Gusar terhadap Tarif Trump, Eropa Siapkan Pukulan Balik

Uni Eropa menyiapkan tarif balasan untuk AS apabila negosiasi memitigasi perang dagang gagal.

03 Apr 2025 16:59 WIB · Internasional

Oleh Laraswati Ariadne Anwar

BRUSSELS, KAMIS — Uni Eropa bersiap membalas hantaman tarif impor oleh Presiden Amerika Serikat. Langkah Brussels ini menyusul China dan Kanada yang juga mempersenjatai diri dengan tarif balasan terhadap AS.

Hal itu dikemukakan Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen di Brussels, Belgia, Kamis (3/4/2025). ”Perbuatan Trump menaikkan tarif ini menghantam perekonomian dunia,” ujarnya.

Ia mengatakan, dampaknya merisak rakyat kecil di seluruh dunia. Kebutuhan pokok sampai transportasi dan obat-obatan akan semakin mahal. Menurut dia, apabila ada persoalan di neraca perdagangan, semestinya diselesaikan dengan perundingan, bukan asal main pukul tarif.

”Kami sudah menyelesaikan paket tarif balasan untuk baja. Sekarang, Uni Eropa (UE) menyiapkan paket tarif balasan berikutnya apabila negosiasi gagal,” kata Von der Leyen, dikutip CNN.

Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen berbicara di Brussels, 27 APril 2022, setelah perusahaan energi Rusia Gazprom memutuskan untuk menghentikan pasokan gas ke Polandia dan Bulgaria. Selang sepekan, von der Leyen mengumumkan sanksi baru UE untuk melarang impor minyak Rusia, mentah maupun sulingan, dalam enam bulan ke depan. (Photo by Kenzo TRIBOUILLARD / POOL / AFP)

Sementara itu, Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni juga mengecam tarif impor tersebut. Akan tetapi, Roma memilih berhati-hati. Meloni menuturkan, mereka memilih jalur perundingan dulu. Apabila gagal, ada rencana lain yang serius. Ia belum mengungkapkan rencana itu.

Trump menetapkan tambahan tarif 10 persen untuk semua negara. Sebagai gambaran, Kanada dan Meksiko dikenai tarif total 25 persen. China kini dihantam tarif 54 persen, Vietnam 46 persen, Kamboja 49 persen, Indonesia 32 persen, India 26 persen, dan UE 20 persen.

Bahkan, Trump juga menetapkan tarif bagi negara-negara kecil dan defisit perdagangan dari AS. Lesotho, negara kecil di Afrika, dikenai tarif tertinggi, yaitu 50 persen.

”Kita melakukan MAWA (Make America Wealthy Again/Membuat AS Kaya Kembali). Kita hajar negara-negara yang mencurangi AS,” kata Trump di Washington DC, AS, Rabu (2/4/2025).

Bergolak

Harga komoditas akan melonjak. Di AS, harga sepatu, barang-barang elektronik, dan mainan anak akan bertambah. Berdasarkan data Departemen Perdagangan AS, 56 persen komoditas di negara itu berasal dari China dan Vietnam.

Pada masa jabatan pertama Trump, yakni 2017-2018, para pengusaha mengantisipasi memindahkan pabrik-pabrik dari China ke Vietnam. Jenama sepatu Steve Madden, misalnya, memindahkan 45 persen produksi mereka dari China ke Asia Tenggara.

Terhitung sepertiga alas kaki yang dijual di AS sejak tahun 2023 diimpor dari Vietnam. Jenama yang memiliki pabrik di Vietnam antara lain ialah Nike, Adidas, Vans, Hoka, Nautica, dan Ugg.

Sekretaris Jenderal Partai Komunis Vietnam To Lam dikabarkan bersiap mengirim delegasi ke Washington DC untuk berunding. Penetapan tarif ini dianggap menikung Hanoi. Ekspor adalah penyumbang 90 persen produk domestik Vietnam. Hantaman tarif ini menghalangi target Vietnam menambah pertumbuhan ekonomi 2025 menjadi 8 persen.

Sejak Trump dilantik, Vietnam gencar mendekati AS. Mereka menurunkan tarif impor atas komoditas AS. Selain itu, Vietnam berjanji membeli lebih banyak produk unggulan AS. Terkait tarif, Trump mengindikasikan mau menurunkan jumlah apabila negara-negara mau mengurangi tarif ataupun membebaskan komoditas AS dari biaya masuk impor.

”Perang dagang ini menyakiti rantai pasok global. Tidak akan ada negara ataupun perusahaan yang bisa beradaptasi dalam waktu singkat,” kata ekonom SSI Securities, Pham Luu Hung, dikutip oleh Bloomberg.

FILE PHOTO: FILE PHOTO: Men load rice bags to a ship for export at a rice processing factory in Vietnam’s southern Mekong delta, Vietnam July 6, 2017. REUTERS/Kham/File Photo

Para pengusaha masih menerapkan sistem tunggu dan lihat (wait and see). Jenama American Eagle adalah salah satu yang melakukannya. Mereka memiliki pabrik yang tersebar di China dan Asia Tenggara. Semua negaranya dipukul tarif.

”Kalau mau memindahkan lokasi produksi, mau ke mana? Lebih baik membaca situasi dulu,” kata Direktur Utama American Eagle Jay Schottenstein kepada CNBC.

Pengusaha juga mengutarakan kekecewaan terhadap Trump. Baum Essex, perusahaan mode, menyebar pabriknya di China, Kamboja, Vietnam, dan India.

”Perusahaan ini sudah berusia 80 tahun dan melewati berbagai krisis global. Setelah lima generasi, bisnis kami habis di tangan Trump,” kata Direktur Keuangan Baum Essex Peter Baum.

Berdasarkan laporan majalah Forbes edisi 28 Agustus 2024, sulit membawa kembali manufaktur ke AS. Biaya tenaga kerja terlalu besar. Selain itu, AS tidak memiliki sumber daya manusia yang terampil di manufaktur.

Generasi pekerja pabrik AS berakhir di tahun 1990-an. Angkatan kerja milenial dan Z tidak memiliki minat ataupun kemampuan di manufaktur. Mereka umumnya bekerja di sektor jasa dan teknologi. (AP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Laraswati Ariadne Anwar
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Penyelaras Bahasa:

Teguh Candra