Belanda meregenerasi skuad demi mendapatkan tim yang tangguh dan unggul di setiap lini. Kali ini, tim ”Oranye” datang dengan ambisi besar menjadi juara Piala Dunia.
09 Jun 2026 10:35 WIB · Olahraga
AP PHOTO/PATRICK POST
Belanda datang ke Piala Dunia Meksiko, AS, dan Kanada 2026 dengan rasa lapar akan gelar juara dunia yang tidak pernah terpuaskan. Tim ”Oranye” tiga kali menembus babak final Piala Dunia, pada 1974, 1978, dan 2010, tetapi semuanya hanya berakhir sebagai runner-up.
Kini, Ronald Koeman kembali datang ke Amerika Utara dengan singa-singa oranye yang penuh ambisi untuk merebut trofi juara untuk pertama kali. Koeman yang semasa menjadi pemain terkenal dengan tendangan geledeknya membawa kombinasi pemain-pemain senior berpengalaman dan pemain-pemain muda yang mulai memasuki usia matang sebagai pemain.
Mantan pelatih FC Barcelona itu meregenerasi pemain Belanda setelah hasil yang kurang memuaskan pada Piala Dunia 2018 dan 2022. Setelah menjadi runner-up pada 2010, Belanda masih dapat menjadi pemenang ketiga pada Piala Dunia 2014.
Tim Oranye hancur berantakan setelah gagal lolos ke Piala Dunia 2018. Mereka berusaha bangkit pada Piala Dunia 2022, tetapi menelan pil pahit setelah kalah dalam adu penalti dengan skor 3-4 (2-2) melawan Argentina, yang kemudian keluar sebagai juara.
Orang mungkin melihat kami bukan sebagai tim favorit yang akan menjuarai Piala Dunia. Namun, kekuatan Belanda adalah kami dapat mengalahkan siapa pun karena kemampuan skuad kami.
Oleh karena itu, Koeman ingin membangun tim yang lebih segar, lebih cepat, lebih kuat, dan lebih agresif dengan memasukkan para pemain muda, seperti Ryan Gravenberch (Liverpool/24), Brian Brobbey (Sunderland/24), Micky van den Ven (Tottenham/25), dan Lutsharel Geertruida (Sunderland/25).
Koeman menguji racikan pemain senior dan pemain muda itu pada Piala Eropa 2024 dan Liga Nasional UEFA 2024-2025. Pada Piala Eropa, Belanda sempat terseok-seok pada penyisihan grup sehingga hanya bisa lolos melalui jalur peringkat tiga terbaik. Namun, Virgil van Dijk dan rekan-rekan berhasil meniti jalan sampai ke semifinal, sebelum dihentikan Inggris dengan skor 1-2.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/06/90c0534d2b6d6224aabd3892b8f94cbc-FBL_WC_2026_NED_SQUAD_138587649.jpg)
Pada Liga Nasional UEFA, langkah Belanda juga terseok-seok karena kesulitan mendapatkan kemenangan. Dari enam laga, Belanda hanya menang dua kali, tiga kali imbang, dan sekali kalah. Meskipun lolos sebagai tim di posisi kedua, langkah Belanda akhirnya dihentikan Spanyol di perempat final melalui adu penalti dengan skor 4-5.
Meskipun belum berbuah trofi, Koeman tetap konsisten dengan formula yang disusunnya. Pelatih berusia 63 tahun itu mempelajari berbagai keberhasilan dan kegagalan timnya untuk menyusun formasi yang lebih baik.
Hasilnya terlihat pada kualifikasi Piala Dunia zona Eropa. Belanda tampil sangat agresif dan selalu mendominasi permainan sehingga tidak pernah terkalahkan dalam delapan laga, dengan enam kemenangan dan dua kali imbang. Produktivitas gol Oranye juga memukau dengan 27 gol dalam delapan laga atau rata-rata 3,375 gol per laga.
Selain lini serang yang tajam, Belanda juga memiliki benteng pertahanan yang luar biasa. Mereka hanya kebobolan empat gol dalam delapan laga atau hanya sekali kebobolan dalam dua laga. Dengan produktivitas gol yang tinggi dan pertahanan yang kuat, Belanda menorehkan surplus 23 gol.
Penampilan yang luar biasa itu meningkatkan kepercayaan diri Koeman menjelang Piala Dunia. Meskipun Belanda tidak dijagokan sebagai salah satu kandidat juara dunia, Koeman tetap yakin timnya mampu mengalahkan siapa pun yang menjadi lawan mereka.
”Orang mungkin melihat kami bukan sebagai tim favorit yang akan menjuarai Piala Dunia. Namun, kekuatan Belanda adalah kami dapat mengalahkan siapa pun karena kemampuan skuad kami,” kata Koeman kepada FIFA.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/06/b89be9fbe4f4a40e526e6ecd1b8d4fbe-FBL_NED_WC_2026_TRAINING_138683864.jpg)
Berbeda dengan tim-tim favorit juara yang memiliki pemain-pemain bintang yang cemerlang, Belanda tidak memiliki pemain bintang yang sangat berkilau. Namun, juara Piala Eropa 1988 itu memiliki skuad yang tangguh di setiap lini.
Sebagian besar pemain Belanda membela klub-klub Liga Inggris, Liga Italia, dan Liga Belanda. Sebagian kecil lainnya tersebar di Liga Jerman, Liga Perancis, Liga Turki, dan Liga Brasil.
Pengalaman bersaing di liga-liga yang kompetitif dan ditambah dengan kualitas teknik dan stamina yang prima membuat para pemain asal Belanda sering menjadi andalan di klub masing-masing. Pada posisi kiper, Bart Verbruggen dari Brighton & Hove Albion selalu menjadi andalan Oranye.
Di posisi bek, Micky van de Ven, Virgil van Dijk, Jurrien Timber, Nathan Ake, dan Denzel Dumfries menjadi andalan pertahanan Belanda. Kedisiplinan dan kecepatan mereka sering menyulitkan para pemain lawan untuk membawa bola sampai dekat kotak penalti.
Di lapangan tengah, Ryan Gravenberg, Frenkie de Jong, Tijjani Reijnders, dan Teun Koopmeiners kerap dimainkan untuk membantu mengalirkan bola ke lini depan dan sekaligus menjadi benteng pertama untuk menghambat serangan lawan.
Di lini depan, Belanda memiliki banyak pilihan. Cody Gakpo biasa beroperasi di sisi kiri dan Donyell Malen menusuk dari kanan. Posisi penyerang tengah bisa diisi oleh Wout Weghorst atau Memphis Depay. Semua pemain depan Belanda memiliki ketajaman dan insting mencetak gol yang tinggi.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/06/d1c60c4f8101e2d663aa09e025d69811-Netherlands_WCup_Soccer_138681142.jpg)
Tidak adanya pemain bintang yang terlalu dominan justru membuat lawan bakal kesulitan menjaga salah satu pemain kunci Belanda karena tim Oranye bisa mencetak gol dari semua sisi, termasuk dari luar kotak penalti, yang cukup sering mereka lakukan.
Sepanjang kualifikasi Piala Dunia dan laga persahabatan, Koeman memiliki dua formasi andalan, yaitu 4-3-3 dan 4-2-3-1. Formasi 4-2-3-1 selalu digunakan untuk menghadapi lawan-lawan yang dinilai lebih kuat atau setara, seperti Polandia, Finlandia, dan Norwegia. Adapun formasi 4-3-3 digunakan untuk melawan tim yang lebih lemah, seperti Malta, Lituania, dan Ekuador.
Saat menggunakan formasi 4-3-3, Cody Gakpo dan rekan-rekan bermain sangat ofensif dengan gaya total football andalan mereka. Garis pertahanan yang tinggi menyulitkan lawan untuk mengembangkan permainan. Apalagi, Belanda sering menggunakan taktik mengepung sisi yang diserang sehingga jumlah pemain mereka lebih banyak dibandingkan lawan yang sedang bertahan di sisi itu.
Saat menghadapi lawan yang setara atau lebih kuat, Belanda memilih memperkuat pertahanan terlebih dulu dengan formasi 4-2-3-1 sebelum menyusun serangan yang lebih efektif. Serangan lebih sering dialirkan melalui sayap sebelum menusuk ke kotak penalti. Dengan kemampuan transisi dari kiri ke kanan yang cepat dan akurat, Oranye sering mencetak gol dari ruang kosong yang tidak terlalu dijaga bek lawan karena mereka terlambat untuk kembali.
Saat pengumuman skuad Belanda pada Rabu (27/5/2026), gelandang Xavi Simons dan bek Jeremie Frimpong, yang sering ikut membela Belanda di kualifikasi Piala Dunia, tidak dipanggil oleh Koeman. Keduanya belum pulih dari cedera sehingga tidak mungkin diajak serta.
Di sisi lain, Memphis Depay, Justin Kluivert, dan Jurrien Timber kembali dipanggil ke timnas karena sudah pulih dari cedera yang mereka alami beberapa bulan terakhir. Gelandang West Ham, Crysencio Summerville, juga dipanggil untuk pertama kalinya ke timnas Belanda.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/06/043ac0524cf1a51fb618655e7a06be1d-FBL_WC_2026_NED_JERSEY_138816414.jpg)
Dengan kualitas pemain yang merata di setiap lini, Denzel Dumfries yakin Oranye akan mampu menjuarai Piala Dunia kali ini. Menurut Dumfries, kepercayaan diri dan mental rekan-rekannya sudah tumbuh pesat setelah ditempa dalam berbagai pertandingan.
”Kami lebih baik dibandingkan empat tahun lalu dan kami akan menunjukkannya. Kami hanya memiliki satu target, yaitu menjadi juara dunia. Kami ambil bagian untuk menang dan memiliki pemain untuk mewujudkannya. Namun, itu yang harus kami tunjukkan laga demi laga. Itu tidak mudah, tetapi kami akan melakukan segala yang bisa kami lakukan,” kata Dumfries. (AP)
Susunan pemain:
Kiper: Mark Flekken (Bayer Leverkusen), Robin Roefs (Sunderland), Bart Verbruggen (Brighton).
Bek: Nathan Ake (Manchester City), Virgil van Dijk (Liverpool), Denzel Dumfries (Inter Milan), Jorrel Hato (Chelsea), Jan Paul van Hecke (Brighton), Micky van de Ven (Tottenham), Jurrien Timber (Arsenal).
Gelandang: Ryan Gravenberch (Liverpool), Frenkie de Jong (Barcelona), Teun Koopmeiners (Juventus), Tijjani Reijnders (Manchester City), Marten de Roon (Atalanta), Guus Til (PSV Eindhoven), Quinten Timber (Marseille), Mats Wieffer (Brighton).
Penyerang: Brian Brobbey (Sunderland), Memphis Depay (Corinthians), Cody Gakpo (Liverpool), Justin Kluivert (Bournemouth), Noa Lang (Galatasaray), Donyell Malen (Roma), Crysencio Summerville (West Ham), Wout Weghorst (Ajax).
Penulis:
Emilius Caesar AlexeyEditor:
Prasetyo Eko Prihananto, Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra