Selain memenuhi kewajiban administrasi, dosen juga harus meneliti dalam keterbatasan. Akibatnya kualitas penelitian belum maksimal, terindikasi dari minimnya sitasi.
20 Mei 2025 07:00 WIB · Investigasi
JAKARTA, KOMPAS — Produksi jurnal ilmiah yang dibuat dosen dan peneliti di Indonesia semakin banyak, tetapi dampaknya belum kuat. Kualitas penelitian belum maksimal karena dibuat untuk memenuhi kewajiban administrasi.
Tim Jurnalisme Data Harian Kompas mengolah data jurnal ilmiah dari laman Scimago Journal & Country Rank (ScimagoJR). Tercatat jumlah dokumen asal Indonesia yang diunggah tahun 2015 baru 8.651. Angka ini terus meningkat. Hingga tahun 2024, jumlahnya mencapai 64.596 dokumen.
Jurnal Indonesia yang masuk kuartil teratas atau Q1 terindeks Scopus juga cukup banyak. Dari total 13.818 jurnal di indeks Scopus tahun 2024, sebanyak 1.492 jurnal atau 10,8 persen masuk ke dalam Q1. Jurnal Q1 dianggap memiliki pengaruh paling besar dan kualitas tertinggi dibandingkan dengan jurnal Q2, Q3, dan Q4.
Di tengah melonjaknya karya ilmiah dosen Indonesia, jumlah sitasi atau kutipan per dokumen menurun. Tahun 2015 jumlah sitasi per dokumen jurnal dari Indonesia sebesar 15,9. Angka ini terus menurun hingga tahun 2024 hanya 0,5. Semakin besar angka sitasi, artinya jurnal yang dibuat semakin berdampak karena makin banyak jurnal lain yang mengutip sebagai referensi.
Di antara negara-negara Asia, dalam 10 tahun terakhir Indonesia selalu berada di posisi paling akhir, urutan ke-29 hingga ke-33. Tahun 2024 Indonesia berada di peringkat akhir dari 33 negara di Asia yang dicatat laman ScimagoJR.
Menurut dosen Universitas Pembangunan Nasional Veteran, Jakarta, Musa Maliki, saat ini jarang ada penelitian berbasis pemikiran, hampir semua berdasarkan aplikasi teori. Sejak tahun 2000-an ke atas, ia menilai, keilmuan di Indonesia berhenti. Perdebatan intelektual hingga perdebatan jurnal sudah tidak ada.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/19/b77a7269-4b2c-405a-bdad-f6307d27c477_jpg.jpg)
”Jadi, semua teori yang ada itu tinggal pakai saja. Dosen jadi intelektual tukang. Tinggal kita terapkan di kasus-kasus. Selesai urusan. Untuk mengembangkan suatu pemikiran dan tradisi teoretis itu nol,” ujar Maliki, Senin (28/4/2025).
Jurnal-jurnal yang bagus seharusnya lahir dari perdebatan konstruktif dari argumentasi jurnal penelitian sebelumnya. Hal itu dapat memunculkan artikel-artikel baru dengan argumentasi baru juga. Namun, menurut dosen yang pernah menempuh studi doktoral di Australia ini, semuanya itu sudah terputus.
Tak sedikit dosen lebih memilih mengajar daripada meneliti. Ada anggapan dosen yang rajin membuat penelitian akan menelantarkan mahasiswanya. Padahal, sekarang penelitian yang diminta merupakan penelitian empirik, yang membutuhkan wawancara langsung narasumber di lapangan.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/19/82281a06-d5a8-4ca6-9e7c-0a3670f488fc_png.png)
Mandhara Brasika, dosen Universitas Udayana, mengkritik kewajiban tridarma perguruan tinggi yang dibebankan kepada dosen, bukan institusi perguruan tinggi. Kewajiban itu terdiri dari pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat.
Ini berbeda dengan pengalamannya meneliti di Inggris. Tanggung jawab dosen di Inggris melakukan penelitian yang menghasilkan ilmu pengetahuan. Pendidikan, termasuk mengajar, merupakan diseminasi penerapan dari temuan penelitian yang dilakukan.
Perbedaan juga tampak dari administrasi penelitian. Di Indonesia, kata Mandhara, perlu mencari tahu standar biaya hingga hal-hal yang boleh dan dilarang dibeli. Di Inggris, ia cukup mengatakan topik dan tujuan risetnya serta ada tim khusus yang mengurus administrasi dan pendanaan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/03/73924f3f-b0f0-40b9-9b37-b60f500dfb94_jpg.jpg)
Urusan administrasi dan penelitian turut menyita waktu dosen perguruan tinggi negeri (PTN) di Indonesia. Berdasarkan survei kualitatif Tim Jurnalisme Data Harian Kompas pada 8-23 April 2025, waktu yang digunakan dosen untuk meneliti 16,23 jam per minggu, termasuk Sabtu-Minggu. Adapun urusan administrasi memakan waktu 11,43 jam per pekan, termasuk akhir pekan.
Sementara itu, produktivitas dosen-dosen di Inggris tidak diukur dari publikasi penelitian. ”Publikasi riset di Inggris bertujuan mengomunikasikan penelitian, bukan untuk naik jabatan,” ujarnya, Jumat (9/5/2025).
Menurut dia, publikasi dengan tingkat sitasi tinggi terjadi jika menemukan komunitas riset yang tepat. Komunitas itu terdiri atas orang-orang dengan topik riset sebidang sehingga dapat saling mendiskusikan hasil penelitian untuk pengembangan riset. Komunitas itu biasanya diperoleh dari konferensi ilmiah.
Adapun di Singapura, menurut Sulfikar Amir, associate professor Nanyang Technological University (NTU) Singapura, kualitas penelitian menjadi fokus utama dibandingkan dengan jumlah sitasi yang dihasilkan. ”Kualitas penelitian di NTU dilihat dari tempat publikasi jurnal, dampak penelitian, dan citation index. Namun, jumlah sitasi ini sekarang tidak bisa dijadikan acuan karena bisa dimanipulasi,” ujar Sulfikar, awal Mei.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/18/dd1a1d01-c929-4307-ae30-f77af89960b1_png.png)
Tugas dosen sekarang hampir sama dengan pegawai Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Zahril, dosen PTN di Jawa Barat, menilai, saat ini lebih enak bekerja di BRIN karena memiliki tanggung jawab meneliti, tetapi tidak ada tanggungan mengajar dan juga membimbing mahasiswa.
”Kita ini udah mengajar, membimbing, dan sebagainya, tetapi juga dipaksa untuk meneliti seperti orang BRIN supaya membuat jurnal Q1, Q2, Q3. Jadi, kita apa bedanya dengan BRIN. Malah enakan di BRIN, enggak ngantor, jalan sana-sini yang penting publikasi,” ungkap Zahril.
Bagi Zahril, meneliti merupakan hal mengasyikkan asalkan diberikan porsi waktu yang baik. Ia mencontohkan kewajibannya setiap semester harus mengambil minimal 9 SKS yang terdiri dari pengajaran, penelitian, dan pengabdian. Sementara mata kuliah di divisinya sedikit dan kolega-koleganya juga memiliki kewajiban yang sama untuk mengajar. Alhasil Zahril kerap mendapatkan porsi mengajar sedikit.
Untuk memenuhi kekurangan poin mengajar, Zahril tertolong dengan jumlah bimbingan tugas akhir mahasiswa yang cukup banyak. Namun, jika jatah bimbingan juga sedikit, mau tidak mau Zahril harus membuat lebih dari satu jurnal dalam satu semester.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/19/48b456fd-3940-47e0-801f-484773bd21ef_jpg.jpg)
”Yang bikin saya deg-degan ketika saya tutup (target kewajiban) dengan penelitian. Saya minimal harus publikasi tiga jurnal dalam satu semester. Itu pun harus menjadi jurnal yang terakreditasi. Kan capek, ya,” ujarnya.
Semua itu Zahril perjuangkan agar tak mendapatkan rapor merah. Jika berturut-turut mendapatkan rapor merah, bisa dipastikan tunjangan sertifikasi dosen akan ditangguhkan. Besarannya cukup besar, mencapai hampir satu kali gaji pokok.
Waktu pengerjaan yang terlalu pendek, menurut Andhy Romdani (45), dosen Universitas Siliwangi, Tasikmalaya, Jawa Barat, menjadi tantangan awal yang harus dihadapi seorang dosen saat melakukan riset.
”Misal bulan Maret mulai mengerjakan riset dan laporannya harus beres September. Itu, kan, sekitar enam bulan. Itu menurut saya terlalu terburu-buru. Riset kalau buru-buru nanti kualitasnya rendah,” katanya saat dihubungi, awal Mei.
Pengalamannya saat menjadi mahasiswa doktoral di Taiwan mengajarinya untuk membuat riset mendalam dengan waktu yang panjang, lebih dari enam bulan, yang targetnya untuk dipublikasikan di jurnal internasional. Sayangnya, ia tidak bisa menerapkan hal tersebut di Indonesia karena ada target waktu yang mepet.
Andhy menggunakan strategi untuk mencari topik yang sesuai dengan keahliannya dan menggunakan data yang tidak membutuhkan dana banyak. Ia berprinsip jangan sampai mengeluarkan uang pribadi untuk menambah dana risetnya.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/19/8484f8c8-63df-49be-93fc-2753e83b43c8_png.png)
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto menilai, dosen adalah tulang punggung masa depan Indonesia. Dosen merupakan profesi yang akan menghasilkan sumber daya manusia lanjutan.
Menurut Brian, maju mundurnya negara Indonesia sangat tergantung dari kemampuan dosen mengakselerasi ilmu pengetahuan dan teknologi. Termasuk tugas dosen mentransformasi budaya ilmiah di tengah masyarakat melalui mahasiswa yang diajar dengan penelitian-penelitian baru.
”Saya yakin kampus-kampus harusnya menjadi tempat lahirnya inovasi-inovasi baru, kajian-kajian baru, dan semangat-semangat baru. Kita punya 4.416 kampus, 300.000 dosen, dan hampir 10 juta mahasiswa. Inilah orang-orang yang menjadi sumber daya manusia unggul Indonesia,” ujar Brian saat menghadiri Munas I Aliansi Dosen Aparatur Sipil Negara Kemendiktisaintek Se-Indonesia di Jakarta, Jumat (2/5/2025).
Brian sadar, tidak mudah mendorong budaya inovasi melalui riset. Wajar jika keberhasilan riset membutuhkan waktu panjang. ”Dosen harus tekun. Tetapi, memang butuh kesabaran. Kita ini (kadang) baru dua minggu, baru sebulan, setahun sudah bilang gagal,” lanjut Brian.
Kami ingin mendengarkan pandangan Anda tentang artikel ini melalui survei lewat berikut ini.
Penulis:
Margaretha Puteri Rosalina, Albertus Krisna, M Paschalia Judith JEditor:
Andy Riza Hidayat, Margaretha Puteri RosalinaPenyelaras Bahasa:
Didik Durianto