Apa yang bisa Anda pelajari dari artikel ini?
- Kenapa banyak pengguna meninggalkan X?
- Siapa saja yang telah meninggalkan X?
- Sejak kapan X dinilai bermasalah?
- Kasus X di Brasil, apa yang terjadi?
- Bluesky alternatif terbaru X, seberapa mumpuni?
- Kenapa Threads gagal jadi alternatif X?
Kenapa banyak pengguna meninggalkan X?
Media sosial X yang dimiliki miliarder Elon Musk, yang sebelumnya dikenal sebagai Twitter, dinilai semakin mempromosikan politik sayap kanan dan menimbulkan kekhawatiran ada bias kepentingan, terutama dengan ditunjuknya Musk menjadi anggota kabinet Trump.
Akun-akun di X yang memiliki banyak pengikut dari media berita, selebritas, hingga klub sepakbola telah memutuskan untuk meninggalkan pelantar milik Elon Musk itu.
Surat kabar The Guardian yang memiliki sekitar 27 juta pengikut gabungan di X mengumumkan tak lagi mengunggah konten atau produk jurnalistiknya di X pada Rabu (13/11/2024).
Salah satu alasannya adalah kekhawatirannya tentang unggahan berisi teori konspirasi sayap kanan dan rasisme. Media Inggris barhaluan kiri itu juga menuduh pemilihan presiden AS telah menegaskan bahwa X adalah pelantar media yang toksik, sementara Musk telah mampu menggunakan pengaruhnya untuk membentuk wacana politik untuk mempengaruhi pilihan publik.
Di hari yang sama, jurnalis televisi AS dan mantan presenter televisi CNN Don Lemon, yang memiliki lebih dari 1,5 juta pengikut di X, juga mengunggah bahwa ia pernah menganggap perusahaan tersebut sebagai alat untuk debat dan diskusi publik yang sehat. Namun, kini tidak lagi seperti itu. Ia pun memutuskan untuk tak lagi menggunakan X.
Hal ini setelah adanya ketentuan layanan baru X soal gugatan hukum terhadap X hanya bisa ditangani melalui Pengadilan Distrik AS untuk Distrik Utara Texas. Lemon menilai, kebijakan pemerintah AS ini merupakan strategi perusahaan untuk tetap berada di tangan pengadilan konservatif Texas.
Gelombang meninggalkan X itu berlanjut. Tiga publikasi surat kabar di Eropa juga memutuskan menutup akun mereka di X. Senada dengan The Guardian, alasan mereka karena pelantar tersebut dinilai sudah tercemar ujaran kebencian, disinformasi, dan misinformasi.
Ini menambah daftar media dan jenama yang keluar dari pelantar berbasis teks itu karena minimnya moderasi konten sejak diambil alih oleh Musk pada 2022 lalu.
Surat kabar acuan Swedia, Dagens Nyheter (DN), mengumumkan berhenti mengunggah konten mereka di akun X pada Jumat (15/11/2024). Mereka menyusul surat kabar acuan Inggris, The Guardian, dan media Spanyol, La Vanguardia, untuk melepas kehadiran di pelantar tersebut.
Siapa saja yang telah meninggalkan X?
Ketiga koran itu tidak akan mengunggah artikel ataupun produk jurnalistik mereka di X, terlepas banyaknya pengikut. Sebagai gambaran, Guardian memiliki 11 juta pengikut di X.
”X bermasalah sejak Elon Musk mengambil alih. X menjadi kanal penyebaran ambisi politik Donald Trump dan ini jaringan disinformasi yang toksik,” kata Pemimpin Redaksi DN Pete Wolodarski.
Selain ketiga surat kabar itu, radio NPR dari Amerika Serikat telah lebih dulu menutup 52 akun mereka di X pada 2023. Penyebabnya ialah ketika X melabeli setiap akun NPR dengan keterangan ”media terafiliasi pemerintah”. Padahal, NPR adalah media independen.
NPR adalah singkatan dari National Public Radio dan merupakan lembaga penyiaran nirlaba. Kata ”national” pada namanya membuat pengelola X keliru mengartikan sebagai terafiliasi pemerintah. X kemudian mengganti keterangan dengan ”media yang didanai pemerintah”. Padahal, meski memperoleh subsidi pemerintah, media itu tetap independen.
Di Jerman, klub sepak bola Jerman, St Pauli, juga menyatakan meninggalkan platform media sosial X pada Kamis (14/11/2024). Alasannya, pelantar itu telah menjadi mesin kebencian yang dapat memengaruhi pemilihan umum Jerman mendatang.
Klub Bundesliga yang bermarkas di Hamburg yang condong ke kiri itu mengatakan bahwa mereka mengakhiri aktivitasnya di X meskipun punya 250.000 pengikut di pelantar tersebut. Pengelola klub itu mendorong para pengikutnya untuk juga beralih ke Bluesky.
”Alasan penarikan ini, pemilik Elon Musk telah mengubah ruang perdebatan menjadi penguat kebencian yang juga dapat memengaruhi kampanye pemilihan federal Jerman,” kata St Pauli dalam sebuah pernyataan di laman resminya.
Sejak kapan X dinilai bermasalah?
Berbeda dengan Instagram yang berbasis gambar dan TikTok yang berbasis video maupun Facebook yang lebih umum, X merupakan media sosial yang berbasis teks.
Dengan kesederhanaan namun disertai fungsi yang memudahkan publik untuk saling terhubung itu, ketika bernama Twitter, media sosial itu telah mengukuhkan diri sebagai media untuk diskusi dan debat publik soal isu-isu kritis terutama sosial dan politik.
Keunggulan Twitter juga pada ketatnya moderasi konten yang menciptakan sensor ketat terhadap konten-konten misinformasi, disinformasi, dan konten ekstremis. Hal ini diubah oleh Musk yang mengubah namanya menjadi X dan membuat moderasi konten minim.
Namun, dengan perkembangan terbaru, semakin banyak selebritas dengan basis penggemar yang besar dan kuat juga meninggalkan X. Media teknologi Wired, 8 November 2024, menulis, para penggemar megabintang Taylor Swift pun meninggalkan pelantar tersebut setelah pemilihan terkait kepemilikan Musk di perusahaan medsos itu.
Pada pemilu AS, Swift mendukung Kamala Harris, calon presiden dari Partai Demokrat, pesaing Trump. Sementara Swift masih mempunyai akun aktif di X.
Sejak kapan X dinilai bermasalah?
Media sosial ini sudah dianggap bermasalah sejak akuisisi oleh Musk pada 2022. Ia melakukan banyak perubahan drastis yang membuat media sosial itu beralih dari integritasnya semula relatif sehat dari bias politik, idealisme, dan murah.
Setelah mengubah nama dan logo Twitter menjadi X, Musk juga menerapkan langganan berbayar untuk akun centang biru yang kemudian menjadi centang emas yang dulunya gratis, nyaris meniadakan moderasi konten, hingga mengaktifkan kembali sejumlah akun yang semula dicekal di Twitter karena dinilai tak sesuai moderasi konten.
Twitter tak lagi sama saat menjadi X. Hal ini direspons dengan penurunan nilai media sosial itu dari sisi ekonomi. Setelah menjadi X, pelantar itu telah kehilangan 71 persen nilainya sejak dibeli taipan Elon Musk. Demikian menurut perusahaan reksadana Fidelity yang memiliki saham di X Holdings.
Dalam artikel yang diturunkan pada Selasa (2/1/2024), The Guardian menuliskan, Musk mengakuisisi Twitter seharga 44 miliar dollar AS pada Oktober 2022 dan mengganti namanya menjadi X pada Juli 2023.
Dalam keterbukaan informasi yang diperoleh Axios, media massa asal Amerika Serikat, dan dikutip The Guardian, Fidelity telah menurunkan nilai sahamnya di X sebesar 71,5 persen sejak X dibeli Musk.
Fidelity belum mengungkapkan perubahan apa pun pada kepemilikannya di X. X juga belum memberikan komentar.
Sejak pengambilalihan Twitter oleh Musk, Musk telah membolehkan kembali sejumlah orang yang sebelumnya dilarang menggunakan pelantar tersebut, termasuk mantan presiden Amerika Serikat Donald Trump dan ahli teori konspirasi sayap kanan Alex Jones.
X juga telah mengurangi sekitar 50 persen karyawan dan moderasi konten. Pada September 2023, Uni Eropa mengeluarkan peringatan kepada Musk setelah Uni Eropa menemukan bahwa rasio unggahan konten disinformasi di X tertinggi dibanding semua pelantar media sosial lainnya.
Pada 2023, Bloomberg juga menuliskan, pendapatan iklan di X pada tahun 2023 diperkirakan 2,5 miliar dollar AS, jauh di bawah pendapatan tahun sebelumnya yang mencapai 1 miliar dollar AS per triwulan atau 4 miliar dollar AS per tahun.
Kasus di Brasil, apa yang terjadi?
Di tahun 2024, kontroversi X tak juga mereda. Salah satu yang terbesar terjadi di Brasil. Brasil memblokir media sosial X, Sabtu (31/1/2024), berdasarkan perintah Mahkamah Agung Brasil sehari sebelumnya. Akses pelantar media sosial tersebut tidak lagi dimungkinkan bagi sejumlah pengguna di Brasil.
Pesan yang meminta mereka untuk memuat ulang peramban muncul saat pemilik akun mencoba mengaksesnya, tetapi mereka gagal masuk. Pemblokiran X di Brasil merupakan buntut penolakan pemilik X, Elon Musk, untuk menyebutkan nama perwakilan hukum di negara itu. Akibatnya, Hakim Agung Alexandre de Moraes, memerintahkan penangguhan X di Brasil, 30 Agustus 2024.
Moraes sudah memperingatkan X dapat diblokir di Brasil jika Musk tidak mematuhi perintah untuk menyebutkan nama perwakilan dalam waktu 24 jam. Sejak awal bulan ini, X tidak memiliki perwakilan di Brasil. X akan menuntut Moraes demi kepentingan transparansi.
Pencekalan akses ini perkembangan terakhir dari perseteruan antara Musk dan Moraes selama berbulan-bulan tentang isu kebebasan berbicara, akun sayap kanan, dan misinformasi.
”Elon Musk tidak menghormati kedaulatan Brasil, khususnya peradilan Brasil. Dia menjadikan dirinya sebagai entitas supranasional sejati dan kebal terhadap hukum setiap negara,” tulis de Moraes dalam keputusannya.
Brasil merupakan pasar penting bagi X. Jika kehilangan pasar di Brasil, X pun akan kesulitan. Sebab, selama ini X berjuang keras sejak pengiklan hilang sejak Musk membeli Twitter pada 2022. Menurut kelompok riset pasar Emarketer, sekitar 40 juta orang Brasil atau seperlima dari populasi mengakses X setidaknya sekali per bulan.
X sudah mengunggah penjelasan di laman Urusan Pemerintah Global resminya, Kamis. Ini karena mereka memperkirakan X akan ditutup oleh Moraes hanya karena X tidak akan mematuhi perintah untuk menyensor lawan politiknya.
Bluesky menjadi alternatif terbaru X, seberapa mumpuni?
Bluesky menjadi pilihan terbaru bagi sebagian pengguna X yang beralih. Situs media sosial Bluesky telah menggaet 1 juta pengguna baru dalam sepekan sejak pemilihan umum Amerika Serikat.
Pada Rabu (13/11/2023), Bluesky mengumumkan jumlah total penggunanya melonjak menjadi 15 juta akun, naik dari sekitar 13 juta pada akhir Oktober 2024.
Tampilan dan logo Bluesky yang berwarna biru sangat mirip dengan Twitter. Sementara banyak fungsi di Bluesky yang mirip dengan X, di antaranya kemampuan untuk membuat unggahan teks dengan batas 256 karakter, mengunggah ulang unggahan pengguna lain, dan menyukai unggahan pengguna lain.
Pengguna Bluesky juga dapat mengikuti orang lain untuk mengatur linimasa mereka sendiri dan mengirim pesan langsung kepada pengguna lain. Bluesky menempatkan diri sebagai pesaing X yang menegasikan arah media sosial Musk itu.
Selama berlangsungnya pemilu AS, Bluesky telah menyindir X dengan komentar-komentar yang bernada sarkastis, termasuk unggahan yang merujuk pada Musk yang menyaksikan hasil pemungutan suara bersama Trump.
”Saya dapat menjamin bahwa tidak ada anggota tim Bluesky yang akan duduk bersama kandidat presiden malam ini dan memberi mereka akses langsung untuk mengendalikan apa yang Anda lihat secara daring,” kata Bluesky terkait unggahan Musk dan Trump itu.
Aplikasi Bluesky terus meraih unduhan di seluruh dunia dan pada hari Kamis (14/11/2024) dan menjadi aplikasi gratis teratas di Apple App Store di Inggris. Jumlahnya terus bertambah secara global pada akhir pekan.
