Sekitar 10 menit berlalu, Andro (40) baru menempuh jarak kurang dari 2 kilometer. Ia berhenti melemaskan otot tangan yang lelah menahan setang sepeda motor. Keringat mengucur di bawah terik yang menghujam jalanan tanpa peneduh.
”Macam baru selesai kerja angkat batu. Capek sekali. Rasa lapar memang, padahal tadi baru sarapan,” ujar Andro, Senin (26/5/2025) pagi. Ia baru saja melewati jalan dari Desa Manulea menuju Betun, ibu kota Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur.
Tenaga Andro terkuras lantaran melewati jalanan rusak berat. Batu-batu lepas berhamburan di hampir semua badan jalan. Saat turunan, dengan sekuat tenaga ia menahan setang agar tetap stabil jika ban depan melindas batu atau terperosok ke lubang.
Ketika tanjakan menghadang, ia berhenti mengambil ancang-ancang. Di tanjakan banyak batu lepas dan batu yang menyembul. Tarikan pedal gas harus stabil, motor harus bertenaga, dan tentu si pengemudi harus lincah.
”Pas musim hujan masih mendingan karena batu-batu tertanam. Kalau musim kemarau seperti sekarang, batu-batu lepas dan panas terik. Melelahkan. Puluhan tahun kami sangat menderita lewati jalan ini,” tutur Andro.
Puluhan tahun kami sangat menderita melewati jalan ini.
Jarak Manulea ke Betun 15 kilometer. Sekitar 30 tahun lalu ruas jalan tersebut pernah diaspal. Namun, lantaran kualitas pengaspalan buruk, jalan mulus tidak bertahan lama. Kurang dari enam bulan, aspal terkelupas di sana-sini, mulai berlubang, lalu hancur. Kini tak ada lagi jejak aspal.
Ruas jalan Manuela-Betun merupakan jalan provinsi yang pengerjaannya menggunakan anggaran pendapatan dan belanja daerah provinsi. Berulang kali masyarakat mengutarakan harapan agar jalan tersebut diperbaiki, tetapi belum ada hasil. Mereka masih berjibaku kala melintas di jalan itu.
Padahal, ruas jalan tersebut digunakan lebih dari 20.000 jiwa yang tersebar di tiga kecamatan. Untuk pergi ke Betun, mereka harus melewati jalan rusak. Selain sebagai pusat pemerintahan, Betun adalah pusat ekonomi dan layanan kesehatan berada.
Bagi pasien, jalan rusak semakin memperparah kondisi mereka lantaran guncangan ambulans. ”Banyak pasien rujukan dari puskesmas tidak bisa tertolong karena kondisi jalan. Tidak ada lagi pilihan jadi terpaksa lewat sini. Intinya, kuat berdoa,” ujar Ferdy (35), warga lain.
Pinggiran kota
Ruas jalan Manuela-Betun, yang berjarak lebih kurang 250 kilometer dari Kupang, ibu kota Provinsi NTT, bisa jadi belum diperhatikan lantaran jauh dari sorotan mata elite pemerintah provinsi. Nyatanya, ruas jalan provinsi yang berada di pinggiran Kota Kupang banyak juga yang belum beres.
Sebut saja di Kecamatan Taebenu atau Kecamatan Nekamese, Kabupaten Kupang. Banyak ruas jalan rusak bertahun-tahun tak kunjung diperbaiki. Setiap hari, ribuan orang menggunakan jalan itu ke Kota Kupang untuk berjualan dan berobat.
Begitu pula akses ke sejumlah kecamatan di daerah Amfoang, sisi barat Kabupaten Kupang. Banyak titik tak memiliki jembatan. Jika hujan, kendaraan tidak bisa lewat. Sering kali pelintas tidur di pinggir sungai menunggu sampai permukaan air turun.
”Setiap pengendara biasa bawa kompor, alat makan, dan makanan. Pernah kami tidur di pinggir sungai sampai tiga malam. Bayangkan kalau ada orang sakit darurat,” ucap Marsel Timu (40), sopir bus.
Banyaknya jalan rusak diakui Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat NTT Benyamin Nahak dalam acara bincang-bincang dengan awak media pekan lalu. Ia pun merinci kondisi jalan yang berada di bawah tanggung jawab Pemprov NTT.
Setiap pengendara biasa bawa kompor, alat makan, dan makanan. Pernah kami tidur di pinggir sungai sampai tiga malam. Bayangkan kalau ada orang sakit darurat.
Hingga Mei 2025, jalan dengan kondisi tidak mantap sepanjang 728,03 km, dengan kategori rusak berat 357,49 km dan rusak ringan 370,54 km. Untuk biaya perbaikan, Rp 4,8 miliar per km untuk rusak berat dan Rp 2,8 miliar untuk rusak ringan. Total anggaran yang dibutuhkan untuk perbaikan Rp 2,7 triliun.
Adapun jalan dalam kondisi mantap sepanjang 1.910,84 km, yang juga butuh perawatan dengan biaya Rp 150 juta per km. Total biaya untuk perawatan rutin dimaksud sebesar Rp 285,276 miliar.
Benyamin mengakui, perbaikan jalan tidak bisa berjalan cepat lantaran keterbatasan anggaran. Terlebih, sejak Januari 2025, pemerintah pusat memotong dana transfer ke daerah yang selama ini menjadi tumpuan pemerintah daerah.
Hingga kini belum dipastikan kapan jalanan yang rusak berat di NTT akan diperbaiki. Yang pasti, efisiensi bakal membuat lubang jalan yang rusak itu kian dalam dari hari ke hari.
Sekitar 10 menit berlalu, Andro (40) baru menempuh jarak kurang dari 2 kilometer. Ia berhenti melemaskan otot tangan yang lelah menahan setang sepeda motor. Keringat mengucur di bawah terik yang menghujam jalanan tanpa peneduh.
”Macam baru selesai kerja angkat batu. Capek sekali. Rasa lapar memang, padahal tadi baru sarapan,” ujar Andro, Senin (26/5/2025) pagi. Ia baru saja melewati jalan dari Desa Manulea menuju Betun, ibu kota Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur.
Tenaga Andro terkuras lantaran melewati jalanan rusak berat. Batu-batu lepas berhamburan di hampir semua badan jalan. Saat turunan, dengan sekuat tenaga ia menahan setang agar tetap stabil jika ban depan melindas batu atau terperosok ke lubang.
Ketika tanjakan menghadang, ia berhenti mengambil ancang-ancang. Di tanjakan banyak batu lepas dan batu yang menyembul. Tarikan pedal gas harus stabil, motor harus bertenaga, dan tentu si pengemudi harus lincah.
”Pas musim hujan masih mendingan karena batu-batu tertanam. Kalau musim kemarau seperti sekarang, batu-batu lepas dan panas terik. Melelahkan. Puluhan tahun kami sangat menderita lewati jalan ini,” tutur Andro.
Puluhan tahun kami sangat menderita melewati jalan ini.
Jarak Manulea ke Betun 15 kilometer. Sekitar 30 tahun lalu ruas jalan tersebut pernah diaspal. Namun, lantaran kualitas pengaspalan buruk, jalan mulus tidak bertahan lama. Kurang dari enam bulan, aspal terkelupas di sana-sini, mulai berlubang, lalu hancur. Kini tak ada lagi jejak aspal.
Ruas jalan Manuela-Betun merupakan jalan provinsi yang pengerjaannya menggunakan anggaran pendapatan dan belanja daerah provinsi. Berulang kali masyarakat mengutarakan harapan agar jalan tersebut diperbaiki, tetapi belum ada hasil. Mereka masih berjibaku kala melintas di jalan itu.
Padahal, ruas jalan tersebut digunakan lebih dari 20.000 jiwa yang tersebar di tiga kecamatan. Untuk pergi ke Betun, mereka harus melewati jalan rusak. Selain sebagai pusat pemerintahan, Betun adalah pusat ekonomi dan layanan kesehatan berada.
Bagi pasien, jalan rusak semakin memperparah kondisi mereka lantaran guncangan ambulans. ”Banyak pasien rujukan dari puskesmas tidak bisa tertolong karena kondisi jalan. Tidak ada lagi pilihan jadi terpaksa lewat sini. Intinya, kuat berdoa,” ujar Ferdy (35), warga lain.
Pinggiran kota
Ruas jalan Manuela-Betun, yang berjarak lebih kurang 250 kilometer dari Kupang, ibu kota Provinsi NTT, bisa jadi belum diperhatikan lantaran jauh dari sorotan mata elite pemerintah provinsi. Nyatanya, ruas jalan provinsi yang berada di pinggiran Kota Kupang banyak juga yang belum beres.
Serial Artikel
Jalan Negara Kupang-Timor Leste Nyaris Putus, Pemerintah Dinilai Lamban
Lebih dari satu bulan jalan rusak itu tak kunjung diperbaiki. Masyarakat menduga negara sedang tidak punya anggaran.
Sebut saja di Kecamatan Taebenu atau Kecamatan Nekamese, Kabupaten Kupang. Banyak ruas jalan rusak bertahun-tahun tak kunjung diperbaiki. Setiap hari, ribuan orang menggunakan jalan itu ke Kota Kupang untuk berjualan dan berobat.
Begitu pula akses ke sejumlah kecamatan di daerah Amfoang, sisi barat Kabupaten Kupang. Banyak titik tak memiliki jembatan. Jika hujan, kendaraan tidak bisa lewat. Sering kali pelintas tidur di pinggir sungai menunggu sampai permukaan air turun.
”Setiap pengendara biasa bawa kompor, alat makan, dan makanan. Pernah kami tidur di pinggir sungai sampai tiga malam. Bayangkan kalau ada orang sakit darurat,” ucap Marsel Timu (40), sopir bus.
Banyaknya jalan rusak diakui Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat NTT Benyamin Nahak dalam acara bincang-bincang dengan awak media pekan lalu. Ia pun merinci kondisi jalan yang berada di bawah tanggung jawab Pemprov NTT.
Setiap pengendara biasa bawa kompor, alat makan, dan makanan. Pernah kami tidur di pinggir sungai sampai tiga malam. Bayangkan kalau ada orang sakit darurat.
Hingga Mei 2025, jalan dengan kondisi tidak mantap sepanjang 728,03 km, dengan kategori rusak berat 357,49 km dan rusak ringan 370,54 km. Untuk biaya perbaikan, Rp 4,8 miliar per km untuk rusak berat dan Rp 2,8 miliar untuk rusak ringan. Total anggaran yang dibutuhkan untuk perbaikan Rp 2,7 triliun.
Adapun jalan dalam kondisi mantap sepanjang 1.910,84 km, yang juga butuh perawatan dengan biaya Rp 150 juta per km. Total biaya untuk perawatan rutin dimaksud sebesar Rp 285,276 miliar.
Benyamin mengakui, perbaikan jalan tidak bisa berjalan cepat lantaran keterbatasan anggaran. Terlebih, sejak Januari 2025, pemerintah pusat memotong dana transfer ke daerah yang selama ini menjadi tumpuan pemerintah daerah.
Hingga kini belum dipastikan kapan jalanan yang rusak berat di NTT akan diperbaiki. Yang pasti, efisiensi bakal membuat lubang jalan yang rusak itu kian dalam dari hari ke hari.
Serial Artikel
Alasan Administrasi, Jalan Rusak Indonesia-Timor Leste Tak Kunjung Diperbaiki
Masyarakat Transportasi Indonesia mendorong perlunya diskresi. Ini sebagai respons mendesak yang mesti dilakukan.