Jika Arsenal memiliki Gabriel, Sunderland punya Daniel Ballard. Sunderland menggunakan Ballard sebagai senjata di kotak penalti, layaknya Arsenal dengan Gabriel.
09 Nov 2025 06:41 WIB · Olahraga
AP
SUNDERLAND, SABTU — Tim promosi Sunderland akhirnya berhasil menemukan teka-teki untuk membongkar pertahanan kokoh Arsenal. Rahasianya, mereka membalikkan senjata Arsenal dalam bola mati dan duel udara untuk menghukum tim lawan. Mantan pemain Arsenal, Dan Ballard, menjadi eksekutornya.
Setelah tidak kemasukan selama 12 jam laga, Arsenal kecolongan dua gol sekaligus dari tuan rumah Sunderland di Stadium of Light, Minggu (9/11/2025) dini hari WIB. Tak hanya itu, ”Si Meriam” juga harus menyudahi sepuluh kemenangan beruntun akibat hasil imbang 2-2.
Pahitnya lagi, tim tamu harus kehilangan poin penuh pada menit-menit akhir injury time. Aksi akrobatik penyerang pengganti Sunderland, Bryan Brobbey, di kotak penalti gagal diantisipasi oleh kiper David Raya. Arsenal pun akhirnya merasakan kemasukan dua gol dalam satu laga untuk pertama kali musim ini.
”Mereka banyak merepotkan kami. Kami (lebih banyak) bertahan di kotak penalti sendiri. Kami tahu harus memanfaatkan peluang bola mati dan lebih agresif ketika tanpa bola. Kami berpikir bisa mendapatkan sesuatu dari pertandingan ini, dan kami berhasil,” ucap Ballard, bek tengah Sunderland.
Jelang laga, sorotan tertuju kepada kapten Sunderland, Granit Xhaka, yang akan menjalani reuni dengan Arsenal. Tanpa diduga, tim tamu justru dikejutkan dengan mantan pemain yang lain. Sosok itu adalah Ballard, pemain bertahan 26 tahun yang tumbuh besar di akademi Arsenal.
Ballard mengeksploitasi kelemahan tim asuhan Manajer Mikel Arteta dengan sumbangan satu gol dan satu asis. Dia menghasilkan gol pembuka keunggulan lewat bola mati di paruh pertama. Sementara itu, Ballard menjadi pemantul bola ke arah Brobbey dalam gol penyeimbang di pengujung laga.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/11/09/05a6a68c-debc-448d-b01f-eb53e7664fdc_jpg.jpg)
Dua bola langsung, dua kali berubah arah, dengan aksi yang mirip. Salut untuk lawan. Mereka punya Ballard dan bisa menciptakan momen-momen itu.
Ada satu kesimpulan dari dua gol Sunderland, yakni para pemain Arsenal tidak sanggup menahan keunggulan fisik Ballard. Pemain bertubuh kekar setinggi 187 sentimeter itu selalu memenangi duel di kotak penalti. Dia menaklukkan gelandang Declan Rice di gol pertama dan gelandang Martin Zubimendi di gol kedua.
Menariknya, Pelatih Sunderland Regis Le Bris menggunakan Ballard seperti Gabriel Magalhaes di Arsenal. Ballard dijadikan sasaran utama di kotak penalti dalam situasi bola mati ataupun skema umpan-umpan silang dalam kondisi terdesak. Senjata andalan tim tamu pun berbalik ke arah sendiri.
Di lini serang, Arsenal sangat sulit dikalahkan dalam duel udara karena punya Gabriel. Terbukti, mereka berstatus mematikan dari skema bola mati dengan catatan 12 gol di liga. Meskipun begitu, keunggulan itu tidak berlaku di pertahanan. Tim lawan bisa mengincar pemain yang kurang dominan di udara, seperti yang dilakukan Sunderland dengan Ballard.
Arteta berkata, sepasang gol itu tercipta akibat skema yang hampir sama. Mereka tidak mampu menetralkan kekacauan di kotak penalti. ”Dua bola langsung, dua kali berubah arah, dengan aksi yang mirip. Salut untuk lawan. Mereka punya Ballard dan bisa menciptakan momen-momen itu. Mereka pantas berada di posisi saat ini,” ujarnya.
Aksi heroik Ballard masih berlanjut seusai gol penyeimbang. Pemain asal Irlandia Utara itu sukses mengeblok tembakan gelandang Mikel Merino di depan gawang. Jika dia terlambat sedikit saja, Merino mungkin sudah membalikkan keunggulan Arsenal lewat peluang emas terakhir itu. ”Gol memang terasa hebat, tapi blok itu mungkin lebih penting pada akhirnya!” ujar Ballard.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/11/09/02df4825-7921-445f-bb09-cf6d9f33926e_jpg.jpg)
Meskipun memegang kontrol nyaris sepanjang laga, ”Si Meriam” cukup kewalahan menghadapi intensitas tuan rumah di pengujung laga. Saking tertekan, Arteta sampai memakai formasi lima bek sejajar. Bek Cristhian Mosquera masuk menggantikan gelandang Eberechi Eze di menit ke-88.
Menurut Le Bris, kebangkitan itu tidak lepas dari bantuan dukungan di seisi stadion. Itu membuat mereka bisa tetap tampil energik sampai peluit panjang. ”Kami menghadapi salah satu tim terbaik di Eropa, jelas kami kesulitan. Tetapi, kami tetap bersama dan terhubung untuk mencari gol,” ucapnya.
Sunderland unggul lebih dulu di paruh pertama. Selepas turun minum, Arsenal mendominasi penuh permainan dan berhasil membalikkan keadaan lewat gol dari penyerang sayap, Bukayo Saka dan Leandro Trossard. Ternyata sepasang gol itu tidak cukup bagi tim tamu untuk meraup tiga poin.
Lewat hasil itu, Sunderland semakin menunjukkan kapabilitas untuk bersaing di papan atas. Xhaka dan rekan-rekan kini menempati peringkat ketiga klasemen sementara dengan 19 poin. Sementara itu, Arsenal masih berada di puncak klasemen dengan 26 poin.
Salah satu momen paling mengesankan di laga tadi adalah selebrasi Ballard. Dia memamerkan otot bisepnya seperti seorang binaraga. Meskipun selebrasi di hadapan tim yang membesarkannya, itu tidak mengurangi rasa hormat Ballard. ”Saya benar-benar menghabiskan seluruh masa kecil saya di sana, mereka mengajarkan saya segalanya. Arsenal akan selalu punya tempat khusus di hati saya,” pungkasnya.
(AP/Reuters)
Penulis:
Kelvin HianusaEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Galih Rudanto