Setiap kompetisi memiliki dongeng tersendiri. Di Liga Europa, dongeng itu dikisahkan oleh Bodo/Glimt seusai menjadi klub Norwegia pertama yang melaju ke semifinal.
18 Apr 2025 13:49 WIB · Olahraga
Sebelum menyingkirkan Lazio pada perempat final Liga Europa, Bodo/Glimt hanyalah remah-remah di antara klub-klub elite Eropa. Pelan tetapi pasti, Bodo/Glimt memaksa publik mencermati kiprah mereka. Kemenangan dramatis atas Lazio sekaligus menjadi klub Norwegia pertama yang melaju ke semifinal menciptakan dongeng yang membius publik.
Setiap kompetisi memang ditakdirkan memiliki dongengnya tersendiri. Dongeng dalam sepak bola merujuk pada geliat klub kecil yang membalikkan prediksi, lalu muncul menjadi pahlawan. Liga Inggris telah lebih dulu mengisahkan dongengnya seiring keberhasilan Leicester City menjadi juara pada 2016.
Liga Champions Eropa tidak ketinggalan menyuguhkan kisah-kisah heroik saat suatu klub membalikkan keadaan setelah kalah telak pada pertemuan pertama. Di Liga Europa, dongeng itu dilukiskan oleh Bodo/Glimt. Kehadirannya di Liga Europa sempat tidak terdeteksi atau minimal dihiraukan oleh publik. Akan tetapi, mereka membuktikan keberadaannya dengan mengandaskan Lazio pada babak adu penalti di Stadion Olimpico, Roma, Jumat (18/4/2025) dini hari WIB.
Berbekal kekalahan 0-2 pada pertemuan pertama di Norwegia, Lazio bermain ulet dan penuh determinasi untuk membalikkan keadaan. Upaya itu berbuah hasil saat gol Valentin Castellanos (menit ke-21) dan Tijjani Noslin (90+3) membawa Lazio menyamakan agregat menjadi 2-2.
Pertandingan pun berlanjut ke babak perpanjangan waktu. Dari sini drama dimulai. Gol Boulaye Dia menit ke-99 membuat seisi stadion bergemuruh. Namun, kegembiraan para pendukung Lazio tidak bertahan lama. Sembilan menit kemudian, Andreas Helmersen kembali membuat kedudukan sama kuat 3-3. Pemenang pun akhirnya harus ditentukan melalui babak adu penalti.
Kiper Bodo/Glimt Nikita Haikin menjadi pahlawan berkat aksinya menggagalkan eksekusi penalti Loum Tchaouna, Noslin, dan Castellanos. Di kubu Bodo/Glimt, hanya Patrick Berg dan Jens Petter Hauge yang gagal menunaikan tugasnya.
”Ini malam yang luar biasa. Saya sangat lelah sekarang, tetapi pada akhirnya saya sangat senang bisa lolos. Sungguh sulit. Lazio adalah tim yang sangat, sangat kuat. Kami memulai dengan baik, kemudian kami banyak kesulitan. Mereka menekan kami sangat tinggi. Kami sering kehilangan bola dan mereka memiliki pemain yang sangat bagus,” kata Hauge.
Bodo/Glimt kini hanya berjarak dua pertandingan dari final yang mereka idamkan. Pada semifinal, tim besutan Pelatih Kjetil Knutsen itu akan ditantang Manchester United. Kedua tim pernah bertemu pada babak penyisihan grup di Stadion Old Trafford. MU kala itu harus ”berdarah-darah” meraih kemenangan 3-2.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/18/b27e1775ad16a6ba9cf7e2c048c71560-FBL_EUR_C3_LAZIO_BODO_GLIMT_129082228.jpg)
Knutsen memuji semangat dan daya tahan timnya. Menurut dia, tidak mudah mencetak gol di Stadion Olimpico yang begitu intimidatif.
”Ini adalah momen bersejarah bagi klub kami, dan kami bangga dengan apa yang telah kami capai malam ini. Kami percaya pada diri sendiri dan menunjukkan bahwa kami dapat bersaing di level ini.” Kata Knutsen.
Setelah babak perempat final usai, tersisa empat tim semifinalis Liga Europa. Keempat tim itu adalah Bodo/Glimt, MU, Tottenham Hotspur, dan Athletic Bilbao. Berbeda dengan MU, Spurs, dan Bilbao yang relatif sudah banyak dikenal publik, kiprah Bodo/Glimt relatif jarang terdengar. Walakin, Knutsen memastikan timnya tidak hanya datang sebagai pelengkap semifinal.
Bermain pada suhu minus 10 derajat celsius dan rumput lapangan yang keras adalah hal biasa. Itu merupakan pengalaman yang berbeda bagi pemain lain dibandingkan bagi kami.
Meski belum begitu dikenal dibandingkan dengan tiga semifinalis lainnya, kiprah Bodo/Glimt dalam empat musim terakhir tergolong mencengangkan. Datang dari suatu kota kecil, Bodo, di wilayah Arktika, Bodo/Glimt sukses menjuarai Liga Norwegia empat musim beruntun sejak 2020.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/18/be0cb8f0046c6b335d8aa33057d36be1-Italy_Soccer_Europa_League_129085249.jpg)
Prestasi itu terasa ajaib untuk sebuah kota di mana sepak bola nyaris sulit dimainkan. Hampir seluruh bulan dalam satu tahun, wilayah Bodo terselimuti salju dan suhu dingin. Untuk bermain sepak bola, dibutuhkan ketabahan dan keuletan agar tubuh mampu menahan angin menderu dan suhu beku yang menghantam kota sepanjang tahun.
”Bermain pada suhu minus 10 derajat celsius dan rumput lapangan yang keras adalah hal biasa. Itu merupakan pengalaman yang berbeda bagi pemain lain dibandingkan bagi kami. Saya pikir itu juga membuat kami lebih tangguh dalam hal pertandingan dan jenis cuaca di sana. Kami terbiasa harus beradaptasi dengan segala hal dengan cara yang berbeda, tetapi begitulah keadaan di sini,” kata gelandang Bodo/Glimt, Hako Evjen, dikutip dari CNN.
Berkat keberhasilan Bodo/Glimt menjuarai Liga Norwegia empat musim beruntun serta performa impresif di Liga Europa, seisi kota yang biasanya terlelap di balik salju kini menggeliat. Setiap kali Bodo/Glimt memainkan laga kandang, lebih dari 6.000 orang akan memadati Stadion Aspmyra.
”Kami mendapat begitu banyak dukungan dan seluruh kota kini hampir menjadi kota sepak bola. Senang melihat bagaimana sepak bola dapat mengubah kota dan bagaimana orang-orang memandangnya. Bermain di sini sekarang jauh lebih besar daripada beberapa tahun yang lalu,” ujar Evjen.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/18/17f3960802691aab5f1909c0bd1e292e-Italy_Soccer_Europa_League_129083443.jpg)
Pengarang terkenal Inggris, William Shakespeare, pernah mengatakan, apalah arti sebuah nama. Bagi Bodo/Glimt, nama bisa jadi awal mula kesuksesan mereka. Glimt dalam bahasa Nordik berarti kilat, kilauan, atau cahaya. Dari filosofi nama itulah Bodo/Glimt akhirnya menerangi seluruh kota.
Melalui dongeng yang mereka kisahkan di Liga Europa, seisi penduduk Bodo kini terbangun dari tidur panjangnya. (REUTERS)
Penulis:
I Gusti Agung Bagus Angga PutraEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .