Apa yang didengar para pelari lewat penyuara telinga saat berlomba? Dari berbagai jenis musik hingga siniar diyakini bisa memacu pelari ke garis finis.
24 Nov 2024 20:19 WIB · Olahraga
Bagi banyak pelari rekreasional, musik sudah seperti doping legal yang dibutuhkan ketika lomba lari jalan raya. Mereka memiliki daftar putar lagu yang unik untuk menuntaskan perjalanan ke garis finis yang terkesan spiritual dan personal tersebut. Tren itu semakin merebak di tengah pro dan kontra penggunaan penyuara telinga.
Salah satunya Satya Putra (32), pelari yang baru memulai hobi itu sejak pandemi Covid-19. Setelah mengikuti berbagai lomba di Tanah Air, dia akhirnya menemukan daftar putar favorit untuk berlari. Pilihannya terbilang unik. Selain berganti-ganti genre lagu di kilometer tertentu, dia juga mendengarkan siniar pada pertengahan lomba.
”Saya biasa ikut half marathon. Biasa 10 km pertama itu lagu-lagu bertempo cepat kayak dari Simple Plan biar semangat. Setelah itu lanjut podcast motivasi biar fokus. Terakhir kalau sudah dekat finis jadi lagu-lagu kemenangan seperti ’Viva la Vida’ Coldplay. Intinya biar semangat,” kata pria asal Surabaya itu, Minggu (24/11/2024).
Baginya, tidak mudah untuk bisa langsung berlomba sambil mendengarkan musik. Sering kali kecepatan lari terpengaruh dengan tempo lagu. Satya pun membiasakan diri saat latihan. ”Jadi saya lari dengan pace cepat, tetapi mendengar lagu lambat. Begitu juga sebaliknya. Lama-lama jadi biasa,” ujarnya.
Kebergantungan serupa disampaikan pelari dari komunitas JB Playon, Stefanus Atyanto (34). Menurut dia, musik selalu mampu mendorong suasana hati, seperti ada yang kurang ketika berlari tanpa musik. Penyuara telinga pun menjadi barang wajib yang dibawa berlari, terutama saat lomba.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/11/19/39ae637f-ba66-433b-8fcb-8e8b622846be_jpg.jpg)
Bedanya, Stefanus tidak punya daftar putar lagu yang pasti. Dia memilih lagu bertempo cepat dengan acak. ”Kadang dangdut, kadang rock, bisa dari luar dan dalam negeri, yang penting bisa ngangkat semangat. Seperti kemarin awalnya dengar lagu ’APT’ kayak enggak jelas, tetapi sekarang malah di-mainin terus pas lari,” ucapnya.
Ada kutipan populer dari penyanyi legendaris Amerika Serikat, Marilyn Monroe, ”Musik adalah bentuk sihir yang paling kuat”. Hal itu agaknya berlaku dalam berlari. Berbagai studi telah membuktikan musik bisa memacu performa para pelari. Musik pun banyak disebut sebagai doping psikologis.
Profesor ilmu latihan dan studi olahraga Universitas Springfield, Jasmin Hutchinson, mengonfirmasi teori tersebut. Seperti dikutip Runner’s World, Jasmin berkata, manusia terprogam untuk merespons ritme. Ketukan di lagu pun bisa memacu ritme dalam berlari. Selain itu, mental pelari lebih baik karena terhindar dari kebosanan.
Masalahnya, para pelari harus menggunakan penyuara telinga untuk membuat pilihan lagu tetap personal. Penggunaan alat itu sudah menjadi pro dan kontra sejak sekitar dua dekade lalu karena alasan keselamatan. Federasi Atletik Amerika Serikat sempat melarang penggunaan penyuara telinga dalam lomba resmi pada 2007.
Peraturan itu banyak dipertanyakan oleh para pegiat hobi lari, sampai akhirnya tidak berlaku lagi. Ajang besar seperti Boston Marathon saja memperbolehkan penggunaan penyuara telinga walaupun tidak menganjurkan. Mereka khawatir para peserta tidak bisa mendengarkan pengumuman dari petugas.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/11/19/fb15576b-765f-4ed3-b3a9-b688049079d5_jpg.jpg)
Di dalam negeri, ajang seperti Bank Jateng Borobudur Marathon 2024 juga melarang hal tersebut. Salah satu peserta lomba asal Depok, Lestari Octavia (48), bahkan sudah merencanakan berlari dengan penyuara telinga untuk ajang di Magelang, Jateng, pada Minggu (1/12/2024) WIB tersebut. Dia punya siasat agar tetap bisa mendengar kondisi sekitar.
”Buat saya, race, kan, seperti healing. Jadi saya ingin menikmati musik sambil melihat pemandangan (area Borobudur). Apalagi dengan musik koplo pasti jadi meriah dan menghibur. Saya sendiri pakai tipe open ear jadi masih peka sama suasana sekitar. Kalau tidak, takutnya bisa bahaya saat lari,” tutur Lestari.
Penyuara telinga dengan teknologi open ear tidak menyumbat telinga. Tempat keluar suara diletakkan tepat di samping lubang kuping. Suara-suara dari sekitar pun bisa masuk bersamaan dengan musik. Adapun tipe penyuara telinga seperti itu pernah dipromosikan oleh pelari ternama dunia Eliud Kipchoge.
Para pelari juga masih bisa bersiasat jika menggunakan penyuara telinga standar. Seperti dilakukan Stefanus, dia menyetel musik dengan volume yang tidak terlalu besar. Suara di sekitar masih terdengar. Stefanus yang akan turun di Borobudur Marathon tahun ini juga sudah berlatih agar terbiasa peka dengan keadaan sekitar.
Ditemani musik, berlari saat lomba memang lebih asyik. Akan tetapi, mendengar suara alam di sepanjang rute dan teriakan dukungan dari warga sekitar juga tidak kalah menarik.
Penulis:
Kelvin HianusaEditor:
Prasetyo Eko Prihananto