Setiap tahun sejak 2022, tak ada atlet Indonesia yang meraih gelar juara di Indonesia Terbuka. Dengan kekuatan penuh pada 2026, mereka mencoba memutus kebuntuan itu.
31 Mei 2026 07:05 WIB · Olahraga
Humas PP PBSI
Tuan rumah akan turun full team pada turnamen Indonesia Terbuka Polytron di Istora Gelora Bung Karno, Jakarta, 2-7 Juni. Di tempat yang sama pada awal tahun, Indonesia mempunyai catatan positif melalui penampilan atlet muda ketika Alwi Farhan menjadi juara dan Raymond Indra/Nikolaus Joaquin tampil di final.
Namun, level persaingan Indonesia Terbuka berbeda, akan jauh lebih berat dengan status sebagai turnamen Super 1000 yang memperebutkan hadiah dan poin ranking lebih besar.
Pemain-pemain top dunia yang mendaftar lebih banyak dibandingkan Indonesia Masters, Januari. Apalagi, turnamen Super 1000 menjadi turnamen wajib bagi atlet yang masuk dalam daftar top committed players, yaitu atlet ranking 15 besar dunia untuk tunggal dan 10 besar (ganda) yang daftarnya disusun setiap akhir November pada tahun sebelumnya.
Persaingan pada 2026 tak akan kalah sulit bagi atlet-atlet tuan rumah seperti tahun-tahun sebelumnya hingga Indonesia pun hanya berstatus sebagai tuan rumah, tanpa gelar juara. Dalam empat penyelenggaraan terakhir sejak 2022, tak ada gelar juara diraih atlet Indonesia. Turun dengan kekuatan penuh, 20 wakil Indonesia mencoba memecah kebuntuan tersebut meski tak akan mudah.
Berikut gambaran potensi atlet Indonesia di depan publik sendiri di Indonesia Terbuka berdasarkan data peserta yang dirilis BWF pada 24 April.
Atlet Indonesia: Jonatan Christie, Alwi Farhan
Indonesia masih akan mengandalkan Jonatan Christie yang bermain di Indonesia Terbuka sejak 2015, saat berusia 17 tahun. Saat itu, BWF masih menggunakan istilah Super Series/Super Series Premier untuk turnamen level tertinggi.
Langkah terdekat Jonatan menuju podium juara terjadi di Indonesia Terbuka 2021 ketika mencapai semifinal, tetapi, Jonatan dihentikan Viktor Axelsen yang akhirnya menjadi juara.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/26/2deb26f4f2408b4297acb4892cb96dc0-WhatsApp_Image_2026_04_26_at_15.32.39.jpeg)
Ketika Axelsen mempertahankan dominasi dengan mencetak hat-trick juara (2021-2023), Jonatan tak bisa mencapai fase yang sama, apalagi lebih baik. Setelah 2021, hasil terbaiknya adalah perempat final 2023 ketika kalah dari Anthony Sinisuka Ginting. Pada dua partisipasinya setelah itu, Jonatan tersingkir lebih awal, yaitu pada babak pertama 2024 dan babak kedua di tahun berikutnya.
Kekalahan dari pemain non unggulan, Leong Jun Hao pada 2024 dan Lee Cheuk Yiu (2025), ketika Jonatan menjadi bagian dari delapan unggulan memperlihatkan meratanya persaingan tunggal putra.
Dari catatan dalam penampilan sebelumnya, Jonatan ingin membayar rasa penasaran karena belum pernah menjuarai Indonesia Terbuka. ”Itu menjadi salah satu target pribadi saya. Indonesia Open adalah salah satu yang terbaik di dunia. Saya bisa berharap bisa mendapatkannya (juara). Mudah-mudahan bisa mendapatkannya tahun ini,” kata Jonatan.
Jonatan akan didampingi Alwi Farhan dalam membawa nama tunggal putra Indonesia. Alwi membawa kenangan baik ketika juara di Istora pada Januari dalam turnamen Indonesia Masters yang menjadi gelar pertamanya dari turnamen level Super 500.
Namun, persaingan di Istora, Juni nanti, akan lebih keras. Shi Yu Qi, Kunlavut Vitidsarn, dan Christo Popov, yang absen di Indonesia Masters, sudah terdaftar untuk Indonesia Terbuka. Akan hadir pula dua atlet yang membuat kejutan dengan tampil di final All England, yaitu Lin Chun Yi yang mengalahkan Lakshya Sen.
Meski tampil di rumah sendiri, Jonatan harus waspada berdasarkan pengalaman dalam dua tahun terakhir, ketika kalah dari atlet dengan ranking di bawahnya. Setelah mencapai semifinal Malaysia Terbuka dan final India Terbuka pada awal 2026, Jonatan belum tampil lebih baik pada turnamen-turnamen berikutnya, salah satunya ketika kalah dari Lin babak kedua All England.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/01/26/53fc2f96-5f66-4d28-84c2-1d9c66bd0d9c_jpg.jpg)
Dalam ajang beregu Piala Thomas di Horsens, Denmark, 24 April-3 Mei, Jonatan kalah dari Popov saat Indonesia bertemu Perancis di penyisihan grup. Kekalahan dari Perancis dengan skor 1-4 membuat Indonesia tersingkir pada penyisihan grup.
Alwi selalu punya modal kepercayaan diri, apalagi ketika tampil di depan publik sendiri. Akan tetapi, dia masih dalam tahap belajar menembus persaingan berat turnamen besar setelah mengumpulkan pengalaman pada turnamen BWF World Tour sepanjang 2025.
Selain gelar juara Indonesia Masters di Istora, perempat final All England bisa menjadi bekal atlet berusia 20 tahun itu, setidaknya, untuk melangkah lebih jauh dibandingkan babak kedua Indonesia Terbuka 2025.
Putri Kusuma Wardani
Seperti dalam turnamen Super 750 dan 1000 yang berlangsung sebelum Indonesia Terbuka, Putri Kusuma Wardani akan menjadi satu-satunya wakil tunggal putri Indonesia. Pada awal 2026, hanya ada nama Putri dari Indonesia dalam daftar undian tunggal putri Malaysia Terbuka dan All England Super 1000, serta India Terbuka Super 750.
Di antara atlet-atlet tunggal putri Indonesia, hanya Putri yang bisa masuk dalam daftar peserta turnamen Super 750 dan 1000 yang tidak mengenal babak kualifikasi. Gregoria Mariska Tunjung, dengan haknya menggunakan protected ranking karena sakit, masih bisa memasuki persaingan dua level tersebut. Akan tetapi, Gregoria belum kembali ke persaingan setelah terakhir kali tampil di SEA Games Thailand, Desember 2025.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/05/cbd47f98afe423db5e537fac255124a8-WhatsApp_Image_2026_03_05_at_19.38.12.jpeg)
Putri menargetkan bisa naik podium di Indonesia Terbuka 2026 yang artinya dia harus mencapai final. Putri pun harus dua langkah lebih maju dibandingkan pencapaian terbaiknya di Indonesia Terbuka dan turnamen Super 1000 lainnya, yaitu perempat final. Putri mencapai perempat final itu di Indonesia Terbuka 2025, Malaysia Terbuka 2025 dan 2026, serta All England 2026.
Berdasarkan posisinya dalam daftar peringkat dunia, yaitu keenam saat pendaftaran Indonesia Terbuka pada 21 April, Putri harus bisa lebih baik dari atlet-atlet di atasnya jika ingin mencapai final. Mereka yang posisinya di atas Putri, dari urutan teratas hingga kelima, adalah An Se-young, Wang Zhi Yi, Akane Yamaguchi, Chen Yu Fei, dan Han Yue.
Ini menjadi tantangan besar karena Putri belum bisa mengalahkan lima atlet tersebut. Dia selalu kalah dalam sepuluh pertemuan (0-10) melawan An, tertinggal 0-7 dari Wang dan Yamaguchi, 0-3 dari Chen, dan 0-5 dari Han. Dengan perlawanan tiga gim yang baru bisa diberikan Putri, atlet berusia 23 tahun ini harus mendapat kemenangan pertama atas mereka, di depan pendukung sendiri di Istora.
Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri, Sabar Karyaman Gutama/Mohammad Reza Pahlefi Isfahani, Raymond Indra/Nikolaus Joaquin, Leo Rolly Carnando/Bagas Maulana, Muhammad Rian Ardianto/Rahmat Hidayat, Ali Faathir Rayhan/Devin Artha Wahyudi.
Indonesia akan mengandalkan enam pasangan untuk membawa nama baik ganda putra. Meskipun ganda putra menjadi sektor yang memberi Indonesia gelar juara terbanyak di Indonesia Terbuka, meraih gelar di Indonesia Terbuka 2026 akan menjadi perjalanan terjal.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/08/a3e851ee28aed99f374325da4ed3bc71-20250608TOK45.jpg)
Ganda putra tuan rumah meraih 23 gelar sejak Indonesia Terbuka diselenggarakan pada 1982 dan itu menjadi jumlah terbanyak dibandingkan empat nomor lain. Ganda putra, juga, menjadi nomor yang terakhir kali menyumbangkan gelar bagi Indonesia melalui Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon pada 2021. Gelar saat itu menjadi yang ketiga beruntun bagi pasangan berjulukan ”Minions” tersebut setelah 2018 dan 2019 (Indonesia Terbuka 2020 tidak diselenggarakan karena pandemi Covid-19).
Setelah itu, era Fajar/Rian, Sabar/Reza, Fikri/Bagas Maulana, dan Leo/Daniel kalah bersaing dengan atlet-atlet China, India, Malaysia, dan Korea Selatan. Fajar/Rian, yang tampil di Indonesia Terbuka sejak 2016 hingga 2025, tak pernah menembus final. Hasil terbaik mereka adalah saat mencapai semifinal 2017, 2018, dan 2025.
Sabar/Reza tampil baik dalam dua tahun terakhir ketika mencapai semifinal pada 2024, lalu final di tahun berikutnya. Namun, upaya pasangan yang berlatih di luar pelatnas itu belum cukup mengantarkan mereka ke podium tertinggi. Dalam perebutan gelar juara 2025, Sabar/Reza kalah dari Kim Won-ho/Seo Seung-jae, pasangan Korea Selatan yang mendominasi persaingan ganda putra pada tahun tersebut dengan 11 kali juara.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/25/d776241b23efb306b32e33be7191d4db-WhatsApp_Image_2026_04_25_at_02.30.16.jpeg)
Dominasi tersebut berlanjut pada awal 2026 ketika Kim/Seo tak terkalahkan dalam 16 pertandingan hingga menjuarai Malaysia Terbuka, All England, dan Kejuaraan Asia. Maka, ganda putra nomor satu dunia itu pula yang menjadi kandidat terkuat untuk kembali juara di Istora.
Namun, tak hanya Kim/Seo yang akan menjadi lawan berat. Peserta lain dipastikan akan menyulitkan, di posisi berapa pun mereka dalam peringkat dunia.
Fajar/Fikri misalnya, punya ”musuh dalam selimut” yang merupakan adik mereka sendiri di pelatnas, Raymond/Nikolaus. Fajar/Fikri tak pernah menang dalam tiga pertemuan dengan anak muda berusia 22 dan 20 tahun tersebut. Sabar/Reza juga pernah menjadi korban permainan cepat Raymond/Nikolaus pada semifinal Indonesia Masters.
Selain dari Raymond/Nikolaus, Sabar/Reza mengalami kekalahan dari Takuro Hoki/Yugo Kobayashi, Christo/Toma Junior Popov, dan Lee Fang Chih/Lee Fang Jen pada 2026. Ini menjadi catatan bagi Sabar/Reza karena kekalahan dari Popov bersaudara dan Lee bersaudara membuat mereka tersingkir pada fase awal, yaitu di babak pertama All England dan babak kedua Kejuaraan Asia.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/08/998c04f082a9558babbf251397f8145d-AE_ray_joaquin2.jpeg)
Di antara skuad ganda putra tuan rumah, Raymond/Nikolaus akan menjadi sorotan badminton lover setelah mencapai final dalam debut di Istora pada turnamen berbeda, Indonesia Masters, pada Januari. Mereka juga memberi kejutan pada ganda putra top dunia saat mencapai semifinal All England.
Namun, konsistensi performa masih menjadi catatan yang harus dicapai Raymond/Nikolaus. Setelah semifinal All England, mereka dua kali tersingkir pada babak pertama dari tiga kejuaraan, yaitu di Swiss Terbuka dan Kejuaraan Asia.
Siti Fadia Silva Ramadhanti/Amallia Cahaya Pratiwi, Rachel Alessya Rose/Febi Setianingrum, Febriana Dwipuji Kusuma/Meilysa Trias Puspitasari, Isyana Syahira Meida/Rinjani Kwinara Nastine
Semua atlet ganda putri Indonesia yang akan tampil di Indonesia Terbuka 2026 punya pengalaman tampil dalam turnamen ini. Febriana Dwipuji Kusuma dan Siti Fadia Silva Ramadhanti, bahkan, menjalani debut pada 2016 ketika turnamen masih berlevel Super Series Premier.
Meski demikian, turnamen tahun ini akan berbeda bagi setiap atlet karena mereka akan menjalani persaingan bersama pasangan berbeda. Kecuali pasangan muda, Isyana Syahira Meida/Rinjani Kwinara Nastine, tiga ganda putri lainnya adalah duet yang belum setahun berpasangan. Fadia/Amallia Cahaya Pratiwi bahkan baru berpasangan Januari di Indonesia Masters.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/28/fdd477dd55c0ff0cfe3c4001ecaeed07-WhatsApp_Image_2026_04_28_at_20.06.27.jpeg)
Setelah Vita Marissa/Liliyana Natsir juara 2008, hanya Greysia Polii/Nitya Krishinda dan Greysia/Apriyani Rahayu yang bisa menembus final Indonesia Terbuka, pada 2015 dan 2021. Skuad ganda putri Indonesia dalam setiap generasi kesulitan menembus kekuatan pemain-pemain China, Jepang, dan Korea Selatan.
Berperan sebagai pemain tuan rumah dengan dukungan publik sendiri, Febriana/Meilysa Trias Puspitasari, Rachel Alessya Rose/Febi Setianingrum, dan Fadia/Amallia harus memanfaatkan kesempatan tampil di Indonesia Terbuka 2026 dengan baik. Mereka setidaknya memiliki kesempatan menunjukkan konsistensi atau memperbaiki performa saat berhadapan dengan pasangan top dunia. Bagi Isyana/Rinjani, ajang ini menjadi panggung mengukur kemampuan dibandingkan atlet top dunia.
Rachel/Febi bisa mengalahkan Jia Yi Fan/Zhang Shu Xian (China) pada babak kedua Kejuaraan Asia, tetapi kalah dari Yuki Fukushima/Mayu Matsumoto (Jepang) pada perempat final. Febriana/Meilysa bisa mencapai perempat final turnamen Super 1000, yaitu Malaysia Terbuka dan All England, tetapi masih bisa tersingkir pada babak-babak awal turnamen kecil seperti ketika kalah pada babak kedua Swiss dan Orleans Terbuka yang berlevel Super 300.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/27/25409a37f99d70307dcac5efb672b7c7-WhatsApp_Image_2026_04_27_at_02.54.41.jpeg)
Sementara, Fadia/Amallia punya kesempatan mewujudkan tekad menembus persaingan papan atas secepat mungkin. Dalam enam turnamen yang diikuti sejak Januari-April, Fadia/Amallia menjuarai Thailand Masters Super 300 dan mencapai semifinal Kejuaraan Asia yang setara dengan level Super 1000. Tertinggal dalam start sebagai pasangan, Fadia/Amallia pun bertekad mengejar dan segera memasuki persaingan level atas.
Jafar Hidayatullah/Felisha Alberta Nathaniel Pasaribu, Rehan Naufal Kusharjanto/Gloria Emanuelle Widjaja, Amri Syahnawi/Nita Violina Marwah, Adnan Maulana/Indah Cahya Sari Jamil, Marwan Faza/Aisyah Salsabila Putri Pranata, Dejan Ferdinansyah/Bernadine Anindya Wardana, Bobby Setiabudi/Melati Daeva Oktavianti
Melihat ganda campuran Indonesia berdiri di podium tertinggi Indonesia Terbuka 2026 tampaknya masih akan sulit terwujud. Setelah Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir juara pada 2017 dan 2018, tak ada ganda campuran Indonesia yang bisa mengimbangi atlet-atlet China, Thailand, dan Malaysia. Ganda campuran Perancis, Thom Gicquel/Delphine Delrue, bahkan membuat kejutan dengan menjadi juara Indonesia Terbuka 2025.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/04/24eb514c6f90b50276f6bc081f5939db-WhatsApp_Image_2026_03_04_at_19.58.34.jpeg)
Ganda campuran ”Merah Putih” masih kesulitan mengimbangi pasangan top dunia. Hasil yang mereka capai dalam turnamen besar, Super 750 dan 1000, menjadi indikator.
Jafar Hidayatullah/Felisha Alberta Nathaniel Pasaribu mencapai semifinal China Terbuka Super 1000 pada 2025, tetapi dalam turnamen selevel lainnya, mereka kandas pada dua babak awal. Dalam turnamen Super 750, Jafar/Felisha bahkan belum pernah melewati perempat final.
Pasangan berusia 23 dan 20 tahun itu sebenarnya memiliki potensi menjadi generasi baru ganda campuran ketika menjuarai dua turnamen beruntun, Indonesia International Challenge dan Indonesia Masters Super 100 pada awal berpasangan, Agustus 2024. Namun, mereka belum bisa mengemban tanggung jawab sangat besar ketika harus menjadi andalan ganda campuran tanpa ada senior yang mumpuni di pelatnas. Jafar/Felisha pun baru bisa menembus final turnamen Super 500, di Australia Terbuka 2025, dan menjuarai level Super 300, di Taiwan Terbuka, pada tahun yang sama.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/06/044e175aa76e925d5e2ea8166c4cc252-WhatsApp_Image_2026_03_06_at_20.09.51.jpeg)
Setelah pada sepanjang 2025 memiliki kesulitan untuk menembus pasangan top dunia, yaitu Feng Yan Zhe/Huang Dong Ping, Jiang Zhen Bang/Wei Ya Xin, Dechapol Puavaranukroh/Supissara Paewsampran, dan Chen Tan Jie/Toh Ee Wei, Jafar/Felisha dijegal pemain lain dengan peringkat lebih rendah pada periode awal 2026. Di babak kedua Kejuaraan Asia misalnya, Jafar/Felisha kalah dari pemain Korea Selatan yang lolos dari babak kualifikasi, Kim Jae-Hyeon/Ha Jeong-jang.
Level prestasi Amri Syahnawi/Nita Violina Marwah dan Adnan Maulana/Indah Cahya Sari Jamil masih berada pada turnamen Super 300 dan 500. Untuk ajang di atas itu, mereka baru bisa mencapai perempat final itu pun belum konsisten. Amri/Nita hanya mencapainya pada perempat final All England 2025 adapun Adnan/Nita di Indonesia Terbuka 2025.
Penulis:
Yulia SapthianiEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase