Tingkatkan Kompetensi Akademik, Dosen Didukung Kuliah Doktor Jalur Riset

Baru sekitar 25 persen dosen di Indonesia yang menuntaskan pendidikan doktor. Beasiswa dosen untuk kuliah S-3 pun ditingkatkan.

02 Jun 2025 19:37 WIB · Dikbud

Oleh Ester Lince Napitupulu

JAKARTA, KOMPAS — Beasiswa Program Doktor untuk Dosen Indonesia tahun 2025 diluncurkan di Jakarta, pada Senin (2/6/2025). Hal ini bertujuan untuk memacu peningkatan kompetensi akademik dosen di perguruan tinggi yang masih minim lulusan S-3.  

Para dosen akan difokuskan menjalani pendidikan doktor jalur penelitian atau by research. Dengan demikian, dosen tetap dapat mengajar di kampus asal sehingga tidak kehilangan pendapatan secara drastis.

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto mengatakan, sebenarnya sudah ada beasiswa doktoral untuk dosen. Namun, peluncuran Program Doktor untuk Dosen Indonesia (PDDI) tahun ini untuk menekankan dan mengonsolidasikan program beasiswa yang ada sehingga lebih banyak diminati para dosen.

Brian mengutarakan, dari total sekitar 300.000 dosen yang mengajar di 4.416 perguruan tinggi, baru 25,05 persennya yang lulusan S-3. Sekitar 225.000 dosen butuh didorong untuk mencapai pendidikan akademik tertinggi, yakni menuntaskan jenjang S-3.

Infografik investigasi - Jenjang Jabatan Dosen

”Dosen bergelar doktor harus diperbanyak. Kami mencari celah anggaran beasiswa S-3 bagi dosen. Selain dari anggaran Kemendiktisaintek, kami membahas dengan LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan) untuk menambah beasiswa dosen, termasuk mengajak dunia usaha dan dunia industri bisa memberikan beasiswa S-3 khusus dosen,” tuturnya.

Pada tahun ini Kemendiktisaintek mengalokasikan beasiswa PPDI untuk sekitar 1.100 dosen. Diupayakan ada tambahan beasiswa S-3 khusus bagi dosen dari LPDP supaya bisa menambah kuota hingga 2.000 orang atau lebih.

Lebih lanjut, Brian mengatakan, beasiswa S-3 dosen ini juga bisa memanfaatkan dana hibah riset dan pengabdian masyarakat dosen. Hibah ini bisa mencapai Rp 150 juta per tahun dan dapat dimanfaatkan untuk beasiswa kuliah doktor dengan riset. Jadi, riset-riset yang dilakukan dosen calon doktor bisa mendukung program Astacita pemerintah saat ini.

”Kami ingin tahun depan bisa menyediakan hingga 5.000 beasiswa S-3 untuk mempercepat terlaksananya peningkatan dosen berpendidikan akademik doktor,” ujarnya.

Mahasiswa doktoral di Inggris yang tergabung di organisasi Doctrine-UK, Inggris berjejaring untuk berkolaborasi demi mendukung kemajuan Indonesia. Organisasi ini mendukung anggotanya satu sama lain, bahkan ketika Inggris di tahun 2022 ini mengaami inflasi tinggi yang mempengaruhi naiknya biaya hidup. Mayoritas mahasiswa doktoral di Doctrine-UI menerima beasiswa pemerintah LPDDP, sisanya dari Kemendikbudristek, dan beasiswa kampus Inggris

Dengan makin banyak dosen bergelar S-3, kapasitas dan kemampuan mengajar meningkat. ”Tidak hanya program akademik dan pendidikan yang makin baik, pada saat bersamaan proses kenaikan pangkat lebih cepat dan bisa meningkatkan pendapatan dosen,” papar Brian.

Quote

Kami ingin tahun depan bisa menyediakan hingga 5.000 beasiswa S-3 untuk mempercepat terlaksananya peningkatan dosen berpendidikan akademik doktor.

Sementara Ketua Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Hetifah Sjaifudian menyambut baik insiatif Kemendiktisaintek untuk meningkatkan pendidikan akademik dosen.

”Selama ini banyak keluhan dosen. Bahkan, rasa bangga menjadi dosen rendah. Padahal, dosen strategis untuk meningkatkan kualitas pendidikan tinggi. Jadi, komitmen Kemendiktisaintek mengalokasikan beasiswa doktor untuk dosen akan menjadi investasi berharga,” kata Hetifah.

Hetifah menambahkan, peningkatan kapasitas dosen tak hanya meningkatkan kompetensi individu dosen, tapi juga meningkatkan posisi suatu institusi perguruan tinggi. Hal ini akan mendukung peningkatan daya saing nasional.

”Apalagi jika beasiswa doktor untuk dosen ini dikaitkan dengan riset, tentu akan berperan besar meningkatkan kualitas riset dan pengabdian masyarakat demi mendukung terwujudnya Diktisaintek Berdampak,” ungkapnya menambahkan.

Terkait hal itu, Hetifah meminta usia dosen untuk mengakses beasiswa S-3  tersebut tidak dibatasi. Hal itu termasuk membuka peluang bagi dosen untuk bisa kuliah di luar negeri melalui program joint degree/double degree.

Brian mengatakan, beasiswa PPDI juga akan memproiritaskan dosen di daerah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar) melalui afirmasi. Sebab, dosen di daerah 3T pun mempunyai potensi luar biasa jika diberi kesempatan yang setara berkuliah di kampus terbaik.  

Sebagai contoh, ada dosen di Universitas Timor, Nusa Tenggara Timur, perbatasan dengan Timor Leste, saat kuliah S-3 di Institut Teknologi Bandung (ITB) bisa tembus publikasi ilmiah ke jurnal internasional dengan impact factor 50. ”Artinya kalau kita bersama-sama, bisa menghasilkan pendidikan doktor unggul,” kata Brian.

Fitriani Suprapti mempertahankan desertasinya pada sidang promosi doktor di Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, Kamis (5/7/2018).

Tetap bisa mengajar

Kebijakan bagi dosen untuk kuliah S-3 selama ini, dalam pandangan Ketua Umum Aliansi Dosen ASN Kemediktisaintek Seluruh Indonesia (Adaksi) Fatimah justru merugikan dosen.

Meski mendapat beasiswa kuliah, berbagai pendapatan dosen dihentikan, seperti tunjangan sertifikasi dosen (serdos) dan tunjangan lain. Padahal, para dosen juga membutuhkan pendapatan stabil untuk mendukung kehidupan keluarga, bahkan ”menomboki” biaya penelitian.

Fatimah mengalami sendiri beratnya menjalani kuliah S-3 dengan beasiswa Kemendiktisaintek, tapi dengan pendapatan yang dipotong. Pendapatan hanya dari gaji pokok. Bahkan Fatimah pernah harus mengembalikan uang yang jadi haknya karena tugas belajar, tapi aturan terbaru membatalkan hak tunjangan untuk dosen yang kuliah.

Brian mengatakan terkait dosen yang menjalani tugas belajar S-3, kini dibuat aturan tetap dapat sambil mengajar. Sebelumnya, dosen harus meninggalkan posisinya di kampus tempat mengajar karena harus belajar penuh di kampus tujuan.

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto mengunjungi expo hasil riset dan inovasi mahasiswa dan dosen di Universitas Sulawesi Barat di Majene, pada Selasa (29/4/2025). Dosen di daerah 3T didorong untuk kuliah jenjang doktor dengan jalur penelitian atau by research.

”Kami sudah bicara dengan banyak pimpinan perguruan tinggi bahwa dosen yang tugas belajar S-3 dimungkinkan dengan model doktor by research. Ini sudah ada di berbagai program doktor di perguruan tinggi. Dengan demikian, pendapatan dosen tetap bisa diberikan sesuai tugasnya. Tentu saja, porsi mengajarnya disesuaikan,” ujar Brian.

Dengan model doktor by research, dosen tetap berada di kampus untuk menjalankan riset disertasinya disupervisi pembimbing dari perguruan tinggi tempatnya belajar. Saat kampus libur, dosen bisa 1-2 bulan berada di kampus tempatnya kuliah untuk mendapat bimbingan langsung.

”Kami sudah mengantisipasi dengan kebijakan baru. Ini agar semakin banyak dosen berminat menuntaskan program karena pendapatan yang diterima dosen tetap bisa diberikan, termasuk sertifikasi dosen. Jadi, dosen tak perlu khawatir, tapi tetap berupaya keras meraih gelar doktor dengan memperkuat kapasitas riset,” ucap Brian.

 


Kerabat Kerja

Penulis:

Ester Lince Napitupulu
 | 

Editor:

Evy Rachmawati
 | 

Penyelaras Bahasa:

Rosdiana Sitompul