Tiga calon pemain naturalisasi baru Indonesia diragukan bisa memberikan efek besar bagi skuad ”Garuda”. Mampukah mereka bersaing dengan skuad Garuda saat ini?
24 Feb 2025 19:34 WIB · Olahraga
Jelang menghadapi Australia dan Bahrain dalam lanjutan putaran ketiga kualifikasi Piala Dunia 2026, tim nasional Indonesia bakal mendapat tambahan tiga pemain naturalisasi. Namun, kehadiran Emil Audero, Dean James, dan Joey Pelupessy berpeluang sulit memberikan dampak langsung untuk skuad ”Garuda”.
Dari tiga pemain itu, praktis hanya Emil yang memiliki kualitas menjadi pesaing langsung posisi utama. Pengalaman Emil berkarier selama sembilan musim di dua kasta kompetisi profesional Italia adalah jaminan penguatan posisi penjaga gawang yang selama ini menjadi milik Maarten Paes.
Emil menembus karier profesional dengan mengenyam pembinaan Akademi Juventus. Meskipun hanya mencatatkan satu penampilan untuk Juve di pengujung musim 2016-2017, Emil tampil baik ketika membela Venezia dan Sampdoria.
Performa di Sampdoria membantu Emil direkrut Inter Milan untuk menjadi kiper pelapis, Yann Sommer, per kampanye kompetisi 2023-2024. Bersama Inter, Emil merasakan penampilan debut di Liga Champions, kemudian meraih scudetto kedua.
Namun, penampilan Emil tidak memuaskan ketika didatangkan Como, tim milik Grup Djarum. Kiper kelahiran Mataram, Nusa Tenggara Barat, itu kemasukan 18 gol dari delapan penampilan. Hal itu membuatnya kehilangan tempat utama dari Pelatih Como Cesc Fabregas, lalu dilepas ke klub Serie B, Palermo.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2021/08/24/099fad4c-c505-4cbc-a1a6-ed957506cd85.jpeg)
Sempat gagal membawa Palermo menang karena kemasukan dua gol pada dua gim awal kontra Spezia dan Mantova, Emil akhirnya mencatatkan kemenangan pertama untuk Palermo dengan berbekal nirbobol satu hari setelah Erick mengumumkan proses naturalisasinya.
Emil menciptakan enam penyelamatan demi membantu Palermo melibas Cosenza, 3-0. Hasil itu membantu Palermo berada di jalur positif untuk memasuki zona playoff promosi Serie A.
Tentu tidak adil membandingkan kualitias kompetisi Italia, tempat Emil berkarier, dengan Liga Amerika Serikat (MLS) di mana Maarten Paes membela FC Dallas.
Kualitas Emil, jika merujuk pengalaman tim yang dibela, harus diakui di atas Maarten. Emil berlatih bersama legenda dan salah satu kiper terbaik di abad ke-21, Gianluigi Buffon, di Juve. Kemudian, bersaing dengan kiper terbaik Swiss saat ini, Sommer, di Inter.
Liga Italia, baik Serie A maupun Serie B, memiliki level kompetisi yang lebih ketat dibandingkan dengan MLS. Apalagi, Italia adalah negara yang sangat mengutamakan permainan bertahan di atas segalanya. Jadi, setiap tim tidak akan sembarangan mengontrak pemain untuk mengawal gawang mereka.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/22/a19129a6276c8085fcdcf1b9742e7771-Screenshot_20250222_182354_Instagram.jpg)
Demi membandingkan kualitas sesungguhnya, sejatinya agak sulit menemukan perbandingan yang adil jika merujuk musim 2024-2025 dan 2023-2024. MLS edisi 2025 baru dimulai, akhir Februari ini, sedangkan pada kompetisi edisi 2023-2024, menit bermain Emil amat terbatas karena hanya tampil enam kali.