Kenapa Threads gagal gantikan X?
Sebelum BlueSky, sebenarnya sudah ada Threads yang diluncurkan oleh Meta.inc besutan Mark Zuckerberg pada 5 Juli 2023. Sama seperti X, Threads merupakan media sosial berbasis teks. Namun, Threads yang terhubung dengan akun Instagram dan Facebook itu gagal menggantikan X.
Awalnya, orang-orang memang penasaran dengan Threads sehingga pelantar media sosial itu dengan cepat berhasil memperoleh 100 juta pengguna tak lama setelah peluncurannya. Namun tiba-tiba, tren itu berakhir dan basis penggunanya berkurang hingga kurang dari 70 persen dari puncaknya. Para pengguna Threads sepertinya tak menemukan perbedaan Threads dengan Facebook maupun Instagram.
Berbeda dengan Twitter yang bermetamorfosis menjadi X yang berhasil mengukuhkan diri sebagai media untuk diskusi isu-isu kritis sosial dan politis itu, Threads terseret arus Instagram yang didominasi konten-konten bernada ringan dan menghibur.Threads mempunyai banyak fungsi yang berbeda dari X.
Threads tidak bisa mengirim pesan langsung, tidak ada tanda pagar atau tagar, tidak ada fitur pencarian, dan umpan balik. Apa yang dilihat pengguna juga dihasilkan oleh algoritma, bukan siapa yang diikuti. Hal ini membuat sebagian pengguna merasa terganggu karena seperti dipaksa melihat unggahan yang tak dia inginkan.
Lebih celaka lagi, begitu masuk Threads, pengguna tak bisa keluar. Kalau mau menghapus Threads, otomatis akan terhapus juga akun Instagram karena keduanya saling terkait. Ini yang membuat banyak pengguna uring-uringan karena seperti dijebak.
Dengan antusiasme publik yang tinggi seperti Threads saat awal, apakah BlueSky akan menjadi produk gagal seperti Threads atau berhasil menyaingi X sebagai media sosial berbasis teks paling besar, hanya waktu yang akan membuktikan.
Apa yang bisa Anda pelajari dari artikel ini?
- Kenapa banyak pengguna meninggalkan X?
- Siapa saja yang telah meninggalkan X?
- Sejak kapan X dinilai bermasalah?
- Kasus X di Brasil, apa yang terjadi?
- Bluesky alternatif terbaru X, seberapa mumpuni?
- Kenapa Threads gagal jadi alternatif X?
Kenapa banyak pengguna meninggalkan X?
Media sosial X yang dimiliki miliarder Elon Musk, yang sebelumnya dikenal sebagai Twitter, dinilai semakin mempromosikan politik sayap kanan dan menimbulkan kekhawatiran ada bias kepentingan, terutama dengan ditunjuknya Musk menjadi anggota kabinet Trump.
Akun-akun di X yang memiliki banyak pengikut dari media berita, selebritas, hingga klub sepakbola telah memutuskan untuk meninggalkan pelantar milik Elon Musk itu.
Surat kabar The Guardian yang memiliki sekitar 27 juta pengikut gabungan di X mengumumkan tak lagi mengunggah konten atau produk jurnalistiknya di X pada Rabu (13/11/2024).
Salah satu alasannya adalah kekhawatirannya tentang unggahan berisi teori konspirasi sayap kanan dan rasisme. Media Inggris barhaluan kiri itu juga menuduh pemilihan presiden AS telah menegaskan bahwa X adalah pelantar media yang toksik, sementara Musk telah mampu menggunakan pengaruhnya untuk membentuk wacana politik untuk mempengaruhi pilihan publik.
Di hari yang sama, jurnalis televisi AS dan mantan presenter televisi CNN Don Lemon, yang memiliki lebih dari 1,5 juta pengikut di X, juga mengunggah bahwa ia pernah menganggap perusahaan tersebut sebagai alat untuk debat dan diskusi publik yang sehat. Namun, kini tidak lagi seperti itu. Ia pun memutuskan untuk tak lagi menggunakan X.
Hal ini setelah adanya ketentuan layanan baru X soal gugatan hukum terhadap X hanya bisa ditangani melalui Pengadilan Distrik AS untuk Distrik Utara Texas. Lemon menilai, kebijakan pemerintah AS ini merupakan strategi perusahaan untuk tetap berada di tangan pengadilan konservatif Texas.
