Fajar/Fikri menjuarai China dan Jepang Terbuka dalam dua pekan beruntun. Dalam dua final, mereka selalu mengalahkan ganda putra nomor satu dunia.
26 Jul 2026 20:54 WIB · Olahraga
AFP
CHANGZHOU, MINGGU — Dua turnamen dalam dua pekan beruntun, dua gelar juara, dan dua kali mengalahkan pasangan nomor satu dunia. Pebulu tangkis ganda putra Indonesia, Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri, menuntaskannya dalam tur Asia di Jepang dan China pada turnamen level tinggi.
Fajar/Fikri menjuarai China Terbuka BWF World Tour Super 1000 melalui kemenangan atas pasangan Korea Selatan berperingkat teratas dunia, Kim Won-ho/Seo Seung-jae, dalam laga final. Di Olympic Sports Centre Gymnasium, Changzhou, China, Minggu (26/7/2026), mereka menang dengan skor 16-21, 21-19, 21-19.
Momen serupa terjadi di turnamen Jepang Terbuka Super 750, 14-19 Juli. Ketika itu, Fajar/Fikri menang atas Kim/Seo di final dalam dua gim.
Kemenangan di Changzhou juga membuat ganda putra Indonesia ranking kedua dunia itu menjuarai China Terbuka dalam dua tahun beruntun. Atlet Indonesia yang terakhir kali meraihnya adalah Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon dengan menjadi juara pada 2016 dan 2017.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/07/26/45a3d3773c23d720a7739f2bbbf52eca-wires_photo_3_.jpg)
Hasil tidak maksimal di Indonesia Terbuka, di kandang sendiri, membuat kami terpukul. Tapi, dari situ pasti ada motivasi sendiri buat kami bisa menjawab keraguan semuanya.
Setahun lalu, Fajar/Fikri menjadi juara hanya dalam turnamen kedua yang mereka ikuti sejak berpasangan, setelah Jepang Terbuka. Mereka mengalahkan pasangan-pasangan top dunia, seperti Kim/Seo, Liang Wei Keng/Wang Chang (China), dan Aaron Chia/Soh Wooi Yik (Malaysia), untuk menuju podium juara.
Hadir dalam persaingan ganda putra level atas dunia, mereka menyuguhkan permainan cepat di depan net. Setiap lawan pun terkejut dengan kehadiran pasangan baru tersebut.
Namun, Fajar/Fikri menunjukkan diri bahwa momen di China Terbuka 2025 itu bukan sekadar kejutan. Mereka konsisten bersaing di level tinggi dengan mencapai lima final dari sembilan turnamen pada rentang Juli-November meski hanya sekali menjadi juara.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/07/26/7eb21a1474f979fdeda0d4fbd5bba63d-WhatsApp_Image_2026_07_26_at_20.24.41.jpeg)
Setelah terseok dengan tersingkir pada babak kedua All England 2026, Maret, Fajar/Fikri tiga kali mencapai final dalam empat turnamen terakhir. Gelar juara Jepang dan China Terbuka menjadi kebangkitan duet asal klub SGS Bandung tersebut setelah tersingkir awal di publik sendiri, pada babak pertama Indonesia Terbuka, Juni lalu.
”Hasil tidak maksimal di Indonesia Terbuka, di kandang sendiri, membuat kami terpukul. Tapi, dari situ pasti ada motivasi sendiri buat kami bisa menjawab keraguan semuanya,” komentar Fajar.
Salah satu kemampuan yang mereka perlihatkan saat tampil di China Terbuka adalah ketika mengatasi momen kritis, yaitu saat skor ketat menjelang akhir gim. Di final, setelah bermain dengan membuat banyak kesalahan pada gim pertama, Fajar/Fikri memenangi gim kedua melalui jalan sulit. Perebutan setiap poin berlangsung ketat sehingga sering muncul skor dengan selisih hanya satu poin, berimbang, lalu berselisih satu poin kembali.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/07/26/e4d064548493fe8e99daae9f7d079513-wires_photo_5_.jpg)
Kemenangan pada gim ketiga juga terbilang dramatis. Fajar/Fikri lebih dekat pada kemenangan saat unggul 18-15, tetapi Kim/Seo membuat peluang juara kembali berimbang pada posisi 19-19. Dalam situasi ini, siapa pun yang memenangi poin akan membuat match point. Fajar/Fikri tak hanya menambah satu, tetapi dua poin secara beruntun, sehingga memenangi pertandingan yang berlangsung selama 1 jam 11 menit itu.
