Brasil mengalahkan Haiti 3-0. Laga ini menunjukkan dua sisi sepak bola Brasil, dinamis pada babak pertama, kaku pada babak kedua.
20 Jun 2026 16:47 WIB · Olahraga
AFP
Brasil memetik kemenangan 3-0 atas Haiti pada laga kedua Grup C Piala Dunia 2026 di Stadion Philadelphia, Sabtu (20/6/2026). Brace dari Matheus Cunha ditambah satu gol Vinicius Junior mendekatkan Brasil ke babak 32 besar.
Hasil itu membuat tim asuhan Carlo Ancelotti memuncaki klasemen Grup C dengan empat poin, hanya unggul selisih gol dari Maroko yang pada laga sebelumnya mengalahkan Skotlandia, 1-0. Pada laga berikutnya, Brasil akan melawan Skotlandia, sedangkan Maroko bertemu Haiti.
Menyaksikan laga Brasil lawan Haiti seperti melihat dua wajah sepak bola Brasil yang bertolak belakang. Babak pertama, Brasil tampil sesuai ciri khas mereka, permainan dinamis dan mengalir, yang membuat lini belakang Haiti kesulitan.
Itu adalah permainan yang komplet. Lebih baik di babak pertama. Pada babak kedua kami lebih memiliki kontrol, mencetak banyak peluang, tetapi tidak mampu menambah gol.
Keputusan Ancelotti untuk memercayakan posisi penyerang tengah kepada Cunha membuahkan hasil maksimal. Begitu juga Danilo yang tampil solid mengawal lini belakang. Kedua pemain menjadi pemain utama, Cunha menggantikan Igor Thiago, sedangkan Danilo menggantikan Roger Ibanez.
Penampilan Cunha yang dinamis, membuat lini depan Brasil menjadi lebih fleksibel dan cair. Penyerang berusia 27 tahun ini juga rajin untuk mundur menjemput bola, yang memberi ruang kepada pemain lain, utamanya Vinicius dan Raphinha sebelum cedera, menusuk ke tengah mengisi ruang yang ditinggalkan oleh Cunha.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/20/4c77af31f5d39bcdd72ca94897117bc3-Haiti_Brazil_WCup_Soccer.jpeg)
Fleksibilitas lini serang Brasil tersebut membuat Haiti kesulitan mengantisipasi sehingga tercipta tiga gol. Dua dicetak oleh Cunha, satu lagi oleh Vinicius. Babak pertama, Brasil juga sering mengandalkan karakter flair pemainnya, terutama bakat alami Vinicius untuk melakukan aksi kreatif yang tak terduga untuk memecah kebuntuan.
Akan tetapi, penampilan babak pertama tersebut tidak terulang pada 45 menit kedua. Serangan pemain Brasil monoton dan mudah ditebak sehingga para pemain bertahan Haiti mampu mengantisipasinya.
Babak kedua adalah ciri khas permainan Ancelotti. Mereka mampu mengontrol jalannya pertandingan dengan struktur pertahanan yang disiplin. Akan tetapi, lini serangan mereka kesulitan membongkar pertahanan Haiti. Akibatnya, mereka tidak mampu menambah gol pada babak kedua.
Ancelotti mengakui ada dua wajah permainan yang berbeda pada laga tersebut. ”Itu adalah permainan yang komplet. Lebih baik di babak pertama. Pada babak kedua kami lebih memiliki kontrol, mencetak banyak peluang, tetapi tidak mampu menambah gol,” kata Ancelotti dalam jumpa pers seusai pertandingan.
Menurut pelatih asal Italia itu, para pemainnya bermain dengan baik, tidak banyak melakukan kesalahan dan lebih efektif di lini depan maupun belakang. Ia membantah bahwa para pemainnya kelelahan atau mencoba menghemat energi untuk menghadapi pertandingan ketiga.
”Saya kira itu bukan masalah fisik. Level permainan memang tidak sama seperti babak pertama, tetapi itu normal dalam sepak bola,” jelas Ancelotti.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/20/ba3fec71f2a7d35d653c1a00cd0124fa-wires_photo_11_.jpg)
Brasil akan menghadapi Skotlandia pada laga terakhir di Miami, Rabu (24/6/2026). Ancelotti mengatakan, Skotlandia bukan lawan mudah. ”Mereka punya karakter permainan tersendiri, dan membuat masalah pada Maroko,” katanya.
Meskipun memuji Cunha yang bermain bagus dan mencetak dua gol, Ancelotti menolak untuk menjamin sang pemain akan kembali menjadi pemain mula pada laga lawan Skotlandia. Ancelotti menyebut, ia sudah tahu apa yang harus dilakukannya pada laga melawan Skotlandia.
”Kami tahu soal kualitas lawan, mereka bermain direct, jadi kami harus memenangi setiap perebutan bola kedua, bertarung, dan bermain bola. Kami akan menerapkan pressing tinggi, bermain menyerang, dan mencoba mengontrol bola. Saya kira kami mampu melakukannya,” ujar Ancelotti.
Ancelotti juga mengungkap kabar gembira soal Neymar, dengan mengindikasikan bahwa penyerang senior tersebut bisa bermain menghadapi Skotlandia. ”Neymar akan berlatih sendiri besok, kemudian bergabung bersama tim, Senin, dan ia akan siap untuk laga melawan Skotlandia,” kata Ancelotti.
Sementara itu, Vinicius mengatakan, penampilannya semakin membaik dan bertekad membawa Brasil untuk terus melaju di Piala Dunia. ”Saya berada dalam level terbaik, secara fisik, teknik, dan mental. Itu penting. Saya selalu bermimpi bermain di kompetisi paling penting di dunia dalam kondisi 100 persen,” ujar Vinicius kepada wartawan di Mixed Zone seusai laga.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/20/372edb5c9c71c2aee6be0df1ee83ec31-000_B7PL3F3.jpg)
Kemenangan atas Haiti, menurut Vinicius, karena pemain bisa bermain lebih santai dan juga kondisi lapangan yang lebih baik dibandingkan pada pertandingan sebelumnya. ”Semua merasa lebih ringan sekarang dan lapangan juga dalam kondisi lebih baik, jadi kami bisa memainkan sepak bola kami,” ujar Vinícius.
Vinicius yang terpilih menjadi pemain terbaik karena memberikan kontribusi besar terhadap semua gol yang dicetak Brasil menambahkan, perubahan taktik yang dilakukan pelatih berkontribusi besar terhadap efektivitas lini serang mereka. Ancelotti meminta Vinicius bermain untuk lebih sering ke tengah, mengisi ruang kosong yang ditinggalkan Cunha.
”Saya tidak banyak bermain di sana, tetapi setiap kali pelatih menyuruh bermain di sana, saya mencetak gol. Jadi saya harus lebih sering mendengar pelatih,” katanya.
Penulis:
Prasetyo Eko PrihanantoEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Rosdiana Sitompul