Doa kebangsaan menguatkan persatuan dan menguatkan tekad mengisi kemerdekaan.
01 Agt 2025 22:17 WIB · Politik & Hukum
JAKARTA, KOMPAS — Kemerdekaan total disebut sebagai tujuan dari Presiden Prabowo Subianto dengan program-programnya. Sembari menjalankan program-program, mengisi kemerdekaan dikuatkan dengan doa.
Menteri Agama Nasaruddin Umar mengutip pernyataan Presiden Prabowo terkait kemerdekaan total dalam sambutannya di acara Doa Kebangsaan di Tugu Proklamasi, Jakarta, Jumat (1/8/2025) malam.
Kemerdekaan total ini diterjemahkan Presiden Prabowo dengan memastikan tak ada warga yang kelaparan serta memastikan anak-anak tak terhambat dalam mengakses pendidikan. Saat ini, program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi program unggulan yang menyasar anak-anak sekolah serta ibu hamil dan menyusui. Selain itu, disiapkan Sekolah Rakyat dan Sekolah Garuda untuk memperluas akses pendidikan.
Namun, mengisi kemerdekaan, menurut Nasaruddin, tak hanya dilakukan kepala negara. Justru, anak-anak kecil sampai orang tua bisa ikut mengisi kemerdekaan. ”Untuk bapak/ibu yang sudah lanjut usia, secara ekonomi mungkin sulit untuk memberi kontribusi material, tetapi doa para orang tua biasanya lebih khusyuk,” tuturnya.
Doa kebangsaan yang didahului zikir menjadi pembuka kegiatan di Bulan Kemerdekaan. Acara zikir kebangsaan yang mulai dilangsungkan di masa pemerintahan Presiden ketujuh RI Joko Widodo ini biasanya berlokasi di depan Istana Merdeka, Jakarta. Presiden Jokowi pun biasanya hadir memimpin acara.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/01/cef793994098c2dd4a832ce338e96048-20250801YGA03.jpg)
Namun, kali ini, lokasi acara dipindahkan ke Tugu Proklamasi. Presiden Prabowo Subianto pun tak hadir dalam acara ini. Selain Menteri Agama Nasaruddin Umar, tampak Wakil Menteri Sekretaris Negara Juri Ardiantoro dan Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka.
Menurut Nasaruddin, pemindahan lokasi ini dilakukan karena Presiden Prabowo menilai doa kurang khusyuk karena halaman Istana Merdeka dekat persimpangan jalan. Selain itu, tempatnya pun terbatas.
Kawasan Tugu Proklamasi dinilai lebih syahdu dan bersejarah. Sebelumnya, Juri juga menyebut lokasi yang bersejarah ini dipilih sebagai simbol rasa syukur atas perjuangan para pendiri bangsa dan para pahlawan bangsa.
Tugu Proklamasi berkaitan dengan pembacaan naskah Proklamasi Kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 di kediaman Presiden Soekarno, Jalan Pegangsaan Timur nomor 56, Jakarta. Rumah itu kemudian menjadi Gedung Proklamasi.
Adapun Tugu Proklamasi awalnya dibangun kelompok Ikatan Wanita Djakarta sebagai tugu peringatan setahun kemerdekaan RI. Karenanya, tugu yang terletak di depan Gedung Proklamasi ini awalnya dinamakan Tugu Peringatan Satoe Tahoen Repoeblik Indonesia.
Tugu ini sempat dihancurkan oleh Presiden Soekarno di tahun 1960. Tugu ini digantikan dengan Tugu Petir di tempat Bung Karno dan Bung Hatta berdiri saat membacakan naskah Proklamasi.
Tahun 1972, Tugu Proklamasi dibangun kembali dengan ukuran dan bentuk persis sama seperti yang lama.
Dalam doa kebangsaan ini, hadir Ketua Umum MUI KH Anwar Iskandar yang memimpin doa untuk umat Islam, Pendeta Jason untuk umat Kristen, Romo Fransiskus Yance Sengga untuk umat Katolik, Pinandita Sangraha Nusantara Jero Mangku Pastika untuk umat Hindu, YM Bhikkhu Dhammavuddho Thera/Victor Jaya Kusuma untuk umat Buddha, dan Ws Sunarta Hidayat untuk umat Khonghucu.
Anwar Iskandar dalam doanya berharap Indonesia menjadi negara yang maju, makmur, berkeadilan. Bhikkhu Dhammavuddho mendoakan supaya semangat toleransi dan gotong royong selalu menyala di sanubari setiap warga Indonesia dan masyarakat Indonesia selalu hidup dalam damai, makmur, berkeadilan, dan berlandaskan kebijaksanaan. Sunarta Hidayat juga mendoakan supaya persatuan Indonesia bisa terus dijaga bersama.
Setelah doa kebangsaan, rangkaian Bulan Kemerdekaan akan diisi dengan pengukuhan Pasukan Pengibar Bendera Pusaka, penganugerahan Tanda Kehormatan Republik Indonesia, pidato kenegaraan, dan renungan suci.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/09/20/3e0d5eef-5d4d-4ce8-b952-a52d62d828d4.jpg)
Pada 16 Agustus pukul 00.00 WIB, dilaksanakan Ziarah Nasional dan Renungan Suci yang dipimpin oleh Presiden Prabowo Subianto di Taman Makam Pahlawan Nasional Utama Kalibata. ”Di seluruh wilayah Indonesia juga dilaksanakan Apel Renungan Suci di Taman Makam Pahlawan setempat, di provinsi maupun kabupaten/kota,” kata Juri Ardiantoro.
