Dunia Bergeming Melihat Israel Memperluas Wilayah dan Membunuh Rakyat Palestina

Israel tengah memperluas zona penyangga keamanannya di Gaza. Perluasan itu dilakukan dengan serangan membabi buta. Perempuan dan anak-anak paling banyak jadi korban.

03 Apr 2025 05:00 WIB · Internasional

Oleh Mahdi Muhammad

GAZA, RABU - Dunia bergeming saat Pemerintah Israel mengumumkan operasi militer baru untuk memperluas wilayah zona penyangga keamanannya, mempersempit ruang gerak rakyat Palestina di Gaza. Operasi militer anyar sepanjang Selasa dan Rabu (1-2 April 2025), yang diklaim untuk melenyapkan Kelompok Hamas terus merenggut korban. Mayoritas adalah anak-anak tak berdosa.

Militer Israel kembali mengeluarkan perintah evakuasi warga Gaza yang tinggal di Rafah, kota di selatan Jalur Gaza, untuk bergegas menuju wilayah Al Mawasi di pesisir. Alasannya, Israel hendak memusnahkan kemampuan militer Hamas dan kelompok perlawanan Palestina lainnya.

Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, dalam pernyataan tertulis, Selasa (1/4/2025), menyebutkan, operasi militer di wilayah Palestina itu untuk membersihkan wilayah tersebut dari para militan serta menguasai wilayah yang lebih luas agar bisa ditambahkan ke dalam zona keamanan Israel.

Katz menyebut, kebijakan Israel untuk melaksanakan kembali operasi militer adalah satu-satunya cara untuk mengakhiri perang.

Gempuran jet tempur dan artileri Israel ke wilayah Gaza tak berhenti sejak Selasa (1/4/2025). Serangan udara pada Selasa malam diarahkan ke Khan Younis, menewaskan sekitar 17 orang, terdiri dari lima perempuan, termasuk perempuan yang sedang mengandung, serta anak-anak.

Adapun serangan pada hari Rabu dipusatkan ke sebuah gedung milik Badan Pekerjaan dan Pemulihan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pengungsi Palestina di Timur Dekat (UNRWA) di wilayah Jabaliya, utara Gaza, dan sejumlah titik.

Kementerian Kesehatan Gaza menyebut, sebanyak 41 orang tewas dalam serangan-serangan tersebut, termasuk 19 orang anak yang tewas di sebuah klinik PBB yang digunakan sebagai tempat mengungsi.

People fleeing Rafah arrive in Khan Yunis city following new Israeli evacuation orders, in the southern Gaza Strip, on March 31, 2025. Israel resumed intense air strikes across Gaza on March 18, followed by ground operations, after talks on extending a ceasefire with the Palestinian militant group Hamas reached an impasse. (Photo by Eyad BABA / AFP)

Seperti pada serangan-serangan sebelumnya, militer Israel berdalih bahwa serangan itu ditujukan pada sebuah pusat komando dan kendali yang digunakan oleh kelompok perlawanan untuk berkoordinasi.

Kali ini, militer Israel mengklaim serangan itu ditujukan pada kompleks yang sering digunakan Batalion Jabaliya Hamas untuk merencanakan serangan teror. Israel juga menuding Hamas menjadikan lokasi itu sebagai tameng hidup aktivitas mereka.

Kementerian Luar Negeri Palestina mengutuk serangan itu dan menyebutnya sebaga pembantaian. Mereka menyerukan tekanan internasional yang serius untuk menghentikan serangan Israel yang semakin meluas. Sementara, kelompok perlawanan Palestina lainnya, Jihad Islam, sekutu Hamas, menyebut pengeboman itu sebagai kejahatan perang yang sesungguhnya.

Data Kementerian Kesehatan Palestina hingga Selasa malam, sedikitnya 1042 orang warga sipil tewas akibat operasi militer Israel yang dimulai kembali sejak 18 Maret 2025. Total sudah lebih dari 50.399 jiwa warga Palestina tewas sejak perang Hamas-Israel berlangsung, Oktober 2023.

Perluasan Zona Penyangga

Katz tidak menjelaskan seberapa luas wilayah Palestina yang akan diambil oleh Israel. Menurut catatan kelompok advokasi hak asasi manusia Israel Gisha, pemerintah dan militer Israel telah menguasai sedikitnya 17 persen total wilayah Gaza atau sekitar 62 kilometer persegi sejak perang Hamas-Israel berlangsung.

Zona penyangga yang ingin dikuasai oleh Israel berisi infrastruktur sehari-hari yang dibutuhkan oleh warga Palestina, terdiri dari sumur air bersih, stasiun pemompaan limbah, hingga pengolahan air limbah, dan sebagian besar wilayah pertanian Gaza.

Kehilangan infrastruktur penting ini akan menambah tekanan hidup rakyat Palestina di wilayah tersebut. Terlebih lagi, Israel juga tidak mengizinkan masuknya bantuan kemanusiaan ke wilayah itu.

Asap mengepul dari kejauhan di sekitar kamp pengungsi Bureij, Jalur Gaza, Rabu (2/4/2025). Militer Israel melaksanakan operasi militer untuk memperluas wilayah zona penyangga keamanan Israel.

Perluasan zona penyangga menjadi strategi untuk mempersempit ruang gerak warga sipil Palestina di Gaza dan juga meningkatkan rasa frustrasi mereka terhadap perang, yang oleh Israel dan sekutu Baratnya, selalu dinyatakan disebabkan oleh serangan Hamas pada 7 Oktober 2023.

Upaya menggalang ketidakpuasan terhadap Hamas telah membawa hasil setelah beberapa waktu lalu terjadi unjuk rasa terhadap kebijakan perlawanan kelompok tersebut. Operasi militer dan perluasan wilayah adalah cara Israel untuk meningkatkan tekanan terhadap kelompok Hamas dan kelompok perlawanan Palestina lainnya.

Setidaknya ini yang tergambar dari pernyataan Katz dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. "Saya menyerukan kepada penduduk Gaza untuk bertindak sekarang guna melenyapkan Hamas dan memulangkan semua yang diculik," kata Katz.

Basem Naim, seorang pejabat senior Hamas, mengatakan kepada Reuters bahwa sandera Israel hanya akan dibebaskan melalui negosiasi, bukan melalui tekanan militer. (AFP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Mahdi Muhammad
 | 

Editor:

Nur Hidayati
 | 

Penyelaras Bahasa:

Lucia Dwi Puspita Sari