Lepas dari ketegangan, Fajar telentang di lapangan, sementara Fikri bersujud. Mereka kemudian memeluk pelatih ganda putra, Antonius Budi Ariantho, yang meloncat girang saat Fajar/Fikri memperoleh poin terakhir, yaitu ketika kok dari drive Seo jatuh di luar lapangan.
Sehari sebelumnya, Fajar/Fikri juga memenangi perang mental saat melawan Liang/Wang di semifinal. Mereka menang dengan merebut dua poin terakhir setelah 19-19 dan lolos ke final dengan skor 21-19, 14-21, 21-19.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/07/26/edcb881ab788ece5beea2615ee7af007-WhatsApp_Image_2026_07_26_at_20.24.39.jpeg)
”Kami sebenarnya menggunakan sisa-sisa tenaga. Dua minggu yang sangat melelahkan, tapi kami coba terus bertahan, mencari cara bagaimana untuk memenangi pertandingan. Saya berterima kasih buat Fikri yang sudah meng-cover semua bagian area lapangan,” kata Fajar.
Momen selama dua pekan di Jepang dan China menjadi bekal bagi Fajar/Fikri untuk menjalani tantangan lebih besar, yakni Kejuaraan Dunia di New Delhi, India, 17-23 Agustus. Mereka berpengalaman mengikuti turnamen mayor tersebut, tetapi baru kali ini akan tampil di Kejuaraan Dunia sebagai pasangan.
”Dengan hasil ini, kami berharap bisa mendapatkan hasil yang baik juga di Kejuaraan Dunia. Setelah pulang, kami akan langsung melakukan persiapan yang intensif,” ujar Fikri.
Persaingan tunggal putra, yang diikuti semua atlet peringkat sepuluh besar dunia, melahirkan Chou Tien Chen (Taiwan) sebagai juara. Chou menjadi juara dalam usia 36 tahun setelah mengalahkan Toma Junior Popov (Perancis), 21-15, 7-21, 21-13, di final. Ini menjadi gelar Chou dari turnamen Super 1000 setelah menjuarai Indonesia Terbuka pada 2019.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/07/26/817ea240e025698eb4e5e52118354218-wires_photo_1_.jpg)
Dalam usia 36 tahun, Chou menjadi tunggal putra tertua pada persaingan level atas dunia. Dia menunjukkan diri bahwa usia bukan batasan untuk bersaing dengan atlet-atlet yang lebih muda. Pada 2025, Chou mencapai final turnamen Super 1000 lainnya, Indonesia Terbuka, meski kalah dari Anders Antonsen.
Gelar tunggal putri didapat Akane Yamaguchi (Jepang) yang menang atas wakil tuan rumah, Chen Yu Fei, 21-18, 21-16. Ini menjadi gelar kedua Yamaguchi di China Terbuka setelah pada 2017 dan gelar ketiga dari enam final beruntun pada tahun ini.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/07/26/b597b81a948f0036d27bda9e2175c04a-wires_photo_1_.jpg)
Sementara tuan rumah China hanya memperoleh dua gelar juara dari nomor ganda putri dan final sesama pemain tuan rumah di ganda campuran. Perolehan ini menurun dari empat gelar juara pada tahun sebelumnya. Gelar itu didapat juara bertahan ganda putri, Liu Sheng Shu/Tan Ning, dan Guo Xin Wa/Chen Fang Hui di ganda campuran.
Penulis:
Yulia SapthianiEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti