Tak akan ada rivalitas suporter saat Brasil bertemu Haiti dalam lanjutan partai Piala Dunia 2026. Banyak warga Haiti yang sejak lama jadi pendukung fanatik Brasil.
19 Jun 2026 13:19 WIB · Olahraga
AFP
Selama puluhan tahun, rakyat Haiti menjatuhkan dukungan dalam ajang sepak bola internasional kepada Brasil. Mereka pun menjadi penggemar fanatik tim nasional tersukses di dunia tersebut. Namun, di Piala Dunia 2026, nasib mempertemukan sang tim pujaan dengan tim nasional sendiri. Apa jadinya?
”Ini kebahagiaan ganda. Saya akan senang kalau Haiti menang. Tetapi, kalau Haiti kalah, saya tak akan bersedih, karena ini Brasil. Ini fanatisme. Ketika kamu mencintai sesuatu, kamu sungguh-sungguh mencintainya,” ujar Peguy Joseph, warga keturunan Haiti yang tinggal di Florida, Amerika Serikat.
Hal yang diungkapkan Joseph itu boleh jadi merupakan gambaran perasaan kebanyakan warga Haiti saat ini jelang laga timnas mereka kontra Brasil dalam lanjutan penyisihan Grup C Piala Dunia 2026, Sabtu (20/6/2026) pukul 07.30 WIB.
Penduduk di negara Karibia tersebut selama puluhan tahun terakhir menjadi suporter setia tim ”Selecao”, negara Amerika Latin yang berjarak sekitar 2.700 kilometer dari Port-au Prince, ibu kota Haiti.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/19/f14fbb586368f91775c2e64dad5f165e-APTOPIX_Brazil_Wcup_Soccer.jpg)
Rasa cinta itu tumbuh di saat kiprah Haiti di panggung internasional sepak bola lama tenggelam. Prestasi mentereng timnas Haiti terakhir adalah tampil pada Piala Dunia 1974. Ditambah lagi, dalam lima tahun terakhir, timnas Haiti tak bisa bermain di negeri sendiri akibat konflik geng kriminal bersenjata yang melanda negara itu.
Brasil kemudian datang mengisi kekosongan di hati penggila bola negara termiskin di belahan bumi barat tersebut. Salah satu momen awal tumbuhnya cinta itu terjadi pada Piala Dunia 1982, kala Brasil yang dipimpin Socrates menyajikan permainan jogo bonito atau sepak bola indah kepada dunia.
Sangat mengagumkan bagaimana orang-orang memenuhi jalan dari bandara ke sini. Semua orang berteriak, ’Brasil! Brasil!”
Momentum lain datang pada 1990 ketika langkah Brasil terhenti di perempat final oleh rival abadi mereka, Argentina. Namun, puncak kekaguman Haiti datang saat Brasil memenangi Piala Dunia 1994, yang waktu itu juga digelar di AS, dan edisi 2002 di Korsel-Jepang.
Gambaran sahih tentang fanatisme warga Haiti kepada timnas Brasil terjadi pada 2004. Kala itu, Brasil mengirim kontingen penjaga perdamaian di bawah PBB untuk meredam gejolak pascakudeta pemerintahan yang disusul konflik bersenjata di Haiti.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/19/253ec53fb7f0714abcc7e3213b756adf-wires_photo_2_.jpg)
Brasil pun berinisiatif menggelar pertandingan persahabatan dengan timnas Haiti untuk mempromosikan perdamaian. Hasilnya, perang berhenti selama dua hari.
Ribuan warga Haiti tumpah ruah ke jalan mengiringi konvoi kendaraan yang membawa bintang-bintang ”Samba” ke stadion di Port-au-Prince. Mereka menyambut dengan sukacita kehadiran skuad yang kala itu diperkuat Ronaldo dan Roberto Carlos tersebut.
”Sangat mengagumkan bagaimana orang-orang memenuhi jalan dari bandara ke sini. Semua orang berteriak, ’Brasil! Brasil!” ujar Roberto Carlos kepada kantor berita AP kala itu.
Hasil akhir 6-0 untuk kemenangan tim Samba pun tak dihiraukan warga. Warga larut dalam kegembiraan dan tetap mengelu-elukan Brasil.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/18/2b8a7102993d40741d6deb6183a7d853-cropped_image.jpg)
Setelah itu, hubungan dengan Brasil kian erat pascagempa bumi dahsyat yang melanda Haiti pada 2010 sehingga membuat ribuan warga pindah ke Brasil. Kini, dengan kondisi negara yang dirundung kekerasan geng, makin banyak lagi warga Haiti yang memilih menjadikan Brasil sebagai rumah mereka.
Joseph, seperti banyak orang Haiti lainnya, tumbuh mengidolakan pemain-pemain legendaris Brasil seperti Romario, Ronaldo Nazario, dan Neymar Jr. Wajah-wajah itu pun sampai sekarang masih terlukis di banyak minibus tap-tap, angkutan umum khas Port-au Prince.
Joseph juga selalu memakai jersei kuning kebesaran tim Samba setiap kali menonton laga mereka di televisi. Saat Brasil menang, lelaki itu pun turun ke jalan-jalan kota bersama warga lain untuk merayakannya.
Karena itulah, saat laga Haiti vs Brasil digelar, Joseph akan hadir langsung di Stadion Philadelphia. Namun, untuk pertama kali dalam hidupnya, dia tak akan bersorak untuk Brasil, melainkan timnasnya sendiri.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/14/ab7417124a557121d126296fa5992cd5-wires_photo_17_.jpg)
Bagi warga lain, dukungan kepada Brasil selama ini banyak pula terkait dengan kepingan sejarah yang sama di antara kedua negara tersebut. Salah satunya riwayat kelam perbudakan yang dialami keduanya.
Banyaknya pemain berkulit hitam yang membela timnas Brasil sejak era Pele dianggap merepresentasikan perjuangan Haiti. Haiti adalah republik kulit hitam pertama yang didirikan para budak yang membebaskan diri di wilayah koloni Perancis itu pada 1 Januari 1804. Haiti juga menjadi negara merdeka kedua di Benua Amerika setelah AS.
Kami melihat di lapangan orang-orang yang seperti kami, melakukan hal-hal hebat yang kami impikan bisa lakukan sendiri.
”Brasil seperti negara saudara, sangat mirip dalam kebudayaan. Kami melihat di lapangan orang-orang yang seperti kami, melakukan hal-hal hebat yang kami impikan bisa lakukan sendiri,” ujar Joel Jean-Baptiste, lelaki kelahiran New York yang pindah ke tanah leluhurnya, Haiti, saat kecil.
Tiga dekade lalu, Jean-Baptiste kembali ke AS dan menetap di sana, sambil terus mendukung timnas Brasil. Saat dia mengetahui Brasil dan Haiti tergabung dalam satu grup di Piala Dunia 2026, hatinya pun antusias.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/15/84da9b5f5f53f22d3515d300e77a968a-000_B6ZD69E.jpg)
Dia sampai membatalkan rencana liburan keluarga ke Eropa demi bisa menyaksikan langsung dua timnas kesayangannya itu bertanding. ”Bagi kami dan anak-anak Haiti, Brasil nomor satu. Bermain melawan mereka di Piala Dunia merupakan mimpi seumur hidup dan membuat semua warga Haiti bungah untuk melihat apa yang akan terjadi nanti,” ucapnya.
Rachelle Leger, pemimpin komunitas Haiti-Amerika di Philadelphia, mengatakan, dia tidak melihat laga Haiti vs Brasil sebagai rivalitas, melainkan sebagai momentum sementara saja.
”Kami hanya akan menikmatinya. Kami sangat bangga Haiti berhasil (masuk Piala Dunia) dan kami sangat bangga berada di sini untuk mendukungnya meskipun (warga Haiti) mendukung kedua tim,” tuturnya.
Namun, pemain timnas Haiti sekaligus pencetak gol tersubur mereka, Duckens Nazon, berharap warga Haiti mendukung penuh mereka pada laga krusial melawan Brasil ini. Kekalahan berarti Haiti harus mengubur mimpi di Piala Dunia mengingat mereka sudah kalah pada laga awal melawan Skotlandia.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/18/7296f79e2a7fdb9a74cd4b4a3be8189d-20260618_KID_Pildun_Brasil_Haiti_mumed.jpg)
”Ini sangat gila bahwa di negaramu dulu lebih banyak orang yang mendukung negara lain,” ujarnya, seperti dikutip BBC Sport.
Hal itu, dinilai Nazon, karena pada masa lalu warga Haiti tak memiliki sesuatu yang bisa dipegang untuk dibanggakan, seperti timnas yang berprestasi.
”Namun, sekarang mereka memiliki timnas yang tampil di Piala Dunia, jadi seharusnya mereka bangga. Mereka boleh menyukai Brasil atau tim lain, tetapi hanya mendukung kami,” katanya. (AP)
Penulis:
Mohamad Final DaengEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Amin Iskandar