Kritik Tuchel terhadap timnas Inggris era Southgate menandakan perbedaan cara berpikir kedua pelatih. Namun, apakah diferensiasi itu terlihat dalam debut Tuchel?
22 Mar 2025 18:32 WIB · Olahraga
Tidak beda-beda amat dari era Gareth Southgate. Itu adalah kesan pertama dalam debut Pelatih Thomas Tuchel bersama tim nasional Inggris. Permainan ”Tiga Singa” masih cenderung lambat dan berhati-hati, belum seperti yang dijanjikan saat konferensi pers sebelum laga.
Tuchel mengakui itu walaupun menang 2-0 atas Albania dalam laga kualifikasi babak grup Piala Dunia 2026. Sang pelatih sedikit kecewa karena gagal menghibur sekitar 80.000 penonton yang datang ke Stadion Wembley. ”Laga tadi bukan yang paling menarik untuk disaksikan,” ujarnya.
Ekspektasi terhadap pria asal Jerman itu begitu tinggi. Tuchel adalah pelatih non-Inggris pertama sejak Fabio Capello (2008-2012). Jarang-jarang mereka mau menggadaikan gengsi soal kebanggaan pelatih lokal demi prestasi. Namun, gengsi itu luruh juga karena ambisi berprestasi.
Tuchel menambah tinggi ekspektasi itu sebelum laga. Selain hasil positif, dia juga berjanji mengembalikan karakter sepak bola Inggris. Karakter itu terinspirasi dari gaya main di Liga Inggris yang identik dengan adu fisik, agresivitas, dan tempo cepat.
Intensitas ekstra tinggi menjadi syarat utama mantan pelatih Chelsea itu. Tiga Singa diharapkan bisa menyentuh bola sebanyak mungkin di kotak penalti lawan dan merebut bola secepat mungkin di separuh lapangan lawan. Tuchel memegang prinsip, menyerang adalah cara bertahan terbaik.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/22/22ca7f6b93b45c3224dbb37b38ca17c7-England_Albania_WCup_Soccer_3_.jpg)
Namun, Harry Kane dan rekan-rekan belum mampu menerjemahkan seutuhnya isi kepala Tuchel. Alih-alih bermain seperti klub-klub Liga Inggris, mereka justru lebih mirip tim semasa era Southgate. Permainan terlalu pasif dengan banyak umpan horizontal dan pergerakan yang kurang dinamis.
Inggris memang unggul penguasaan sampai 74,2 persen, tetapi hanya menghasilkan 12 tembakan. Tiga Singa lebih sering memainkan bola di area belakang. Terlihat dari jumlah umpan akurat bek Dan Burn (135 kali) yang sekitar enam kali lebih banyak dari Kane (22 kali) sebagai ujung tombak.
Menurut Tuchel, masih banyak yang bisa diperbaiki, terutama di sisi sayap, diisi Marcus Rashford dan Phil Foden, yang kurang agresif. Selain itu, dia menilai, gaya asli Inggris tidak keluar karena terhadang gaya main lawan. ”Tim lawan bertahan sangat dalam dan itu sulit untuk dipecah,” katanya.
Albania selalu bertahan total di separuh lapangan sendiri ketika kehilangan bola. Mereka baru menekan agresif ketika Inggris masuk ke sepertiga akhir. Saat bola berpindah penguasaan, tim tamu langsung mengirim umpan panjang untuk memulai transisi. Inggris kesulitan mencari ruang kosong.
”Kami datang dengan ide yang jelas, ingin bermain seperti apa. Kami tetap bertahan dengan prinsip itu selama mungkin walaupun memang sulit ketika melawan tim yang sangat defensif. Kami harus menggerakkan mereka untuk mendapat ruang,” kata gelandang Inggris, Jude Bellingham.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/22/8862696cc1407b72f67954b90c8dde0c-England_Albania_WCup_Soccer_2_.jpg)
Permainan Inggris mungkin belum berubah drastis, tetapi intensi perubahan sudah terlihat. Mereka lebih agresif dan kolektif menekan lawan setelah kehilangan bola. Rashford, yang dikenal pemalas saat masih di Manchester United, selalu terlibat dalam pekerjaan ”kotor” timnya.
Agresivitas itu membuat Albania tidak berkembang. Tim tamu pulang tanpa satu pun tembakan tepat sasaran. ”Mereka sangat tangguh dengan pemain yang kuat secara fisik. Kami berencana mengincar serangan balik, tetapi itu tidak bekerja sama sekali,” kata Pelatih Kepala Albania Sylvinho.
Alhasil Inggris mampu mendominasi mutlak, terutama pada paruh pertama. Mereka menciptakan 437 umpan sebelum turun minum. Jumlah itu merupakan yang terbanyak dalam catatan Opta untuk seluruh pertandingan di semua kompetisi. Albania bahkan tidak bisa menghasilkan 100 umpan.
Sebelum laga, Tuchel sempat mengkritik permainan Inggris di era Southgate, tepatnya pada Piala Eropa Jerman 2024, saat mereka kalah di partai puncak. Menurut dia, Inggris gagal juara karena terlalu berhati-hati. Rasa takut terhadap kekalahan lebih besar dibandingkan keinginan untuk menang.
Tuchel membuktikan ucapannya. Inggris sama sekali tidak menurunkan intensitas setelah unggul cepat pada menit ke-20. Mereka bahkan lebih ofensif pada paruh kedua dengan garis pertahanan yang masih sangat tinggi. Bek sayap Kyle Walker dan Myles Lewis-Skelly diinstruksikan lebih maju.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/22/9b5cc9aff8a6205ae9036555cda1fdf2-England_Albania_WCup_Soccer_4_.jpg)
Itu tampak berbeda dengan pendekatan pragmatis ala Southgate. Sebelumnya, Inggris bermain lebih menunggu setelah unggul. Garis pertahanan juga sedikit diturunkan. Southgate lebih sering mengandalkan skema pertahanan blok tengah saat ingin menjaga keunggulan.
Tuchel berjanji, mereka pasti semakin baik pada laga berikutnya. ”Saya akan memahami pemain lebih baik. Di mana posisi terbaik mereka? Mengapa mereka kesulitan? Dari situ, kami bisa semakin membaik untuk bermain dengan tempo tinggi dan lebih berbahaya di depan gawang,” pungkasnya.
Sepak bola intens yang diinginkan Tuchel memang belum terpancar jelas. Namun, publik Inggris agaknya hanya perlu bersabar. Seperti kata gelandang andalan Tiga Singa, Declan Rice, tim baru berlatih bersama empat hari di bawah Tuchel. Mereka sedang beradaptasi dan hanya akan semakin baik pada masa depan. (AP/REUTERS)
Penulis:
Kelvin HianusaEditor:
Prasetyo Eko Prihananto