KLIMATOLOGI

El Nino Sudah Terbit di Samudra Pasifik, Kemarau Akan Lebih Kering

Fenomena El Nino yang terjadi berbarengan dengan masuknya musim kemarau di Indonesia ini bakal meningkatkan suhu dan lebih kering.

25 Apr 2026 09:46 WIB · Lingkungan

KOMPAS/AGUS SUSANTO

Oleh Ahmad Arif

JAKARTA, KOMPAS — Suhu permukaan laut Pasifik Khatulistiwa telah meningkat dengan cepat, menandai kondisi El Nino yang diprediksi bakal mulai antara Mei-Juli 2026. Fenomena El Nino yang terjadi berbarengan dengan masuknya musim kemarau di Indonesia ini bakal meningkatkan suhu permukaan daratan dan lebih kering.

”Pemantauan terbaru menunjukkan, El Nino sudah terbit di Samudra Pasifik. Anomali suhu permukaan laut di wilayah tersebut menunjukkan 0,57 derajat celsius,” kata Koordinator Bidang Iklim Terapan Direktorat Layanan Iklim Terapan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Siswanto, Sabtu (25/4/2026).

Menurut Siswanto, sebagian besar hasil pemodelan memperkirakan El Nino kali ini dalam kategori lemah sampai moderat. Namun, ada juga pemodelan yang menyebutkan peluang El Nino bisa dalam kategori kuat dan sangat kuat. ”Paling meyakinkan, kekuatannya lemah-moderat-kuat,” katanya.

Dengan terjadinya El Nino, menurut prediksi BMKG, kondisi musim kemarau di Indonesia kali ini pada umumnya bakal lebih kering dari biasanya. ”Puncak kering diprediksi di bulan Agustus dan bakal lebih kering daripada 2023, namun kemungkinan tidak akan lebih kering dibandingkan 2019,” kata Siswanto.

Anomali suhu di Pasifik Tropis yang lebih panas, yang menjadi indikator terjadinya El Nino

El Nino merupakan fase berlawanan dari La Nina dalam El Nino-Southern Oscillation (ENSO) atau pola iklim paling kuat di Bumi. Peristiwa ini membentuk kembali cuaca global serta memengaruhi curah hujan, kekeringan, dan peristiwa ekstrem di sejumlah wilayah.

El Nino ditandai dengan pemanasan suhu permukaan laut di Pasifik Khatulistiwa bagian tengah dan timur. Kondisi ini berdampak terhadap intensitas hujan yang lebih sedikit untuk wilayah Indonesia. Peristiwa ini biasanya terjadi setiap dua hingga tujuh tahun dan berlangsung sembilan hingga dua belas bulan.

Quote

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani, dalam perkiraan musim bulan Maret 2026 lalu, mengingatkan, kemarau tahun ini diprediksi datang lebih awal.

Sebelumnya, Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani, dalam perkiraan musim bulan Maret 2026 lalu, mengingatkan, kemarau tahun ini diprediksi datang lebih awal. Daerah yang paling awal mengalami musim kemarau adalah Nusa Tenggara, kemudian bergerak secara bertahap ke arah barat hingga mencakup wilayah Indonesia lainnya.

Tak hanya datang lebih awal, Faisal juga memperingatkan bahwa musim kemarau tahun ini akan lebih panjang dan lebih kering dibandingkan dengan rata-rata.

Buruh tani menjemur dan mengepak panen padi di Desa Manggungjaya, Kecamatan Cilamaya Kulon, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Selasa (21/4/2026). harga gabah kering panen (GKP) di tingkat petani di kawasan tersebut dijual Rp 7.200 per kilogram. Harga gabah kering panen (GKP) di tingkat petani di kawasan tersebut dijual Rp 7.200 per kilogram. Berdasarkan hasil Kerangka Sampel Area Padi Amatan Februari 2026, Badan Pusat Statistik (BPS) memperkirakan produksi beras nasional pada Januari-Mei 2026 sebanyak 16,57 juta ton. Volume produksi itu turun 376.292 ton atau 2,22 persen dibandingkan dengan realisasi produksi pada Januari-Mei 2025. El Nino, yang diprediksi memicu kemarau ekstrem tahun ini, berpotensi mengganggu produksi dan ketersediaan pangan. Kerentanan pada sektor pangan semakin bertambah dengan adanya perang yang menyebabkan krisis energi dan terganggunya rantai pasok internasional untuk komoditas. Namun, Kementerian Pertanian menyatakan, stok pangan nasional memadai selama masa El Nino. Stok beras disebut-sebut cukup untuk 11 bulan ke depan.


KOMPAS/AGUS SUSANTO
21-4-2026

Diprediksi Mei-Juli

Laporan Bulanan Terbaru tentang Iklim Musiman Global dari Organisasi Meteorologi Dunia (WMO), yang dikeluarkan pada Jumat (24/4/2026), juga menunjukkan pergeseran jelas di Pasifik Khatulistiwa. Suhu permukaan laut meningkat dengan cepat. Hal ini menunjukkan kemungkinan kembalinya kondisi El Nino yang diprediksi paling cepat pada Mei-Juli 2026.

”Setelah periode kondisi netral di awal tahun, model iklim sekarang sangat selaras, dan ada keyakinan tinggi akan dimulainya El Nino, diikuti oleh intensifikasi lebih lanjut di bulan-bulan berikutnya,” kata Wilfran Moufouma Okia, Kepala Prediksi Iklim WMO.

Menurut Okia, model menunjukkan bahwa El Nino kali ini mungkin merupakan peristiwa yang kuat. ”Kepercayaan prakiraan (mengenai kekuatan El Nino) umumnya meningkat setelah April,” katanya.

Okia juga menegaskan, WMO tidak menggunakan istilah ”super El Nino” atau ”El Nino Godzilla” karena bukan bagian dari klasifikasi operasional standar.

Dampak positif dan negatif El Nino

Peristiwa El Nino memengaruhi pola suhu dan curah hujan di sejumlah wilayah dan biasanya memiliki efek pemanasan pada iklim global dengan puncaknya hingga setahun setelahnya. Dengan demikian, tahun 2024 adalah tahun terpanas yang pernah tercatat karena kombinasi El Nino 2023-2024 yang kuat dan perubahan iklim akibat aktivitas manusia dari gas rumah kaca.

Quote

Secara global, peristiwa El Nino biasanya dikaitkan dengan peningkatan curah hujan di sebagian Amerika Selatan bagian selatan.

Menurut Okia, sejauh ini tidak ada bukti bahwa perubahan iklim meningkatkan frekuensi atau intensitas peristiwa El Nino. Namun, hal itu dapat memperkuat dampak terkait karena lautan dan atmosfer yang lebih hangat meningkatkan ketersediaan energi dan kelembaban untuk peristiwa cuaca ekstrem seperti gelombang panas dan curah hujan lebat.

Secara global, peristiwa El Nino biasanya dikaitkan dengan peningkatan curah hujan di sebagian Amerika Selatan bagian selatan, Amerika Serikat bagian selatan, Tanduk Afrika, dan Asia Tengah, serta kekeringan di Australia, Indonesia, dan sebagian Asia Selatan.

Selama musim panas di belahan Bumi utara, air hangat El Nino dapat memicu badai di Samudra Pasifik bagian tengah/timur, sementara menghambat pembentukan badai di Cekungan Atlantik.

Warga menghindari asap fogging di RW 05, Sunter Agung, Jakarta Utara, Selasa (8/8/2023). Kegiatan fogging ini sebagai upaya untuk mencegah meluasnya demam berdarah dengue (DBD). Sebelumnya, salah seorang warga di RW 05 terkena DBD. Masyarakat harus mewaspadai akan ancaman DBD saat musim kemarau. Dampak El Nino berpotensi meningkatkan kasus DBD. Nyamuk akan semakin mudah berkembang biak saat berada di suhu yang hangat. Frekuensi gigitan nyamuk dapat meningkat 3-5 kali lipat jika suhu di atas 30 derajat. KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN (FAK) 08-08-2023

Dalam laporan ini, WMO juga menerbitkan Pembaruan Iklim Musiman Global bulanan yang memperhitungkan ENSO dan pendorong iklim utama lainnya, seperti Osilasi Atlantik Utara, Mode Annular Selatan, atau Dipol Samudra Hindia.

Untuk musim Mei-Juni-Juli, suhu permukaan daratan diperkirakan akan berada di atas normal hampir di mana-mana. Sinyalnya sangat kuat di Amerika Utara bagian selatan, Amerika Tengah, Karibia, Eropa, dan Afrika Utara.


Kerabat Kerja

Penulis:

Ahmad Arif
 | 

Editor:

Madina Nusrat
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nanik Dwiastuti