Program normal magister 2 tahun dan doktor 3-4 tahun dapat dituntaskan empat tahun dengan PMDSU.
26 Mei 2025 18:58 WIB · Dikbud
JAKARTA, KOMPAS — Penambahan jumlah dosen bergelar doktor dipacu karena saat ini jumlahnya baru sekitar 25 persen dari sekitar 300.000 dosen yang ada. Dukungan pendidikan dengan beasiswa kuliah di dalam dan luar negeri disiapkan bagi calon dosen ataupun dosen yang sudah mengajar di perguruan tinggi.
Bagi calon dosen dengan kemampuan riset yang mumpuni disediakan beasiswa Pendidikan Magister Menuju Doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU) yang tahun ini memasuki gelombang ke-9. Program ini menjaring talenta muda berprestasi untuk menjadi dosen baru dengan gelar doktor setelah menjalani pendidikan magister dan doktor selama empat tahun, baik secara penuh di dalam negeri maupun joint degree.
”Perguruan tinggi tidak hanya berperan menghasilkan lulusan, tetapi juga menjadi pusat inovasi dan teknologi, serta penggerak kebijakan berbasis riset yang memberi dampak nyata pada masyarakat. Karena itu, kita butuh dosen dengan kapasitas intelektual dan inovasi yang tinggi,” kata Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Khairul Munadi di acara Peluncuran PMDSU Batch IX di Jakarta, Senin (26/5/2025).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/26/b230a9e248f10a29228bd6e2ef4f3e64-PMDSU.jpg)
Menurut Khairul, Beasiswa PMDSU merupakan respons strategis untuk menyiapkan sumber daya manusia (SDM) unggul lewat jalur percepatan menjadi doktor, terutama untuk memenuhi kebutuhan sumber daya di perguruan tinggi. Program magister umumnya ditempuh dalam 2 tahun dan doktor 3–4 tahun, tetapi melalui PMDSU dapat diselesaikan dalam waktu 4 tahun.
Lebih lanjut, Khairul mengatakan, sejak diluncurkan tahun 2013, PMDSU menjadi instrumen untuk menambah jumlah doktor. Di perguran tinggi dengan jumlah sekitar hampir 300.000 dosen, baru 25 persen dosen yang menuntaskan jenjang doktoral. Padahal, dosen yang memiliki pendidikan tertinggi doktor dibutuhkan untuk menjadi pemimpin pengetahuan.
”Kita tidak hanya butuh doktor yang cakap di laboratorium. Namun, juga mampu menjadi pemimpin pemikiran dan perubahan dalam masyarakat,” kata Khairul.
Sementara itu, Direktur Sumber Daya, Kemendiktisaintek, Sri Suning Kusumawardani mengatakan, lulusan PMDSU dinilai setara dengan lulusan PTN luar negeri. Bahkan, program ini bisa membuka akses yang lebih luas untuk menyiapkan doktor muda.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/07/27/81829097-9247-4bac-a5d9-d648e480c525.jpg)
”Satu beasiswa kuliah di luar negeri bisa dialihkan untuk 10 penerima beasiswa PDMSU. Selain itu mendorong peningkatan publikasi dan kekayaan intelektual,” kata Suning.
Tawaran program PMDSU sejak pertama kali diadakan menarik minat sebanyak 18.419 orang dengan partisipasi 27 perguruan tinggi penyelenggara, serta sebanyak 1.168 promotor. Mahasiswa yang lulus sebanyak 1.565 mahasiswa dengan pekerjaan sebanyak 57,7 persen alumni bekerja sebagai dosen di perguruan tinggi negeri dan swasta, sebanyak 22,48 persen sebagai peneliti, sisanya 19,75 persen sebagai praktisi industri, perekayasa, dan guru.
Khairul mengatakan, mulai tahun ini, lulusan PMDSU akan diperkuat untuk menjadi dosen seperti tujuan semula. ”Di tahun akhir program, nanti akan ada matchmaking dengan perguruan tinggi negeri dan swasta yang membutuhkan dosen berkualitas supaya potensi mahasiswa tidak sia-sia. Para lulusan PMDSU pun lebih awal bisa terhubung dengan perguruan tinggi yang menghargai mereka,” ujar Khairul.
Ada yang sampai mundur dari berbagai jabatan struktural di kampus karena ingin fokus.
Khairul mengatakan, dukungan bagi dosen untuk kuliah S-3 diprioritaskan di dalam negeri. Namun, tetap ada peluang berkuliah di luar negeri jika program studi tidak ada di dalam negeri. Termasuk juga dengan program joint degree, memberikan pengalaman belajar di luar negeri selama 1-2 tahun.
