Jelang menghadapi Australia, 20 Maret, timnas Indonesia bakal menambah tiga pemain naturalisasi. Emil Audero, Joey Pelupessy, dan Dean James siap membela ”Garuda”.
22 Feb 2025 18:43 WIB · Olahraga
JAKARTA, KOMPAS — Ketua Umum PSSI Erick Thohir memastikan tiga pemain diaspora telah memulai proses naturalisasi untuk membela tim nasional Indonesia. Emil Audero (28), Joey Pelupessy (31), dan Dean James (24) diusahakan bisa membela skuad ”Garuda” pada laga melawan Australia, 20 Maret mendatang.
”Ketiga pemain surat-surat (dokumen) sudah aman. Saya sudah lapor Pak Presiden Prabowo dan beliau menyambut baik. Pekan depan kita proses supaya bulan Maret mereka sudah bisa bermain,” kata Erick menjelaskan alasan naturalisasi tiga pemain naturalisasi baru untuk timnas Indonesia di GBK Arena, Jakarta, Sabtu (22/2/2025).
Selain itu, Erick juga akan bertemu dengan Komisi X DPR, Senin (24/2/2025), untuk berdialog terkait program timnas. Tujuannya, proses naturalisasi ketiga calon pemain timnas itu bisa berjalan cepat.
Adapun Emil kini membela klub Serie B Italia, Palermo, dengan status pinjaman dari klub Serie A Italia, Como. Sejak bergabung pada paruh kedua musim ini, kiper kelahiran Mataram, Nusa Tenggara Barat, itu telah dua kali membela Palermo dengan catatan empat kemasukan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/22/a19129a6276c8085fcdcf1b9742e7771-Screenshot_20250222_182354_Instagram.jpg)
Pemain lulusan Akademi Juventus itu bakal memperkuat barisan penjaga gawang Indonesia. Erick mengungkapkan, dirinya telah berdiskusi dengan kiper nomor satu timnas Indonesia saat ini, Maarten Paes, sebelum mengumumkan rencana naturalisasi Emil yang berpaspor Italia.
Dalam karier profesionalnya, Emil sudah membela Juventus, Venezia, Sampdoria, Inter Milan, Como, dan Palermo. Ia telah mencatatkan 299 pertandingan di Serie A dan Serie B Italia dengan koleksi durasi permainan selama 26.899 menit.
Emil sudah mengemas 76 laga nirbobol. Catatan tak kemasukan itu setara 25 persen dari jumlah laga penampilannya.
Selain itu, Erick juga mengumumkan dua pemain baru untuk skuad Garuda. Mereka adalah Joey yang berposisi gelandang bertahan dan Dean yang bisa mengisi pos bek sayap kiri. Joey tengah berkarier di tim Divisi 2 Liga Belgia, Lommel SK, sedangkan Dean bermain untuk tim kasta tertinggi Liga Belanda, Go Ahead Eagles.
Intinya, pemain bergabung bukan karena ada komersialisasi. Mereka bergabung karena percaya program kita (untuk timnas) serius. Jadi, mereka bergabung karena hati mereka.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/22/54bd20f0e92ccc1a8bb3d3224b05426e-Screenshot_20250222_181532_Instagram.jpg)
”Beberapa posisi perlu penguatan, salah satunya kiper. Maarten Paes sudah luar biasa, tetapi persaingan dibutuhkan untuk Maarten. Dia menyambut baik itu,” ujar Erick.
”Maarten pemain utama di FC Dallas, tetapi dalam sepak bola tentu ada risiko cedera. Untuk itu, kami putuskan perkuat kiper. Jadi, kita punya dua kiper berkualitas. Untuk kiper ketiga, nanti dipilih kiper muda untuk belajar,” tutur Erick menambahkan.
Ketika disinggung adanya penolakan dari keluarga Emil untuk membela Indonesia di masa lalu, Erick menuturkan, pemain memiliki dinamika dalam hidupnya. Mereka pun perlu pertimbangan dan pemikiran matang untuk mengambil keputusan krusial, seperti membela Indonesia.
”Intinya, pemain bergabung bukan karena ada komersialisasi. Mereka bergabung karena percaya program kita (untuk timnas) serius. Jadi, mereka bergabung karena hati mereka,” ucap Erick.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/22/f10722e6d8a4b43c152526412dbff57b-Screenshot_20250222_182037_Instagram.jpg)
Joey diputuskan untuk dinaturalisasi setelah proses untuk Jairo Riedewald mengalami kendala. Erick mengungkapkan, dokumen-dokumen yang menjadi persyaratan awal Jairo berpindah kewarganegaraan dari Belanda ke Indonesia belum lengkap.
Jika dipaksakan, lanjut Erick, proses naturalisasi Jairo bakal berjalan panjang. Selain berkaitan dengan berkas, pemain klub Belgia, Antwerp, itu juga bakal memiliki masalah karena pernah mencatatkan tiga penampilan bersama timnas Belanda pada periode 2015. Hal itu membuat pengajuan perpidahan federasi Jairo dari KNVB ke PSSI akan ditolak FIFA pada kesempatan pertama.
Jairo pernah tampil di tiga gim kualifikasi Piala Eropa 2016 ketika Belanda menghadapi Turki, Kazakhstan, dan Ceko pada periode September-Oktober 2015. Dalam tiga gim itu, ia mencatatkan 219 penampilan.
”Jairo sudah sangat menyambut (rencana naturalisasi), tetapi surat-surat belum kuat. Beberapa pengacara sudah kita ajak diskusi juga belum menemukan (peluang naturalisasi). Kita tidak mau FIFA menolak pengajuan Jairo sehingga itu akan mengurangi kepercayaan FIFA kepada PSSI,” kata Erick.
Tak ayal, Joey diputuskan dinaturalisasi untuk memperkuat sektor gelandang. Saat ini, Indonesia memiliki Thom Haye, Ivar Jenner, Nathan Tjoe-A-On, Ricky Kambuaya, dan Marc Klok. Namun, Erick menganggap kekuatan lini tengah Indonesia belum cukup kuat.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/03/19/185bde91-43bc-41fa-8364-5dc03c2ef5c9_jpg.jpg)
”Kita perlu lima pemain tengah. Kita coba ajak Joey dan dia bersedia. Ia sangat diperlukan, apalagi memiliki pengalaman panjang bermain di Belanda, Inggris, dan Belgia. Saya rasa Joey bisa memperkuat lini tengah yang saat ini masih kurang,” ucap Menteri BUMN itu.
Joey adalah pemain keturunan Maluku yang berposisi gelandang bertahan. Sebelumnya, ia pernah tampil di dua laga untuk tim U-20 Belanda.
Pemain berusia 31 tahun itu adalah lulusan Akademi FC Twente. Kemudian, ia membela Heracles Almelo sebelum hijrah ke tim Liga Championship Inggris, Sheffield Wednesday.
Setelah empat tahun di Sheffield, Joey hijrah ke klub Turki, Giresunspor. Semusim di Turki, ia kembali ke Belanda untuk membelas FC Groningen. Pada pertengahan musim ini, ia bergabung ke Lommel di Belgia.
Sementara itu, Dean adalah pemain dengan darah kental Indonesia. Kakeknya berasal dari Semarang, Jawa Tengah, kemudian ibunya lahir di Surabaya, Jawa Timur. Dean memulai karier profesional bersama Volendam, lalu bergabung dengan Go Ahead Eagles sejak musim 2023-2024. Musim 2024-2025, Dean menjalani musim terbaiknya dengan tampil di 17 pertandingan dengan koleksi satu gol dan dua asis.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/20/b772958f-e3b6-4aef-a5f8-60a633ae9fe4_jpg.jpg)
Meskipun sudah memiliki Calvin Verdonk dan Pratama Arhan di pos bek sayap kiri, Erick menuturkan, Dean dibutuhkan untuk memperkuat timnas Indonesia demi menambah opsi di posisi itu. Selain itu, Dean juga bisa bermain di sektor gelandang kiri.
Syamsuddin Umar, mantan pelatih nasional, menganggap penambahan tiga pemain naturalisasi adalah bagian dari ambisi besar PSSI di bawah kendali Erick untuk lolos ke Piala Dunia 2026. Tetapi, kata Syamsuddin, kehadiran tiga pemain itu bakal menjadi tantangan bagi Pelatih Timnas Indonesia Patrick Kluivert.
“Meskipun pemain-pemain baru itu memiliki standar kualitas teknik dan skill yang bagus, tetapi mereka perlu harmoni dengan rekan setimnya. Dengan masa persiapan yang singkat, maka Kluivert dan tim pelatih harus mampu memadukan para pemain agar mereka bisa langsung mengeluarkan kemampuan terbaik mereka,” kata Syamsuddin.
Dengan tambahan tiga pemain itu, maka timnas Indonesia berpeluang dihuni 18 pemain naturalisasi. Apabila seluruh pemain diaspora itu dipanggil pada laga melawan Australia dan Bahrain, Maret mendatang, maka hanya delapan pemain didikan pembinaan dalam negeri yang bisa mengisi skuad Garuda.
Di tengah semakin minimnya kesempatan membela timnas, Syamsuddin berharap hal itu tidak membuat para pemain lokal patah semangat. Sebaliknya, pemain-pemain lokal harus kian termotivasi untuk memperebutkan tempat demi membela lambanga garuda di dada.
“Demi ambisi Piala Dunia, sah-sah saja proses naturalisasi ini berjalan. Tetapi, saya harapkan peningkatan pembinaan usia dini juga terus digalakkan agar kualitas pemain hasil pembinaan kita semakin baik,” ucapnya.
Catatan redaksi:
Artikel ini telah diperbarui dengan tambahan pendapat dari mantan pelatih nasional Syamsuddin Umar.
Penulis:
Muhammad Ikhsan MaharEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra