Dibayangi Rasa Pesimistis, AS-Iran Kembali Berunding

AS dan Iran ngotot soal kelanjutan riset nuklir. AS menuntut Iran mengimpor uranium yang diperkaya. Sementara Iran menegaskan riset nuklirnya untuk tujuan damai.

22 Mei 2025 11:07 WIB · Internasional

Oleh Iwan Santosa

TEHERAN, KAMIS — Iran dan Amerika Serikat akan melanjutkan perundingan soal program nuklir Iran di Kota Roma, Italia, Jumat besok. Sebagaimana diberitakan kantor berita Reuters, Kamis (22/5/2025), pihak Iran dan mediator dari Oman menyampaikan kepastian itu Rabu kemarin. Perundingan di Roma merupakan putaran lanjutan dari perundingan yang dimulai sejak 12 April 2025.

Pemimpin besar Iran Ayatollah Ali Khamenei mengatakan tidak berharap banyak dari perundingan tersebut. Sebaliknya, AS masih ngotot Iran harus mengakhiri program pengayaan uranium mereka.

Sejauh ini, AS-Iran sudah mengadakan empat kali pertemuan. ”Putaran lima perundingan Iran-AS akan berlangsung di Kota Roma, Jumat,” kata Menlu Oman Badr Albusaidi dalam unggahan di akun X.

Iran mengonfirmasi akan hadir dalam pertemuan tersebut. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baqaei mengatakan, Iran setuju atas usulan yang diajukan Oman untuk bertemu di ibu kota Italia pada Jumat ini.

Perundingan itu bertujuan mencapai kesepakatan baru untuk membatasi aktivitas nuklir Iran dengan imbal pengurangan sanksi yang dijatuhkan AS dan Barat.

Bendera Iran berkibar di kompleks pembangkit tenaga nuklir Bushehr saat upacara untuk memulai operasional reaktor kedua, 10 November 2019. AS memainkan ancaman tarif terhadap Eropa agar Eropa menekan Iran terkait kesepakatan nuklir 2015.

Barat, terutama AS, telah lama menuding Iran mencoba membuat senjata nuklir. Namun berulang kali pula Iran bersikeras, riset nuklir mereka ditujukan bagi keperluan damai dan pemenuhan energi.

Ragu

Pemimpin Besar Iran Ayatollah Ali Khamenei awal pekan ini sudah menyatakan ragu perundingan dengan AS akan membuahkan hasil. ”Perundingan ini tidak akan ke mana-mana. Kita sudah paham hasilnya akan seperti apa,” kata Khamenei.

Dia menambahkan, tidak masuk akal melarang Iran melakukan pengayaan uranium. Mengacu pada aturan internasional, Iran menyatakan bertindak sesuai dan diawasi Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA).

Pernyataan Khamenei disampaikan setelah Utusan Khusus Trump, Steve Witkoff, menegaskan, Iran tidak boleh melakukan pengayaan uranium dalam program nuklir untuk tujuan damai. ”Pengayaan uranium tidak boleh lagi dilakukan Iran. Itu adalah garis merah AS. Tidak ada pengayaan uranium sama sekali,” kata Witkoff kepada media sayap kanan Breitbart News pada Jumat (95 2025).

Dalam laman Al Jazeera disebutkan AS hanya mengizinkan Iran mengimpor uranium yang sudah diperkaya untuk kepentingan nuklir tujuan damai. AS menilai pengayaan uranium oleh Iran dapat juga digunakan untuk mengembangkan senjata nuklir.

(COMBO) This combination of file photos created on April 9, 2025, shows US Middle East envoy Steve Witkoff speaking to reporters outside the West Wing of the White House in Washington, DC, on March 6, 2025 (L), and Iran's Foreign Minister Abbas Araghchi speaking to AFP during an interview at the Iranian consulate in Jeddah on March 7, 2025. Iran said on April 9 a new nuclear deal could be agreed with the United States provided Tehran's longtime adversary shows sufficient goodwill in upcoming talks, as Israel warned of military action if talks drag on. (Photo by Mandel NGAN and Amer HILABI / AFP)

Iran menolak keras tuntutan AS. Menurut Iran sebagai negara berdaulat, mereka berhak melakukan pengayaan uranium.

Pada Minggu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan, Iran akan tetap melakukan pengayaan uranium dengan atau tanpa perjanjian baru dengan AS.

Republik Islam Iran saat ini melakukan pengayaan uranium hingga 60 persen jauh di atas batasan 3,7 persen sesuai perjanjian tahun 2015. Akan tetapi angka tersebut, 60 persen, masih di bawah pengayaan uranium hingga 90 persen yang diperlukan untuk membuat senjata nuklir.

Presiden AS berulang kali mengancam akan melancarkan serangan militer jika tidak mencapai kesepakatan dengan Iran. Sementara Israel, sekutu AS di Timur Tengah yang diyakini telah memiliki senjata nuklir, dilaporkan intelijen AS tengah menyiapkan serangan ke fasilitas nuklir Iran.

Sebelumnya, Presiden Trump menekan Iran dengan menerapkan sanksi atas ekspor minyak Iran dan sektor keuangan Iran. Langkah itu diambil seiring mundurnya AS pada tahun 2018 dari Kesepakatan Nuklir Iran.

Lalu Iran pada tahun 2019 sepakat kembali ke perjanjian tahun 2015 dan mendapatkan keringanan sanksi dari PBB. Menyusul kemajuan itu, Iran mengizinkan PBB melakukan pengawasan program nuklir Iran lagi.

Adapun tiga negara Eropa, yaitu Inggris, Perancis, dan Jerman yang terlibat perjanjian tahun 2015, tengah mempertimbangkan mengembalikan sanksi PBB terhadap Iran yang akan kedaluwarsa Oktober 2025.

Menlu Aragchi mengatakan, jika sanksi kembali dijatuhkan oleh ketiga negara Eropa, kebijakan tersebut dinilainya sebagai tindakan tidak bertanggung jawab.

Sanksi tambahan

Saat ini Pemerintah AS menyiapkan sanksi tambahan pada berbagai perusahaan dan individu yang memasok berbagai barang terkait proyek nuklir, rudal, dan militer Iran. Dalam keterangan Kementerian Luar Negeri AS, Rabu, mengungkapkan, temuan mereka tentang sektor konstruksi Iran yang dikendalikan Pengawal Revolusi dan adanya 10 bahan baku strategis yang terkena sanksi AS.

Warga Iran mengangkat spanduk yang bertuliskan dukungan terhadap program nuklir Pemerintah Iran dalampertemuan akbar memperingati 28 tahun Revolusi IslamIran, Minggu (11/2/2007).

”AS akan memperluas sanksi untuk mencegah Iran memperoleh bahan baku strategis yang digunakan Pengawal Revolusi Iran dan program nuklir mereka,” demikian keterangan Kemlu AS.

Adapun 10 material strategis tersebut mencakup nikel austenitis, aluminium–chromium, biji magnesium, sodium perklorat, tembaga tungsten, dan beberapa jenis aluminium lembaran dan tabun, serta bahan baku lain.

Pada Sabtu (26/4/2025) terjadi ledakan dahsyat di sebuah pelabuhan Iran. Pihak Barat mengatakan, ledakan dipicu bahan kimia untuk propelan rudal balistik Iran. Pihak Iran membantah tuduhan tersebut.

(AFP/Reuters)


Kerabat Kerja

Penulis:

Iwan Santosa
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Penyelaras Bahasa:

Lucia Dwi Puspita Sari