Direkrut PT Liga Indonesia Baru, Ini Gambaran Rencana Besar Takeyuki Oya untuk Liga Indonesia

Indonesia sepenuhnya berkiblat kepada Jepang untuk pembenahan kompetisi. Takeyuki Oya mengemban tugas Manajer Umum Kompetisi dan Operasional PT LIB.

07 Jul 2025 18:29 WIB · Olahraga

Oleh Muhammad Ikhsan Mahar

JAKARTA, KOMPAS — Di tengah kritik dan tuntutan pembenahan terhadap kompetisi profesional Indonesia, PT Liga Indonesia Baru akhirnya merekrut wajah asing untuk mengisi jabatan strategis. Dia adalah Takeyuki Oya, sosok berpengalaman yang telah 16 tahun mengelola Liga Jepang.

Oya adalah pria profesional asing pertama yang direkrut PT LIB untuk mengemban tugas krusial dalam pengelolaan kompetisi Indonesia, mulai dari Liga 1 hingga Liga Nusantara (Liga 3). Bahkan, sejak PSSI memperkenalkan liga profesional pada 1994-1995, Oya juga bisa dianggap pejabat asing pertama dalam lingkup operator kompetisi Tanah Air.

Oya diperkenalkan langsung oleh Direktur Utama PT LIB Ferry Paulus dan Direktur Operasional PT LIB Asep Saputra. Dia menempati posisi Manajer Umum Kompetisi dan Operasional PT LIB.

Pengumuman kehadiran Oya tersaji pada pembukaan rapat umum pemegang saham PT LIB, Senin (7/7/2025), di Jakarta. Agenda tahunan menyambut musim kompetisi baru itu juga dihadiri Ketua Umum PSSI Erick Thohir.

Ferry mengungkapkan perekrutan Oya sudah digagas sejak dua tahun terakhir. Pemilihan Oya tidak lepas dari pengalaman panjangnya mengelola J.League alias Liga Jepang yang menjadi salah satu kompetisi sepak bola terbaik di Asia.

”Kami memilih Oya sebagai wujud proses transformasi. Kami tidak alergi terhadap perubahan yang lebih baik, sehingga Oya bisa memberikan kontribusi besar untuk kompetisi Indonesia sekaligus melakukan transfer pengetahuan,” ujar Ferry.

Direktur Utama PT Liga Indonesia Baru Ferry Paulus memimpin konferensi pers usai pertemuan dengan perwakilan klub Liga 2 di Jakarta, Selasa (24/1/2023). Dari dinamika yang terjadi dalam forum itu, sebagian besar klub ingin Liga 2 dilanjutkan. Tetapi, dengan kendala yang ada, PT LIB siapkan sistem baru dengan cara bubble (gelembung). Usulan ini akan dibawa ke PSSI untuk diputuskan oleh Exco PSSI karena mereka yang punya ranah untuk memutuskan, seperti saat memutuskan Liga 2 dihentikan per 12 Januari 2023. (KOMPAS/ADRIAN FAJRIANSYAH)

Lebih lanjut, Ferry menyebut tugas utama Oya. ”Lingkup kerja Oya akan banyak menyentuh sistem operasi di liga, terutama yang memerlukan transformasi. Kami ingin kompetisi yang dikelola PT LIB lebih efisien dan semakin profesional,” ucapnya.

Erick juga menyambut kehadiran Oya. Mantan Presiden Inter Milan itu menegaskan, perbaikan kompetisi melalui terobosan krusial akan digagas PT LIB bersama Oya, sehingga ia meminta publik sepak bola nasional untuk bersabar menanti hasil transformasi liga yang perlu proses.

”Oya hadir untuk membantu perbaikan liga kita. Dia bisa melihat potensi besar dari sepak bola Indonesia. Kami harapkan masyarakat dan suporter memiliki komitmen yang sama untuk memberikan kesempatan sepak bola kita dibangun,” tutur Erick.

Dua fokus perbaikan

Oya mulai mengemban peran signifikan di J.League sejak akhir dekade 2000-an. Posisi terakhir yang dijabatnya ialah Manajer Umum Departemen Internasional J.League.

Jabatan yang dilepas Oya pada akhir 2024 lalu berfokus utama untuk membantu perbaikan sistem kompetisi profesional jepang dari J1 hingga J3. Selain itu, Oya juga berperan mengembangkan citra J.League di kawasan Asia. Salah satunya, ia pernah menjadi perwakilan J.League yang menandatangani nota kesepahaman dengan Liga Qatar pada 2019 lalu.

”Indonesia memiliki potensi besar melalui populasi besar dan kecintaan luar biasa terhadap sepak bola. Sepak bola Indonesia juga didukung oleh komitmen besar dari pemangku kepentingan untuk terus melakukan pengembangan,” kata Oya.

Pemain Persija Jakarta Maciej Jacek Gajos melakukan tendangan bebas saat melawan Persib Bandung pada lanjutan Liga 1 Indonesia di Stadion Patriot Chandra Bhaga, Kota Bekasi, Jawa Barat, Minggu (16/2/2025). Persib Bandung menahan imbang tuan rumah Persija Jakarta dengan skor 2-2.

Selama bertugas di J.League, Oya juga dikenal sebagai sosok pemikir dan eksekutor yang mengimplementasikan jalan menuju mimpi besar Jepang untuk menjadi juara Piala Dunia edisi 2050. Demi mewujudkan mimpi itu, J.League memiliki peran amat penting untuk meningkatkan kualitas liga sebagai ”pabrik” pemain dan pelatih tim nasional Jepang.

Dalam rangka menuju kampiun pentas dunia, J.League lebih dulu harus masuk dalam jajaran empat besar kompetisi terbaik di dunia pada 2030. Berbeda dengan China dan Arab Saudi yang mendatangkan pemain-pemain mahal dari Eropa, Jepang benar-benar membangun kompetisi mereka untuk menghadirkan klub yang rutin melahirkan pemain-pemain lokal terbaik serta didasari finansial sehat.

Dengan pengalaman itu, Oya berpeluang besar mengadopsi banyak hal yang telah dilakukannya untuk J.League di Liga Indonesia. Gagasan paling utama dan pertama yang berpotensi diwujudkan Oya di PT LIB—merujuk riwayat kerja di J.League—adalah mewajibkan komitmen nyata tim-tim profesional untuk mengembangkan akademi sendiri mulai dari U-15 hingga U-18.

Meskipun memiliki kompetisi Elite Pro Academy (EPA) U-16 untuk tim-tim Liga 1, pembentukan skuad muda itu tidak dilakukan secara organik oleh klub. Kebanyakan klub bermitra dengan sekolah sepak bola untuk mengubah bendera SSB sebagai perwakilan klub di EPA.

Di era Oya, J.League juga memulai aturan untuk mewajibkan setiap tim profesional memasukkan dua pemain binaan sendiri dan satu pemain di bawah usia U-21 untuk bermain di liga. Kesempatan besar kepada pemain lokal untuk berkembang di iklim kompetitif Liga Jepang menjadikan Jepang sebagai eksportir pesepak bola terbanyak dari negara Asia.

Merujuk data CIES Football Observatory pada Mei 2024, sebanyak 195 pemain binaan Jepang bermain di luar ”Negeri Matahari Terbit”. Di liga-liga seantero Asia, Jepang mengirimkan lebih dari 60 ekspatriat sepak bolanya. Kuantitas itu hanya kalah dari Brasil, Perancis, dan Spanyol.

Bek Semen Padang FC, Kim Min-Gyu berupaya menyundul bola hasil sepak sudut rekannya di pertahanan Persebaya Surabaya dalam pertandingan pekan ke-15 BRI Liga 1 2024/2025 di Stadion Haji Agus Salim Padang, Sumatera Barat, Minggu (15/12/2024). Pertandingan ini berakhir dengan skor 0-0.

Gagasan kedua dari Oya merujuk kinerja baiknya ketika di J.League ialah ikut mendorong sistem pengelolaan klub serta pengembangan finansial yang lebih sehat untuk klub. J.League melarang klub dimiliki oleh pemilik individu atau perusahaan tunggal.

Klub memiliki pula tanggung jawab menyusun rencana jangka panjang untuk dua hal. Pertama, melahirkan bakat-bakat terbaik. Kedua, memiliki tanggung jawab sosial sehingga memiliki keterkaitan erat dengan komunitas lokal.

Keterikatan klub dengan masyarakat asal daerah mereka mendorong konsistennya okupansi tribune stadion laga-laga Liga Jepang. Alhasil, sisi finansial klub bisa bergeliat berkat kolaborasi klub dengan pendukung, seperti layanan hari pertandingan, penjualan cendera mata, dan kegiatan komersial klub lainnya.

Berdasarkan data Transfermarkt, Liga Jepang memiliki rerata penonton tertinggi di Asia dengan 20.083 penonton per gim pada musim 2024. Jumlah itu lebih banyak dibandingkan dengan China, India, Australia, dan Korea Selatan.

Harapan Liga Indonesia yang semakin profesional berada di pundak Oya. Semoga tidak ada yang alergi dengan perubahan yang digagas dan dijalankan oleh sosok profesional asal Jepang itu.


Kerabat Kerja

Penulis:

Muhammad Ikhsan Mahar
 | 

Editor:

Prasetyo Eko Prihananto
 | 

Penyelaras Bahasa:

FX Sukoto