Juventus dan Dortmund hadirkan salah satu gim terbaik dalam sejarah Liga Champions. Juventus darurat benahi penampilan bertahan akibat telah kemasukan tujuh gol.
17 Sep 2025 06:12 WIB · Olahraga
TURIN, RABU — Igor Tudor menyuntikkan semangat ”fino alla fine” yang berarti ” sampai akhir” kepada seluruh pemain Juventus di musim ini. Empat kali tertinggal, ”Si Nyonya Besar” mampu terhindar dari kekalahan untuk mengakhiri perlawanan Borussia Dortmund 4-4, Rabu (17/9/2025) WIB, di Stadion Allianz.
Pertarungan penuh gol itu berawal dengan membosankan di babak pertama. Tanpa gol dan tidak ada peluang besar dihasilkan kedua tim. Setelah turun minum, segalanya berbanding 180 derajat.
Karim Adeyemi, penyerang sayap Dortmund, membuka parade gol di Turin lewat sepakan keras di menit ke-52. Sekitar 11 menit berselang, ikon baru Juve, Kenan Yildiz, menyamakan kedudukan melalui ciri khasnya dengan tembakan melengkung dari luar kotak penalti.
Belum selesai suporter Juve merayakan gol, Dortmund kembali unggul berkat sepakan gelandang, Felix Nmecha, di menit ke-65. Penyerang pengganti Juve, Dusan Vlahovic, membalas cepat setelah menerima umpan terobosoan Yildiz pada menit ke-67.
Setelah itu, ”Die Schwarzgelben” memimpin dua gol berkat sepakan bek sayap Yan Couto dan eksekusi penalti bek Rami Bensebaini. Dua gol itu tercipta masing-masing pada menit ke-74 dan ke-86.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/17/43f50bb1f34a0e6ff3b0eeb1d1f68ac7-1000010120.jpg)
Ketika harapan meraih poin menipis, Si Nyonya Besar mencetak gol ganda pada masa tambahan waktu. Vlavohic berada di balik dua gol penyama skor itu. Ia mencetak gol melalui sontekan pada 90+4, kemudian di menit terakhir 90+6, penyerang asal Serbia itu menciptakan asis untuk gol bek tengah, Lloyd Kelly.
”Kami bermain baik untuk keluar dari ketertinggalan yang menunjukkan karakter pemain. Kami tidak pernah menyerang dan selalu berjuang fino alla fine yang kami buktikan malam ini,” ucap Vlahovic dilansir laman UEFA seusai laga.
Tudor melompat senang menyaksikan gol itu. Giorgio Chiellini, legenda dan Direktur Strategi Sepak bola Juve, merayakan gol itu sambal berdiri dari bangkunya di tribune naratama. Adapun para pemain Dortmund menunduk dan menutup kepala mereka penanda kecewa setelah melepas dua poin berharga.
”Semangat tim dan keinginan untuk bekerja keras adalah poin permulaan yang kami kerjakan. Perhatian terhadap detail yang menjadi tujuan utama kami,” kata Tudor seperti dikutip Tuttosport.
”Di sepak bola tidak ada yang benar-benar berakhir dan kami percaya kepada diri kami hingga akhir. Anak-anak memberikan segalanya yang mereka miliki melawan Borussia Dortmund, tim yang sangat kuat,” ujar Tudor.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/17/50af8492dc9be6807442e3922e3101d3-1000010122.jpg)
Hasil imbang 4-4 yang tersaji di Turin termasuk ke dalam skor imbang terbesar di Liga Champions. Sebelumnya, Juve juga pernah bermain remis dengan skor serupa menghadapi tim Jerman lainnya, Hamburg, pada 13 September 2000.
Laga lain dengan hasil seri besar itu tersaji pada gim Chelsea kontra Liverpool pada 14 April 2009, Bayer Leverkusen menghadapi AS Roma pada 20 Oktober 2015, serta Chelsea melawan Ajax Amsterdam pada 5 November 2019.
Nmecha mengakui ada penyesalan yang tertinggal dari Turin. Menurut dia, Dortmund seharusnya bisa lebih baik mempertahankan empat kali keunggulan.
”Saya senang mencetak gol, tetapi hasil sangat mengecewakan. Ketika unggul dua gol seharusnya kami bisa membawa pulang kemenangan,” ucap Nmecha dilansir Bild.
Meskipun gagal mempertahankan tren kemenangan, Tudor senang dengan semangat juang anak asuhannya untuk terhindar dari kekalahan. Di sisi lain, ia menegaskan, Juve tidak seharusnya kemasukan banyak gol.
Dua gim kandang beruntun, gawang yang dijaga Michele Di Gregorio kemasukan tujuh gol. Pada dua pertandingan itu, Di Gregorio hanya masing-masing melakukan satu penyelamatan. Satu-satunya aksi tepisan Di Gregorio dari tembakan pemain Dortmund tercipta pada menit ke-56. Ia menghalau tembakan penyerang Dortmund, Serhou Guirassy, dengan pundak.
Pada tiga dari empat gol yang bersarang di gawangnya, Di Gregorio gagal mengantisipasi tembakan lawan karena penempatan posisi yang buruk. Pada dua gol awal tim tamu, Di Gregorio menunjukkan gestur pasrah dengan tidak merentangkan tangannya secara maksimal untuk menepis tembakan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/17/638ed182b57e2ba6672b0c5338af7ae1-1000010124.jpg)
Tak heran, laman statistik Fotmob memberikan kiper asal Italia itu nilai merah atau 4,5. Di Gregorio juga ”dihadiahi” nilai 5 ketika Juve menang 4-3 atas Inter Milan, akhir pekan lalu.
”Kami kemasukan gol-gol terlalu mudah yang seharusnya bisa dihindari. Tidak boleh lagi terjadi. Pada akhirnya, kualitas individu menentukan di sepak bola, seperti gol Yildiz yang tercipta dari situasi yang tidak disangka-sangka,” tutur Tudor.
Gol Yildiz membangkitkan kenangan pendukung Juve kepada gol legenda dan pencetak gol terbanyak klub, Alessandro Del Piero, kontra Dortmund di Liga Champions edisi 1995-1996. Disandingkan dengan idolanya, Yildiz percaya diri menyebut golnya lebih baik. Hal itu disampaikan Yildiz sembari berkelakar langsung kepada Del Piero yang berbincang kepadanya melalui saluran Sky Sport Italia.
”Itu adalah penyelesaian yang spontan. Saya mendapat bola dan melihat ruang bebas untuk menempatkan tujuan bola. Bola seperti bergerak melambat menuju jaring gawang. Saya senang mencetak gol yang indah dan membantu tim,” kata Yildiz kepada Sky Sport Italia.
Penulis:
Muhammad Ikhsan MaharEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Galih Rudanto