Efisiensi Tottenham dan volume MU di lini serang berada pada level yang setara. MU lebih diuntungkan karena tren performa dan laga yang berlangsung di stadion lawan.
08 Nov 2025 06:05 WIB · Olahraga
AP
LONDON, JUMAT — Jika dilihat tren musim ini, laga Tottenham Hotspur dan Manchester United akan mirip dengan gambaran final Liga Europa musim lalu. Hanya saja, hasil akhir mungkin berbalik karena MU sedang berapi-api, sementara Tottenham masih berjibaku dengan anomali laga kandang.
Duel ulangan final Liga Europa itu akan tersaji di Stadion Tottenham Hotspur, London, Inggris, Sabtu (8/11/2025) pukul 19.30 WIB. Terakhir bertemu pada akhir Mei lalu, skuad Tottenham yang dipimpin Pelatih Ange Postecoglou sukses mengangkat trofi di hadapan para pemain MU.
Tottenham menjuarai Liga Europa karena lebih efisien. Mereka menang 1-0 dengan hanya menghasilkan tiga tembakan selama 90 menit. Hanya satu yang tepat sasaran. Saat bersamaan, MU gagal mencetak gol walaupun mencatat 16 tembakan dengan enam kali di antaranya tepat sasaran.
Kisah bertajuk efisiensi dan volume itu mencuat lagi jelang pertemuan terbaru kedua tim. Tottenham dan MU sama-sama sudah mencetak 17 gol di liga musim ini. Bedanya, Tottenham tercatat sebagai tim dengan tembakan paling sedikit kedua (97 kali), sementara MU terbanyak kedua (153 kali).
Konversi gol mereka pun terpisah bagai bumi dan langit. Saat Tottenham menjadi tim paling efisien dengan konversi mencapai 17,8 persen, MU menempati peringkat ke-11 (11,1 persen). Tottenham bisa mempertahankan efisiensi di laga final walaupun sudah berganti pelatih ke Thomas Frank.
Tim tuan rumah boleh saja lebih efisien. Namun, dengan volume serangan lebih banyak, MU juga mampu menghasilkan produksi gol serupa. Pelatih MU Ruben Amorim mengingatkan, senjata mereka di lini depan sudah lebih lengkap dibandingkan laga final di Bilbao dengan kehadiran penyerang baru, seperti Bryan Mbeumo dan Benjamin Sesko.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/08/18/37b80940-9a6a-4cf9-9abe-b99ff10d424f_jpeg.jpg)
”Kami memiliki karakteristik yang berbeda dalam tim kami, tetapi juga punya banyak pemain yang bermain tahun lalu. Jadi, kami adalah tim yang lebih baik. Saya mengharapkan laga berbeda kali ini, di mana kami bisa bermain lebih baik dan juga memiliki sedikit keberuntungan,” kata Amorim.
Tim tamu datang tepat setelah pengumuman Amorim sebagai peraih penghargaan Manajer Terbaik Bulanan Liga Inggris edisi Oktober. Sang pelatih sukses mengantar MU menang tiga kali beruntun selama bulan tersebut, salah satunya kemenangan langka atas Liverpool di Stadion Anfield.
Wajar jika ”Si Setan Merah”, julukan MU, sedikit diunggulkan di stadion lawan. Apalagi, Tottenham baru saja mengalami kekalahan 0-1 dari Chelsea di kandang sendiri, pekan lalu. Kekalahan itu menggarisbawahi permainan tim asuhan Frank yang terpaut tipis antara efisien dan terlampau hati-hati.
”Si Lili Putih”, julukan Tottenham, hanya menghasilkan tiga tembakan ketika versus Chelsea. Formasi 4-2-3-1 ala Frank tampak terlalu statis, terutama keberadaan dua gelandang jangkar Joao Palhinha dan Rodrigo Bentancur yang sangat jarang melakukan umpan progresif.
Kehati-hatian itu membuat Tottenham sering kehilangan api di depan pendukung sendiri. Tidak heran, rekor kandang mereka sangat buruk sejak awal musim, yaitu hanya sekali menang dari lima pertandingan liga. Padahal, mereka berstatus tim tandang dengan rekor terbaik di liga (4 menang, 1 seri).
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/22/04db1d81efe87e1fb3bbeaafe49334f1-wires_photo_2025_05_22T123518.586.jpg)
Frank berkata, pendekatan laga nanti akan berbeda, tampil ofensif merupakan pilihan terbaik untuk mencegah serangan berbahaya MU. ”Mereka memiliki tiga pemain depan yang sangat berbahaya sehingga kami perlu menutup mereka. Kami akan memastikan mereka lebih banyak berlari mundur karena kami terus menyerang,” ujarnya.
Di sisi lain, MU harus berhati-hati menghadapi ancaman tuan rumah. Tottenham memiliki senjata rahasia lewat bek tengah Micky van de Ven yang sudah menghasilkan tiga gol di liga. Jumlah gol itu sama dengan jumlah gabungan gol dua penyerang MU, Sesko dan Matheus Cunha.
Februari lalu, di stadion yang sama, Van de Ven menciptakan asis fenomenal dengan melewati sejumlah pemain MU dari tengah lapangan. Aksi seperti itu diulangi sang bek dalam laga tengah pekan lalu versus FC Copenhagen. Bedanya, dia mencetak gol seorang diri setelah melewati banyak pemain.
Pertahanan MU yang dipimpin bek tengah tim nasional Belanda, Matthijs de Ligt, patut menjadi sorotan. Mereka sudah kemasukan 16 gol dan baru mencatat sekali nirbobol di liga. Rekor kemasukan itu hanya lebih baik dari lima tim di posisi terbawah klasemen, antara lain Leeds United dan Burnley.
”Kami perlu bertahan lebih baik, kami perlu lebih agresif. Ketika kami memiliki energi penuh dalam setiap perebutan bola, kami bertahan lebih baik. Semuanya saling terkait. Tentu, kami tidak boleh kebobolan sebanyak ini dan itu adalah hal yang perlu kami perbaiki,” jelas Amorim. (AP/REUTERS)
Penulis:
Kelvin HianusaEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan