Kesepakatan damai sementara AS dan Iran sudah berakhir tanpa hasil final tentang mengakhiri perang secara permanen. Iran bersiap hadapi kemungkinan perang lagi.
18 Agt 2026 09:57 WIB · Internasional
AFP
DUBAI, SELASA — Kesepakatan perdamaian sementara antara Amerika Serikat dan Iran sudah berakhir pada Senin (17/8/2026). Namun, upaya negosiasi untuk mengakhiri perang antara AS dan Iran secara permanen menemui jalan buntu.
Di tengah diplomasi yang terhenti, Iran mempersiapkan strategi perang guna menghadapi perang yang lebih besar. Sementara Turki mendesak AS melanjutkan pembicaraan dengan Iran.
Pada 17 Juni 2026, merujuk Kompas.id, Presiden AS Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian menandatangani—secara jarak jauh dan elektronik—kesepakatan sementara untuk menghentikan perang. Melalui nota itu, AS dan Iran membuka masa negosiasi 60 hari untuk mencapai perjanjian final mengakhiri perang.
Terdapat 14 poin pada perjanjian yang berlaku selama 60 hari itu. Poin-poin itu, antara lain, pembukaan kembali Selat Hormuz, serta penghentian segera dan permanen operasi militer di semua lini.
Namun, target kesepakatan gagal akibat berulangnya saling serang dan kemelut tentang Selat Hormuz memburuk. Alih-alih menuju perdamaian, kedua negara dalam dua bulan terakhir tetap saja tegang dan saling serang. Upaya damai pun macet.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/07/29/f92453ac7088c17b42a4a8fe2f89c6d8-wires_photo_2026_07_29T120603.756.jpg)
Di tengah kebuntuan negosiasi, Iran kini bersiap menghadapi perang daripada mengandalkan negosiasi. Dalam laporan Al Jazeera, Senin (17/8/2026), Teheran mengisyaratkan kemungkinan beralih ke pendekatan yang lebih ofensif.
Melalui tayangan televisi pada Minggu malam, Kepala Biro Politik Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Brigadir Jenderal Yadollah Javani mengatakan, pasukannya siap mengambil tindakan apa pun yang diperlukan untuk mempertahankan Iran. ”Musuh yang memulai perang dan upaya kami selama ini bersifat defensif, meskipun bisa saja berubah menjadi ofensif,” ujar Javani.
Javani tidak merinci tindakan ofensif seperti apa yang mungkin dilakukan Iran. Namun ia menegaskan, lawan harus bersiap menghadapi ”kejutan strategis”.
Pekan lalu, juru bicara IRGC Hossein Mohebbi mengatakan, jaringan energi, pembangkit listrik, dan sistem yang terhubung dengan internet milik AS dan mitranya adalah target potensial jika AS menyerang infrastruktur sipil Iran. Para analis mempertanyakan kelayakan rencana tersebut serta risiko yang menyertainya. Sementara saat ini belum ada indikasi bahwa AS sedang merencanakan operasi darat di Iran.
Sikap Iran ”mengeras” setelah Pemimpin Tertinggi Mojtaba Khamenei menunjuk sejumlah tokoh senior dan orang kepercayaan dari IRGC untuk menduduki posisi kunci di bidang militer dan keamanan pekan lalu. Motjaba mengatakan, penunjukan Mayor Jenderal Ahmad Vahidi sebagai panglima tertinggi IRGC mencerminkan perpaduan antara ”pencegahan maksimal” dan kesiapan untuk melancarkan ”operasi ofensif yang kuat terhadap musuh”.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/07/23/3bb3d1e8dfa7d48ac505407b48ab59ff-wires_photo_7_.jpg)
Seiring berakhirnya kesepakatan sementara 60 hari antara Iran dan AS, Trump menyatakan tidak akan memperpanjang kesepakatan sementara itu. Trump mengatakan, Iran tidak akan menyepakati perjanjian yang menurut dia diperlukan untuk mengakhiri perang.
Trump juga mengatakan, Iran seharusnya menyerah, mengingat pembicaraan antara kedua negara masih menemui jalan buntu. ”Mereka tidak akan membuat jenis kesepakatan yang saya rasa perlu. Dengar, kita berada di sana karena satu alasan: Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir,” ujar Trump kepada wartawan di Ruang Oval.
Dengan mandeknya negosiasi AS dan Iran, ditambah sikap Iran yang mengeras serta keengganan Trump, Turki mencoba mencari celah baru. Presiden Tayyip Recep Erdogan dikabarkan menelepon Trump.
Menurut pernyataan Kepresidenan Turki pada Selasa (18/8/2026), dalam pembicaraan telepon itu, Erdogan meminta Trump untuk melanjutkan pembicaraan dengan Iran. Selain itu, Erdogan menawarkan dukungan Ankara untuk upaya perdamaian.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/07/25/0eaea84bfd65118fe3d9aa0ab436e53e-wires_photo_168.jpg)
”(Presiden) Erdogan menyatakan bahwa sangat penting untuk memaksimalkan diplomasi terkait ketegangan antara Iran dan AS, kami berharap pembicaraan akan berlanjut, dan Turki akan terus mendukung upaya perdamaian,” demikian pernyataan Kantor Kepresidenan Turki.
Turki menambahkan, Erdogan dan Trump juga membahas hubungan bilateral, perang di Gaza, dan pakta pertahanan yang ditandatangani antara Turki, Arab Saudi, dan Pakistan. Disebutkan dalam pernyataan itu, Erdogan memuji kesepakatan itu sebagai tanda ”sikap tegas” untuk stabilitas dan keamanan regional.
Turki, yang memiliki tentara terbesar kedua di NATO dan berbatasan dengan Iran, sudah berulang kali menyerukan diakhirinya perang. Turki menjalin kontak erat dengan AS, Iran, dan mediator dua negara, yaitu Pakistan serta Qatar. Turki juga bertindak sebagai perantara di antara pihak-pihak yang bertikai.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/08/09/923651d36dfa3281cf69a33bb24ca6b9-cropped_image.jpg)
Meski buntu, ada kabar bahwa Trump membuka jalur komunikasi rahasia dengan IRGC. Mengutip dua sumber yang mengetahui masalah ini, Axios melaporkan, mantan Direktur Intelijen Nasional Tulsi Gabbard berbicara dengan seorang pemimpin Kurdi Irak yang memiliki hubungan erat dengan IRGC. Melalui perantara inilah, AS menyampaikan pesan kepada komandan IRGC, Jenderal Ahmad Vahidi.
Fox News kemudian melaporkan bahwa Trump membenarkan kabar tersebut dalam sebuah wawancara telepon. Menurut Axios, pemerintahan Trump sempat khawatir apakah para negosiator Iran yang duduk di meja perundingan benar-benar mewakili kepentingan IRGC, terutama di saat Reuters melaporkan bahwa Vahidi telah menjadi sosok kunci.
Vahidi, seperti dilaporkan Axios, menanggapi bahwa ia sejalan dengan para negosiator Iran tersebut. ”Saya tidak bisa membeberkan rinciannya, tetapi saya dapat mengatakan bahwa percakapan antara Pemerintah AS dan berbagai elemen Pemerintah Iran di segala lini mungkin jauh lebih intensif dibandingkan sebelumnya,” ujar Jared Kushner, menantu sekaligus utusan khusus Trump, dalam wawancara terpisah dengan Kepala Koresponden Luar Negeri Fox News Channel, Trey Yingst.
Terkait kendali Selat Hormuz, Iran dan Oman melakukan perundingan. Kedua negara merundingkan kesepakatan pengelolaan selat. Kedua negara juga menyatakan kesepakatan itu hampir tercapai.
Sesuai poin kelima dalam kesepakatan sementara, Iran berpandangan poin itu memberikan hak kepada mereka untuk mengelola selat yang wilayahnya juga mencakup Oman, sekutu AS. Sementara pihak AS menolak penafsiran tersebut.
Trump menanggapi perundingan itu dengan melontarkan ancaman terhadap Oman. ”Jika Oman menghalangi, kami akan membombardir mereka habis-habisan," ujar Trump kepada Fox News.
Di sisi lain, sebagai dampak penutupan Hormuz, Trump kembali meminta warga AS untuk bersiap menghadapi harga bahan bakar yang terus tinggi. Senin lalu, harga minyak mentah di bursa Brent kembali merangkak naik 2 dolar AS, menjadi 90,87 dolar per barel.
(AP/Reuters)
Penulis:
Helena Fransisca NababanEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Rosdiana Sitompul