Disapu Tarif Baru oleh Trump, Sejumlah Negara Pilih Jalur Perundingan

Kanada dan Eropa memilih membalas, Meksiko dan Australia memilih jalur negosiasi. Kekhawatiran pada inflasi menjadi salah satu alasan. Yuan turun.

03 Apr 2025 11:36 WIB · Internasional

Oleh Laraswati Ariadne Anwar

CANBERRA, KAMIS — Tarif impor tambahan dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyapu dunia. Akan tetapi, di tengah kekacauan akibat perang dagang, tidak semua negara mengumumkan hendak memberi tarif balasan.

”Perbuatan Trump ini jelas bukan perbuatan yang dilakukan sahabat, tetapi kita tidak akan membalas,” kata Perdana Menteri Australia Anthony Albanese di Canberra, Kamis (3/4/2025).

Australia adalah salah satu sekutu terdekat AS. Dari sisi neraca perdagangan, mereka sejatinya defisit dari AS. Akan tetapi, Trump juga memukul mereka dengan tarif.

Alasan Trump adalah karena Australia tidak mau mengimpor daging sapi dari AS. Sebaliknya, AS mengimpor banyak daging sapi dari Australia. Canberra tidak mau membeli daging sapi dari AS karena ada risiko penyakit sapi gila.

”Australia tidak mau ikut-ikutan perang dagang. Tujuan kita adalah memperkuat perekonomian dan menyejahterakan masyarakat,” kata Albanese. Menurut dia, Australia memilih jalan perundingan untuk menyelesaikan persoalan tarif ini.

Negara tetangga Australia, Selandia Baru, juga mengumumkan tidak akan memukul AS dengan tarif balasan. Selama ini, Selandia Baru sangat ramah dengan produk-produk AS. Tarif impornya di bawah 10 persen. Akan tetapi, Trump pada Rabu (2/4/2025) mengumumkan ia menjatuhkan tarif dasar 10 persen untuk semua negara.

US President Donald Trump holds a signed executive order after delivering remarks on reciprocal tariffs during an event in the Rose Garden entitled "Make America Wealthy Again" at the White House in Washington, DC, on April 2, 2025. Trump geared up to unveil sweeping new "Liberation Day" tariffs in a move that threatens to ignite a devastating global trade war. Key US trading partners including the European Union and Britain said they were preparing their responses to Trump's escalation, as nervous markets fell in Europe and America. (Photo by SAUL LOEB / AFP)

”Apabila kami menaikkan harga barang, rakyat akan terpukul inflasi. Kami tidak mau mengambil jalan itu,” kata Menteri Perdagangan Selandia Baru Todd McClay.

Dari penetapan tarif merata 10 persen itu, Kanada dan Meksiko, dua tetangga langsung AS, tidak kena. Mereka sudah dikenai tarif 25 persen sejak Februari 2025. Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum mengatakan, terus berusaha menghindari perang dagang dan mengupayakan perundingan.

”Kita harus menyelesaikan masalah ini seberadab mungkin,” ujarnya.

Alasan Trump

Tarif 10 persen kepada semua negara itu dijatuhkan Trump dengan alasan membalas proteksionisme negara-negara tersebut terhadap produk AS. Trump menuturkan, sah-sah saja suatu negara memproteksi komoditas mereka dengan membatasi impor.

”Sekarang, AS melakukan hal yang sama,” ujarnya.

Ada pula tarif sebagai senjata politik, seperti yang Trump lakukan kepada China, Kanada, dan Meksiko. Ketiga negara dituduh tutup mata dan membiarkan penyelundupan narkoba jenis fentanil ataupun imigran gelap membanjiri AS.

China membantah membiarkan penyelundupan bahan baku fentanil ke AS. Mereka mengatakan sudah bekerja sama dengan AS merazia berbagai pabrik narkoba.

Kanada dan Meksiko juga demikian. Mereka mengatakan sudah meningkatkan keamanan di perbatasan masing-masing sehingga tidak ada imigran gelap menyelundup memasuki AS.

Di negara-negara Amerika Tengah, mereka juga menyusun langkah negosiasi dengan Trump. AS terikat perjanjian perdagangan bebas dengan Amerika Tengah.

Tarif balasan

Pendekatan Meksiko berbeda dengan Kanada yang menetapkan tarif balasan. Bahkan, sebagai protes, Kanada sempat menghentikan aliran energi ke New York, Michigan, dan Minnessotta.

Selain memberi tarif balasan, Kanada juga melakukan langkah non-tarif. Toko kelontong dan toko serba ada di Kanada menolak menjual produk-produk AS. Bagi toko yang tetap memajang produk AS, konsumen menolak membeli dan memilih pengganti berupa produk Kanada atau dari negara lain.

TORONTO, CANADA - MARCH 3: A Canadian flag and a toque hat are displayed in a downtown Union Mercado convenience store on March 3, 2025 in Toronto, Canada. The country is bracing for U.S. President Donald Trump's sweeping tariffs, which are set to come into effect March 4th.   Katherine KY Cheng/Getty Images/AFP (Photo by Katherine KY Cheng / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / Getty Images via AFP)

Langkah Kanada ini memukul perekonomian masyarakat AS. Pasalnya, produk industri menengah AS banyak dipasarkan ke Kanada, misalnya minuman beralkohol, mainan anak, dan tongkat bisbol.

Eropa juga membalas dengan menambah tarif impor suku cadang mobil dari AS. Hal ini memancing kemarahan Trump sehingga ia mengancam menaikkan biaya masuk impor mobil Eropa sebesar 200 persen.

”Ini bukan langkah mengutamakan AS, tapi AS mengisolasi diri. Pemerintah Eropa harus cepat bernegosiasi soal tarif apabila tidak mau rakyatnya kehilangan pekerjaan,” kata Ketua Asosiasi Industri Otomotif Jerman (VDA) Hildegard Mueller.

Yuan turun

Di tengah perang dagang, bursa saham Hong Kong di China dan Tokyo di Jepang anjlok. Nikai tukar mata uang yuan terendah sepanjang tujuh pekan terakhir.

Trump menetapkan tarif tambahan 20 persen terhadap China. Akibatnya, jumlah total tarif untuk China adalah 54 persen. Tarif juga akan dikenakan kepada barang-barang murah yang dipesan dari lokapasar China, yakni Shein dan Temu.

Asia Tenggara juga tidak luput dari tarif Trump. Laos, Kamboja, dan Vietnam dikenai tarif sebesar 46-49 persen. Indonesia selama ini menetapkan tarif impor 8 persen untuk produk-produk AS.

Oleh Trump, Indonesia dibalas dengan tambahan tarif. Jumlah total tarif impor Indonesia ialah 32 persen. Belum ada pengumuman sikap Pemerintah Indonesia.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent ketika diwawancara oleh CNN mengimbau agar negara-negara lain tidak menetapkan tarif balasan. ”Kalau Anda membalas, yang terjadi adalah eskalasi perang dagang,” ucapnya.

Meskipun begitu, Bessent tidak bisa memperkirakan reaksi bursa saham ataupun gejolak perekonomian internasional. (AP/AFP/Reuters)


Kerabat Kerja

Penulis:

Laraswati Ariadne Anwar
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Penyelaras Bahasa:

Lucia Dwi Puspita Sari