”Kami mendukung peningkatan pendidikan dosen ke doktor di dalam negeri. Ini juga untuk memperkuat ekosistem pendidikan pascasarjana di perguruan tinggi kita. Dengan SDM yang mumpuni dalam penelitian bisa meningkatkan kualitas lembaga pendidikan pascasarjana,” tutur Khairul.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/19/8484f8c8-63df-49be-93fc-2753e83b43c8_png.png)
Suning mengatakan, di batch ke-9 PMDSU yang pendaftarannya dibuka pada 26 Mei-26 Juni ini, ada ketentuan baru. Kini ada dua skema, yakni PMDSU reguler terbuka untuk 151 mahasiswa dan 151 promotor serta PMDSU joint degree untuk 12 mahasiswa dengan 6 promotor. Untuk bidang ilmu, tidak hanya rumpun sain dan teknologi serta sosial humaniora, kini ditambah ilmu penciptaan seni budaya dan ilmu pengkajian budaya.
Ada 21 penyelenggara lama dan tambahan enam perguruan tinggi baru, yakni Universitas Negeri Surabaya, Universitas Negeri Jember, Universitas Jenderal Soedirman, Universitas Muhammadiyah Malang, Universitas Dian Nuswantoro, dan Universitas Katolik Atma Jaya Jakarta.
Peserta PMDSU harus mampu menghasilkan minimal dua publikasi internasional bereputasi sebagai penulis pertama (first author). Adapun untuk mahasiswa di bidang seni, dapat diganti sebagian dengan karya monumental internasional.
Suning mengatakan, untuk memfasilitasi dosen di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), Kemendiktisaintek di tahun ini menyiapkan program pradoktoral untuk 50 dosen selama enam bulan. Program ini untuk menyiapkan dosen-dosen di daerah 3T melanjutkan pendidikan ke jenjang doktor.
Sementara itu, sebanyak 42 dosen yang sebenarnya telah lolos seleksi Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI) Luar Negeri Pathway 2024 Tahap 2 menuntut kejelasan kuliah doktoral di luar negeri. Mereka memenuhi jagat maya dengan tagar #saveBPIPathway2024 untuk memperjuangkan nasib mereka yang terkatung-katung, padahal berhak kuliah di luar negeri seperti janji pemerintah.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/26/842371b509ffce3f21ff2d4f5a4a32a9-Dosen_BPI.jpg)
Bahkan, perwakilan dosen dari perguruan tinggi akademik dan vokasi dari berbagai daerah tersebut menggelar aksi damai di halaman Gedung Kemendiktisaintek pada Senin siang. Ada dua papan karangan bunga yang meminta para penerima beasiswa tersebut agar tetap diberangkatkan ke perguruan tinggi di luar negeri.
Koordinator Penerima Beasiswa BPI Pathway 2024 Tahap 2, Adrian Damora, yang juga dosen di Universitas Samudra, Aceh, menjelaskan, sebanyak 42 dosen yang menerima beasiswa kuliah penuh di luar negeri diputuskan secara sepihak nasibnya oleh Pusat Pembiayaan dan Asesmen Pendidikan Tinggi (PPAPT), Kemendiktisaintek, tidak bisa kuliah di luar negeri. Padahal, para dosen telah lulus seleksi administrasi dan substansi yang cukup menguras energi.
Ditambah lagi, seleksi ini mensyaratkan penerima beasiswa untuk dibebastugaskan oleh pimpinan institusi masing-masing agar dapat mengikuti pelatihan IELTS, TOEFL iBT, GRE, pendampingan admisi, sampai tahap pemberian beasiswa sebagaimana BPI Pathway tahap sebelumnya. Mereka pun membiayai sendiri persiapan dan tes kemampuan bahasa inggris ini.
”Ada yang sampai mundur dari berbagai jabatan struktural di kampus karena ingin fokus,” kata Adrian.
Adrian memaparkan, awalnya USAID (Amerika Serikat) menjadi mitra Kemendiktisaintek untuk persiapan sejak Oktober 2024. Namun, kebijakan politik AS memutuskan USAID menghentikan programnya di tengah jalan pada Januari 2025.
Awardee BPI Pathway Luar Negeri Tahap 1 sukses berangkat ke berbagai perguruan tinggi di AS, Australia, dan Selandia Baru sebanyak 26 orang. Para dosen yang lolos tahap 2 dengan masa kerja 5-20 tahun ini berkeyakinan bahwa Kemendiktisaintek tidaklah mungkin ingkar janji.
”Sampai saat ini, kami tetap memperjuangkan hak kami untuk tetap kuliah doktor di luar negeri. Kami tidak terima dianaktirikan karena sudah maksimal mempersiapkan diri. Anehnya, program beasiswa ke luar negeri yang baru, seperti Beasiswa Garuda, justru diluncurkan untuk kuliah S-1. Termasuk juga program PMDSU yang ada ke luar negeri,” kata Adrian.
Penulis:
Ester Lince NapitupuluEditor:
Ichwan SusantoPenyelaras Bahasa:
FX Sukoto