Pandangan Musk yang pro izin tinggal dan bekerja untuk imigran berketerampilan khusus ditentang karena tidak "America First".
28 Des 2024 20:03 WIB · Internasional
Setelah menggembar-gemborkan kebebasan berekspresi tanpa syarat dan batas, pemilik media sosial X, Elon Musk, kini malah dihujat oleh warganet. Ia dianggap pilih kasih dan berkhianat. Sebab, ia mendukung program pemberian visa untuk imigran resmi berkemampuan khusus.
Pada Sabtu (28/12/2024), Musk mencabut emblem verifikasi X di akun-akun milik Matt Gaetz, Laura Loomer, dan Ann Coulter. Mereka adalah politikus, pegiat, dan pendengung (buzzer) ultrakonservatif yang mendukung presiden terpilih Amerika Serikat Donald Trump.
”Apanya yang pendukung kebebasan berekspresi? Elon Musk itu penipu,” kata Loomer, dikutip oleh CNN.
Emblem verifikasi akun X dikenal juga dengan istilah centang biru. Simbol ini menandakan pemilik akun adalah orang atau lembaga yang sah.
Centang biru akun saya dan teman-teman dihapus oleh orang yang katanya pro kebebasan berekspresi.
Pada konteks Loomer sebagai seorang pendengung, adanya centang biru memungkinkan ia menjadikan sebagian konten di akun X-nya eksklusif. Artinya, hanya bisa diakses oleh pengikut yang membayar uang langganan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/11/13/eed20c06b6194fb1f133615ac753c4ae-000_36M99YX.jpg)
Akun X Loomer juga memungkinkan pihak ketiga memasang iklan ataupun unggahan bersponsor. Ia memiliki 1,4 juta pengikut di pelantar media sosial tersebut.
Sementara itu, media Daily Beast mencatat keluhan dari berbagai organisasi ultrakanan pendukung Trump. Mereka antara lain adalah Ketua Pemuda Republikan New York, Komite Aksi Politik (PAC) Conservatives, dan InfoWars. Sejauh ini, ada 53 pemilik akun di X yang mengatakan centang biru mereka dihapus oleh Musk.
”Centang biru akun saya dan teman-teman dihapus oleh orang yang katanya pro kebebasan berekspresi. Dia juga mengata-ngatai kita idiot,” cuit Preston Parra, Ketua PAC Conservatives.
Semua keributan ini bermula dari polemik visa H-1B. Ini adalah izin tinggal dan bekerja di AS untuk warga negara asing yang memiliki keterampilan khusus. Misalnya, keahlian di bidang-bidang yang diperlukan untuk pembangunan ekonomi, teknologi, penelitian, dan pengembangan di sana.
Semua mengidolakan raja dan ratu pesta dansa atau atlet paling gagah di sekolah. Tidak ada yang memuji anak pintar. Budaya ini tidak akan menciptakan insinyur andal.
Trump selama kampanye pemilihan presiden mengatakan hendak mengembalikan kejayaan perekonomian AS. Caranya ialah menaikkan tarif impor agar semua kapasitas produksi dilakukan di dalam negeri. Ia juga mengatakan ingin menghentikan semua arus imigran gelap yang masuk AS.
Namun, pada saat yang sama, mengembalikan kejayaan industri AS memerlukan sumber daya manusia yang mumpuni. Meskipun begitu, para pendukung Trump yang sangat konservatif menolak segala wacana mengizinkan pemberian visa H-1B kepada imigran sah berketerampilan khusus.
Pandangan itu dikritik oleh Elon Musk dan pengusaha Vivek Ramaswamy. Mereka berdua oleh Trump ditunjuk sebagai mitra pemimpin Departemen Efisiensi Pemerintahan (DOGE). Tugas DOGE ialah menilai dan merumuskan ulang pekerjaan kementerian/lembaga agar tidak menghambur-hamburkan anggaran.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/07/25/258e5e64-d2ad-4b37-83df-247f26b45ea5_jpg.jpg)
Pada Kamis (26/12/2024), Ramaswamy mencuit di X. Isinya ialah alasan perusahaan-perusahaan AS memilih mempekerjakan para pakar dari luar negeri dibandingkan dengan yang lahir dan besar di AS.
Para pakar ini umumnya adalah mahasiswa asing yang lulus kuliah di AS lalu ditawari bekerja dengan visa H-1B. Menurut Ramaswamy, ini karena masyarakat AS tidak pernah mengejar standar yang luar biasa. Bagi masyarakat AS, biasa-biasa saja sudah cukup.
”Lihat saja cerita di film dan acara televisi kita. Semua mengidolakan raja dan ratu pesta dansa atau atlet paling gagah di sekolah. Tidak ada yang memuji anak pintar. Budaya ini tidak akan menciptakan insinyur andal,” kata Ramaswamy.
Cuitan Ramaswamy itu mendatangkan badai hujatan di X dari warganet konservatif. Ramaswamy adalah keturunan India. Kedua orangtuanya adalah imigran yang berprofesi sebagai pengacara paten dan dokter. Unggahan-unggahan berupa ujaran kebencian terhadap ras Ramaswamy pun meledak di X.
Musk kemudian membela temannya di X. Ia mencuit bahwa orang-orang bodoh, rasialis, diskiriminatif, dan penuh kebencian harus dicabut sampai ke akar-akarnya di Partai Republik. Jika tidak, mereka akan menjadi penyebab kejatuhan partai dari dalam.
Cuitan Musk juga dikritik oleh warganet. Pasalnya, sejak Musk mengakuisisi Twitter pada 2022 dan mengubahnya menjadi X, ia mengaku sebagai pembela kebebasan berekspresi. Musk tidak mau menyensor ujaran kebencian, fitnah, bahkan ajakan untuk berbuat kekerasan.
Ia mendukung partai ultrakanan AfD di Jerman dan tokoh rasialis Inggris, Tommy Robinson. Musk adalah pendukung Trump yang dikritik menghasut pendukungnya untuk menyerang kantor DPR AS, Gedung Capitol, pada 6 Januari 2020 gara-gara kalah pemilu.
Sejumlah media arus utama mulai mengutarakan kekhawatiran. Salah satunya adalah redaktur dan kolumnis di Insider, Peter Kafka. ”Ini keadaan yang mengkhawatirkan karena Musk perilakunya tidak stabil. Ia mengambil keputusan berdasarkan emosi, sedangkan sekarang ia memimpin lembaga penting di pemerintahan,” tulisnya.
Penulis:
Laraswati Ariadne AnwarEditor:
Kris Mada