PIALA DUNIA 2026

Inggris di Antara Ekspektasi dan Tekanan

Status unggulan selalu menyertai Inggris dalam setiap turnamen. Namun, hasil akhir selalu tak sejalan status mereka di tengah tekanan dan harapan tinggi publik.

10 Jun 2026 08:00 WIB · Olahraga

AP Photo/Rebecca Blackwell

Oleh Weshley Hutagalung, Pemimpin Redaksi Tabloid Bola 2017-2018

Berbicara di lapangan dengan prestasi bukan hanya menyita perhatian di media massa. Inggris adalah ”primadona” di setiap kejuaraan, mengikuti keriuhan kompetisi Liga Primer di negara tersebut. Akankah prestasi tim nasional Inggris sejalan dengan gegap gempita pemberitaan sebagai pencipta permainan sepak bola dengan kompetisi paling kompetitif di dunia?

Dua semifinal setelah mengangkat trofi Piala Dunia 1966 adalah pencapaian terbaik Inggris, tim yang selalu ramai dan gaduh di pemberitaan. Mungkin memang benar, tak mudah menjadi pesepak bola Inggris ketika ekspektasi terkadang menjadi beban dan menyampingkan kenyataan.

Banyak yang menyebut sulitnya Inggris berjaya di sebuah turnamen besar akibat pemainnya sudah keletihan berkompetisi semusim. Tentu hal ini dapat diperdebatkan karena banyak pemain dari negara lain membela klub-klub Inggris dan menjalani kompetisi yang sama, walaupun jumlahnya tidak mendominasi tim nasional mereka.

Jangan-jangan, ekspektasi tinggi dari publik Inggris menjadi salah satu kendala bagi para pemain untuk dapat tampil lepas, keluar dari tekanan, dan menikmati laga dengan menjalankan instruksi pelatih?

Ada juga anggapan bahwa pelatih ”The Three Lions” punya beban akibat kerap dihinggapi keragu-raguan dalam memutuskan strategi sesuai dengan pemain yang dibawanya. Banyak pertanyaan muncul seiring harapan yang kandas saat Inggris tampil di turnamen besar.

PALM BEACH GARDENS, FLORIDA - JUNE 05: Jude Bellingham of England on June 05, 2026 in Palm Beach Gardens, Florida.   Richard Pelham/Getty Images/AFP (Photo by Richard Pelham / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / Getty Images via AFP)

Perkasa dan eksperimen

Dalam perjalanan menuju Piala Dunia 2026, Inggris melalui fase grup dengan perkasa dan sempurna. Delapan kemenangan tanpa kebobolan, seolah menjanjikan kejayaan. Namun, ingat, lawan-lawan yang dihadapi Harry Kane dan kawan-kawan adalah Albania, Serbia, Latvia, dan Andorra.

Lalu, keragu-raguan itu mengintip dari balik jendela publik Inggris seusai melihat hasil uji coba Inggris saat imbang 1-1 melawan Uruguay dan kalah 0-1 menghadapi Jepang. Apalagi, kedua laga itu digelar di Stadion Wembley, London.

Tentu, keberanian Tuchel memainkan banyak pemain muda dan mencoba-coba komposisi baru di laga persahabatan tak bisa dijadikan patokan kekuatan Inggris, negara Eropa selain Jerman yang selalu berhasil keluar dari fase grup dalam empat Piala Dunia terakhir.

Quote

Racikan strategi dan pilihan pemain Tuchel harus mampu mengatasi kelelahan pemain Inggris, tim yang disebut menjalani kompetisi lebih berat dibandingkan para rival.

Bergabung bersama Kroasia, Ghana, dan Panama di Grup L Piala Dunia 2026, Inggris tetap menjadi favorit untuk menjadi juara grup, selama Tuchel menemukan racikan dan komposisi yang pas.

Di bawah kepemimpinan Tuchel, lini pertahanan Inggris sulit ditembus dan lini serang jauh lebih tajam. Tuchel juga telah melakukan pekerjaan yang baik dalam memanfaatkan talenta muda sambil tetap menjaga para pemain senior tetap fokus. Sebuah keseimbangan yang dulu terasa sangat sulit dicapai.

England forward Harry Kane (9) moves the ball in front of New Zealand forward Elijah Just (11) during the first half of an international friendly soccer match Saturday, June 6, 2026, in Tampa, Fla. (AP Photo/Chris O'Meara)

Memasuki tiga laga di Amerika Serikat dalam Grup L, kehebohan pemilihan skuad Inggris memang harus dijawab dengan pembuktian di lapangan. Bagaimanapun, pelatih adalah yang berkuasa memilih pemain dan yang akan mempertanggungjawabkan hasilnya di lapangan.

Dilema

Pencoretan Cole Palmer dan Phil Foden, talenta di jantung permainan, seperti mengingatkan publik akan dilema Inggris yang memiliki Steven Gerrard dan Frank Lampard. Kedua pemain itu dianggap sulit disatukan untuk melahirkan daya ledak kreativitas di sebuah turnamen yang jadwalnya padat.

Tuchel telah memutuskan memilih pasukan yang dapat bermain di lebih dari satu posisi dan siap untuk berbagai kemungkinan, termasuk duel adu penalti. Publik Inggris harus merelakan tim mereka berlaga tanpa Harry Maguire, Trent Alexander-Arnold, Cole Palmer, dan Phil Foden.

Memilih pemain untuk tampil di turnamen terbesar di dunia dengan ekspektasi dan tekanan luar biasa dari publik ternyata tidak melulu didasari faktor bakat. Tuchel menyebut beberapa elemen penentu yang diperlukan dan menjadi standar bagi timnas Inggris.

Tuchel membutuhkan pemain yang punya komitmen tinggi. Pemain yang berkarakter di dalam dan di luar lapangan. Skuad yang menjaga semangat dan kebersamaan tim serta menempatkan kepentingan tim di atas kepentingan pribadi.

England's head coach Thomas Tuchel walks on the practice pitch ahead of a training session for the national soccer team in Palm Beach Gardens, Fla., Tuesday, June 2, 2026, ahead of the World Cup soccer tournament. (AP Photo/Rebecca Blackwell)

Mungkin, yang tak ingin disampaikan Tuchel kepada publik adalah ia butuh pemain yang tidak takut dengan beban dan tekanan berat dari publik yang selalu mengikuti langkah mereka. Meskipun punya nama besar di klub, tak semua pesepak bola sanggup menjaga performa saat satu bangsa menumpahkan perhatian pada aksi mereka di lapangan.

Posisi Grup L

Kini, tak hanya publik Inggris, penggemar sepak bola di seluruh dunia akan menyoroti situasi Grup L. Racikan strategi dan pilihan pemain Tuchel harus mampu mengatasi kelelahan pemain Inggris, tim yang disebut menjalani kompetisi lebih berat dibandingkan para rival.

Game plan yang disusun pria Jerman, mantan Pelatih Chelsea dalam semusim (2021-2022), itu harus mampu mengatasi ketakutan para pemain akibat agresivitas publik yang sanggup mengusik keharmonisan ruang ganti.

Langkah pertama bertemu Kroasia bukan perjalanan mudah. Dari 11 pertemuan, Inggris memang punya enam kemenangan. Perjumpaan terakhir di Piala Eropa 2020 saat Gareth Southgate memegang komando, Inggris menang, 1-0.

Namun, ada catatan tiga kekalahan yang diterima Inggris dari Kroasia. Hasil buruk terakhir itu didapat di semifinal Piala Dunia 2018 saat Luka Modric dan kawan-kawan mengalahkan mereka dengan skor 2-1.

Infografik riset Perkembangan Total Hadiah Piala Dunia.

Jika lolos dari hadangan Kroasia, tak ada jaminan Inggris akan mudah mendapatkan poin penuh dari Ghana dan Panama untuk menjadi juara Grup L dan bertemu peringkat III dari Grup E/H/I/J/K.

Adalah lebih baik bagi Inggris terhindar sebagai runner-up Grup L karena di babak 32 besar harus bertemu runner-up Grup K yang dihuni Portugal, Kolombia, Uzbekistan, dan Republik Demokratik Kongo. Sekali lagi, bukan pekerjaan mudah bagi Tuchel untuk keluar dari tekanan besar publik Inggris.

Inggris adalah satu dari hanya delapan negara yang pernah mengangkat trofi Piala Dunia. Mampukah pasukan Tuchel menjawab ekspektasi besar publik Inggris dengan lebih dahulu menjuarai Grup L?

Skuad Inggris

Kiper: Jordan Pickford (Everton), Dean Henderson (Crystal Palace), James Trafford (Manchester City)

Bek: Reece James (Chelsea), Ezri Konsa (Aston Villa), Jarell Quansah (Bayer Leverkusen), John Stones (Manchester City), Marc Guéhi (Manchester City), Dan Burn (Newcastle United), Nico O'Reilly (Manchester City), Djed Spence (Tottenham Hotspur), Tino Livramento (Newcastle United)

Gelandang: Declan Rice (Arsenal), Elliot Anderson (Nottingham Forest), Kobbie Mainoo (Manchester United), Jordan Henderson (Brentford), Morgan Rogers (Aston Villa), Jude Bellingham (Real Madrid), Eberechi Eze (Arsenal)

Penyerang: Harry Kane (Bayern Muenchen), Ivan Toney (Al-Ahli), Ollie Watkins (Aston Villa), Bukayo Saka (Arsenal), Marcus Rashford (Manchester United), Anthony Gordon (Newcastle United), Noni Madueke (Arsenal)

Pelatih: Thomas Tuchel


Kerabat Kerja

Penulis:

Weshley Hutagalung, Pemimpin Redaksi Tabloid Bola 2017-2018
 | 

Editor:

Prasetyo Eko Prihananto, Yulvianus Harjono
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase