat mahal,” ujarnya.

Di belakangnya, tampak rak pajangan yang penuh dengan patung Trump di samping patung Ratu Elizabeth II dan Surfer Dude yang bergoyang-goyang. Patung-patung Trump itu tidak dikirim ke AS, tetapi ke Eropa. Untuk mengatasi masalah tarif, kemungkinan mereka akan mengalihkan pembuatan beberapa produk ke dalam negeri atau negara lain selain AS.

Salesperson Cassie poses with product samples depicting US President Donald Trump at a factory specialising in solar powered plastic gadgets in Yiwu, China’s eastern Zhejiang province on April 11, 2025. Like countless other companies in the manufacturing powerhouse of Zhejiang province, its products are geared largely towards export -- a sector freshly menaced by Donald Trump's roiling of the global economy and increasingly brutal China tariffs. (Photo by ADEK BERRY / AFP)

Puncak kehebatan industri ringan Zhejiang adalah pasar grosir kota Yiwu, salah satu yang terbesar di dunia. Puluhan ribu kios menjual jutaan barang, mulai dari berbagai barang elektronik hingga body glitter, pistol mainan, dan rumput sintetis.

Mayoritas penjual yang ditanya kantor berita AFP mengatakan memiliki basis klien yang beragam, mencakup Amerika Selatan, Timur Tengah, dan Asia Tenggara.

”Jika perang dagang meningkat, kami harus meresponsnya dengan tenang. Orang-orang China pasti akan bersatu. Kami pekerja keras dan tidak takut dengah perang harga. Kami semua sangat percaya diri,” kata salah satu pedagang, Wang Xuexue, yang menjual boneka kapibara dan tas Barbie.

Pabrik-pabrik di Provinsi Fujian juga melawan tarif AS dengan memperluas pasar. Banyak perusahaan yang sudah tidak lagi mengandalkan pasar AS. Pada tahun lalu, Fujian mengekspor alas kaki hingga senilai 11 miliar dollar AS, seperempat dari total ekspor China, ke Amerika Utara dan Eropa.

Di kota Quanzhou, Fujian, terdapat sekitar 3.000 perusahaan alas kaki. Pemasok kulit sepatu di Quanzhou, Ding, mengatakan, banyak produsen sudah berhenti menerima pesanan baru dari AS setelah Trump terpilih kembali menjadi presiden, November 2024.

Mereka sudah tahu tarif mungkin akan diberlakukan dan tidak ingin terikat kontrak yang akan merugikan. Banyak produsen China sudah belajar dari masa jabatan pertama Trump (2017-2021) yang juga memberlakukan tarif tinggi pada China. Pada waktu itu, banyak produsen China yang kemudian memindahkan sebagian produksinya ke Asia Tenggara dengan mengirimkan bahan dari Quanzhou untuk pemrosesan terakhir.

Infografik riset

Majalah The Economist, 8 April 2025, menyebutkan, celah itu yang tampaknya akan ditutup dengan tarif AS sebesar 46 persen pada Vietnam. Wu, pembuat sol dalam, menyebut baru-baru ini membuat sampel untuk koleganya di Vietnam yang mengharapkan pesanan sebanyak 60.000 sol.

Namun, kesepakatan itu hilang setelah pengumuman tarif tinggi Trump. Alternatif pilihan ekspor lain memang tak banyak, tetapi banyak perusahaan yang kini mencari pasar di dalam China.

Hanya, harian The New York Times, Jumat (11/4/2025), menuturkan, banyak konsumen China yang sekarang pun sedang sangat berhemat setelah kehilangan seluruh tabungan mereka akibat jatuhnya pasar perumahan di China. Selain itu, harga jual di pasar domestik tidak bisa setinggi di luar negeri. Pasar domestik selalu menghendaki harga yang sangat rendah.

Selama ini Ding mengatakan belum memaksimalkan pasar dalam negeri. Hanya sekitar seperempat dari pembuat sepatu yang dilayani Ding yang menjual produknya ke konsumen dalam negeri. Pasalnya, pasar domestik sudah jenuh.

Jika banyak produsen yang bermain di dalam negeri, dikhawatirkan akan sangat kompetitif dan margin yang diperoleh sangat tipis. ”Masalahnya, untuk pasar dalam negeri, banyak orang yang sedang tidak punya bisnis atau uang, jadi mereka tidak berani beli barang,” ujarnya.

The Economist menyebutkan, pada akhir kuartal III-2024, hampir seperempat perusahaan yang terdaftar di China merugi, lebih dari dua kali lipat dibandingkan jumlah lima tahun lalu.

Zhang yang membuat jutaan sepatu dalam setahun di Quanzhou, mengungkapkan belum merugi, tetapi memang laba dari sepasang sepatu turun dari 30 RMB (Rp 69.000) menjadi kurang dari 10 RMB (Rp 23.000) jika dibandingkan dengan delapan tahun lalu. ”Tetapi saya percaya, pemerintah akan menemukan solusinya. Saya percaya pada mereka,” ucapnya.

Selain pada masa jabatan pertama Trump, perusahaan China sudah berpengalaman saat pandemi Covid-19. Mereka paham siklus bisnisnya. Sebentar turun, nanti sebentar akan naik lagi. Banyak produsen yang menurunkan harga paling banyak 1 RMB jika mereka harus membayar karyawan dan sewa. ”Jika Anda tidak punya pesanan, ya sudah, mungkin sebaiknya libur saja di paruh kedua tahun ini,” kata Ding. (AFP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Luki Aulia
 | 

Editor:

Fransisca Romana Ninik W