Gelombang meninggalkan X itu berlanjut. Tiga publikasi surat kabar di Eropa juga memutuskan menutup akun mereka di X. Senada dengan The Guardian, alasan mereka karena pelantar tersebut dinilai sudah tercemar ujaran kebencian, disinformasi, dan misinformasi.
Ini menambah daftar media dan jenama yang keluar dari pelantar berbasis teks itu karena minimnya moderasi konten sejak diambil alih oleh Musk pada 2022 lalu.
Surat kabar acuan Swedia, Dagens Nyheter (DN), mengumumkan berhenti mengunggah konten mereka di akun X pada Jumat (15/11/2024). Mereka menyusul surat kabar acuan Inggris, The Guardian, dan media Spanyol, La Vanguardia, untuk melepas kehadiran di pelantar tersebut.
Siapa saja yang telah meninggalkan X?
Ketiga koran itu tidak akan mengunggah artikel ataupun produk jurnalistik mereka di X, terlepas banyaknya pengikut. Sebagai gambaran, Guardian memiliki 11 juta pengikut di X.
”X bermasalah sejak Elon Musk mengambil alih. X menjadi kanal penyebaran ambisi politik Donald Trump dan ini jaringan disinformasi yang toksik,” kata Pemimpin Redaksi DN Pete Wolodarski.
Selain ketiga surat kabar itu, radio NPR dari Amerika Serikat telah lebih dulu menutup 52 akun mereka di X pada 2023. Penyebabnya ialah ketika X melabeli setiap akun NPR dengan keterangan ”media terafiliasi pemerintah”. Padahal, NPR adalah media independen.
NPR adalah singkatan dari National Public Radio dan merupakan lembaga penyiaran nirlaba. Kata ”national” pada namanya membuat pengelola X keliru mengartikan sebagai terafiliasi pemerintah. X kemudian mengganti keterangan dengan ”media yang didanai pemerintah”. Padahal, meski memperoleh subsidi pemerintah, media itu tetap independen.
Di Jerman, klub sepak bola Jerman, St Pauli, juga menyatakan meninggalkan platform media sosial X pada Kamis (14/11/2024). Alasannya, pelantar itu telah menjadi mesin kebencian yang dapat memengaruhi pemilihan umum Jerman mendatang.
Klub Bundesliga yang bermarkas di Hamburg yang condong ke kiri itu mengatakan bahwa mereka mengakhiri aktivitasnya di X meskipun punya 250.000 pengikut di pelantar tersebut. Pengelola klub itu mendorong para pengikutnya untuk juga beralih ke Bluesky.
”Alasan penarikan ini, pemilik Elon Musk telah mengubah ruang perdebatan menjadi penguat kebencian yang juga dapat memengaruhi kampanye pemilihan federal Jerman,” kata St Pauli dalam sebuah pernyataan di laman resminya.
Sejak kapan X dinilai bermasalah?
Berbeda dengan Instagram yang berbasis gambar dan TikTok yang berbasis video maupun Facebook yang lebih umum, X merupakan media sosial yang berbasis teks.
Dengan kesederhanaan namun disertai fungsi yang memudahkan publik untuk saling terhubung itu, ketika bernama Twitter, media sosial itu telah mengukuhkan diri sebagai media untuk diskusi dan debat publik soal isu-isu kritis terutama sosial dan politik.
Keunggulan Twitter juga pada ketatnya moderasi konten yang menciptakan sensor ketat terhadap konten-konten misinformasi, disinformasi, dan konten ekstremis. Hal ini diubah oleh Musk yang mengubah namanya menjadi X dan membuat moderasi konten minim.
Namun, dengan perkembangan terbaru, semakin banyak selebritas dengan basis penggemar yang besar dan kuat juga meninggalkan X. Media teknologi Wired, 8 November 2024, menulis, para penggemar megabintang Taylor Swift pun meninggalkan pelantar tersebut setelah pemilihan terkait kepemilikan Musk di perusahaan medsos itu.
Pada pemilu AS, Swift mendukung Kamala Harris, calon presiden dari Partai Demokrat, pesaing Trump. Sementara Swift masih mempunyai akun aktif di X.
Sejak kapan X dinilai bermasalah?
Media sosial ini sudah dianggap bermasalah sejak akuisisi oleh Musk pada 2022. Ia melakukan banyak perubahan drastis yang membuat media sosial itu beralih dari integritasnya semula relatif sehat dari bias politik, idealisme, dan murah.
Setelah mengubah nama dan logo Twitter menjadi X, Musk juga menerapkan langganan berbayar untuk akun centang biru yang kemudian menjadi centang emas yang dulunya gratis, nyaris meniadakan moderasi konten, hingga mengaktifkan kembali sejumlah akun yang semula dicekal di Twitter karena dinilai tak sesuai moderasi konten.
Twitter tak lagi sama saat menjadi X. Hal ini direspons dengan penurunan nilai media sosial itu dari sisi ekonomi. Setelah menjadi X, pelantar itu telah kehilangan 71 persen nilainya sejak dibeli taipan Elon Musk. Demikian menurut perusahaan reksadana Fidelity yang memiliki saham di X Holdings.
Dalam artikel yang diturunkan pada Selasa (2/1/2024), The Guardian menuliskan, Musk mengakuisisi Twitter seharga 44 miliar dollar AS pada Oktober 2022 dan mengganti namanya menjadi X pada Juli 2023.
Dalam keterbukaan informasi yang diperoleh Axios, media massa asal Amerika Serikat, dan dikutip The Guardian, Fidelity telah menurunkan nilai sahamnya di X sebesar 71,5 persen sejak X dibeli Musk.
Fidelity belum mengungkapkan perubahan apa pun pada kepemilikannya di X. X juga belum memberikan komentar.
Sejak pengambilalihan Twitter oleh Musk, Musk telah membolehkan kembali sejumlah orang yang sebelumnya dilarang menggunakan pelantar tersebut, termasuk mantan presiden Amerika Serikat Donald Trump dan ahli teori konspirasi sayap kanan Alex Jones.
X juga telah mengurangi sekitar 50 persen karyawan dan moderasi konten. Pada September 2023, Uni Eropa mengeluarkan peringatan kepada Musk setelah Uni Eropa menemukan bahwa rasio unggahan konten disinformasi di X tertinggi dibanding semua pelantar media sosial lainnya.
Pada 2023, Bloomberg juga menuliskan, pendapatan iklan di X pada tahun 2023 diperkirakan 2,5 miliar dollar AS, jauh di bawah pendapatan tahun sebelumnya yang mencapai 1 miliar dollar AS per triwulan atau 4 miliar dollar AS per tahun.
Kasus di Brasil, apa yang terjadi?
Di tahun 2024, kontroversi X tak juga mereda. Salah satu yang terbesar terjadi di Brasil. Brasil memblokir media sosial X, Sabtu (31/1/2024), berdasarkan perintah Mahkamah Agung Brasil sehari sebelumnya. Akses pelantar media sosial tersebut tidak lagi dimungkinkan bagi sejumlah pengguna di Brasil.
Pesan yang meminta mereka untuk memuat ulang peramban muncul saat pemilik akun mencoba mengaksesnya, tetapi mereka gagal masuk. Pemblokiran X di Brasil merupakan buntut penolakan pemilik X, Elon Musk, untuk menyebutkan nama perwakilan hukum di negara itu. Akibatnya, Hakim Agung Alexandre de Moraes, memerintahkan penangguhan X di Brasil, 30 Agustus 2024.
Moraes sudah memperingatkan X dapat diblokir di Brasil jika Musk tidak mematuhi perintah untuk menyebutkan nama perwakilan dalam waktu 24 jam. Sejak awal bulan ini, X tidak memiliki perwakilan di Brasil. X akan menuntut Moraes demi kepentingan transparansi.
Pencekalan akses ini perkembangan terakhir dari perseteruan antara Musk dan Moraes selama berbulan-bulan tentang isu kebebasan berbicara, akun sayap kanan, dan misinformasi.
”Elon Musk tidak menghormati kedaulatan Brasil, khususnya peradilan Brasil. Dia menjadikan dirinya sebagai entitas supranasional sejati dan kebal terhadap hukum setiap negara,” tulis de Moraes dalam keputusannya.
Brasil merupakan pasar penting bagi X. Jika kehilangan pasar di Brasil, X pun akan kesulitan. Sebab, selama ini X berjuang keras sejak pengiklan hilang sejak Musk membeli Twitter pada 2022. Menurut kelompok riset pasar Emarketer, sekitar 40 juta orang Brasil atau seperlima dari populasi mengakses X setidaknya sekali per bulan.
X sudah mengunggah penjelasan di laman Urusan Pemerintah Global resminya, Kamis. Ini karena mereka memperkirakan X akan ditutup oleh Moraes hanya karena X tidak akan mematuhi perintah untuk menyensor lawan politiknya.
Bluesky menjadi alternatif terbaru X, seberapa mumpuni?
Bluesky menjadi pilihan terbaru bagi sebagian pengguna X yang beralih. Situs media sosial Bluesky telah menggaet 1 juta pengguna baru dalam sepekan sejak pemilihan umum Amerika Serikat.
Pada Rabu (13/11/2023), Bluesky mengumumkan jumlah total penggunanya melonjak menjadi 15 juta akun, naik dari sekitar 13 juta pada akhir Oktober 2024.
Tampilan dan logo Bluesky yang berwarna biru sangat mirip dengan Twitter. Sementara banyak fungsi di Bluesky yang mirip dengan X, di antaranya kemampuan untuk membuat unggahan teks dengan batas 256 karakter, mengunggah ulang unggahan pengguna lain, dan menyukai unggahan pengguna lain.
Pengguna Bluesky juga dapat mengikuti orang lain untuk mengatur linimasa mereka sendiri dan mengirim pesan langsung kepada pengguna lain. Bluesky menempatkan diri sebagai pesaing X yang menegasikan arah media sosial Musk itu.
Selama berlangsungnya pemilu AS, Bluesky telah menyindir X dengan komentar-komentar yang bernada sarkastis, termasuk unggahan yang merujuk pada Musk yang menyaksikan hasil pemungutan suara bersama Trump.
”Saya dapat menjamin bahwa tidak ada anggota tim Bluesky yang akan duduk bersama kandidat presiden malam ini dan memberi mereka akses langsung untuk mengendalikan apa yang Anda lihat secara daring,” kata Bluesky terkait unggahan Musk dan Trump itu.
Aplikasi Bluesky terus meraih unduhan di seluruh dunia dan pada hari Kamis (14/11/2024) dan menjadi aplikasi gratis teratas di Apple App Store di Inggris. Jumlahnya terus bertambah secara global pada akhir pekan.
Kenapa Threads gagal gantikan X?
Sebelum BlueSky, sebenarnya sudah ada Threads yang diluncurkan oleh Meta.inc besutan Mark Zuckerberg pada 5 Juli 2023. Sama seperti X, Threads merupakan media sosial berbasis teks. Namun, Threads yang terhubung dengan akun Instagram dan Facebook itu gagal menggantikan X.
Awalnya, orang-orang memang penasaran dengan Threads sehingga pelantar media sosial itu dengan cepat berhasil memperoleh 100 juta pengguna tak lama setelah peluncurannya. Namun tiba-tiba, tren itu berakhir dan basis penggunanya berkurang hingga kurang dari 70 persen dari puncaknya. Para pengguna Threads sepertinya tak menemukan perbedaan Threads dengan Facebook maupun Instagram.
Berbeda dengan Twitter yang bermetamorfosis menjadi X yang berhasil mengukuhkan diri sebagai media untuk diskusi isu-isu kritis sosial dan politis itu, Threads terseret arus Instagram yang didominasi konten-konten bernada ringan dan menghibur.Threads mempunyai banyak fungsi yang berbeda dari X.
Threads tidak bisa mengirim pesan langsung, tidak ada tanda pagar atau tagar, tidak ada fitur pencarian, dan umpan balik. Apa yang dilihat pengguna juga dihasilkan oleh algoritma, bukan siapa yang diikuti. Hal ini membuat sebagian pengguna merasa terganggu karena seperti dipaksa melihat unggahan yang tak dia inginkan.
Lebih celaka lagi, begitu masuk Threads, pengguna tak bisa keluar. Kalau mau menghapus Threads, otomatis akan terhapus juga akun Instagram karena keduanya saling terkait. Ini yang membuat banyak pengguna uring-uringan karena seperti dijebak.
Dengan antusiasme publik yang tinggi seperti Threads saat awal, apakah BlueSky akan menjadi produk gagal seperti Threads atau berhasil menyaingi X sebagai media sosial berbasis teks paling besar, hanya waktu yang akan membuktikan.