SEPAK BOLA

Panggung Para Pembeda di Piala Dunia 2026

Tim-tim garang rentan menghadapi strategi ”low block”. Pemain yang bisa menjadi pembeda hasil akhir bakal punya kans meraih trofi Bola Emas.

09 Jun 2026 10:00 WIB · Olahraga

AP/Andre Penner

Oleh I Gusti Agung Bagus Angga Putra

Seiring dengan menuanya pemain emas generasi lama, Piala Dunia 2026 menawarkan kemunculan bintang baru. Gelar pemain terbaik turnamen biasanya jatuh kepada mereka yang punya kontribusi besar membawa tim melaju sejauh mungkin. Untuk Piala Dunia kali ini, pemain yang bisa menjadi pembeda punya nilai tambah tersendiri.

Dalam Piala Dunia 10 edisi terakhir, penghargaan pemain terbaik biasanya melekat pada mereka yang mampu mengantarkan timnya melaju, paling tidak, hingga semifinal. Lionel Messi menjadi satu-satunya pemain yang pernah meraih penghargaan tersebut sebanyak dua kali. Penyerang klub Inter Miami itu menyiratkan akan bermain di Piala Dunia keenam sepanjang kariernya.

Namun, dengan usia yang kian menua, tanggung jawab lini serang Argentina tidak bisa hanya bertumpu pada Messi seorang. Apalagi, beberapa pekan menjelang Piala Dunia, Messi merasakan sakit pada bagian belakang pahanya saat membela Inter Miami dalam lanjutan Major League Soccer (MLS) Amerika Serikat. Pelatih Argentina Lionel Scaloni sejak jauh hari sudah menyiapkan senjata lain di lini depan, yaitu Julian Alvarez.

Pada edisi Piala Dunia sebelumnya, Alvarez terus berkembang menjadi lebih dari sekadar pencetak gol ulung. Dia merupakan pemain yang tidak malas dalam menekan lawan tanpa henti. Kekuatan fisiknya pun mengagumkan. Kekuatan itu dia gunakan untuk mengganggu irama permainan sekaligus mencegah lawan membangun serangan dari belakang. Peran Alvarez yang seperti itu menjadi komponen penting dalam sistem permainan Scaloni.

Atribut Alvarez semakin lengkap dengan kemampuan penyelesaian akhirnya yang mumpuni. Keterampilan Alvarez dalam mengeksekusi tendangan bebas juga kian meningkat. Kemampuannya dalam mengonversi tendangan bebas menjadi gol berperan dalam kemenangan penting Atletico Madrid pada laga pertama perempat final Liga Champions Eropa.

Croatia's goalkeeper #01 Dominik Livakovic (R) commits a foul on Argentina's forward #09 Julian Alvarez during the Qatar 2022 World Cup football semi-final match between Argentina and Croatia at Lusail Stadium in Lusail, north of Doha on December 13, 2022. (Photo by JACK GUEZ / AFP)

Kecerdasan taktis memungkinkan Alvarez beroperasi di berbagai peran saat menyerang. Di Atletico, Alvarez sering diminta mundur lebih dalam atau bergerak ke sisi sayap saat penyerang tengah Alexander Sorloth bermain. Ia telah mencetak 17 gol di semua kompetisi untuk Atletico Madrid musim ini, termasuk delapan gol di Liga Champions.

Bukan hal yang mengejutkan jika pemain seperti Alvarez menjadi favorit banyak pelatih, termasuk Scaloni. Saat sinar Messi kian mencapai titik redup, Alvarez bisa menjadi jawaban dari kebutuhan Argentina untuk mencetak gol. Kontribusi gol dan asis Alvarez di tim Argentina berada nomor dua setelah Messi dengan empat gol dan tiga asis. Dialah pemain yang dilahirkan sebagai pembeda.

”Dia melakukan apa yang diminta pelatih meskipun dia tidak selalu merasa nyaman dengan hal itu. Dia menjalankan tugasnya dan dia melakukannya dengan baik,” ujar Scaloni.

Sebagai juara bertahan, para calon lawan Argentina hampir pasti akan memilih bermain dengan garis pertahanan rendah. Dari sana, mereka akan mencari celah untuk melancarkan serangan balik. Situasi itu bisa dicegah jika Argentina setidaknya memiliki dua hal, memiliki pertahanan (rest defence) tangguh atau pemain yang bisa menjadi pemecah kebuntuan.

Alvarez memenuhi segala atribut untuk menjadi pemecah kebuntuan Argentina. Dia memiliki kualitas penyelesaian akhir yang bagus sekaligus piawai memanfaatkan tendangan bebas.

Infografik Top Scorer dengan Gelar Piala Dunia

Fleksibilitas

Dalam level yang nyaris serupa, fleksibilitas Alvarez bisa ditandingi oleh Raphinha dari Brasil. Dua negara raksasa sepak bola Amerika Latin tersebut memang sumber pesepak bola berbakat yang bisa bermain di banyak posisi. Di samping piawai bermain di sayap kiri, Raphinha juga bisa ditempatkan pada posisi gelandang serang dan sayap kanan.

Saat membela Barcelona, Raphinha tidak jarang diminta bermain di sayap kiri dan kanan sesuai dengan kebutuhan. Semua peran itu dijalankannya dengan sempurna. Di mana pun Raphinha ditempatkan, pergerakannya senantiasa membahayakan gawang lawan.

Berkat kemampuan itu pula Raphinha telah mengoleksi 13 gol dan 3 asis di Barcelona musim ini. Capaian itu menjadikannya pemain ketiga dengan keterlibatan gol terbanyak di tim.

Quote

Selain tenang ketika menerima ’pressing’, Olise juga hebat dalam duel satu lawan satu.

Seperti Alvarez, Raphinha juga layak diperhitungkan untuk meraih gelar pemain terbaik Piala Dunia. Alvarez boleh unggul dari segi penyelesaian akhir dan kemampuan eksekusi bola mati, tetapi Raphinha sangat piawai dalam duel satu lawan satu dan kecepatan.

Manuvernya kerap menarik pergerakan lawan sehingga memungkinkan rekannya untuk mengeksploitasi ruang terbuka. Kemampuan seperti itu sangat berguna untuk memecah garis pertahanan rendah lawan.

NEW YORK, NEW YORK - JUNE 3: Raphinha #11 of Brazil with the ball during training at Columbia Park Training Facility on June 3, 2026 in Morristown, New Jersey.   Ira L. Black/Getty Images/AFP (Photo by Ira L. Black / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / Getty Images via AFP)

”Dia mampu membuka ruang di lapangan dan memiliki kualitas yang luar biasa. Bermain bersamanya membuat pekerjaan saya jauh lebih mudah,” ucap penyerang sayap Brasil Vinicius Junior, dikutip dari laman FIFA.

Kontribusi Raphinha dalam meloloskan Brasil ke Piala Dunia tergolong besar. Dia menjadi pencetak gol terbanyak Brasil dengan koleksi lima gol. Pencapaian itu cukup menarik mengingat posisi Raphinha sebagai pemain sayap, bukan penyerang tengah yang lebih dekat dengan gawang.

Jika Raphinha dan Alvarez punya pengalaman tampil di Piala Dunia, beda halnya dengan Michael Olise. Pemain sayap kanan Perancis ini berkesempatan debut pada Piala Dunia 2026. Olise menjelma semacam fenomena menarik musim ini dengan turut mengantarkan Bayern Muenchen ke semifinal Liga Champions.

Bersama Ousmane Dembele dan Kylian Mbappe, keberadaan Olise menjadikan lini serang timnas Perancis sebagai salah satu yang ditakuti. Selain tenang ketika menerima pressing, Olise juga hebat dalam duel satu lawan satu.

Bermain di sayap, umpan silang Olise sangat akurat sehingga memudahkan penyerang mengonversinya menjadi gol. Musim ini Olise telah mengoleksi 30 asis di semua kompetisi. Capaian itu menjadikannya pemain Perancis dengan asis terbanyak untuk satu klub di lima liga top Eropa.

France's forward #11 Michael Olise celebrates scoring his team's first goal during the 2026 World Cup qualifiers Europe zone group D football match between Ukraine and France, on September 5, 2025 in Wroclaw, Poland. (Photo by FRANCK FIFE / AFP)

”Dia menawarkan fluiditas yang nyata bagi kami. Kemampuan teknisnya membuatnya mampu menghadirkan perbedaan. Dia memiliki potensi yang sangat besar,” kata Pelatih Perancis Didier Deschamps.

Piala Dunia 2026 menjadi panggung tarian terakhir bagi bintang besar masa lalu seperti Cristiano Ronaldo, Luka Modric, dan Lionel Messi. Di sisi lain, akan ada bintang-bintang baru yang siap menggantikan mereka. Olise adalah salah satunya. (REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

I Gusti Agung Bagus Angga Putra
 | 

Editor:

Wisnu Aji Dewabrata, Yulvianus Harjono
 | 

Penyelaras Bahasa:

Yuliana Karim