Meski berpredikat juara Eropa, Piala Dunia Antarklub tak akan mudah bagi PSG. Turnamen ini layaknya dunia baru bagi mereka. Tiada ruang kesalahan sekecil apa pun.
15 Jun 2025 10:06 WIB · Olahraga
LOS ANGELES, MINGGU — Paris Saint-Germain boleh saja berstatus tim terkuat Eropa setelah meraih trofi Liga Champions pertama dalam sejarah. Akan tetapi, perjalanan “Les Parisiens” di Piala Dunia Antarklub akan jauh lebih berat.
Turnamen ini ibarat dunia baru bagi PSG. Dengan format saat ini, peluang juara klub Eropa mengecil. Perjuangan PSG mengawinkan gelar Liga Champions dan Piala Dunia Antarklub dimulai dengan menghadapi Atletico Madrid di Stadion Rose Bowl, Los Angeles, Amerika Serikat, Senin (16/6/2025) pukul 02.00 WIB.
Dalam format baru, 32 klub peserta Piala Dunia Antarklub dibagi ke delapan grup dengan masing-masing berisi empat klub. Setiap klub di dalam grup akan bertemu masing-masing satu kali sehingga ada tiga pertandingan fase grup untuk setiap tim. Format ini serupa dengan Piala Dunia di mana hanya dua tim teratas di tiap grup yang berhak lolos ke babak 16 besar.
Tidak berlebihan bila Pelatih Atletico Madrid, Diego Simeone, menyebut setiap laga Piala Dunia Antarklub layaknya final yang mesti dimenangkan. Dengan format seperti itu, setiap poin akan sangat berarti untuk menjaga asa lolos ke fase gugur. Tiada ruang sekecil apa pun untuk kesalahan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/15/3cbec328e99c60b7487743e901a683bf-Paris_Saint_Germain_FC_Training_Session_And_Press_Conference_FIFA_Club_World_Cup_2025.jpeg)
Itu berbeda dengan Liga Champions di mana PSG menjadi juara. Setiap klub harus melalui fase penyisihan dengan memainkan delapan laga terlebih dulu.
Ruang untuk melakukan kesalahan sedikit lebih lebar. Ditambah lagi klub-klub yang mengakhiri fase liga di luar posisi delapan besar masih berkesempatan “memperbaiki diri” untuk lolos ke fase gugur dengan mengikuti babak playoff.
PSG adalah salah satu contoh tim yang berhasil memanfaatkan kelonggaran tersebut hingga akhirnya menjadi juara. Tim besutan pelatih Luis Enrique ini tidak begitu tampil impresif saat fase liga dengan menelan tiga kekalahan, dua hasil imbang, dan meraih empat kemenangan. Hasil itu menempatkan PSG pada peringkat ke-15 sehingga harus memastikan tiket babak 16 besar lewat laga play off menghadapi Brest.
Hal sebaliknya terjadi pada Inter Milan yang jadi lawan PSG di final. Inter tampil impresif sejak fase liga dengan menempati peringkat keempat. Perjalanan Inter semakin meyakinkan di fase gugur tetapi pada akhirnya mencapai antiklimaks di final dengan kalah lima gol tanpa balas.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/15/57aaa609d680ba620963034a20089eb8-Atletico_de_Madrid_Training_Session_And_Press_Conference_FIFA_Club_World_Cup_2025.jpeg)
“Turnamen ini akan sangat berbeda dengan Liga Champions, di mana Anda bermain dalam dua leg (di fase grup). Di sini, hanya ada satu pertandingan. Ini lebih seperti Piala Dunia, di mana tim dengan performa terbaik akan menang. Berdasarkan pengalaman saya sendiri, saya pikir hasilnya sangat bergantung pada performa kedua tim pada saat itu. Jika Anda tampil dengan baik di waktu yang tepat, kemungkinan besar Anda akan mencapai tempat yang Anda inginkan,” tutur Simeone, dikutip dari laman FIFA.
Perbedaan lainnya adalah tidak ada keistimewaan bagi tim asal Eropa di Piala Dunia Antarklub edisi kali ini. Sebelum format baru diterapkan, juara Liga Champions dan Copa Libertadores biasanya baru memulai laga sejak semifinal.
Hal ini karena tim juara Liga Champions dan Copa Libertadores dinilai memiliki kualitas yang jauh lebih baik dibandingkan para klub dari konfederasi Asia, Oseania, dan Afrika.
Pada edisi terakhir Piala Dunia Antarklub, keistimewaan itu dirasakan Liverpool yang tidak perlu bertanding sejak awal. Liverpool baru berlaga di semifinal, di mana lawannya, Monterrey, sudah bermain terlebih dulu sehingga para pemainnya rentan terkena cedera. Di final, Liverpool menjadi juara usai mengalahkan wakil Conmebol, Flamengo.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/15/ee08d28529022e2668018e98823af4c1-wires_photo_31_.jpg)
Format baru Piala Dunia Antarklub menempatkan setiap klub dalam posisi setara. Para wakil Eropa dan Amerika Latin memulai turnamen dari posisi awal sebagaimana pesaing mereka. Dengan begitu, kans wakil Eropa, termasuk PSG, terpeleset menjadi semakin besar.
“Ada (lebih) banyak pertandingan, tetapi berada di sini kali ini sedikit berbeda. Kami siap, dan kami akan berlibur setelahnya,” kata Enrique.
PSG punya kenangan buruk menghadapi Atletico di fase liga Liga Champions. Bertindak sebagai tuan rumah, PSG justru takluk 1-2. Atletico menang berkat gol menit akhir dari Angel Correa. Mendapat kesempatan bertemu kembali dengan PSG, para pemain Atletico amat termotivasi mengulangi kesuksesan itu.
“Pertandingan melawan PSG akan sulit. Bagaimanapun juga, kemi melawan juara Eropa. Namun tahun ini kami telah menunjukkan bahwa kami dapat mengalahkan tim-tim papan atas, jadi kami tidak takut pada siapa pun dan kami bersemangat untuk menampilkan permainan yang hebat. Mengapa tidak untuk menang,” kata gelandang Atletico, Koke.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/15/d76d45e5078b60bcbc2bb4ca73d38c22-Atletico_de_Madrid_s_training_session_and_press_conference.jpeg)
Kans Atletico mengulangi kemenangan atas PSG masih terbuka. Pasalnya, PSG dipastikan tidak akan diperkuat penyerang Ousmane Dembele yang menderita cedera paha.
Keberadaan mantan pemain Barcelona itu di skema Enrique sangat signifikan. Kecepatan serta stamina Dembele dalam menekan lawan selalu menjadi andalan Enrique. Kehilangan Dembele menjadi kerugian besar bagi PSG.
Meski begitu, Bradley Barcola yang sebelumnya diisukan cedera kini sudah mulai berlatih kembali bersama tim di AS. Barcola menawarkan alternatif bagi tim Enrique yang punya ciri khas determinasi tinggi pada setiap laganya. (AFP)
Penulis:
I Gusti Agung Bagus Angga PutraEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Nur Adji