Untuk itu, perbandingan mengarah kepada performa keduanya di musim dengan penampilan terbanyak terakhir. Emil mengacu pada penampilan bersama Sampdoria pada 2022-2023, lalu Maarten berpijak penampilan pada musim 2023-2024. Kala itu, Emil memainkan 25 pertandingan untuk Sampdoria, sedangkan Maarten menjalani 30 laga bersama Dallas di musim reguler MLS musim lalu.
Dari jumlah laga itu, terlihat keunggulan Maarten berdasarkan kuantitas laga nirbobol dan persentase penyelamatan. Maarten mampu sajikan lima gim tanpa kemasukan, sedangkan Emil hanya lima kali tak kebobolan di musim pamungkas berseragam Sampdoria.
Maarten juga mencatatkan 70 persen penyelamatan dari 5,77 tembakan yang dihadapinya per gim. Kiper berusia 26 tahun itu melakukan 121 penyelamatan dari 173 tembakan mengarah ke gawang lawan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/24/c357f566cb52888281dfb1bc3a6d85de-WhatsApp_Image_2025_02_24_at_16.46.28.jpeg)
Untuk Emil, ia hanya mengoleksi 68 persen penyelamatan. Sebanyak 84 tembakan diantisipasinya dengan baik dari 123 tembakan tepat sasaran yang dihasilkan lawan.
Namun, jika merujuk kualitas penyelamatan, Emil jauh lebih baik. Ia kemasukan 39 gol dari 38,4 expected goals (xG) conceded yang diterimanya. Adapun Maarten kebobolan 52 gol dari 47 xG conceded. Itu menunjukkan Maarten gagal meredam lima gol lawan yang seharusnya bisa diantisipasinya.
Di sisi lain, Emil juga tak melakukan blunder. Pada musim lalu, Maarten menciptakan dua kesalahan yang berujung gol untuk lawan.
Dari peran mereka untuk permainan tim, keduanya memiliki keunggulan yang bakal bisa disesuaikan dengan kebutuhan Pelatih Indonesia Patrick Kluivert. Maarten cukup cakap dengan mendistribusikan bola-bola pendek dengan tingkat akurasi operan mencapai 76 persen.
Emil, di sisi lain, bisa menjadi andalan untuk permainan pragmatis karena baik mendistribusikan bola-bola panjang. Emil mencatatkan 8,2 umpan jauh akurat per gim, sedangkan Maarten menghasilkan 5,1 umpan jauh akurat per laga.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/22/54bd20f0e92ccc1a8bb3d3224b05426e-Screenshot_20250222_181532_Instagram.jpg)
Lalu, Joey memang memiliki catatan statistik yang jauh di bawah gelandang terbaik Indonesia saat ini, Thom Haye. Pengalaman panjang pemain berusia 32 tahun itu menjadi dasar utama Erick memilihnya sebagai salah satu sasaran naturalisasi ketika upaya ”merekrut” Jairo Reidewald menghadapi tantangan terjal.
Pasalnya, Jairo sudah mencatatkan tiga gim di timnas Belanda. Meskipun Jairo masih bisa pindah federasi akibat cap di timnas Belanda tercipta di bawah usia 21 tahun, naturalisasinya membutuhkan proses panjang nan berliku.
Meskipun pada paruh kedua musim 2024-2025, Joey hijrah ke tim papan bawah Divisi Dua Belgia, Lommel SK, Joey pernah berkarier di Inggris bersama Sheffield Wednesday dan Girensunspor di Liga Turki. Hal itu menjadi bukti dirinya memiliki pengalaman yang matang untuk memperkuat lini tengah Indonesia.
Di jantung permainan, skuad Garuda memang hanya berbekal Thom yang memiliki karier profesional cukup baik. Dua pemain andalan lain, Ivar Jenner dan Nathan Tjoe-A-On, masih sulit menembus tim utamanya masing-masing. Usia mereka pun masih masuk kategori tim U-23 sehingga butuh bimbingan dari pemain lebih senior.
Merujuk statistik di musim 2023-2024, Thom berbekal delapan kontribusi gol untuk Heerenveen, sedangkan tanpa gol selama membela Groningen di Divisi Kedua Belanda edisi lalu.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/24/bee21097583508cec0bd4c84f4c375f2-WhatsApp_Image_2025_02_24_at_16.46.24.jpeg)
Joey juga tidak menghasilkan satu pun peluang besar. Jumlah itu kalah dari Thom yang hasilkan lima peluang besar, bahkan juga di bawah Ivar Jenner yang hasilkan tiga peluang besar. Ivar dan Joey bermain di Divisi Dua Belanda.
Jika membandingkan peran bertahan Joey dan Thom, keunggulan juga masih milik Thom. Ia menghasilkan 1,7 tekel per gim, 1,5 sapuan per gim, dan 0,4 blok tembakan per gim. Joey hanya sedikit lebih baik dari Thom melalui catatan 1,1 intersep per laga serta 0,2 dilewati dribel lawan per gim.
Kemudian, jika membandingkan Ivar di level kompetisi setara, Joey juga kalah jauh dalam catatan bertahan. Ivar hasilkan 1,8 intersep per laga, sedangkan Joey hanya 1,1 intersep per laga.
Catatan 2,9 tekel sukses per laga milik Ivar jauh lebih baik dibandingkan 1,2 tekel sukses per gim milik Joey. Ivar juga superior dalam dua variabel bertahan lain, yakni sapuan (0,7) dan blok tembakan (0,2).
Statistik Joey hanya lebih baik dari Nathan yang tidak mampu tampil di tim utama Swansea, juga Heerenveen. Selama musim 2023-2024, Nathan hanya tampil di empat pertandingan yang seluruhnya tercipta ketika menjalani masa peminjaman setengah musim di Heerenveen.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/24/967f1356c0a9bcd13e8c0d05ceff220a-WhatsApp_Image_2025_02_24_at_16.46.24_2.jpeg)
Adapun Dean datang murni demi melapis Calvin Verdonk yang mustahil tergantikan di pos bek sayap kiri Indonesia. Dari performa di Liga Belanda musim ini, Calvin unggul mutlak atas Dean dalam urusan bertahan.
Calvin unggul melalui barometer intersep, tekel, sapuan, dan blok tembakan. Performa Calvin bersama NEC Nijmegen membuatnya tak tergantikan dalam 23 penampilan. Hal itu juga membuat Calvin selalu tampil dalam enam laga Indonesia di putaran ketiga kualifikasi Piala Dunia 2026.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/22/f10722e6d8a4b43c152526412dbff57b-Screenshot_20250222_182037_Instagram.jpg)
Meski begitu, Dean juga bisa memberikan alternatif bagi kekurangan Calvin. Secara nyata, pemain Go Ahead Eagles berusia 24 tahun itu jauh lebih baik dari pelapis Calvin saat ini, yaitu Pratama Arhan dan Shayne Pattynama.
Dean unggul dalam urusan menyerang dibandingkan dengan Calvin. Ia sudah menghasilkan dua asis dari 18 gim di Liga Belanda, sedangkan Calvin baru catatkan satu asis.
Dean juga menciptakan peluang lebih banyak berkat 26 umpan kunci yang dihasilkan. Adapun Calvin mengkreasikan 23 umpan kunci. Dari jumlah operan kunci itu, enam besar diciptakan Dean. Adapun Calvin baru catatkan dua peluang besar.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/24/7e8d729b178eaf7149dada145516cc52-WhatsApp_Image_2025_02_24_at_16.49.15.jpeg)
Jika skuad Garuda butuh umpan silang memanjakan penyerang, Dean jawabannya. Ia sudah hasilkan 1,1 umpan silang sukses per laga.
Tiga pemain naturalisasi itu pun hanya memiliki waktu maksimal tiga pekan untuk merampungkan proses naturalisasi hingga perpindahan federasi di data FIFA.
Walaupun kehadiran ketiganya semakin mengurangi kesempatan bakat lokal menembus skuad Garuda, semoga mereka mampu langsung nyetel dengan tim asuhan Kluivert dan membantu Indonesia menembus Piala Dunia 2026.
Penulis:
Muhammad Ikhsan MaharEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra