Tentang Palestina, Dunia Kian Tak Berdaya

Puluhan warga Palestina menjadi sasaran tembak serdadu Israel saat mencari bantuan pangan. Puluhan ribu lainnya diperintahkan mengungsi kembali.

21 Jul 2025 15:34 WIB · Internasional

Oleh Mahdi Muhammad

Catatan redaksi: berita ini diperbarui dengan pernyataan WFP soal Israel mengerahkan tank dan penembak runduk ke pencari bantuan di Gaza.

JALUR GAZA, SENIN — Dunia tak berdaya melihat situasi yang makin memburuk di Jalur Gaza. Israel semakin terbuka dan brutal membunuh warga Gaza, termasuk yang mengantre bantuan kemanusiaan.

Dilaporkan AFP pada Senin (21/7/2025), Israel memerintahkan puluhan ribu warga meninggalkan bagian Gaza yang masih bisa dihuni dalam keterbatasan. Israel akan menghancurkan wilayah itu dengan alasan memburu pejuang kemerdekaan Palestina.

Pada saat yang sama, lokasi pengiriman bantuan juga menjadi ladang pembantaian. Setidaknya lebih dari 800 warga Palestina tewas ditembus peluru Israel saat mengantre atau berupaya memperoleh makanan.

Badan Pangan Dunia (WFP) menyatakan Israel menggunakan tank, penembak runduk, dan aneka senapan untuk memberondong warga. Pembantaian terjadi pada Minggu pagi dekat pintu perlintasan Zikim.

Kala itu, 25 truk bantuan kemanusiaan yang dikelola WFP baru saja melewati perlintasan. ”Kekeran hari ini terjadi meski ada jaminan dari otoritas Israel bahwa operasi kemanusiaan akan meningkat. Angkatan bersenjata tidak akan hadir atau terlibat di sepanjang rute bantuan kemanusiaan,” demikian pernyataan WFP.

WFP tidak bisa memastikan berapa banyak korban dalam pembantaian itu. WFP hanya menyebut, banyak yang cedera dan kritis akibat penembakan. ”Penembakan dekat misi kemanusiaan, konvoi, dan distribusi makanan harus segera dihentikan,” lanjut WFP.

Rekaman yang dilihat oleh jurnalis kantor berita AP menunjukkan sejumlah pria Palestina berlarian ketika mendengar suara senapan otomatis menyalak. Salah satu saksi mata, Ehab Al-Zei, mengatakan, para pencari bantuan terjebak di lokasi karena tank-tank milik militer Israel mengelilingi mereka. ”Kami terjebak di tengah tembakan dan serangan bertubi-tubi. Kami terjebak di sana sekitar dua jam,” katanya.

People queue with pots to receive meals from a charity kitchen in Gaza City on July 14, 2025. (Photo by BASHAR TALEB / AFP)

Pria yang sudah hampir setengah bulan ini tidak mengonsumsi tepung mengaku tidak ingin lagi terjebak untuk kesekian kalinya. ”Saya tidak akan pernah kembali lagi. Kami mati kelaparan, itu lebih baik,” katanya.

Beberapa saksi mata lain menyebut tembakan tidak hanya berasal dari moncong senjata militer Israel, tetapi juga berasal dari drone yang tengah melayang di udara. Salah satu saksi, Nafiz Al-Najjar, mengatakan, tank dan pesawat nirawak itu menargetkan warga pencari bantuan secara acak. Dia mengaku melihat sepupunya dan warga Palestina lainnya tewas ditembak.

”Tiba-tiba mereka membiarkan kami bergerak maju dan menyuruh semua orang berkumpul, lalu peluru mulai beterbangan, peluru yang ditembakkan oleh tank,” kata Alaa, saksi mata yang dirawat di Rumah Sakit Nasser.

Dia menyebut tidak ada belas kasihan terhadap warga Palestina yang berjuang mencari makanan tidak hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga keluarga, bahkan siapa pun yang tinggal berdekatan dengan mereka.

TOPSHOT - A Palestinian woman grieves over the body of a man, killed at a food distribution point in Al-Tina area in the southern Gaza Strip, at the Nasser hospital in Khan Yunis on July 19, 2025. Gaza's civil defence agency on July 19 said Israeli attacks killed 26 people and wounded more than 100 near two aid centres in the south of the Palestinian territory. (Photo by AFP)

”Tidak ada yang memandang orang-orang ini dengan belas kasihan. Orang-orang sekarat, mereka dicabik-cabik, demi mendapatkan makanan untuk anak-anak mereka. Lihat orang-orang ini, semua orang ini dicabik-cabik demi mendapatkan tepung untuk memberi makan anak-anak mereka,” katanya.

Militer Israel mengaku, mereka melepaskan tembakan karena menganggap warga Palestina itu sebagai ancaman. Militer Israel berkilah tindakan tersebut adalah untuk keselamatan anggota pasukannya.

Mereka tahu ada korban jiwa akibat ulah mereka. Akan tetapi, militer Israel justru mengabaikan dan bersikap tidak peduli dengan mengatakan bahwa angka korban sebagaimana dilaporkan oleh otoritas Palestina telah digelembungkan. Mereka justru menuduh Hamas berada di balik kekacauan tersebut.

Warga Palestina Semakin Terjepit

Ruang gerak warga Palestina di Gaza semakin sempit setelah militer Israel memerintahkan penduduk di wilayah Deir el-Balah untuk pindah ke Gaza selatan menyusul rencana operasi militer ke wilayah tersebut. Menurut perkiraan kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (UN OCHA), perintah itu membuat 50.000-80.000 warga Gaza akan bergerak ke wilayah yang tingkat kelayakan huni hanya tinggal 12 persen atau kurang.

TOPSHOT - A Palestinian man sits amid tents at a camp for displaced people in Gaza City, on May 20, 2025, amid the ongoing war between Israel and the Palestinian militant movement Hamas. Israel, pressing a newly expanded military offensive across the Gaza Strip, has faced mounting pressure including from key backer the United States to end the aid blockade it imposed on March 2. (Photo by Bashar TALEB / AFP)

UN OCHA memperingatkan perintah evakuasi massal itu akan memberikan ancaman bagi kehidupan rakyat Palestina yang sudah berada di titik kritis. Menurut lembaga tersebut, perintah evakuasi itu mengartikan bahwa nyaris 90 persen wilayah Palestina di Gaza saat ini merupakan zona militer dan 2,1 juta warga sipil Palestina bertahan hidup di wilayah yang sudah sangat sempit.

”Ini mengakibatkan 2,1 juta warga sipil terjepit di 12 persen wilayah Jalur Gaza yang terfragmentasi, dengan layanan-layanan penting telah lumpuh,” kata UN OCHA dalam pernyataannya. Situasi itu dinilai UN OCHA akan semakin membatasi kemampuan PBB dan lembaga kemanusiaan lainnya untuk bergerak dengan aman dan efektif di Gaza yang mengakibatkan terhambatnya akses kemanusiaan ketika sangat dibutuhkan.

Pemerintah dan militer Israel bergeming. Mereka bahkan mencabut izin tinggal kepala kantor OCHA di negara itu, Jonathan Whittall, yang telah berulang kali mengecam kondisi kemanusiaan di Gaza.

Perintah baru itu mengejutkan banyak warga Palestina yang sudah kelelahan. Menurut mereka, wilayah yang saat ini mereka diami, yakni di Deir al-Balah, relatif aman.

Palestinians flee Deir al-Balah in central Gaza Sunday, July 20, 2025, after the Israeli military issued evacuation orders ahead of expected operations in the area. (AP Photo/Abdel Kareem Hana)

”Seluruh Rafah sedang dievakuasi dan sekarang Anda telah memutuskan bahwa separuh Deir al-Balah juga dievakuasi. Ke mana kami akan pindah?” tanya Hassan Abu Azab, seorang warga. Warga tidak punya pilihan lain kecuali berkemas, menumpuk segala sesuatu, mulai dari alas tidur hingga bebek, ke dalam gerobak dan alat transportasi lain yang masih bisa digunakan. Asap mengepul di kejauhan, diiringi ledakan dan suara sirene.

Juru bicara militer Israel, Avichay Adraee, menyerukan agar warga segera menuju Muwasi, sebuah kamp terpencil dengan infrastruktur terbatas di pesisir selatan Gaza yang telah ditetapkan oleh militer Israel sebagai zona kemanusiaan.

Forum Keluarga Sandera, sebuah organisasi akar rumput yang mewakili banyak keluarga sandera Israel, mengecam perintah evakuasi baru tersebut. Mereka menuntut agar Netanyahu dan militer Israel menjelaskan apa yang ingin mereka capai di Gaza tengah.

”Cukup! Rakyat Israel sangat menginginkan kesepakatan komprehensif yang akan memulangkan semua sandera dan diakhirinya pertempuran,” kata forum tersebut. Pada Sabtu malam, dalam sebuah protes mingguan, puluhan ribu orang berbaris di Tel Aviv menuju kantor Kedutaan Besar AS, menuntut diakhirinya perang.

Pope Leo XIV blesses the faithful gathered in the square in front of the Apostolic Palace for the noon Angelus prayer in Castel Gandolfo, Italy, Sunday, July 20, 2025. (AP Photo/Gregorio Borgia)

Paus Leo XIV pun kembali menyerukan gencatan senjata segera di Gaza karena kondisi kemanusiaan yang terus memburuk. Dia meminta masyarakat internasional untuk menghormati hukum internasional dan kewajiban melindungi warga sipil.

”Saya sekali lagi menyerukan diakhirinya segera kebiadaban perang ini dan penyelesaian konflik secara damai,” kata Paus di akhir doa Angelus, Minggu, di Castel Gandolfo.

Di saat yang sama, Paus Leo menyampaikan dukacita yang mendalam atas serangan Israel pada satu-satunya gereja Katolik di Jalur Gaza, Kamis lalu. Serangan itu menewaskan tiga orang dan melukai 10 lainnya, termasuk pastor Gabriel Romanelli, pastor Paroki Keluarga Kudus, Gaza.

”Saya mengimbau masyarakat internasional untuk mematuhi hukum humaniter dan menghormati kewajiban melindungi warga sipil serta larangan hukuman kolektif, penggunaan kekuatan tanpa pandang bulu, dan pemindahan paksa penduduk,” tambah Paus.

Militer Israel tidak memandang bulu terhadap fasilitas sipil yang kini menjadi pelindung satu-satunya bagi warga Gaza, termasuk Gereja Katolik Keluarga Kudus di Gaza. ”Kita perlu berdialog dan meninggalkan senjata,” kata Paus. ”Dunia tidak lagi menoleransi perang.”

TOPSHOT - Latin Patriarch of Jerusalem Pierbattista Pizzaballa comforts a man who was injured in an Israeli strike a day earlier on the Holy Family Church, as a delegation of top Christian clerics visit the Arab Ahli (Baptist) Hospital in Gaza City on July 18, 2025. Two of the most senior Christian leaders in Jerusalem travelled to Gaza, a day after an Israeli strike killed three at the Holy Family Church, the besieged Palestinian territory's only Catholic church, provoking international condemnation. (Photo by Omar AL-QATTAA / AFP)

Kecaman terhadap operasi militer Israel yang telah menelan korban hampir 59.000 jiwa dilakukan oleh rakyat Maroko, Minggu. Puluhan ribu warga turun ke jalan-jalan di kota Rabat, mengecam tragedi kemanusiaan yang mengerikan di Gaza. Mereka juga mendesak Pemerintah Maroko membatalkan normalisasi hubungan diplomatik Maroko dengan Israel.

Puluhan ribu pengunjuk rasa berkumpul di pusat kota, mengibarkan bendera Palestina dan spanduk yang menyerukan pencabutan blokade bantuan kemanusiaan ke Gaza. ”Cabut blokade”, ”Maroko, Palestina, satu bangsa”, dan ”tolak normalisasi” adalah beberapa hal yang dituntut oleh para demonstran.

Mereka berkumpul atas seruan berbagai organisasi, termasuk koalisi yang menyatukan gerakan Islam Al-Adl Wal-Ihssane dan partai-partai sayap kiri.

”Rakyat Palestina kelaparan dan dibunuh di depan mata seluruh dunia,” kata Jamal Behar. ”Adalah tugas kita untuk mengecam situasi yang dramatis dan tak tertahankan ini.”

Pemerintah Maroko menormalisasi hubungan diplomatiknya dengan Israel pada 2020 melalui Perjanjian Abraham Accord yang disponsori Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Akan tetapi, keputusan itu mendapat kritik keras seiring memburuknya situasi di Gaza. (AP/AFP/Reuters)


Kerabat Kerja

Penulis:

Mahdi Muhammad
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H