Untuk Upacara Peringatan Detik-detik Proklamasi akan didahului dengan kirab Bendera Pusaka dan Teks Proklamasi dari Monas ke Istana Merdeka menggunakan kereta kencana. Pasukan berkuda akan mengawal kirab yang dimulai pukul 08.00.
Sore harinya, juga akan dilaksanakan Upacara Penurunan Bendera. Baik Upacara Peringatan Detik Proklamasi maupun Upacara Penurunan Bendera, Presiden Prabowo akan menjadi Inspektur Upacaranya. Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka pun akan hadir di Jakarta.
Presiden Prabowo, lanjut Juri, mengarahkan supaya peringatan Kemerdekaan ini harus hikmat serta bisa dirayakan dengan penuh sukacita, riang gembira, dan berdampak bagi masyarakat. Karenanya, rangkaian upacara di Istana akan diisi berbagai kegiatan yang dikemas secara inklusif, melibatkan partipasi masyarakat luas.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/08/17/bc0451c7-fd58-4b86-9477-6740774a2bd7_jpg.jpg)
Menurut rencana, untuk memeriahkan peringatan kemerdekaan yang ke-80 ini, akan ada pergelaran yang menampilkan keragaman kesenian dan budaya Indonesia di halaman Istana Merdeka.
Adapun di halaman tengah Istana Kepresidenan akan diselenggarakan Pesta Rakyat. Jadi, setelah upacara di pagi hari, kata Juri, Presiden menyiapkan berbagai aneka hidangan, makanan dan minuman, yang diperuntukkan bagi masyarakat peserta upacara. Penyiapan hidangan ini melibatkan pedagang kaki lima yang sehari-hari berjualan di sekitar Istana, sekitar Monas, dan lainnya.
Pesta Rakyat ini menjadi yang pertama kalinya diselenggarakan dalam perayaan HUT RI di Istana Presiden. ”Jadi, kepada masyarakat umum, kami ingin mengimbau, jika berminat menjadi peserta Upacara Detik-detik Proklamasi ke-80, nanti siap-siap untuk war undangan HUT ke-80 RI mulai tanggal 4 Agustus 2025.
Masyarakat yang belum berkesempatan hadir langsung di Istana, tambah Juri, panitia akan menyelenggarakan Pesta Rakyat sehari semalam di kawasan Tugu Monas di hari yang sama, 17 Agustus 2025. ”Jadi, dari pagi sampai malam akan ada Pesta Rakyat,” ujarnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/08/fd7d15a4aeb3d69ff3789706629a6df1-20250708YGA12.jpg)
Pesta Rakyat di Monas ini akan diisi dengan berbagai perlombaan, panggung hiburan, kuliner gratis dari UMKM, dan pertunjukan kembang api pada malam harinya.
Kemeriahan 17 Agustus juga akan semakin semarak pada malam hari dengan kegiatan karnaval kemerdekaan. Karnaval ini melibatkan perwakilan seluruh instansi pemerintah, kementerian, lembaga, TNI, Polri, dan BUMN yang akan menampilkan program-program unggulan masing-masing dalam kendaraan hias. Harapannya, kreativitas semua instansi ini bisa menghibur masyarakat.
Adapun rute karnaval ini melintasi kawasan Monas, Jalan MH Thamrin, Jalan Sudirman, sampai persimpangan Semangi.
Selain itu, sepanjang 17 Agustus 2025, tarif semua angkutan massal publik di Jakarta, baik Jaklingko, Transjakarta, LRT, MRT, dan KRL, akan sama, yakni Rp 80.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/04/24/b84029d6-5a2f-43c1-9659-03aa6bf710a1_jpg.jpg)
Hadiah lain di Bulan Kemerdekaan, menurut Juri, adalah hari libur pada 18 Agustus. Hari libur setelah upacara, pesta rakyat, dan karnaval diharap memberi keleluasaan bagi masyarakat untuk menggelar perlombaan dan kegiatan yang menyemarakkan peringatan HUT RI.
Peringatan Kemerdekaan ke-80 RI juga akan dimeriahkan dengan penyelenggaraan Merdeka Run 8.OK pada 24 Agustus di Jakarta. Angka 8.0 dipilih sesuai dengan perayaan 80 tahun kemerdekaan Indonesia.
Selain itu, masih ada program diskon belanja nasional hingga 80 persen yang diinisiasi oleh pelaku usaha ritel modern dan pusat pembelanjaan.
Pada 23 Juli lalu, Presiden Prabowo Subianto telah meluncurkan logo peringatan HUT ke-80 RI yang berbentuk angka 80 yang saling terhubung tanpa ujung dan tak terputus. Logo ini disebut melambangkan persatuan bangsa.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/07/23/f4a44c68-e5b0-454c-baf2-523a6b5bebe1_jpg.jpg)
”Tema ini dipilih karena selaras dengan visi besar negara dan mewakili arah perjuangan bangsa kita. Kita ingin selalu menjadi negara yang bersatu, Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi satu,” ujar Prabowo saat peluncuran.
Adapun tema peringatan HUT ke-80 Republik Indonesia adalah ”Bersatu Berdaulat, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju”. Dengan demikian, perayaan kemerdekaan tidak hanya mengingat tanggal kemerdekaan, tetapi menjadi momentum untuk menjaga api semangat perjuangan dan pengorbanan kolektif. Harapannya, bangsa ini terus bertahan dan tumbuh menjadi bangsa yang besar, sejahtera, dan maju.
Penulis:
Nina SusiloEditor:
A. Ponco AnggoroPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra